Pages

Kontribusi Ajaran Konfusius pada Dinasti Zhou Timur

Sabtu, 28 April 2012
Sebelum bikin tulisan ini pas zaman semester 1, aku bener-bener serius ngegarapnya. Sampai ke perpustakaan nyari bahan setumpuk, browsing (sampai jelek), beli dvd Confucius yang diperanin Chow Yun Fat (ini sih ngefans sama Yun Fat-nya :)  hehe).

Dinasti Zhou disebut sebagai awal dari peradaban Cina. Dinasti sebelumnya, Shang, jatuh dikarenakan pemberontakan oleh suku Zhou yag dipimpin oleh pemimpin Zhou, Wen dan setelah meninggal, dilanjutkan oleh anaknya, Wu. Saat itu Dinasti Shang dipimpin oleh Kaisar Chou yang kekejamannya diluar batas dan semena-mena pada tampuk kekuasaannya.
Setelah peperangan dimenangkan oleh pihak Zhou,  berdirilah Dinasti Zhou. Sistem pada dinasti sebelumnya, yang memakai kaisar sebagai pusat pemerintahan, berubah menjadi sistem feodalisme. Dan yang paling terpenting pada dinasti tersebut adalah munculnya berbagai pemikiran filsafat. Dan Konfusius adalah salah satunya.    
  Konfusius merupakan salah satu tokoh abadi dalam sejarah manusia sebagai pembuat reformasi. Gagasan dan pemikirannya sampai sekarang masih diterapkan dengan pengikut yang berjumlah ribuan diberbagai belahan bumi. Karya-karyanya juga banyak diterapkan sampai sekarang. 
Bernama asli Khung Qiu/Zhong Ni yang lahir pada zaman Dinasti Zhou 551 SM di desa Chang Ping di negara bagian Lu. Berlatar belakang yatim saat berumur 3 tahun. Hidup miskin dan sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan.
Pemikiran filsafat Konfusius begitu besar pengaruhnya pada negara Korea, Jepang, Vietnam, Singapura, Taiwan bahkan sampai benua Eropa. Seperti yang kita ketahui, dalam buku-buku pelajaran sejarah pada sekolah menengah, yang mendalangi Revolusi Prancis adalah munculnya pemikiran Rennaisaince. Sebenarnya dibalik semboyan Revolusi Prancis, “Liberty (kebebasan), Equality (persamaan) dan Fraternity (persaudaraan)“  diadaptasi dari salah satu ajaran Konfusius tentang kemanusiaan (humanity) . Juga menurut Thomas Jefferson, seseorang dibalik Piagam penghargaan Amerika Serikat (Declaration of Independence) mengakui ajaran Konfusius yang menginspirasi deklarasi tersebut.
Jika pengaruh Konfusius begitu besar sampai mewarnai sejarah revolusi suatu negara, pastilah banyak kemajuan yang telah dicapai pada masa ia masih hidup, terutama pada saat Dinasti Zhou Timur (770-221 SM).

 Pendidikan 
Pendidikan dapat mengubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bisa dikatakan pendidikan adalah dasar dari segala kemajuan pada Dinasti Zhou Timur. Separuh dari murid-murid Konfusius menjabat sebagai pegawai pemerintahan. Karena memang posisi pegawai pemerintah adalah status yang dapat menaikan martabat dan juga menjadi impian setiap orang pada saat itu.
 Pada masa itu, pendidikan hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan. Tapi menurut ajaran Konfusius, dalam dunia pendidikan tidak ada perbedaan kelas. Setiap orang, apapun latar belakangnya, berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga dalam waktu singkat Konfusius dapat merangkul berbagai kalangan menjadi satu untuk dijadikan murid. Dan munculah istilah A Hundred School of the Warring States Period (ratusan sekolah pada zaman negara berperang) yang juga dilengkapi oleh ajaran Mohisme.   
 Murid-murid Konfusius yang berlatar belakang miskin dan bukan bangsawan pada akhirnya dapat menaikan status mereka dengan menduduki staff pemerintahan. Untuk itu, sebelum murid-muridnya terjun pada masyarakat, Konfusius telah memberi bekal agar ketika murid-muridnya yang kelak mendapat jabatan, dapat mengelola pemerintahan yang adil dan berpihak pada kebutuhan rakyat sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut.
Terdapat 8 prinsip belajar, yaitu:
1.      Menyelidiki hakikat segala sesuatu.
2.      Bersikap jujur.
3.      Mengubah pikiran.
4.      Membina diri sendiri.
5.      Mengatur keluarga sendiri.
6.      Mengelola negara.
7.      Membawa perdamaian dunia.

Konfusius tidak hanya mengajari pengetahuan dan keahlian, tapi juga cara mengasah pikiran dan memperoleh integritas yang akhirnya mengembangkan watak dan kecerdasan mereka. Metode pembelajarannya adalah dalam bentuk diskusi panel. Murid-muridnya didorong untuk bertanya dan mengemukakan pendapat secara bebas dan mandiri. Sehingga murid-muridnya menjadi kritis dan sangat berguna dalam mempertahankan prinsip yang dianut. 
Dalam proses pengajarannya, Konfusius membaginya dalam 4 tahapan, yaitu:
1.      Mengarahkan pikiran dengan cara.
2.      Mendasarkan diri pada kebajikan.
3.      Mengandalkan kebajikan untuk dapat dukungan.
4.      Mencari rekreasi dalam seni.

Beliau mempercayai bahwa semua orang dapat menarik manfaat dari hasil pengolahan diri dalam belajar. Ia juga memperkenalkan suatu program ajaran moralitas atau kebajikan untuk calon pimpinan negara. Beliau membuat suatu daftar prioritas dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, yaitu:
1.      Kelakuan adalah syarat utama.
2.      Berbicara adalah prioritas kedua.
3.      Memahami soal-soal pemerintah adalah prioritas ketiga.
4.      Kesusasteraan adalah prioritas keempat.

Perilaku dan watak menjadi alasan utama karena menurutnya, seseorang akan menjadi Chun Tzu (orang yang berbudi) bukan atas dasar keturunan. Setiap orang bisa menjadi Chun Tzu. Maka dari itu ia menerima murid dari berbagai kalangan tanpa memandang status.
Konfusisus menguasai 6 seni, yaitu:
1.      Tata krama (Li).
2.      Musik (Yue).
3.      Memanah.
4.      Menunggang kuda.
5.      Kaligrafi.
6.      Aritmatika.

Li merupakan elemen yang sangat penting untuk murid-muridnya. Tanpa sopan santun, orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian tidak ada gunanya. Murid-murid Konfusius yang berasal dari golongan miskin pun diajari tata krama istana agar ketika menduduki jabatan kelak dapat bersikap sejajar dan pantas.
  
Kehidupan Sosial
Konfusius berpendirian bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Dalam sebuah batas-batas tertentu, manusia dibentuk seperti keadaannya, oleh masyarakat. Dan masyarakat dibentuk seperti keadaannya, oleh seorang yang menyusunnya. Hati nurani seseorang tentu menolak untuk menarik diri dari masyarakat, tetapi juga melarangnya untuk menyerahkan pertimbangan moralnya kepada masyarakat.
Terdapat asas timbal balik jika setiap orang bekerja untuk kebahagiaan bersama, maka sudah pasti akan didapatkan suatu keadaan yang menciptakan kebahagian karena kebahagiaan merupakan kebaikan dan tujuan utama hidup manusia.
Beliau meyakini agar menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas dan kebajikan. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu. Seperti kewajiban terhadap negara, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban untuk menolong teman, dan suatu kewajiban umum terhadap kehidupan manusia. Kewajiban-kewajiban tersebut berbeda satu sama lain. Kewajiban yang paling utama adalah kewajiban terhadap negara dan orang tua.
Dalam kitab Wu Lun (lima hubungan utama), ajaran ini mengajarkan manusia untuk menjaga lima hubungan utama yaitu antara raja-menteri, bapak-anak, suami-istri, kakak-adik (laki-laki) dan antar teman. Kehidupan akan selaras jika setiap manusia menyadari akan hubungan atasan dengan bawahan. Sehingga pada masa itu terbentuklah masyarakat Shen Si (bangsawan) dan Xiao Ren (orang kecil), dimana mereka dapat berlaku sesuai dengan peran masing-masing dan kelasnya sehingga Dinasti Zhou menjadi maju.  

Ekonomi, Hukum, Politik dan Pertahanan
Pada awal dinasti Zhou, seorang raja sangat berkuasa dan negaranya menikmati kedamaian dan kemakmuran. Tetapi pada masa Konfusius, Cina terbagi menjadi beberapa negara bagian untuk merebut kekuasaan. Didalam satu negara pun selalu terjadi pertegkaran dan perselisihan antara penguasa dan kaum bangsawan sehingga kesejahteraan rakyat biasa sangat terabaikan.
Dalam ajaran Konfusius, sistem pemerintahan yang diterapkan adalah sistem paternalistik (kebapakan), dimana terjalin sikap saling menghormati dan menghargai antara pemerintahan dan rakyat. Pemimpin negara harus menciptakan kesempurnaan moral dengan cara memberi contoh yang benar pada rakyat. Beliau mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pegawai pemerintahan dengan prinsip moral yang tinggi untuk selalu berpihak pada rakyat.  
Beliau pernah berkata, bila seorang penguasa benar-benar bersungguh-sungguh dalam menyajikan korban kepada leluhur mereka, mengapa mereka tidak harus berbuat yang sama juga dalam memperhatikan pemerintahan kemaharajaan. Bila para menteri memperlakukan menteri lain secara hormat, mengapa tidak untuk harus memperhatikan kepentingan rakyat jelata yang menjadi tulang puggung negara.
Ia mengharapkan agar murid-muridnya bersedia mengorbankan jiwanya demi prinsip-prinsip yang diajarkannya dalam membela sesuatu yang disebut Jalan (tao). Jalan artinya jalan diatas segenap jalan lain yang seharusnya diikuti manusia. Tujuan yag hendak dicapai ialah kebahagiaan, dalam hidup ini, disini dan kini, untuk segenap umat manusia. Dalam berabad-abad para Konfunsianis tercatat sebagai kaum pemberontak atau dihukum mati karena menentang pemerintahan yag dianggap tidak sesuai dengan Jalan.
Salah seorang murid Konfusius, Zigong pernah bertanya tentang pemerintah; Konfusius menjawab: “ Cukup makan, cukup perlindungan dan kepercayaan rakyat adalah hal yang terpentig dari pemerintahan”.
Konfusius pernah menjabat sebagai walikota di kota Zhongdu. Dalam waktu satu tahun, Zhongdu menjadi kota teladan tanpa kriminalitas. Dalam menangani kasus hukum, Konfusius bertujuan untuk mengakhirinya.
Ia juga mengatakan: “Jika orang hendak memimpin rakyat dengan menggunakan aturan-aturan, dan hendak mempertahankan ketertiban dengan menggunkan hukuman-hukuman, maka rakyat pasti hanya berusaha untuk menghindari hukuman tanpa mempunyai rasa wajib moral. Tetapi jika orang yang memimpin mereka dengan kebajikan dan mendasarkan diri pada li dalam mempertahankan ketertiban, maka rakyat akan mempunyai rasa wajib moral untuk memperbaiki diri sendiri”.
Setelah menjadi walikota Zhongdu, ia dipromosikan sebagai Menteri Kehakiman dan kemudian Perdana Menteri di negara Lu. Perekonomian negara Lu menjadi sangat maju dibawah pimpinannya. Konsep pemerintahan Konfusius adalah mempertahankan kejujuran, kerajinan, kemakmuran, pembagian ketenagakerjaan yang adil dan kasih pada sesama di suatu negara yang memiliki ribuan kereta perang.
Ia juga sukses dalam urusan diplomatik ketika dia meneman bangsawan negara Lu di konferensi perdamaian dengan negara Qi dan menegosiasikan pengembalian tiga kota yang diambil dari negara Lu. Dalam urusan diplomatik, Konfusius jarang melakukan kekerasan (perang).
Adipati Lu juga sangat sering berkonsultasi dengan Konfusius sehingga banyak pemikirannya yang terpakai. Dalam strategi perang, Konfusius juga cakap dalam memimpin. Ia sebagai pembuat konsep serangan ketika negara Lu ingin merobohkan tembok 3 negara yang dominan berkuasa pada saat itu. Ia lebih memikirkan strategi yang efektif dibandingkan dengan jumlah tentara dan kereta kuda yang banyak.
Tapi ada sebuah kelemahan dalam sistem politik yang diajarkan oleh Konfusius. Para penguasa memiliki kekuasaan penuh untuk memilih menteri-menteri mereka untuk mengendalikan pemerintahan. Dan trik dari penguasa dalam mengendalikan pemerintahan adalah merekrut murid-murid Konfusius yang cakap dan mengerti urusan pemerintahan, lalu mengendalikannya sehingga prinsip moral yang diajarkan Sang Guru menjadi kabur oleh kesenangan duniawi. 

Modernisasi
Sajian korban berupa manusia berlaku secara sangat umum pada awal masa-masa sejarah. Sajian korban dipandang sebagai suatu transaksi timbal balik agar mendapat berkah dari para leluhur dan arwah. Konfusius mengutuk hal semacam ini. Sehingga berkat Konfusius-lah kebiasaan tersebut akhirnya berkurang.
Max Weber pernah menulis: “ Dalam arti tidak mengandung metafisika sedikit pun serta hampir semua sisa-sisa dasar keagamaan, Konfusianisme bersifat akali sedemikian jauhnya sehingga berada pada batas yang paling ujung dari apa yang disebut etika keagamaan.
Kebiasaan masyarakat akan perayaan dan upacara pada masa itu juga diubah oleh ajaran ini. Walaupun dalam kitab-kitab klasik Konfusius dijelaskan secara rinci tentang tata cara perayaan dan upacara, ia mengajarkan bahwa yang paling penting adalah semangatnya, bukan bermegah-megah. Pada upacara berkabung misalnya, lebih baik mereka yang berkabung merasa sedih daripada terlampau teliti dalam melakukan setiap ketentuan secara detail pada upacara. Ia tidak sanksi menyimpang dari tatakrama yag sudah diterima oleh kebiasaan, manakala ia merasa bahwa yang demikian ini diharuskan oleh alasan-alasan yang masuk akal dan sopan-santun, tapi tidak pernah meremehkan kebiasaa-kebiasaan yang ada.
Salah seorang muridnya pernah bertanya tentang bagaimana seharusnya kita berbakti kepada arwah; Konfusius menjawab: “ Anda sendiri belum mampu berbakti kepada manusia, bagaimana mungkin anda berbakti kepada arwah?”.
Dalam suatu kasus, seorang pejabat negara Lu meninggal dunia dan memiliki pesan, agar orang-orang yang dicintainya (termasuk bawahan) juga ikut bersama menemani kematiannya. Hal ini sudah berlangsung sejak masa Dinasti Shang, dimana seorang kepala keluarga (apalagi seorang pejabat) meninggal, maka orang-orang terdekatnya pun harus ikut mati. Maka para budak (dan keturunannya) beserta dengan binatang peliharaannya (kuda dan binatang ternak lainnya) diseret untuk dibunuh secara massal. Hal itu ditentang dan akhirnya tidak dipakai lagi di negara Lu dengan alasan pemikiran logis dari Konfusius.

Inti
Pandangan Konfusius tentang pemerintahan dan manusia merupakan elemen terpenting dalam ajarannya. Dia percaya bahwa tujuan pemerintahan yang sebenarnya adalah mensejahterakan rakyat. Cara terbaik dalam memerintah adalah dengan nilai moral dan contoh kehidupan yang baik dari pemimpinnya, bukan dengan cara negatif dari undang-undag dan penghukuman. Pemerintah yang baik adalah mereka yag memiliki bekal akan kualitas kemanusiaan dan pengetahuan yang mendalam.
Ajaran konfusius berpusat pada sekitar sopan santun, toleransi, iman, kerajinan, kebaikan, moderat, keberanian, kesetiaan dan bakti. Elemen-elemen tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengembangan diri. Yang terpenting adalah pembelajaran.
Tanpa pendidikan, cinta akan kebaikan akan menjadi kebodohan; cinta akan keberanian dapat menjadi kecerobohan; tanpa pembelajaran, cinta akan kejujuran dapat mengarah menjadi mudah ditipu, cinta akan kebenaran mengarah pada kecerobohan; cinta akan kebijaksanaan dapat menjurus kepada generlisasi yang dangkal, dan cinta akan kesetiaan dapat menyebabkan seseorang menyakiti orang lain.
Konfusius yakin bahwa kualitas moral yan sejati lebih penting dibandingkan dengan penampilan lua seseorang. Tetapi kebajikan batiniah harus dibuktikan dengan tingkah laku yag baik. Dia juga percaya bahwa kesopanan yang membentuk manusia. Kesopanan, baik didepan umum atau tidak, mempunyai pengaruhtidak langsung pada karakter seseorang yang akan mendorongnya menuju kebaikan dan mencegahnya melakukan kesalahan.
Penekanannya akan pentingnya pendidikan, pengajarannya tentang prinsip oral, penghormatannya kepada para cendekiawan dan profesi guru, keyakinannya pada peran keluarga, dan pentingnya pelayanan masyarakat, memberi pengaruh yang sangat besar selama berabad-abad.






Daftar Pustaka
-        Bauer, Susan Wise (2010). Sejarah Dunia Kuno-Dari Cerita-Cerita Tertua Sampai Jatuhnya Roma, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo).
-        Creel,H.G (1989). Alam Pikiran Cina sejak Confusius sampai Mao Zedong, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya (anggota IKAPI)).
-        Lu, Hou Wai (1959). A Short History of Chinese Philosophy, (Peking: Foreign Languanges Press)
-        Tang, Michael C. (2000). Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik-Refleksi bagi Para Pemimpin, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI).
-        http://wihara.com/forum/kong-hu-cu821-ajaran-konfusius.html



Dialogku dengan Meja, Kursi, Handphone dan Pensil Mekanik

Rabu, 25 April 2012


Aku merenggut malam, tanpa jejak. Merasa bodoh, karena ditenggelamkan oleh apa yang dipendam untuknya yang jauh.
Tanpa sempat menyingkap tabir tipis, tak ada kesempatan.
Bungkam, sembunyi dalam bungkam.


Kursiku bilang: "Kasihan kamu nduk~ tidak bisa jujur pada diri sendiri"

Mejaku membela: "Bagaimana bisa jujur dinegara yang sistem sosialnya seperti ini? Wanita yang maju duluan? Huh, jangan harap".

Handphoneku santai hanya berceletuk: "Didalam otakku, sudah ada nomornya. Gunakan saja aku~ di dunia yang serba modern ini apa sih susahnya. Jadi perempuan jangan terlalu dingin. Lagipula kau sering mengecek "kakak" itu lewat aku kan? Bahkan setiap hari. Seperti penguntit rupanya", ujarnya sambil kipas-kipas acuh.

Pensil mekanikku ikut mengomel: "Biarkan sajalah dia gila dengan pendam-memendam itu. Salahnya tak mau jujur juga, salahnya juga takut untuk merasakan "hal" itu kembali".

Mendengar itu aku langsung menghadapi pensil mekanikku.
" Hei, kau tau kenapa aku berusaha menjaga perasaan? Kau pensil tau apa sih tentang cinta??! Haa! Kau pikir gampang menyatakan perasaan, apalagi dengan batas teritorial yang sebenanrnya dekat tapi jauh!? Aku menjaga ini (sambil mengisyaratkan menunjuk dada) supaya aku tidak jatuh. Aku tidak mau itu bersatu dengan percikan air dalam air terjun dan ketika dibawah bersatu denga air sungai, lalu mengalir tenang. Gelembung itu hilang begitu saja kan?".

Meja bersorak membelaku.

Aku berdehem memulai kata-kata lagi, " Dia. Dia berbeda, pensil. Dia berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia lebih dari istimewa, yah walaupun aku belum pernah bicara langsung dengannya. Tapi itu saja sudah cukup".

Pensil mengangguk paham. Meja masih berpihak padaku. Kursi memunggungiku malas. Handphone daritadi sudah berada di alam mimpi.

Duniaku = Gila
Gila = Demi Tuhan, aku merinduinya

Yin dan Yang

Senin, 23 April 2012

Bulan, malam, gelap dan hitam
Penghubung jarak dan waktu
Saling menunggu kilatan balasan
Antara dua insan yang tak sekalipun bertatap muka

Jauh disana, tegak berdiri seorang Yin
Solid dan diandalkan
Ia jelas, gegap gempita tapi tenang
Bertanya-tanya sebuah bisikan yang membuatnya tersinggung

Dan disudut lainnya, duduk seorang Yang
Ia tidak rapuh dan tidak diam
Mendengar bisikannya didengar
Dirasa dan ditanya

Yin lupa, bagaimana memperlakukan Yang
Yang bisa jujur diatas kertas dan pena, tapi enggan mengaku jika ditanya
Ia bukan bermaksud untuk menyakiti, ia hanya memendam karena takut
Ia teramat sangat malu jika ada yang mengintip katup perasaannya, apalagi ditanya

Disisi lain, Yang lupa
Sikapnya bisa membuat Yin pergi karena dirasa hampa
Sosok tegar Yin, membuat Yang takut ia akan memunggungi segalanya



Yin dan Yang, sebuah analogi keseimbangan


Melengkapi, tapi kadang saling kebingungan

Kakak

Sabtu, 14 April 2012

Hey, aku mau membuat sebuah pengakuan.

Aku akui selama ini kau memang jarang datang di kehidupanku.
Kau bahkan bukan siapa-siapa, hanya seorang kenalan dari almamater yang sama, tapi tidak pernah langsung bertatap muka.
Kita bahkan tidak pernah mengobrol secara langsung, tapi aku merasa welcome denganmu.
Kau kuanggap kakak laki-laki yang selama ini ingin kupunya.
Aku memang tidak terlalu menunggu kehadiranmu di ranah jejaring dunia maya.
Tapi aku selalu mengagumi tulisan-tulisanmu, hasil dari pikiran cerdas yang berasal dari otakmu.

Kita selalu hampir saja bertemu, tapi memang bukan kehendak-Nya untuk kita bertemu.
Ini seperti hubungan relasi, yang saling tau dimana jarak dan lokasi, tapi tidak memiliki hubungan erat.

Aku mengagumimu sebagai sosok pria bertanggung jawab, yang murah senyum dan cerdas. Kau seperti bougenville di tengah-tengah mawar. Sederhana, kecil, tapi indah. Sangat bermakna~

Kau memang jarang, bahkan bisa dihitung memakai jari, mengomentari statusku atau blog-ku. Tapi ketika kau melakukannya, aku sangat senang. Penghargaan yag kau berikan sangat berbeda dengan yang diberikan orang lain.Lebih bermakna dan dalam; juga sangat berarti untukku.

Kau tau, tidak semua orang kupanggil lengkap dengan sebutan " Kakak". Bagiku "Kak" dengan "Kakak" itu berbeda~ Aku memanggil Kakak ketika aku merasa dihargai, diayomi dan respect pada seorang pria.
Dan akupun sangat menghargaimu yang memanggilku "Ading" atau terkadang "Adek". Terimakasih, itu sangat berharga buatku.

Hal kecil seperti itu kujaga, ketetapannya. Tidak pernah dan jangan sampai ia jatuh ke jurang air terjun seperti yang lain, yang akhirnya hanya larut bersama air sungai yang tenang dan hilang begitu saja.
Kujaga dan kusimpan jika memang suatu hari dipertemukan oleh Tuhan dan aku adalah tulang rusuk Kakak yang selama ini dicari.
Biar perasaan ini berbeda dengan perasaan yang sudah-sudah, tidak boleh ternoda dan kutitipkan saja pada Ilahi. Jadi ketika aku berusaha keras disini, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku~ aku tidak melupakan Kakak, tapi juga tidak selalu terbayang dengan Kakak.

Tuhan, aku titipkan perasan yang berarti ini untuk kausimpan. Nanti jika aku sudah siap, aku akan minta lagi darimu. Dan ketika aku memilikinya lagi, hanya akan ada 2 jawaban. Tangis dan senyum.
Aku janji akan mengambilnya lagi, suatu hari....






Subuh Itu, Seperempat Jalan di Jembatan

Minggu, 08 April 2012

Subuh itu, seperempat jalan di jembatan
Sebuah ukuran mutlak antara jarak dan waktu
Langkahku terseok-seok lelah, kamu jauh disana, memunggungi matahari yang hampir terbit
Mengangkat kepala, angkuh; tak peduli pada sekitar

Subuh itu, seperempat jalan di jembatan
rambutmu kali ini lebih berantakan dari semalam
bajumu kusut tak karuan seperti habis beradu dengan penjahat
apa yang sudah mereka lakukan padamu kemarin malam?

Subuh itu, seperempat jalan di jembatan
Seperti biasa, sepedaku bicara sinis, “ Dapat berapa dia hari ini?”.
Aku hanya bisu, memikirkan sesakit apakah tubuhmu
Sesakit apa hatimu menghadapinya setiap malam?

Subuh itu, seperempat jalan dijembatan
Sepeda kumbangku menjelma menjadi pria cemberut
“ Bodoh, walaupun kedudukanku hanya sepeda jengki reot untuk mengantar dagangan kerupuk sialanmu itu, setidaknya aku lebih mulia di mata Tuhan dibandingkan jalang murahan seperti dia?”, ujarnya cemburu
Malas aku mendengarkan rutukannya itu setiap hari diwaktu yang sama, bisa gila nanti
Yang kutau seorang manusia saja tidak pantas untuk menghakimi manusia lain, apalagi sebuah sepeda

Ingin aku sekedar tersenyum, tapi senyummu sudah mati; kau terlalu kecewa
Kau tidak percaya akan hidup dan ingin menantangnya,
Aku mengerti, aku tau, aku paham sakitnya itu
Aku hanya ingin memberikan selimut, menutupi tubuhmu; agar kau terlindung, terselamatkan
Menaungimu dari semua yang keji terhadapmu, termasuk malam yang kamu jalani

Subuh itu, seperempat jalan di jembatan
Dengan akhir  yang sama: dipeluk oleh kepengecutanku
Sejak tahun lalu, sekarang dan seterusnya


(Asrama UI, Depok. 8 April 2012. Pukul 15.22)


UTS Disasters

Kamis, 05 April 2012
Oke, oke...
Setelah lama nggak nulis bingung mau mulai darimana. Cuma satu kata yang mau kuteriakin disegala penjuru dunia. Di Tembok Besar, Eiffel, Menara Pisa, Borobudur, Grand Canyon; semuanya~ Aku cuman mau teriak PUSING!

UTS semester ini bencana banget buatku. Nggak tau kenapa baik mental dan materi belum siap. Semeter lalu aku bahkan cuman nyiapin mental doang, tapi fine-fine aja. Sebelum UTS nilaiku udah pada jatuh. Bingung euy!

Banyak hal terjadi; 

Jerawatan
Ini penyakit dari dulu. Kalau tugas numpuk, hanzi numpuk, cucian numpuk; maka jerawatan alamatnya. Ini nih yang bikin dunia kecantikanku siklusnya ga seimbang. Mau pakai krim atau masker apa aja ga bisa ngalahin mba jerawat yang doyan nongkrong pas lagi stress di pipi kanan, pipi kiri. Kadang pas belajar langsung meletus kaya merapi, tau-tau udah berdarah aja ni pipi. Kalo aku ga sadar, trus diliat orang bisa dikira habis motong ayam kan, soalnya kecipratan darah.

Meja belajar hancur kaya orang ngamuk 
Kayaknya aku harus belajar Ilmu Perpustakaan untuk penataan buku. Kalau hari biasa sih, rapi banget tuh meja belajar. Tapi pas UTS atau UAS, beeeuuuh~ jangan harap bisa belajar di meja. Semua buku numpuk, miring kesana, miring kesini. Kertas-kertas bertebaran denga indahnya.

















Lantai kamar mengenaskan
Karena ga bisa belajar di meja, akhirnya lantai juga jadi sasaran. Ga peduli deh, belum di sapu atau dipel, yang penting belajar. Aku juga baru inget, waktu di pesantren dulu belajar Akhlak tentang adab belajar. Ya ampun, pantesan aja ilmunya kagak masuk. Kamarnya berantakan kaya udang dicincang di atas bakwan.







Terlalu cepat merasa galau
Setelah UTS hari kedua, rasanya mau runtuh~ udah badan hangat, pening kepala, banyak tuntutan yang belum dikerjain, alamatnya ngegalau ala mahasiswa (jomblo lagi). Daripada belajar, maka saya memilih memandangi langit hitam di pinggir jendela. Menggalau memandangi pergerakan awan hitam berkumpul jadi satu. Berusaha menyimpulka filosofi dari hal itu, tapi yang ada malah ga belajar sama ga dapat filosofinya. Halaaah....
  



Ada si Tom main ke kamar 
Nah, pas malam terakhir persiapan UTS. Ada motherfu*ker MPKTB sama Shuo yang menyebalkan. MPKTB yang dosennya ala orde baru, diktator dengan jubah sok lembut (alah, apasih gua), ngewajibin kita nulis note pakai pulpen biru. Kelas lain padahal ada yang pakai pensil~ alasannya biar bisa bedain yang mana fotokopian yang mana yang bukan. Yaelah, bu~ pakai pulpen hitam juga beda banget sama fotokopian.
Nah, bela-belain tuh begadang ngerjain note sialan itu (yang akhirnya bergunaa bangeeet pas ujian). Pas cuci muka, trus mau ambil minu sambil jongkok deket dispenser, tiba-tiba ada sesuatu yang lagi jalan di kabel. Warna hitam orange. Aku kira lebah, eh, itu si abang TOMM!! TOMCAAAT!!
Awalnya diperhatiin dulu, mastiin itu bukan lebah yang lagi pengen ganti warna karena trend fashion. Itu beneran tomcat njiir! Akhirnya pakai sepatu converse yang mantap buat mukul tu binatang. Akhirnya dengan dua ketokan, mati juga (maaf ye tom).

Ketemu "Tom" pas ujian MPKT-B
Dan kagetnya lagi, aku ketemu tomcat lagi nih pas ujian. Dekeeet banget sampai disuruh cari faktor kenapa dia bisa meledak populasinya. Yup, soalnya ujian ternyata ngebahas tomcat. Ampun deh, berjodoh banget sama tomcat hari ini~    






Gempa Yogya #Part2

Sabtu, 04 Februari 2012
Kawan. Kalau di film horror Barat, pastilah tokohnya memiliki stabilisas yang memuncak. Awalnya ketakutan diancam oleh pembunuh, stress dan muak, akhirnya malah dia yang melawan pembunuhnya. Nah, seperti itulah keadaanku dengan teman-teman disana. Kami muak dengan seru-seruan tsunami dimana-mana. 

Akhirnya aku lelah dan duduk di trotoar, menangis. Tak jauh darisana, ada orang gila yang sedang duduk melamun. Melihat massa yang begitu banyak, ia tak sia-siakan kesempatannya untuk berorasi.

“ Bumi Indonesia, akan berkobar suatu hari! Merdeka!”, teriaknya lantang sambil mengepalkan tinju keatas. Setelah itu ia tertawa. Satu hal yang kupelajari hari itu. Mau keadaan stabil ataupun panik seperti ini, orang yang dianggap gila tak akan pernah didengar. Padahal jika kucerna orasi-nya sedikit menggugah jiawa patriotisme. Hanya saja bulan Agustus masih 2 bulan lagi saat itu.

Dan kupikir betapa enaknya jadi orang gila itu. Ia tidak perlu panik memikirkan nyawa. Ia makan, tidur, tertawa dan dilindungi oleh alam pikirannya. Tidak seperti kami yang saat itu ketakutan, gelisah apakah hari ini benar kiamat? Apakah masih bisa makan? Apa masih hidup?
Sambil mengeluarkan Al-Qur’an dan tadarus bersama Nita dan Tyas. Jika diingat konyol memang, tapi itulah yang terjadi. Aku lupa baca surat apa, yang jelas salah satu juzz amma :D.
Setelah itu aku berwudhu di mesjid dekat situ, berniat shalat dhuha dan ketika sedang memasang kaos kaki, ada getaran lagi. Gempa susulan ternyata. Aku pun buru-buru memasang kaos kaki dan tidak jadi shalat. Aku duduk di trotoar lagi sambil harap-harap cemas.

Kupikir, akankah aku mati hari ini?
Tiba-tiba terlihat arak-arakan dari arah barat di jalan raya. Seorang polisi yang dibonceng bersuara, “ Perhatian kepada semuanya! Tidak ada tsunami~ Saya ulangi lagi, tidak ada tsunami”. Aku hanya bisa bernafas lega bersama teman-teman. Warga pun bisa melepas ketegangan dengan duduk disembarang tempat karena lelah berlari kesana-kemari dengan perasaan takut.
Akhirnya aku kembali lagi menuju asrama bersama yang lain. Aku bergegas menuju kamar, naik ke ranjang dan mengambil ransel. Memasukkan ijazah SD, kotak pensil, binder, mukena, qur’an dan dompet. By the way, ketika itu uag di dompetku sisa Rp. 5000. Kupikir kami akan menjadi pengungsi di tenda-tenda seperti yang ada di Aceh. Maka aku bawa hal yang paling penting itu. Ijazah, karena aku akan tetap melanjutkan pendidikanku walau bagaimanapun keadaannya. Kotak pensil dan binder, agar aku bisa tetap menggambar di pengungsian nanti. Mukena, qur’an dan dompet tentu saja penting.  

Hal yang paling menyedihkan adalah 90% teman-teman di asrama akan pulang kampung. Mereka akan meninggalkan Jogja untuk 1 minggu dan kembali minggu depan. Ada yang di jemput keluarga, ada juga yang langsung memesan tiket travel. Bagi anak luar pulau Jawa, mereka akan dijemput saudara, kerabat jauh atau bahkan teman bapak ibunya. Wartel, tempat kami berkomunikasi dengan keluarga di rumah (karena no mobile phone di pesantren), tidak bisa beroperasi karena jaringan yang buruk hari itu. Kami hanya bisa berdoa, menunggu telepon dari orang tua di asrama. Ketika biasanya TV tidak boleh dinyalakan selain hari Kamis malam- Jum’at siang, kali ini dikhususkan untuk menonton berita perkembangan yang terjadi agar kami siaga. Aula yang biasanya hanya sedikit fans shalat dhuha-nya, menjadi penuh tiba-tiba. Yang biasanya kitab Al-Ma’tsurat tersimpan rapi (sampai berdebu) di rak buku, menjadi berjamuran dibaca oleh pemiliknya di musholla. 

Ketika pukul 17.00, asrama sudah sepi sekali. Dan aku belum ditelpon oleh orangtua-ku. Khawatirkah mereka? Aku adalah anak sulung yang sering dilepas oleh ortu-ku. Sejak SD tinggal terpisah dari abah dan mama. Mereka percaya padaku sepenuhnya, jadi ketika aku tidak dirumah, mereka jarang khawatir. Tapi ini kan beda kondisi~ Apakah mereka akan menelepon ya?

Ada kejadian lucu saat itu. Ketika seluruh personel kamar sudah pulang semua, aku main ke kamar sebelah. Aku mengobrol dengan seseorang, aku lupa siapa. Disana juga ada Farikha, sahabatku yang sedang membaca komik dengan serius. Tiba-tiba Pamog Asrama datang dan menghampiri Fhari, dia bilang;
“ Mba Fhari, keadaan sedang seperti ini, masih sempat-sempatnya baca komik. Astaghfirullahaladziiim!”, kata Pamongku gemas melihat Fhary. Fhary hanya cengar-cengir sambil menyembunyikan komiknya. Yah, hiburan sejenak dari ketegangan.

Dan saat itu aku ingin menuju WC, tiba-tiba telepon berdering. Aku pun mengangkatnya, berharap itu untukku. Tapi, bukan. Itu untuk temanku yang lain. Aku hanya bisa menyisakkan harapan supaya ditelpon ibuku.
Dan ketika maghrib, di asrama sisa 6 orang. Kamipun menggelar kasur di musholla yang jaraknya dari pintu keluar dekat. Setelah selesai shalat isya, kamipun duduk melihat berita. Ternyata pusat gempa berada di Bantul. Disana sangat parah kerusakannya. Lebih buruk berkali lipat kehancuran disana daripada di Kampung Suronatan ini. Setelah itu, kami memutuskan untuk menonton Extravaganza. Lumayan untuk meregangkan otot. Rasanya hari ini kami sedikit tertawa.

Setelah itu kamipun tidur seperti ikan pindang di musholla. Ada sekitar gempa susulan lagi sebanyak 5x. Dan setiap gempa susulan itu, kami berlari ke arah luar dan masuk lagi melanjutkan tidur karena kantuk yang teramat sangat. Dan saat gempa susulan ke-6, aku muak. Teman-teman pada lari semuanya, cuman aku yang masih di dalam. Jika memang takdirku mati, ya sudahlah, mati saja. Pikirku seperti itu.
Aku pun tidak terlalu peduli lagi dengan gempa susulan yang lain. Hasilnya akan kita lihat ketika aku besok membuka mata. Masih di Musholla Asraama Ummu Salamah-kah? Atau sudah berada di “dunia lain”?
(bersambung)