Pages

Sore Selepas Hujan

Selasa, 28 Mei 2013
"Yah, kenapa hujan sih?"
"Iya nih gara-gara hujan jadi ga bisa kemana-mana"
"Ah, bete banget kalau pakai hujan segala"

Kalimat-kalimat seperti di atas memang sangat familiar di telinga atau bahkan di mulut. Tanpa sadar kita menyesali turunnya hujan sebagai suatu kesialan dan penggagalan rutinitas harian. 

Kata agama, hujan itu berkah, jadi harus disyukuri. Kata fisikawan, hujan itu adalah sebuah fenomena alam, jadi harus diseksamai. Kata filsuf, hujan adalah lambang kebebasan dari rasa takut akan ketiadaan, jadi harus diresapi.

Bagiku hujan adalah sebuah penantian. Aku sangat menantikan saat-saat hujan, terutama pada bulan Desember. Mungkin karena bulan itu umurku resmi bertambah sehingga aku membutuhkan udara yang dingin untuk menghadapi pertambahan umur itu. Melihat langit mendung, petir yang menggelegar dan udara lembab yang tidak membuat pipi kemerahan seperti musim kemarau.

Selain itu, mungkin mereka yang menggerutu lupa satu hal. Hujan seringkali mendatangkan pelangi. Walaupun sudah berkali-kali melihat pelangi, aku selalu takjub untuk meniti warna-warna yang terlihat dengan mataku saat itu. Aku dengan refleks mengecek apakah pelangi yang sebenarnya sama seperti yang dilagukan ketika kita masih anak-anak.

Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau, di langit yang biru
Pelukismu Agung, siapa gerangan?
Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan




Selepas Hujan, ada pelangi yang muncul

Serpihan pelangi

Ini saya setelah "berjihad" UAS dan presentasi

Polemik FIA: Tantangan atau Ancaman

Rabu, 22 Mei 2013
“To find yourself, think for yourself.” 
 
Socrates

Usaha pendirian Fakultas Ilmu Administrasi atau yang disebut dengan FIA di UI, telah diajukan sejak 1973 dan hingga kini pengajuan tersebut masih dalam proses di pihak rektorat. Usaha ini tentu tak jauh dari alasan kedekatan lmu dministrasi dengan ilmu manajemen khususnya di bidang Manajemen Pembangunan. Kesamaan kurikulum antara jurusan Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi mencapai 40 persen.

Ditemui SUMA UI (17/4), Pimpinan Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI, Dr. Roy V. Salomo, M. Soc. Sc menjelaskan mengenai perjalanan pengajuan FIA yang sangat panjang dan sempat terhenti karena penolakan dan keberatan dari beberapa pihak.  Dilatar belakangi permasalahan seperti ijasah untuk melamar kerja.

“Selalu ada masalah dengan penerimaan kerja lulusan Ilmu Administrasi. Baru tahun ini Departemen Perpajakan menerima lulusan kami. Kasihan. Lulusan kami selama ini tidak bisa berkarir di sana. Dalam sejumlah hal kami sudah tidak fit in lagi”, paparnya.

Pakar Reformasi dan Birokrasi ini menyatakan bahwa FISIP sebagai sebuah lembaga terlalu kecil untuk menampung delapan jurusan, terlebih Ilmu Administrasi yang terus bisa berkembang. Harapan pendirian FIA ini juga tak terlepas dari ide pendirian business school, mengingat ITB dan Universitas Trisakti telah terlebih dahulu mendirikan hal serupa.  Hal ini telah dibawa ke rapat SAU terakhir dan hasilnya Wakil Rektor pun mendukung pendirian business school ini.

  “Terlalu crowded di sini. Jika kami lepas, keilmuan pasti dapat berkembang lebih cepat, rekrutmen pegawai juga bisa lebih cepat, pengembangan program dan kurikulum lebih fleksibel. Itu alasan utamanya. Jika kami berdiri sebagai fakultas, kami tentu akan lebih relevan dalam mengembangkan ilm administrasi di UI”, lanjutnya lagi.


Ditemui di ruangannya (27/3), Dekan Fakultas Ekonomi, Jossy P. Moeis, Ph.D mengatakan bahwa sebagai pimpinan Fakultas Ekonomi, ia keberatan dengan pengusulan fakultas baru ini. Ia menjabarkan bahwa ada tiga alasan mengenai ini, yaitu yang pertama adalah norma pembentukan fakultas belum ada di SAU (Senat Akademik Universitas) terkait dengan fakultas itu secara keilmuan dibentuk yang baru. Kedua adalah kurikulumnya, di mana dapat diperiksa, banyak sekali kurikulum yang mirip dengan Administrasi Niaga. Kurikulumnya 75 persen  sama dengan S-1 Ilmu Manajemen . Padahal pada pembentukan kurikulum hanya boleh sama sekitar 40 persen untuk S-1 dan 60 persen untuk S-2. Ketiga, istilah “bisnis” adalah domain dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB). Dekan FE UI sendiri mengaku bahwa FE pernah mengajukan sistem FEB untuk UI, hanya saja ditolak oleh SAU. Tahun 2011 proposal kembali diajukan ke SAU dengan hasil pengajuan FIA diteruskan masuk di SAU dan dibahas, tapi FEB tidak diteruskan. “Kita harus kaji apakah administrasi secara keilmuan perlu pada level fakultas atau departemen saja”, ujarnya.


Baginya,  usulan mengenai Ilmu Manajemen bergabung dengan Ilmu Administrasi, khususnya Administrasi Niaga untuk mendirikan business school adalah gambaran idea yang menyesatkan. “Kita terlatih dengan makro perspektif sedangkan manajemen adalah mikronya. Itu yg kita butuhkan. Makro dengan fondasi mikro. Itu yang harus dipahami oleh teman-teman SAU. FE itu memberikan kontribusi yang besar terhadap Indonesia. Silahkan jika mau latah juga mendirikan business school , tapi janganlah diganggu gugat salah satu departemen kami”, tegasnya.

Mengenai kedekatan Ilmu Administrasi dengan Ilmu Manajemen, menurut Harriyadin Mahardika, Ph.d, dosen perwakilan Departemen Manajemen dalam rapat pembahasan kelanjutan FIA di gedung Dekanat FE UI (27/3), Departemen Ilmu Manajemen telah lebih dahulu mengembangkan diri daripada Ilmu Administrasi. Kurikulum Ilmu Manajemen hampir 60 persen sama dengan Ilmu Administrasi, mulai dari buku-buku yang dipakai dan teori-teori keilmuan, bahkan banyak dosen-dosen Ilmu Administrasi yang berkuliah di Ilmu Manajemen. “Jadi intinya ilmu yang didapat pun sama dengan yang mereka peroleh”, ujar dosen muda ini.

Mengenai kesamaan antara Administrasi Niaga dengan Ilmu Manajemen, Pimpinan Departemen Ilmu Administrasi mengatakan itu adalah hal yang wajar, sama seperti di luar negeri. Di indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sendiri telah mengakui adanya Administrasi Niaga sebagai rumpun ilmu yang berbeda dengan manajemen. Roy berasumsi bahwa pihak FE UI selalu keberatan mengenai kesamaan kurikulum dan pendirian FIA. Sekitar tahun 1999, FIA sempat disetujui , tapi terganjal oleh beberapa pihak di FE UI. Dan saat Gumilar menjabat sebagai rektor, FIA kembali diajukan. “Saat ini kami berharap FE sekarang diisi oleh orang-orang muda sehingga paradigmanya lebih maju, terbuka dari yang sebelumnya dan bisa diajak bicara. Administrasi dan Ilmu Manajemen memang rumpun yang sama sehingga toh jika kita dipaksa bikin kurikulum yang berbeda, apa bukunya bisa beda? Kan subtansinya sama. Kenapa mesti diperdebatkan?”, ujar Roy lagi.

Dekan FE UI pun menegaskan tidak akan melepas Ilmu Manajemen dari FE UI karena telah memiliki sejarah yang panjang. Ia mengingatkan agar jangan coba-coba untuk memecah departemen dalam fakultas karena hanya akan mengganggu stabilitas di tingkat universitas mengingat FE memiliki peminat yang banyak. Sedangkan Harriyadin mengusulkan bahwa ini harus ditarik ke blueprint UI, khususnya untuk keilmuan di bidang bisnis. UI yang harus menjadi regulator dan harus mengkaji, karena selama ini UI belum memiliki blueprint yang jelas untuk seluruh bidang keilmuan.
.
Hal senada pun diungkapkan oleh Dony Abdul Khalid, Ph.d, perwakilan Departemen Ilmu Manajemen (27/3). Tidak ada kesepakatan Ilmu Manajemen untuk pindah atau bergabung dengan FIA di samping masih dalam taraf diskusi mengenai yang terbaik. “ Jika tujuannya untuk mengembangkan keilmuan, saya rasa caranya bukan mengutak-atik organisasi tersebut melainkan bagaimana masingmasing departemen mengembangkan kapasitasnya. Jangan dipaksakan ada”, imbuhnya.

Terkait dengan FIA, ia mempertanyakan kenapa bisa ada kemiripan jurusan yang padahal sudah ada sebelumnya. “Apakah pengawasannya kurang? Itu yang patut dipertanyakan juga. Kami semua (FE) solid untuk saling mempertahankan”.





Ronggeng Dukuh Paruk; Sang Penari

Minggu, 05 Mei 2013
Setelah membaca novelnya dan gencar mencari edisi film, akhirnya saya putar otak dengan memanfaatkan iMac perpusat UI yang adorable~ Akhirnya saya berkesempatan untuk menonton filmnya.




Yah, bisa dibilang telat juga kalau mau membicarakan film ini. Tapi saya punya ritual untuk lebih menghormati karya tertulis terlebih dahulu ketimbang menonton karya visual adaptasi dari karya tulis tersebut.

Srintil yang dibintangi oleh Pia Nasution memang agak kurang 'dapat' feel-nya. Saya akan lebih senang kalau yang memerankan adalah Happy Salma. Hanya saja saya memikirkan kecocokan sosok Rasus yang sudah pas yang dimainkan oleh Oka Antara jika harus disandingkan dengan Happy Salma. Memang Pia Nasution lebih cocok dengan Oka.

Dan ini salah satu film roman sejarah yang berkualitas dari Indonesia. Andai produser dan sutradara dapat lebih menggambarkan kebutuhan warga Dukuh Paruk akan ronggeng dan skill tari yang dibawakan oleh Pia lebih mumpuni pasti film ini akan sempurna. 

*By the way, kalau liat sosok Rasus ingat si Kakak :p
Selasa, 30 April 2013
Menyeksamai gerak-gerik pasifmu pada penghujung April lalu

Kutil

Kamis, 25 April 2013
Ini tahun-tahun yang sulit 
Negeri si gemah ripah loh jinawi,
yang sebenarnya sudah kelu aku ucapkan,
tapi dipaksa-paksakan cupaya cinta,
menderita penyakit kutil

Kutil itu menyebar dan sewaktu-waktu dapat meletup
Nyeri dan bau, merata secara keseluruhan
Ada yang kelihatan, ada juga yang malu-malu sembunyi 
Sembunyi di kelamin, di pantat dan ketiak

Kata temanku yang mengaku bijak,
kutil itu tumbuhnya tergantung konteks.
Aku menggarukkan kepala tak mengerti
Pasalnya bukan anak FK atau Biologi,
yang selama ini hanya kukutat kamus dan sejarah pria berkutil di dagu itu

Katanya:
Kutil itu merupakan cerminan kepribadianmu

Jika ia senang tumbuh di tangan, pemiliknya suka sekali "mengutil"
Mulai dari celengan ayam di rumah, uang ribuan di atas meja sampai uang rakyat
Tak ada yang luput
Dan yang luput seolah dibuat tak ada

Jika kutil itu tumbuh di leher, tentulah lemaknya terlalu banyak
Daging berlebih tak bisa menampung sehingga ia "didiskreditkan" membulat menjadi kutil
"Orang yang seperti ini biasanya suka sekali makan", ujarnya.
Mereka suka makan makanan dan yang bukan makanan.
Yang bukan makanan ini bisa jadi seperti sesuatu yang termakan.
Termakan jari sendiri.
Termakan omongan sendiri.
Termakan kekuasaan sendiri.
Parahnya lagi bisa jadi dimakan.

"Kalau kutilnya tumbuh di tempat tertutup?", tanyaku lagi.

Aih, itu pula tergantung konteks.

Kalau tumbuhnya di pantat, mestilah ia orang yang bersabar
Bagaimana tidak jika pantat sebesar itu menduduki kutil yang kecil
Tidakkah kamu ingat suatu rezim yang kuasanya minta ampun
Mereka menekan kutil kecil itu tapi tetap membiarkannya hidup
Kadang malah digoyang-goyangkan karena asyik walaupun sakit
Tidakkah ada ketimpangan di situ?

"Kalau di kelamin?"

Aih, aih, jangan main-main dengan kata kelamin
Kutil yang tumbuh di kelamin itu pusaka
Jarang orang memilikinya,
karena yang tahu hanya istri, selingkuhan dan teman BBS-nya
Mereka inilah yang pintar kali menyembunyikan dosa
Bercelana seolah tidak apa-apa
Senyum-senyum sambil naik lift ke lantai tiga



Jadi kau punya kutil di mana wahai kisanak?

Surat Untuk Minke; Antara Zamanku dan Zamanmu

Jumat, 12 April 2013

Teruntuk 
Minke, yang sedang berada jauh dalam pikiran siapapun yang mengetahuinya, di sebuah tempat bernama Bumi Manusia.


Minke, kumulai surat ini dengan ucapan beribu-ribu terimakasihku pada cerita perjalanan hidupmu yang luar biasa itu. Walaupun aku belum membaca kisah pada dua buku perjalanan terakhirmu, sudah cukuplah engkau membuatku termenung dengan segala yang pernah terjadi antara jamanmu dan jamanku. Minke, aku ini bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang gadis biasa yang sedang menentang juga mereguk manisnya jaman. Betapa naif kan?

Aku seorang pribumi, asli Kalimantan, pulau yang katamu tak terjamah itu. Aku sedang bersekolah di puing-puing STOVIA, tempat yang kau dambakan dulu. Hanya saja, bukan pendidikan dokter tujuanku.

Kita pernah bertemu dalam sebuah dunia jaringan sel membran, bermula dari pertemuanku dengan buku merah jambu menyala itu, Bumi Manusia. Kubaca untuk menghabiskan sisa-sisa umurku yang ke 18 tahun menuju 19 tahun. Dalam keadaan sadar dan bukan sekedar iseng mengetahui kisah perjalanan hidupmu, aku seperti menemukan sebuah evolusi kesadaran nasionalisme. Pada penghujung umurku yang ke 18 itu, muncul berbagai macam perasaan yang tak terungkap. Yang pernah kupikirkan, tapi sambil lalu. Pikiran yang pernah terlintas kala diam, kala memperhatikan sesuatu dan hilang begitu saja. Betapa mubazirnya aku selama ini.

Dan saat itu, aku pun berkenalan dengan banyak sekali pelajar dengan segala argumen-argumennya mengenai bangsa ini. Segala teori disodorkan, segala buku-buku karya Barat maupun non-Barat juga ditumpahruahkan, waktu berjam-jam pun dihabiskan untuk membahasa konsep akan masyarakat madani yang diidam-idamkan. Mereka semua sama-sama bersemangat, Minke. Tapi aku masih sanksi akan segala teori, bacaan dan segala diskusi itu. Tahu kau kenapa? Mereka tidak menulis seperti kau, Minke. Hanya berteori dan bicara. Kupikir masih belum puas aku dengan sikap mereka.

Minke yang budiman, masih ingat kau kalimat ini: "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari apapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudianhari."

Kupikir itu dasar dari segala yang kulakukan selama ini. Aku ingin menulis Minke, seperti kau. Walaupun aku tau aku tidaklah pintar berargumen dan berdiplomasi dalam lisan maupun tulisan, setidaknya aku belajar Minke, agar suaraku takkan padam ditelan angin.

Minke yang jauh disana, maukah kau kuceritakan apa yang sudah terjadi pada Hindia-mu yang kau bela dan junjung tinggi baik luar maupun dalam? Kutemukan banyak kemiripan antara jamanku dan jamanmu. Saat ini, Hindia pada jamanmu, sekarang bernama Indonesia, sangatlah sudah renta kelihatannya. Semakin tua dan kuyu, hilang energinya. Tahukah kau saat ini Indonesia sudah sangat bersolek menjadi sebuah negara demokratis berjubah kapitalis? Seperti dipaksa-paksakan, padahal banyak sekali keriput di wajah.

Rupanya jamanmu tak beda jauh dari jamanku dalam masalah saling merendahkan bangsa sendiri. Rusuh, Minke. Rusuh. Golongan atas menginjak yang bawah dan golongan bawah saling berebut nasi di tong sampah. Rasis golongan dan etnis itu walaupun telah diburamkan sejak tahun 2001, bagiku masih agak ketara sampai saat ini. Perang antar suku juga pernah terjadi di tanahku, Kalimantan. Sangatlah miris, Minke.

Ada lagi sesuatu yang mirip, Minke. Mirip sekali. Hanya mungkin sedikit berbeda saja dari segi kualitas teknologi. Pada jamanmu, kulihat ada fasilitas yang dinamakan klas satu, iya kan? Dan hanya Eropa, Totok, Tionghoa, dan pribumi berduit yang boleh memakai?

Kalau sekarang, ia dinamakan VIP. Kau bisa bahasa Inggris kan? Sudah pernah mendengarnya? Ya, very important person. VIP.

Kalau jamanmu ada kamar hotel, gerbong kereta dan sekolah untuk kaum menengah klas satu, maka pada jamanku VIP merambat pada segala hal; tempat parkir, tempat duduk, meja makan restorant, ruang tunggu pesawat, tiket konser musik, kereta api (kali ini tidak per-gerbong), bus antar kota, kapal laut dan banyak lagi.

Memang sebenarnya bukan hakku mencampuri urusan mereka mau memakai fasilitas apa. Jika sudah berduit, manusia memang tidak kurang sesuatu apa. Iya kan, Minke?

Tapi saat segalanya menjadi tidak logis untuk kaum marginal, mereka yang terpinggirkan, aku lumayan gusar. Saat mobil-mobil (pada jamanmu dinamakan kereta mesin) sekarang mampu melindas pengendara sepeda motor (sepeda yang bermesin), sepeda dan pejalan kaki. Saat dini hari takjub melihat ribuan manusia Jakarta (Batavia) masuk gerbong kereta ekonomi, bahkan menaikinya, Minke. Mereka naik ke atas gerbong. Betapa bahaya!

Terakhir kulihat, ada seorang wanita setengah baya, berdarah dan bengkak terjepit pintu kereta yang otomatis membuka dan menutup (bisa kau bayangkan majunya teknologi jaman sekarang). Ia berusaha masuk ke dalam kereta yang sudah penuh sesak melebihi kapasitas penumpang, memaksakan diri tapi tak ada tempat yang cukup. Dan ketika masih berusaha masuk, tangannya masih berada di arena luar. Pintu otomatis tertutup dan lengan pun terjepit. Sempat kereta berjalan sekitar 5 detik sampai satpam (pada jamanmu sekaut) meniupkan peluitnya untuk menghentikan kereta yang akan jalan. Mungkin meninggalka darah, mungkin saja tidak. Yag jelas meninggalkan trauma ketakutan akan ganasnya transportasi negara ini.

Nah, Minke, walau kita berbeda jaman, inginku bertanya padamu. Kenapa harus ada tingkatan seperti itu? Kenapa tidak disamaratakan menjadi satu. Sama rasa dan sama rata. Kenapa hanya golongan berduit yang dapat merasakan aman dan nyaman? Sejak dulu, sejak jamanmu hingga sekarang, pengelompokkan kelas seperti itu rupanya tak membuat negara ini kapok. Kenapa harus ada uang untuk menciptakan kenyamanan? Ah, pusing juga aku memikirkannya jika tidak dari dasar, dari permasalah pokoknya. Tapi apa?

Bagiku, VIP dalam hal transportasi, merupakan bukti bahwa kita masih senang menjajah dan dijajah. Ada yang dibawah dan ada yang diatas. Aku tidak tega Minke, melihat banyak sekali kaum marginal yang masih menghambakan diri dengan ini semua. Kontras sekali dengan segala kenyamanan dan pelayanan untuk manusia-manusia yang merasa dirinya important itu, Minke.

Ketika kau terkagum-kagum dengan segala karya Eropa, maka kau akan heran karena sekarang yang menguasai teknologi adalah Asia. Mungkin awalnya kau patut juga berbangga karena masih merupakan sesama ras golongan Mongoloid seperti manusia kita ini. Tapi tidakkah kau muak juga pada akhirnya? Kenapa hanya selalu jadi bangsa penikmat? Mengingat nenek moyangku, yang pada jamanmu merupaka bangsa pengolah terbaik dengan upah rendah. Gula, palawija, karet, kopi, nila, tembakau, cengkeh dan juga rempah-rempahan yang mendunia itu, sekarang sudah tandas pamornya entah kemana, Minke. Tak dapat kulukiskan lagi kiasan buruk apa yang dapat menggambarkan keadaan negeri ini sekarang.

Begitu saja Minke yang dapat kuceritakan padamu. Selebihnya biarlah kau tetap bersemayam dalam benak ini. Salamku untuk Mama-mu, Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Bilang padanya aku sungguh kagum akan sikapnya itu. Jika beliau hidup sekarang, bisa jadi predikat miss independent jatuh ke tangan Nyai.

Hormat dari yang selalu memikirkanmu,

Ummi

'Menyedang'

Rabu, 10 April 2013
Entah sejak kapan wadah ini menjadi semacam pelepasan emosi. Katarsis?

Tengah 'Menyedang'

Heraklitos mencetuskan filsafat perubahannya yang begitu dalam. Tak tanggung-tanggung; "panta rhei kai uden menei- segala sesuatu berada dalam perubahan". Segala sesuatu tidak ada yang statis, ia akan selalu dinamis. Bergerak dari satu entitas kebenaran (atau pembenaran) dan menghasilkan entitas yang lainnya. Maka tak heran jika manusia dapat meragukan semuanya, tak terkecuali Tuhan. 

Dalam ranah ini aku bukanlah mewujud jadi seorang hakim atau pun dewa yang dapat menantang sekaligus menentang kebenaran dan bukti tentang konsep keber-Tuhanan. Melainkan jiwa raga sedang kupusatkan dalam proses menuju puncak ketenangan yang sudah termaktub dalam diri setiap manusia. Spiritualisasi seseorang tentu berbeda satu sama lain.

Ini bukan masalah sok-sokan supaya terlihat keren karena bersikap seolah atheis. Bukan, Kawan. Aku tengah menyedang. Aku sedang berusaha untuk menolak terjebak dalam ekstremitas-ekstremitas yang ada. Kadang usahaku ini, walaupun abstrak, membuahkan suatu kelelahan yang tak terungkap. Aku ngotot untuk tidak menjadi makhluk siap saji -- begitulah aku menamakan manusia yang tidak otonom secara subjek. Maaf, aku merasa 'berbeda' saat ini bukan karena dibuat-buat. Ada begitu banyak hal yang terjadi, yang tidak ada seorang pun yang tahu saat ini sehingga rasanya hal yang paling tepat adalah menarik diri.


Menyeksamai Nietzsche secara sekilas, di mana ia melakukan revolusi pemikiran dengan cara membunuh konsep Tuhan pada masa itu; "God is dead". Ia memandang bahwa manusia hendaknya berkuasa secara otonom atas dirinya tanpa harus berpaling pada sistem-sistem yang ada. Mungkin ia begitu kecewanya dengan sistem sosial dan realitas pada masanya sehingga keinginan membunuh Tuhan tercetus dalam pikiran.  

Aku yakin bahwa ia, Nietzsche, pun saat itu tengah menyedang dalam spiritualisasinya hingga ajalnya dijemput oleh Tuhan, yang dikatakannya telah mati. Ia gagal 'membunuh Tuhan'.

Perubahan-perubahan yang terdapat pada diri Nietzsche merupakan suatu proses spiritual yang tidak dapat kita abaikan begitu saja. Ia bergerak dari keyakinan umum menuju kepada konsep yang ia buat secara otonom. Eksistensialis.
_________________________________________________________________


Kau mungkin kemarin mengelak tak ada perubahan yang berarti ketika umurmu itu bertambah. Tapi cobalah kau rasakan sejenak, Kawan. Dunia ini pun tak dapat mengabadikan zona nyaman selamanya untuk kaum manusia. Hidupmu adalah apa yang kamu pikirkan. Duniamu adalah apa yang kamu pikirkan. Tua itu tentulah pasti, tapi dewasa adalah kamu yang memilih.
Semoga duniamu tetap berwarna-warni di tengah proses 'menyedang' ini. Selamat hari lahir, Kawan :*