Pages

Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

My Man

Selasa, 07 Juli 2015



Komitmen

"Kita harus berkomitmen dalam hubungan ini".
"Dimana komitmen kamu di organisasi?".
"Komitmen itu penting dalam seuah hubungan".

Seberapa sering kamu mendengarkan kata komitmen? 
Aku sering dengar waktu kecil orang mengucapkan kata "komitmen". Baik dari keluargaku maupun orang-orang sekitar yang berada di lingkungan perkembanganku ketika kecil. Didalam pikiranku yang samar-samar ketika itu, komitmen adalah sesuatu yang sakral seperti sebuah tiang untuk berpegangan. Ketika dijalani tidak boleh dilanggar.


Setelah menginjak hampir umur 17 tahun, aku lambat laun mulai mengerti apa yang dinamakan komitmen. Walaupun aku belum bisa mendefinisikan seperti di kamus oxford dan saat itu memang belum ada desire untuk membuka KBBI, aku mengerti rasa dan baunya. Bukan wujudnya. Menentukan definisi itu bagiku sulit karena terdapat ke-sujektifan didalamnya.  Seperti menguliti kulit kacang perlahan dengan memperhatikan seratnya. Beresiko tinggi.

Semakin seorang anak manusia tumbuh, maka perkembangan psikologisnya juga akan berubah. Semakin dewasa, maka ia akan terikat oleh apa-apa yang dinamakan tanggungjawab. Tanggungjawab tentu tidak epas dari komitmen. Dan kini, saat aku mulai dihadapkan bahkan sedang berhadapan langsung dengan apa yang disebut dengan komitmen, aku mulai mencari apa definisinya. Berhubung aku menjadi subjek dalam predikat si komitmen ini, kubuka KBBI (akhirnya), ia memiliki arti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. 

Komitmen yang selama ini kulihat dalam kehidupan dapat dibagi menjadi 3 jenis:
1. Komitmen atas diri sendiri (mono)
2. Komitmen dengan seorang individu (duo)
3. Komitmen dengan kelompok (community)

Komitmen mono adalah perjanjian terhadap diri sendiri dan tentunya sang pelaku telah mengetahui sebab-akibat dari perbuatan yang akan dilanggarnya atau dipatuhinya. Misalnya; Andre berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak merokok dan minum alkohol dalam jangka panjang dengan tujuan menjaga kesehatan karena Andre memiliki penyakit komplikasi. Jika Andre melanggar komitmen, maka kesehatannya akan memburuk dan ia akan masuk rumah sakit kembali.

Komitmen duo biasanya berhubungan dengan sebuah ikatan antara dua anak manusia (entah hetero ataupun homo). Ini tentunya banyak mewabah dengan sepasang kekasih ataupun suami-istri.

Komitmen community dilakukan dengan lebih dari 2 pelaku mementuk sebuah komunitas yang didalamnya terdapat perjanjian.

Dan sebagai subjek, komitmen merupakan kata kerja (verb) yang akan dilaksanakan oleh sang pelaku.

Objek adalah hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan; benda; hal yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan. Jika diflashback, sebuah perjanjian/kontrak tentunya dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu. Jadi objek dalam sebuah komitmen adalah isi dari komitmen (perjanjian) yang telah disepakati oleh sang pelaku.
Jika melaksanakan perjalanan komitmen tersebut maka sang pelaku akan sampai pada tujuan yang ingin dicapainya. Dan jika melanggar maka akan ada akibatnya. Hematku, akibat tidak selalu berakhir buruk. Kadang ada juga akibat yang membawa sang pelaku kepada sebuah jalan yang memang terbaik menurut ukurannya.


Dan ternyata ketika memasuki lingkaran komitmen yang sedang dijalani ini, banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelum membuat/memutuskannya. Harus dilihat kembali setiap tindakan yang telah/akan dilakukan. Apa sebab-akibat didalamnya sebuah tindakan/rencana/pemikiran yang muncul dalam lingkaran komitmen ini.

Dengan berkomitmen, seseorang akan terikat pada sebuah tiang perjanjian. Tapi bukan berarti dengan berkomitmen seseorang akan kehilangan kebebasannya.

Nah, ada yang mau menambahi?


Classic on Me #Part 6

I'm Home!

With Nonoy

Mari bermain :D

Tapi, tapi...

Saya sendirian

Gimana dong? #samil pamer gigi

Ga papa deh~

Seru kok sendirian!



Eh, ada Ria kok!

Pondok Pabelan, Sebuah Kenangan Klasik

Great! Cuman itu yang bisa kukatakan ketika bus menurunkan kami di pinggir jalan wilayah Pabelan, Magelang. Pasalnya disamping udara Magelang yang luar biasa sejuk (Puncak lewat deh), aku rasanya mau meloncat ketika melihat Gunung Merbabu menjulang tinggi dibalik jalan kecil bertuliskan "Pondok Pabelan, 1 KM".

Hari Jumat sore, aku ikut rombongan alumni Pondok Pabelan naik bus tujuan Magelang. Setelah bersua dengan Gege, aku ditemani menuju Terminal Lebak Bulus, tempat janji berkumpul. Bulan ini, akan ada reuni akbar yang digelar setiap akhir semester genap di Pondok Pabelan.

Aku masih melihat keakraban yang dijalin para alumni di dalam bus itu. Walaupun mereka berbeda angkatan, tapi aku banyak melihat kesamaan dalam pemikiran, visi dan cara bertutur. Mungkin karena dididik menjadi public figure dengan cetakan yang sama, yaitu Pondok Pabelan.

Tentu saja menghirup udara sejuk menjadi sangat mahal bagi seseorang yang menetap di daerah bilangan Jakarta dan sekitar, jadi apalah artinya berjalan 1 km (sama sekali nggak rugi). Dengan semangat aku berjalan mendahului rombongan, menjadi yang paling depan sok tau banget ya :p . Mencari apa yang menarik. Sebenarnya hal baru dan hal yang pernah diceritakan tapi aku belum pernah melihat dengan mata kepalaku merupakan deja vu tersendiri.

"Monggo, mba", sapa seorang ibu-ibu sambil tersenyum ramah. Aku membalas mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku hampir lupa bahwa aku sekarang berada di tengah masyarakat Jawa, dengan budaya unggah-ungguh-nya yang khas. Ada "peringatan budaya" yang langsung kutangkap ketika menginjakkan kaki di jalan menuju Pondok ini. Jadilah aku mulai mengumbar senyum kepada warga sekitar. Mereka ramah :)
Apa mungkin karena udara yang sejuk membuat hati orang tenang ya?

Dan ketika sampai di Pondok, kesanku pertamaku adalah sederhana. Bangunannya tidak banyak cincong, biasa dan multifungsi. Setiap gedung diberi nama yang berbeda; Jepang 1, Bupati, Presiden, Gubernur, Ahmad Yasin, America dan banyak nama lagi.  Ternyata maksudnya, pembiaya gedung itu adalah nama dari gedung itu sendiri. Misalnya Gedung Presiden, maka yang membiayai adalah Presiden pada waktu itu.

Santriwati disini ramah beda banget sama pesantren adikku. Aku agak kagok dengan perlakuan hormat mereka. Tapi ramah mereka adalah ramah yang tidak dibuat-buat. Terlihat benar bahwa mereka bersungguh-sungguh dalam melayani para tamu.

Hei, mungkin udah dulu ya. Aliran listrik disini sangat jauh dari tempat penginapan. Aku harus berjalan menuju sebuah kelas yang seperti bangunan Belanda untuk men-charge handphone. Dan sepertinya aku tadi mendengar ada memanggil namaku. Mungkin Abah atau temannya. Aku baru sadar kalau penyakit petualang autis-ku bisa kambuh kapan saja. Juga kebiasaan menghilang tidak baik untuk kesehatan, apalagi ditempat baru. But, you know what? I feel great!

*nanti upload foto menyusul


Persiapan #1

Selasa, 08 April 2014
Tahun ini terasa penuh buat saya. Entah~ Mungkin karena jadwal rencana pernikahan yang semakin dekat, walaupun pihak keluarga kami belum menentukan tanggal pasti.

Sebenarnya ada banyak hal yang harus dipersiapkan, bukan hanya persiapan permukaan, seperti: surat nikah di KUA, akad, dan wedding preparation yang mestinya dipersiapkan jauh hari, tapi juga persiapan mental dan persiapan kecakapan dalam urusan rumah tangga.

Kalau boleh dibilang, minta saya untuk merapikan sebuah kapal pecah, mendesain rumah, mengangkat galon,  mengganti ban mobil, mencangkul, memaku, dan menggeser lemari besar, tapi jika untuk urusan memasak, saya takut orang yang memakan masakan saya sakit perut atau malah jijik dengan tampilan masakannya.

Saya mau dan bisa masak, tapi belum terlatih. Ketika saya SD, tidak ada keinginan sama sekali untuk memperhatikan mama saya memasak di dapur. Pun ketika Tsanawiyah di mana saya hanya pulang setahun dua kali ke rumah di Kalimantan Selatan. Dan saat SMA, saya beranggapan bahwa "dapur" hanyalah tempat untuk mendiskriminasi perempuan. Maka komplit sudah saya tidak bisa membedakan yang mana jahe, mana lengkuas. Ke dapur hanya sekedar merebus mie, membuat teh atau kopi, dan menggoreng ayam jika kepepet.

Saya punya kakek yang suka sekali memasak, yah walaupun sebagian besar hanyalah hasil eksperimen beliau. Jika sedang memasak tidak boleh diganggu, bahkan oleh mama saya. Jadilah si Kaik (panggilan kakek untuk orang Kalimantan) yang memasak setiap hari di rumah. Dan saya yang memang tidak ada keinginan untuk belajar, semakin terfasilitasi dengan adanya Kaik yang suka memasak. :3

Dan sekarang umur saya hampir 22 tahun dan masih belum mahir memasak. Sejak memutuskan untuk menikah muda, saya bertekad akan menjadi istri dan ibu yang hangat, penyayang, dan masakannya selalu dinanti ketika tiba waktunya makan. Asalkan diberi kepercayaan penuh, saya pasti akan bersemangat memasak. Tahun 2013 lalu saya tinggal di rumah Tante saya selama 2 bulan. Di sana saya mulai belajar masak yang gampang-gampang seperti Tumis Kacang Panjang, Oseng Tempe, Jamur Saos Tiram, dan lain-lain. Yang berhasil tentunya langsung saya "persembahkan" untuk Kakak, yang gagal saya makan sendiri walaupun enggan. Hahaaa...

Walaupun begitu, saya yakin akan menjadi koki rumah tangga yang handal, yang masakannya selalu dirindukan suami dan anak. Yang terpenting adalah mau belajar dan memberikan yang terbaik untuk orang yang disayangi. Amien.

Salam, Ummi.

Menjadi Seorang Kakak Itu...

Sabtu, 07 Juli 2012
(Tahun 1998)
“Umi sudah liat adiknya?”, tanya tetanggaku dalam perhelatan acara syukuran kelahiran adikku yang pertama. Aku mengangguk sambil terus mengayun ayunan di teras rumah.
“Umi senang nggak punya adik bayi? Jadi kakak...”, tanyanya lagi. Sambil terus mengayun ayunan, aku menggeleng. “Biasa aja”, jawabku sekenanya.

Itu adalah ingatan yang masih melekat dimana aku bersikap biasa saja dengan predikat akan menjadi Kakak pada hari itu. Bagiku bukan sebuah kebanggaan yang harus diperlihatkan.
Ada banyak hal yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan pada kita. Seperti istilah “tidak bisa tidak”, sebagai janin di dalam perut ibunda segala hal telah diatur-Nya. Normal atau cacatkah? Siapa ibunya, ayahnya? Tampankah ayahnya? Preman pasar, direktur perusahaan atau tukang jagal sapi?  Hidup di lingkungan yang bagaimana? Jadi anak wilayah Menteng, Doli, atau menjadi Suku Anak Dalam? Dan siapa saja anggota keluarganya? Senangkah mereka dengan kelahiran kita? Atau malah tidak diharapkan? Lahir nomor urutan keberapa atau menjadi anak tunggal-kah?  

___

Aku Si Sulung dari keluargaku. Anak pertama yang lahir tahun 1992. Adik-adikku menyusul lahir tahun 1998 dan 2000. Menurut orangtuaku, jarak 6 tahun sangat cukup untuk sebuah masa kecil yang bahagia. Jadi aku sudah paham betul tugas sebagai seorang kakak; membantu mama untuk menjaga adik.

Kata orang, anak Sulung itu adalah “hasil coba-coba” orangtuanya. Hasil “kecelakaan” di luar program Keluarga Berencana, pembuktian kejantanan seorang suami terhadap istrinya, properti pelengkap kesepian ibunya yang cuti kerja atau penutup mulut mertua cerewet yang sudah kebelet ingin cucu.

Kata orang, menjadi Kakak itu tidak enak. Ketika adik masih bayi/balita, seorang kakak dituntut ini-itu oleh ibunya; mengambilkan popok di jemuran, membuatkan susu, membasuh kotoran buang air adik di wc atau ruang tamu, disuruh mengawasi adik tepat ketika teman-teman mengajak main gobak sodor di halaman mesjid, menenangkan tangis adik bayi ketika ibu sedang tidak di rumah atau hal yang paling menjengkelkan adalah disuruh mengalah.

Kata orang, seorang Kakak akhirnya akan terpinggirkan karena adik bayi  membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang-orang sekitar. Akan ada kalimat “Kan kakak sudah besar. Jadi harus ngalah sama adiknya”. Untuk sesaat, seorang Kakak yang baru saja mempunyai adik akan merasa dunia ini tidak adil. Sudden shock.

Kata orang, kelak ketika Sang Adik mengerti segala hal, ia akan merebut apapun benda milik kita; kamar, tas ransel, baju kodok pink, botol minum Hello Kitty, mobil tamiya, pistol air, sepatu berlampu, jam tangan batman dan banyak hal. Ketika kita mencoba untuk melawan, merebut kembali, memarahi atau akhirnya memukul dan mendorong; ia akan menangis lalu lari mengadu ke ibu atau ayah sambil berkata “Kakak nakal! Kakak jahat”.

Kesimpulannya jelas: Ada banyak hal yang dikorbankan untuk menyandang status “kakak”.
Ketika itu, aku sempat berpikir; jika dia memang Maha Mendengar dan Maha Adil, dapatkah kita bernegosiasi pada-Nya untuk kalimat awal yang kutebalkan diatas? Aku benar-benar mengharapkan sosok seorang Kakak, tapi bagaimana caranya?

Bukan aku menyangsikan kelahiran kedua adikku itu. Dibalik kewajaran sikapku menanggapi kelahiran adik, aku menyimpan rasa senang dan merasa akan ada teman untuk berbagi. Bukan karena aku tidak menyayangi mereka, salah besar. Walaupun kelihatannya acuh, aku selalu memikirkan keperluan kecil, hal-hal detil tentang adik-adikku atau bahkan perasaan mereka, aku paham. Bukan pula karena aku takut akan banyak hal yang kukorbankan sebagai seorang kakak selama ini seperti kata orang-orang.

Tapi kenapa harus aku yang menjadi Kakak? Kenapa bukan aku yang lahir sebagai nomor 2 setelah kelahiran seorang anak dari rahim mama? Kenapa aku tidak memiliki Kakak? Bisakah waktu diulang? Aku dapat memilih dan bukan lahir sebagai anak sulung; menjadi anak tengah atau anak bungsu agar memiliki satu hal yang selama ini tidak mungkin bagiku yaitu punya Kakak.

Tidak banyak yang tau bahwa aku memiliki brother complex syndrome. Bagiku brother complex adalah penyakit perasaan egois. Ia menuntut dunia karena memang ini tidak bisa diubah secara struktur genetis, terkait dengan kelahiran. Dan dia sampai sekarang masih bersemayam dalam angan-angan yang kusimpan rapat.

Sampai sekarang aku kerap iri dengan teman yang memiliki Kakak. Mendengar mereka memanggil Kakaknya; abang, mbak, mas, kakak, mpok, uda, uni, teteh, akang dan banyak lagi sebutan yang bagiku memiliki kesan tersendiri. Bagiku terdapat kesan romantis ketika kita memanggil sebutan “Kakak”.

Aku selalu menaruh perhatian lebih pada cerita teman-temanku yang berhubungan dengan kakaknya, entah itu berantem masalah kamar, berebut barang, bagian uang jajan, kebebasan yang timpang atau fasilitas yang tidak imbang dari orangtua. Semuanya kudengarkan baik-baik dan diakhiri dengan nasehat atau solusi yang dapat kuberikan pada teman-teman yang bercerita.

Mendengarkan cerita teman-temanku, aku seolah memposisikan diri sebagai Kakak mereka. Ketika mereka bercerita, maka aku juga ikut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada kepada adikku. Bagaimana jika aku juga seperti itu? Apa yang harus aku perbuat jika kasusnya sama?

Dibalik brother complex syndrome dan curhat teman-temanku akan kakaknya, aku seperti bercermin akan sesuatu: Menjadi seorang Kakak itu tidak buruk. Tanpa kusadari, aku belajar banyak hal.
Aku belajar untuk menjadi apapun yang adikku butuhkan. Aku berusaha menggantikan peran orangtua, teman, guru, sahabat, guide wisata, peminjam uang, ojek, perias wajah, stylish, porter, tukang cuci, pelawak, ambulance manusia dan banyak profesi ketika peran tersebut ia butuhkan.

Kakak bukanlah predikat sembarangan. Dibalik tuntutan-tuntutan yang diembannya, terdapat pengendalian diri dalam pribadi seorang Kakak. Bagaimana menahan perasaan ketika keinginan kita ditumpang tindihkan oleh keinginan adik, belajar menerima ketika barang kesayangan rusak dipakai adik, menahan keinginan ketika adik minta macam-macam pada orangtua karena tidak mau menambah beban biaya, dan belajar berbagi dalam keadaan apapun.

Maka tidak salah jika seorang Kakak kadang memarahi adiknya karena kamar yang berantakan, meminta tolong untuk mengambilkan sesuatu, mengomel karena si adik hanya baca komik tanpa belajar dan kegiatan, panik ketika adiknya belum pulang ke rumah menjelang maghrib  dan hal-hal yang kelihatannya remeh tapi sudah alami sifat seorang kakak terhadap adiknya_kekakakan (seperti dalam kata keibuan). Hematku menjadi Kakak adalah belajar proses menerima, menjalani, membiasakan dan menjadikan kehadiran seorang adik menjadi bagian penting dari hidup.

Jadi tunggu apalagi, katakan pada Kakak kalian bahwa kalian menyayanginya!

Salam sibling syndrome ;)
 _________________________________
VK Courtesy, 6/14/2012

Yin dan Yang

Senin, 23 April 2012

Bulan, malam, gelap dan hitam
Penghubung jarak dan waktu
Saling menunggu kilatan balasan
Antara dua insan yang tak sekalipun bertatap muka

Jauh disana, tegak berdiri seorang Yin
Solid dan diandalkan
Ia jelas, gegap gempita tapi tenang
Bertanya-tanya sebuah bisikan yang membuatnya tersinggung

Dan disudut lainnya, duduk seorang Yang
Ia tidak rapuh dan tidak diam
Mendengar bisikannya didengar
Dirasa dan ditanya

Yin lupa, bagaimana memperlakukan Yang
Yang bisa jujur diatas kertas dan pena, tapi enggan mengaku jika ditanya
Ia bukan bermaksud untuk menyakiti, ia hanya memendam karena takut
Ia teramat sangat malu jika ada yang mengintip katup perasaannya, apalagi ditanya

Disisi lain, Yang lupa
Sikapnya bisa membuat Yin pergi karena dirasa hampa
Sosok tegar Yin, membuat Yang takut ia akan memunggungi segalanya



Yin dan Yang, sebuah analogi keseimbangan


Melengkapi, tapi kadang saling kebingungan

Kakak

Sabtu, 14 April 2012

Hey, aku mau membuat sebuah pengakuan.

Aku akui selama ini kau memang jarang datang di kehidupanku.
Kau bahkan bukan siapa-siapa, hanya seorang kenalan dari almamater yang sama, tapi tidak pernah langsung bertatap muka.
Kita bahkan tidak pernah mengobrol secara langsung, tapi aku merasa welcome denganmu.
Kau kuanggap kakak laki-laki yang selama ini ingin kupunya.
Aku memang tidak terlalu menunggu kehadiranmu di ranah jejaring dunia maya.
Tapi aku selalu mengagumi tulisan-tulisanmu, hasil dari pikiran cerdas yang berasal dari otakmu.

Kita selalu hampir saja bertemu, tapi memang bukan kehendak-Nya untuk kita bertemu.
Ini seperti hubungan relasi, yang saling tau dimana jarak dan lokasi, tapi tidak memiliki hubungan erat.

Aku mengagumimu sebagai sosok pria bertanggung jawab, yang murah senyum dan cerdas. Kau seperti bougenville di tengah-tengah mawar. Sederhana, kecil, tapi indah. Sangat bermakna~

Kau memang jarang, bahkan bisa dihitung memakai jari, mengomentari statusku atau blog-ku. Tapi ketika kau melakukannya, aku sangat senang. Penghargaan yag kau berikan sangat berbeda dengan yang diberikan orang lain.Lebih bermakna dan dalam; juga sangat berarti untukku.

Kau tau, tidak semua orang kupanggil lengkap dengan sebutan " Kakak". Bagiku "Kak" dengan "Kakak" itu berbeda~ Aku memanggil Kakak ketika aku merasa dihargai, diayomi dan respect pada seorang pria.
Dan akupun sangat menghargaimu yang memanggilku "Ading" atau terkadang "Adek". Terimakasih, itu sangat berharga buatku.

Hal kecil seperti itu kujaga, ketetapannya. Tidak pernah dan jangan sampai ia jatuh ke jurang air terjun seperti yang lain, yang akhirnya hanya larut bersama air sungai yang tenang dan hilang begitu saja.
Kujaga dan kusimpan jika memang suatu hari dipertemukan oleh Tuhan dan aku adalah tulang rusuk Kakak yang selama ini dicari.
Biar perasaan ini berbeda dengan perasaan yang sudah-sudah, tidak boleh ternoda dan kutitipkan saja pada Ilahi. Jadi ketika aku berusaha keras disini, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku~ aku tidak melupakan Kakak, tapi juga tidak selalu terbayang dengan Kakak.

Tuhan, aku titipkan perasan yang berarti ini untuk kausimpan. Nanti jika aku sudah siap, aku akan minta lagi darimu. Dan ketika aku memilikinya lagi, hanya akan ada 2 jawaban. Tangis dan senyum.
Aku janji akan mengambilnya lagi, suatu hari....






UTS Disasters

Kamis, 05 April 2012
Oke, oke...
Setelah lama nggak nulis bingung mau mulai darimana. Cuma satu kata yang mau kuteriakin disegala penjuru dunia. Di Tembok Besar, Eiffel, Menara Pisa, Borobudur, Grand Canyon; semuanya~ Aku cuman mau teriak PUSING!

UTS semester ini bencana banget buatku. Nggak tau kenapa baik mental dan materi belum siap. Semeter lalu aku bahkan cuman nyiapin mental doang, tapi fine-fine aja. Sebelum UTS nilaiku udah pada jatuh. Bingung euy!

Banyak hal terjadi; 

Jerawatan
Ini penyakit dari dulu. Kalau tugas numpuk, hanzi numpuk, cucian numpuk; maka jerawatan alamatnya. Ini nih yang bikin dunia kecantikanku siklusnya ga seimbang. Mau pakai krim atau masker apa aja ga bisa ngalahin mba jerawat yang doyan nongkrong pas lagi stress di pipi kanan, pipi kiri. Kadang pas belajar langsung meletus kaya merapi, tau-tau udah berdarah aja ni pipi. Kalo aku ga sadar, trus diliat orang bisa dikira habis motong ayam kan, soalnya kecipratan darah.

Meja belajar hancur kaya orang ngamuk 
Kayaknya aku harus belajar Ilmu Perpustakaan untuk penataan buku. Kalau hari biasa sih, rapi banget tuh meja belajar. Tapi pas UTS atau UAS, beeeuuuh~ jangan harap bisa belajar di meja. Semua buku numpuk, miring kesana, miring kesini. Kertas-kertas bertebaran denga indahnya.

















Lantai kamar mengenaskan
Karena ga bisa belajar di meja, akhirnya lantai juga jadi sasaran. Ga peduli deh, belum di sapu atau dipel, yang penting belajar. Aku juga baru inget, waktu di pesantren dulu belajar Akhlak tentang adab belajar. Ya ampun, pantesan aja ilmunya kagak masuk. Kamarnya berantakan kaya udang dicincang di atas bakwan.







Terlalu cepat merasa galau
Setelah UTS hari kedua, rasanya mau runtuh~ udah badan hangat, pening kepala, banyak tuntutan yang belum dikerjain, alamatnya ngegalau ala mahasiswa (jomblo lagi). Daripada belajar, maka saya memilih memandangi langit hitam di pinggir jendela. Menggalau memandangi pergerakan awan hitam berkumpul jadi satu. Berusaha menyimpulka filosofi dari hal itu, tapi yang ada malah ga belajar sama ga dapat filosofinya. Halaaah....
  



Ada si Tom main ke kamar 
Nah, pas malam terakhir persiapan UTS. Ada motherfu*ker MPKTB sama Shuo yang menyebalkan. MPKTB yang dosennya ala orde baru, diktator dengan jubah sok lembut (alah, apasih gua), ngewajibin kita nulis note pakai pulpen biru. Kelas lain padahal ada yang pakai pensil~ alasannya biar bisa bedain yang mana fotokopian yang mana yang bukan. Yaelah, bu~ pakai pulpen hitam juga beda banget sama fotokopian.
Nah, bela-belain tuh begadang ngerjain note sialan itu (yang akhirnya bergunaa bangeeet pas ujian). Pas cuci muka, trus mau ambil minu sambil jongkok deket dispenser, tiba-tiba ada sesuatu yang lagi jalan di kabel. Warna hitam orange. Aku kira lebah, eh, itu si abang TOMM!! TOMCAAAT!!
Awalnya diperhatiin dulu, mastiin itu bukan lebah yang lagi pengen ganti warna karena trend fashion. Itu beneran tomcat njiir! Akhirnya pakai sepatu converse yang mantap buat mukul tu binatang. Akhirnya dengan dua ketokan, mati juga (maaf ye tom).

Ketemu "Tom" pas ujian MPKT-B
Dan kagetnya lagi, aku ketemu tomcat lagi nih pas ujian. Dekeeet banget sampai disuruh cari faktor kenapa dia bisa meledak populasinya. Yup, soalnya ujian ternyata ngebahas tomcat. Ampun deh, berjodoh banget sama tomcat hari ini~    






Gempa Yogya #Part2

Sabtu, 04 Februari 2012
Kawan. Kalau di film horror Barat, pastilah tokohnya memiliki stabilisas yang memuncak. Awalnya ketakutan diancam oleh pembunuh, stress dan muak, akhirnya malah dia yang melawan pembunuhnya. Nah, seperti itulah keadaanku dengan teman-teman disana. Kami muak dengan seru-seruan tsunami dimana-mana. 

Akhirnya aku lelah dan duduk di trotoar, menangis. Tak jauh darisana, ada orang gila yang sedang duduk melamun. Melihat massa yang begitu banyak, ia tak sia-siakan kesempatannya untuk berorasi.

“ Bumi Indonesia, akan berkobar suatu hari! Merdeka!”, teriaknya lantang sambil mengepalkan tinju keatas. Setelah itu ia tertawa. Satu hal yang kupelajari hari itu. Mau keadaan stabil ataupun panik seperti ini, orang yang dianggap gila tak akan pernah didengar. Padahal jika kucerna orasi-nya sedikit menggugah jiawa patriotisme. Hanya saja bulan Agustus masih 2 bulan lagi saat itu.

Dan kupikir betapa enaknya jadi orang gila itu. Ia tidak perlu panik memikirkan nyawa. Ia makan, tidur, tertawa dan dilindungi oleh alam pikirannya. Tidak seperti kami yang saat itu ketakutan, gelisah apakah hari ini benar kiamat? Apakah masih bisa makan? Apa masih hidup?
Sambil mengeluarkan Al-Qur’an dan tadarus bersama Nita dan Tyas. Jika diingat konyol memang, tapi itulah yang terjadi. Aku lupa baca surat apa, yang jelas salah satu juzz amma :D.
Setelah itu aku berwudhu di mesjid dekat situ, berniat shalat dhuha dan ketika sedang memasang kaos kaki, ada getaran lagi. Gempa susulan ternyata. Aku pun buru-buru memasang kaos kaki dan tidak jadi shalat. Aku duduk di trotoar lagi sambil harap-harap cemas.

Kupikir, akankah aku mati hari ini?
Tiba-tiba terlihat arak-arakan dari arah barat di jalan raya. Seorang polisi yang dibonceng bersuara, “ Perhatian kepada semuanya! Tidak ada tsunami~ Saya ulangi lagi, tidak ada tsunami”. Aku hanya bisa bernafas lega bersama teman-teman. Warga pun bisa melepas ketegangan dengan duduk disembarang tempat karena lelah berlari kesana-kemari dengan perasaan takut.
Akhirnya aku kembali lagi menuju asrama bersama yang lain. Aku bergegas menuju kamar, naik ke ranjang dan mengambil ransel. Memasukkan ijazah SD, kotak pensil, binder, mukena, qur’an dan dompet. By the way, ketika itu uag di dompetku sisa Rp. 5000. Kupikir kami akan menjadi pengungsi di tenda-tenda seperti yang ada di Aceh. Maka aku bawa hal yang paling penting itu. Ijazah, karena aku akan tetap melanjutkan pendidikanku walau bagaimanapun keadaannya. Kotak pensil dan binder, agar aku bisa tetap menggambar di pengungsian nanti. Mukena, qur’an dan dompet tentu saja penting.  

Hal yang paling menyedihkan adalah 90% teman-teman di asrama akan pulang kampung. Mereka akan meninggalkan Jogja untuk 1 minggu dan kembali minggu depan. Ada yang di jemput keluarga, ada juga yang langsung memesan tiket travel. Bagi anak luar pulau Jawa, mereka akan dijemput saudara, kerabat jauh atau bahkan teman bapak ibunya. Wartel, tempat kami berkomunikasi dengan keluarga di rumah (karena no mobile phone di pesantren), tidak bisa beroperasi karena jaringan yang buruk hari itu. Kami hanya bisa berdoa, menunggu telepon dari orang tua di asrama. Ketika biasanya TV tidak boleh dinyalakan selain hari Kamis malam- Jum’at siang, kali ini dikhususkan untuk menonton berita perkembangan yang terjadi agar kami siaga. Aula yang biasanya hanya sedikit fans shalat dhuha-nya, menjadi penuh tiba-tiba. Yang biasanya kitab Al-Ma’tsurat tersimpan rapi (sampai berdebu) di rak buku, menjadi berjamuran dibaca oleh pemiliknya di musholla. 

Ketika pukul 17.00, asrama sudah sepi sekali. Dan aku belum ditelpon oleh orangtua-ku. Khawatirkah mereka? Aku adalah anak sulung yang sering dilepas oleh ortu-ku. Sejak SD tinggal terpisah dari abah dan mama. Mereka percaya padaku sepenuhnya, jadi ketika aku tidak dirumah, mereka jarang khawatir. Tapi ini kan beda kondisi~ Apakah mereka akan menelepon ya?

Ada kejadian lucu saat itu. Ketika seluruh personel kamar sudah pulang semua, aku main ke kamar sebelah. Aku mengobrol dengan seseorang, aku lupa siapa. Disana juga ada Farikha, sahabatku yang sedang membaca komik dengan serius. Tiba-tiba Pamog Asrama datang dan menghampiri Fhari, dia bilang;
“ Mba Fhari, keadaan sedang seperti ini, masih sempat-sempatnya baca komik. Astaghfirullahaladziiim!”, kata Pamongku gemas melihat Fhary. Fhary hanya cengar-cengir sambil menyembunyikan komiknya. Yah, hiburan sejenak dari ketegangan.

Dan saat itu aku ingin menuju WC, tiba-tiba telepon berdering. Aku pun mengangkatnya, berharap itu untukku. Tapi, bukan. Itu untuk temanku yang lain. Aku hanya bisa menyisakkan harapan supaya ditelpon ibuku.
Dan ketika maghrib, di asrama sisa 6 orang. Kamipun menggelar kasur di musholla yang jaraknya dari pintu keluar dekat. Setelah selesai shalat isya, kamipun duduk melihat berita. Ternyata pusat gempa berada di Bantul. Disana sangat parah kerusakannya. Lebih buruk berkali lipat kehancuran disana daripada di Kampung Suronatan ini. Setelah itu, kami memutuskan untuk menonton Extravaganza. Lumayan untuk meregangkan otot. Rasanya hari ini kami sedikit tertawa.

Setelah itu kamipun tidur seperti ikan pindang di musholla. Ada sekitar gempa susulan lagi sebanyak 5x. Dan setiap gempa susulan itu, kami berlari ke arah luar dan masuk lagi melanjutkan tidur karena kantuk yang teramat sangat. Dan saat gempa susulan ke-6, aku muak. Teman-teman pada lari semuanya, cuman aku yang masih di dalam. Jika memang takdirku mati, ya sudahlah, mati saja. Pikirku seperti itu.
Aku pun tidak terlalu peduli lagi dengan gempa susulan yang lain. Hasilnya akan kita lihat ketika aku besok membuka mata. Masih di Musholla Asraama Ummu Salamah-kah? Atau sudah berada di “dunia lain”?
(bersambung)


  

Gempa Yogyakarta

Jumat, 20 Januari 2012
Ini kisah nyata. Kejadian ini aku alami ketika tahun 2006, 27 Mei.
Pagi itu seperti biasa, setelah shalat shubuh berjamaah di aula asrama Ummu Salamah di pesantren, aku membuka buku sembari menunggu antrian mandi. Berhubung urutannya masih lama, aku kembali menekuni catatan Bahasa Inggris karena bakal ada ulangan sama Ustadz Arief.

Saat itu aku masih kelas 2 SMP. Tahun kedua di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Saat itu, persis seperti yang kuingat, waktu menunjukkan pukul 05.45. Dikamar masih ada 4 orang dari 6 personel kamar. Ada Kiki yang sedang tidur di ranjang atas, Vetty yang sedang menyetrika, Linggar yang baru masuk kamar untuk sarapan, dan aku yang sedang duduk dikasur sambil belajar.
Dengan sangat fokus, aku menghapal pelajaran. Kalimat demi kalimat, tanpa mearasa ada yang berderak sedikitpun. Tapi ketika itu aku seperti mendengar gemuruh api yang mendidih.
Getaran yang awalnya pelan, tiba-tiba saja menyalur melalui kulit dan syaraf indraku, lalu ke otak, mengisyaratkan bahaya. GEMPA! SIAL!

Kami yang sedang dikamar langsung panik keluar, bingung juga mau kemana. Linggar yang sedang asyik menyantap makanan langsung melempar piring dan berlari ke luar kamar. Vetty juga membiarka setrika begitu saja dan kabur. Kiki yang ajaib; lompat dari ranjang atas ke bawah. Perlu diketahui, kasus ini bisa menyebabkan encok, retak tulang dan gatal-gatal (kalau yang terakhir bohong :p). Aku entah kenapa, keluar paling akhir dari kamar. Entah karena tidak sayang nyawa atau memang belum 100% nyawanya.
Kebanyakan anak asrama; yang berjumlah 49 orang itu menuju ke lapangan jemuran. Ya, itu satu-satunya tempat yang tidak beratap dan menghadap langit. Gempa itu semakin mengguncang. Kami semua berteriak panik. Semuanya berpelukan, takut. Ibu dapur pun juga tak kalah panik sambil beristighfar. Ya Allah, akhir hidupkah ini?

Teman-teman yang dikamar mandi pun panik dan hanya memakai penutup seadanya saat keluar. Berhubung kemarin malam hujan, koridor menuju lapangan jemuran juga menjadi licin. Ada yang berlari dan terpeleset jatuh dengan keras. Aku yakin itu sangat sakit. Biasanya kami menertawakan hal-hal yang lucu seperti itu. Tapi entah kenapa semua kelucuan jika dicampur dengan getaran 5,9 skala ritcher akan menjadi suram.
Setelah gempa perdana (kayak album aje :p) selesai dan memastikan bahwa tidak akan ada gempa dahsyat lagi, kami menekuni aktifitas masing-masing. Tapi aku tidak berniat ke kamar melainkan menuju ke Aula, tempat piala dipajang.

SH*T! Semua piala itu pecah! Hancur berantakan. Padahal baru minggu lalu kami menjuarai lomba antar asrama SPEN-C. Yah, sayang sekali!
Teman-teman yang berada di asrama beragam ungkapannya. Ada yang asih ketakutan, menangis, heboh, panik, syok, trauma. Keputusan yang dibuat pun berbeda-beda. Ada yang mau pulang ke rumah, ada yang mau bolos sekolah, ada yang jadi takut mandi (alasan cuy :p haha). Akhirnya aku nekat menuju kamar mandi dan mandi secepat kilat. Sudah pukul 06.30, aku berangkat ke sekolah sendirian. Pikirku keadaan akan tetap sama seperti kemarin-kemarin. Maka akulah yang perdana paling rajin berangkat ke sekolah sendirin. Saat dalam perjalanan menuju sekolah, aku dikatai sama dua orang mas-mas,

“ Ora usah sekolah mba! Sekolahe ancur~”, katanya sambil tertawa dengan temannya. Entah kenapa aku kesal. Kalau bukan karena jilbab dan almamater pesantren, mungkin orang itu sudah kugampar karena kesal. Aku paling benci dengan orang meremehkan pendidikan.
Aku tetap berjalan dengan cepat tanpa ragu. Hancurkah sekolahku?

Saat itu Jalan Suronatan sepi sekali. Biasanya jika shubuh begini sudah banyak orang berlalu lalang. Mbah yang biasa berjualan gudeg juga tidak dagang hari itu. Tidak ada anak sekolah yang berpapasan denganku seperti biasa. Para mbok-mbok yang membawa anak balitanya jalan pagi juga nihil. Semua toko tutup. Hanya ada sedikit saja yang lewat atau keluar rumah. Mendadak Jalan Suronatan seperti di film I am The Legend.

Ketika memasuki gerbang, aku sudah ga keruan rasa. Dan saat memasuki areal sekolah! Jreng, jreeeng! SEKOLAHKU RETAK! TIDAKK!
Ada kaca jendela yang pecah. Atap-atap hancur. Ada koridor yang retak. Ampun! Aku mau sekolah~
Aku hanya pasrah dan berusaha bersikap tenang dengan duduk di teras lantai bawah. Berhubung terlalu bahaya untuk ke kelasku di lantai 2. Jadi aku kembali menekuni buku catatan bahasa inggris-ku. Aku kembali menghapalkan lagi.

Dan saat itu ada Bapak penjaga sekolah datang sambil bawa gerobak. Dia memunguti atap yang berjatuhan dengan sabar. Dan saat posisi-nya berada di dekatku, dia berkata,
“ Mungkin hari ini ga ada kegiatan belajar mbak”, katanya ramah sambil memunguti atap yang lain. Aku hanya menganggukan kepala.
Dan beberapa jam kemudian, para siswi datang berangsur-angsur memenuhi lapangan. Hanya saja, tidak semua berpakaian lengkap. Ada yang hanya memakai sandal jepit, kerudung bergo, bahkan masih memakai celana tidur. Semuanya tampak paik dan takut. Mungkin kejadian seperti di asramaku juga mereka dialami di asrama masing-masing. Teman-teman sekelasku juga ada yang datang. Aku menanyakan bagaimana kedaan mereka. Bahkan lebih parah. Katanya ada senior yang kejatuhan genteng di kepalanya sampai berdarah. Kasihan.

Akhirnya kami semua diarahkan untuk lesehan di lapangan, mendengarkan pengumuman dari Direktur sekolah, ibu Dra. Fauziah Tri Astuti. Dia membesarkan dan menenangkan hati kami dengan bilang, “ Berserah dirilah hanya kepada Allah. Jangan panik~ Kita harus tetap tenang”, ujar salah satu kutipan dari kata-katanya yang kuingat.
Akhirnya kami pun bubar dengan diliburkan seminggu. 1 minggu pemirsa! Lumayan lama untuk ukuran libur unpredicted di Madrasah kami. Ketika aku pulang, suasana kampung sekitar juga tak kalah panik. Ada yang sudah mengeluarkan barang-barang keluar rumah. Rata-rata dari mereka memutuskan untuk berada di luar rumah, karena jika terjadi sesuatu mereka bisa sesegera mungkin lari.

Ketika berada dijalan, kamisemua berombongan menuju asrama, tiba-tiba dari arah utara ada yang berteriak, “ Tsunami! Tsunami!”. Sontak kami semua berlari menuju arah barat. Bahkan warga kampung juga ikut berlari mencari keselamatan. Aku bersama teman-teman lari ketakutan. Bayangan tsunami Aceh yang kami saksikan di TV juga terngiang. Ketika aku berlari ke arah Barat, ada seorang ibu-ibu etnis Tionghoa yang punya Gerai Motor yang biasa kulihat sedang menggendong dua bayi kembarnya. Dia juga tak kalah panik. Tapi larinya tidak secepat kami karena menggendong 2 bayi. Aku mau menolong, tapi sudah keburu memikirkan diri sendir sehingga tidak mengindahkan itu. Ya Allah, ketika sedang kesulitan manusia itu memang jarang sekali masih memperhatikan sesama. Kalau ingat ini, aku ngerasa bersalah banget ga bisa nolong.

Dan ketika masih berlari ke arah barat, ada orang yang berteriak lagi, “ Tsunami!”. Aku sontak panik bersama teman-temanku. Membayangkan banjir dahsyat yang menyerang dari dua arah. Kiamat kah ini?

(bersambung)