Pages

Atribut Mahasiswa Baru = Alat Bantu Adaptasi?

Minggu, 23 Juni 2013
Ini tulisan saya untuk reportase ringan ketika mendaftar jadi anggota SUMA UI 2012 angkatan #22 (20/10/2012)
__________________________

Setelah libur panjang semester genap, kegiatan perkuliahan dimulai pada tanggal 3 September 2012. Semester baru, suasana baru. Itu yang kerap disebut-sebut para mahasiswa Universitas Indonesia menjelang menghadapi semester baru. Bertepatan dengan itu, bermunculanlah wajah-wajah baru di kampus. Mereka tak lain adalah mahasiswa baru yang bergabung dengan keluarga sivitas akademia ini. Maba (mahasiswa baru), predikat yang akan menempel untuk setahun lamanya bagi mereka yang baru bergabung menjadi bagian dari kampus ini.

Sebuah tradisi non tertulis di beberapa fakultas mewajibkan mahasiswa baru untuk memakai atribut ke-mabaan mereka. Salah satunya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, dimana pada minggu ketiga perkuliahan telah marak pemakaian atribut dan nametag pada maba. Setiap jurusan akan berbeda satu sama lain. Atribut diatur oleh senior yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) masing-masing sesuai dengan program studinya.

Atribut berupa nametag, topi, bando, buku tandatangan senior, pin, pemakaian jas kuning dan bahkan kacamata hitam kerap terlihat sebagai pemandangan umum di kampus FIB baru-baru ini. Identitas Maba dengan gamblangnya terlihat jelas dengan penggunaan atribut tersebut.

Ditemui di Taman Arkeologi FIB, Dewi, mahasiswi program studi Cina angkatan 2008 berpendapat bahwa keberagaman atribut pada maba merupakan representasi senior mereka di jurusan. Senior sebagai pengembang ide dan maba harus menggunakan kreatifitasnya untuk membuat atribut yang telah ditentukan. Bagi Dewi dengan pemakaian nametag, ia dapat mengetahui yang mana adik kelasnya di jurusan dan mana yang bukan. Bagi Dewi dari sudut pandang senior yang melihat juniornya memakai atribut, terdapat beberapa fungsi. “ Menurut gue ada dua fungsi pemakaian atribut pada maba. Yang pertama yaitu fungsi memorial. Dengan pakai nametag lo bakalan inget bahwa lo dulu juga pernah jadi maba. Ada kenangan tersendiri ketika lo ngelihat ada maba yang pakai nametag kaya jaman lo jadi maba. Yang kedua itu adalah fungsi eksistensi. Lo nggak mungkin bisa dikenal senior secara langsung kalau nggak pakai nametag”, ungkap mahasiswi asal Mojokerto ini. Ia memang mengakui bahwa tidak harus dengan memakai nametag atau atribut maba untuk dapat dikenal dan diakui oleh senior, tapi cara tersebut merupakan cara cepat yang efektif selama ini.

Tya, mahasiswa baru jurusan Sastra Indonesia mengaku bahwa pemakaian nametag memiliki sisi positif dan negatif. “ Walaupun pakai nametag itu ribet, tapi dengan pemakaian nametag ini juga jadi lebih dikenal sama senior. Kan bisa eksis juga kalau pakai nametag. Lagian masih bersyukur kita cuman kaya begini, nggak kaya jurusan lain yang atributnya lebih parah dan bikin malu kaya Sastra Cina, Sastra Arab dan Sejarah”, ujarnya.

Saat ditemui di Perpustakaan Pusat UI, Edhna, maba Sastra Cina 2012 mengakui bahwa ia tidak berkeberatan memakai atribut maba. Atribut mereka berupa bando yang diberi karton merah dengan hiasan bunga-bunga membentuk setengah lingkaran berwarna merah yang jika dilihat seperti putri-putri Cina dalam film kolosal dan nametag berbentuk lampion bulat berwarna senada dengan foto 3R menempel disana. “Aku sih sama sekali nggak keberatan. Soalnya kata senior ini kan udah turun temurun. Malahan sekarang kita bangga kok pakai atribut Cina. Kalau dibandingkan dengan jurusan lain yang atributnya nggak heboh seperti kita, malahan aku ngeliatnya ga keren”, ujar Edhna yang masuk UI melalui jalur SNMPTN Undangan itu. Bagi Edhna, ia dan kawan-kawannya menjadi lebih dekat satu sama lain dengan pemakaian atribut seperti ini. Ia merasa bahwa atribut adalah pemersatu angkatan di tengah perbedaan antara maba yang masuk UI melalui jalur reguler dan yang non reguler. 

Ina, mahasiswi Sejarah 2012 berpendapat bahwa pemakaian nametag itu wajar bagi mahasiswa baru. Menurutnya dengan pemakaian nametag pada maba sangat membantu untuk beradaptasi di lingkungan kampus, sebuah lingkungan baru bagi mereka yang baru saja melepaskan predikat siswa menjadi mahasiswa. “Nametag mah wajar ya. Aku sih terima-terima aja kalau pakai nametag. Palingan yang ditakutkan itu kalau lupa bawa. Takut aja kalau ketahuan senior nggak pakai nametag”, ungkap mahasiswi yang berasal dari Aceh ini. Ketika ditanya apa latar belakang mau menggunakan nametag di lingkungan kampus, Ina menjawab alasannya adalah takut dengan senior. Terkadang ia juga kesal jika ada teman-temannya yang melanggar ketentuan penggunaan nametag di lingkungan kampus. “Kesal aja. Kesannya kan kaya nggak mau sama rasa sama rata. MT (makan teman-red) banget”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hima dan kawan-kawan dari Sastra Jepang. Hima yang berasal dari Malang ini mengatakan bahwa pemakaian atribut yang berupa nametag samasekali bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. “Malahan pakai nametag itu perlu, soalnya untuk memudahkan sensei (dosen) memanggil nama kami”.

Ada juga yang berpendapat bahwa pemakaian atribut sangat menguntungkan bagi maba sendiri. Adalah Djalal, mahasiswa Sejarah angkatan 2011 saat ditemui di area payung gedung IX mengatakan bahwa dengan memakai atribut senior pastinya dapat mengetahui yang mana mabanya dan mana yang bukan. “ Ini bukan masalah perploncoan terhadap maba. Ini merupakan alat adaptasi. Dengan adanya atribut, kita dapat membedakan maba dari 15 jurusan yang ada di FIB. Tanpa atribut, apakah kamu bisa mengidentifikasi yang mana maba Sejarah, maba Cina, maba Prancis atau maba jurusan lain? Engga kan?”, ujar pria asal Pati ini. Atribut pada maba menurut Djalal merupakan identitas awal selama memasuki awal perkuliahan. Menurutnya dengan pemakaian atribut jurusan selama 3 bulan atau setengah tahun saja belum tentu dapat mengidentifikasikan maba jurusan mana seorang mahasiswa tersebut, apalagi jika tanpa pemakaian atribut. “Tentunya pemakaian atribut juga memudahkan senior mengenal mabanya. Maba juga bisa meminta bantuan senior tanpa sungkan jika sudah saling mengenal satu sama lain, misalnya meminjam buku atau info proyek-proyek dari senior. Kan itu menguntungkan”.



Namun pemakaian atribut pada maba yang ditetapkan oleh senior justru membuat Dwi Gema Kumara yang akrab disapa Dugem, mahasiswa Filsafat 2011 mempertanyakan esensi dari pemakaian atribut tersebut. Menurutnya terdapat arogansi dari senior itu sendiri, juga terdapat motif balas dendam. Keliru jika kita menganggap dengan pemakaian atribut, maba tersebut menjadi lebih eksis. Malahan terdapat kesenjangan antar maba dan senior. “Kalau dilihat dari sejarahnya teh, walaupun sudah memakai atribut tidak semuanya bisa membaur. Malahan terjadi perbedaan dengan adanya atribut tersebut. Lagian saya juga sama-sama bayar seperti mereka (senior), kenapa saya harus mau diperlakukan berbeda dan masih harus diatur-atur? Ini sangat paradoks”, ujarnya saat interviu via telepon. Ia juga kurang setuju dengan pengakuan maba yang mengatakan bahwa penggunaan atribut merupakan alat adaptasi terhadap lingkungan kampus. “Senior selalu menekankan pada maba ada budaya memakai atribut di FIB itu harus terus dilanjutkan. Seolah-olah jika bukan kalian (maba) maka siapa lagi yang akan meneruskan budaya memakai atribut di kampus ini. Ini menimbulkan pertanyaan etika. Budaya yang harus dipertahankan itu seperti apa? Orang sama-sama mahasiswa kok, cuman bedanya ada embel-embel baru dan tidak”.

Terimakasih Tuhan

Kamis, 20 Juni 2013
Tuhan, entah apa dan siapa nama-Mu yang sebenarnya, aku malam ini ingin berterimakasih pada-Mu.
Telah kau hadirkan dinamika kehidupan yang begitu beragam dengan memasang mereka sebagai kedua orangtuaku, mereka sebagai adikku, mereka sebagai masa laluku, mereka sebagai teman-temanku, dan kakak sebagai orang yang memberiku alasan untuk berjuang menjadi manusia yang sebenarnya hingga saat ini.

Aku tau betul bahwa mereka semua tidaklah akan ada selamanya dalam hidupku. Pada dasarnya akulah yang akan berjuang sendirian untuk menjadi "aku" yang sebenarnya. Melepas atribut ketergantungan dan dapat melenggang sendiri tanpa takut keluar dari zona nyaman.

Tuhan, awalnya kupikir Kau adalah seorang penulis naskah drama kehidupan umat manusia. Seenak jidat-Mu saja membuat manusia jungkir-balik dalam hidupnya.

Pada awalnya kupikir Kau adalah zat yang curang. Kau mengetahui pada akhirnya kami semua akan bagaimana dan menjadi apa, tapi di satu sisi Kau menyuruh manusia untuk berjuang keras tanpa tahu gagal atau berhasil.

Tuhan yang kulihat selama ini hanyalah "wajah" dari Tuhan mereka yang menungging untuk sampai kepada-Mu. Aku bosan dan tidak bisa terima begitu saja, aku butuh alasan. Maka aku memaksakan diri untuk berpikir, mencari keberadaan-Mu dan kedudukanku sebagai makhluk bumi. Membanding kenapa aku ada dan apakah Engkau ada. Aku berhenti untuk sementara dalam mengikuti ritual mereka untuk sampai kepada-Mu. Aku memulai dengan karunia-Mu yaitu akal pikiran.

Lambat laun aku mulai menyadari bahwa Kau menciptakan kami bukan untuk sampai kepada apa,  tapi Kau menciptakan kami untuk bagaimana melalui apa. Kau mengajarkan kami arti proses dalam hidup ini bukanlah sesuatu yang instan layaknya mie gelas atau junk food. 

Perjalanan hidup adalah yang terpenting karena ia-lah yang akan membawa kita menjadi "apa" dan "bagaimana".

Aku, Kau dan Kita

Kamis, 13 Juni 2013
Dimulai dengan sebuah pengakuan, sebuah puisi pengakuan bodoh berjudul Kakak kutuliskan di blog ini, aku mulai belajar untuk meraba kehadirannya. Entah ada suatu masa ketika kamu rasanya sudah menemukan sebuah serpihan puzzle yang bisa melengkapi bingkai puzzle yang bolong, maka potensi-potensi terbaik yang ada pada dirimu dapat keluar begitu saja. Kamu mengerti eksistensi dirimu sebagai manusia dan ingin melakukan segala hal secara maksimal. Dan kamu merasa menjadi pribadi yang lebih baik.

Kejadian demi kejadian yang telah dilalui memang begitu bermakna. Semuanya meninggalkan kesan dan pesannya masing-masing. Beberapa kawan sering bertanya denganku bagaimana cara mendapatkan pacar. Seringnya aku hanya tertawa kecil dan menanggapi bahwa jika kamu siap maka pasangan kamu akan datang dengan sendirinya. Memang sih itu ga ada alasan logisnya dan aku belum bisa menjelaskan secara ilmiah.
Tapi percaya deh, makna "siap" itu begitu kompleks. Siap itu ya bisa siap mental, keuangan, waktu, take and give, memahami dan dipahami. Bahkan orang yang terlihat siap aja masih bermasalah dengan hubungannya.

Aku begitu terenyuh dengan perjalanan dialogku yang begitu panjang dengan Kakak. Membahas segala hal yang begitu absurd dan membingungkan. Menyeksamai diri sendiri di tengah hiruk-pikuk dunia yang berlari menjauhi Tuhannya. Aku senang bahwa kita mengawali hubungan ini dengan dialog, bukan perhatian-perhatian semu layaknya pasangan muda yang doyan menanyakan aktivitas harian.

Pilar kita adalah komunikasi. Aku tau bahwa kita saling belajar untuk menyampaikan perasaan, walaupun belum dapat disampaikan sepenuhnya. Yang satu mendesak untuk menyampaikan alasan kenapa bisa suka, yang satu mendesak untuk bilang cinta. Yang satu malas untuk mengabarkan keadaan psikologis, yang satunya terlalu peduli sehingga cerewet. Tapi bukankah ini semua seperti menemukan tutup botol yang tercecer?

Hubungan ini memang bukan tanpa cela. Salah satu dari kita pasti pernah khilaf melakukan salah, membuat sakit hati dan menangis. Sikap kita satu sama lain memang tidak selalu manis atau pun romantis. Tentu ada banyak alasan dalam menampilkan sikap kepada pasangan. Tapi aku selalu ingat dengan apa yang Kakak bilang suatu hari, "Apapun yang terjadi pada hubungan ini, bukanlah berjanji untuk saling setia, tapi berjanjilah untuk tidak ke mana-mana".

Mungkin kita belum sepenuhnya bisa saling memahami. Kita berdua kadang tersandung dengan unsur-unsur eksternal dalam hubungan ini. Tugas "yang sadar" yang harus menarik. Tidak ada waktu untuk mengulur jika hubungan ini ingin dijaga. Merajuk adalah kosakata yang kekanak-kanakkan. Kurasa waktu kita bisa saja habis jika merajuk terlalu sering dilakukan.

Ketika kamu sayang dengan seseorang, lihatlah relasi ini sebagai relasi yang saling memanusiakan. Janganlah lihat dia sebagai perempuan atau lelaki, tapi lihatlah dia sebagai manusia karena satu sama lain dapat saling mengisi.

Selamat 1 tahun, Kakak

Dari seorang anak manusia
yang sedang belajar mencintaimu,
Imu











Sore Selepas Hujan

Selasa, 28 Mei 2013
"Yah, kenapa hujan sih?"
"Iya nih gara-gara hujan jadi ga bisa kemana-mana"
"Ah, bete banget kalau pakai hujan segala"

Kalimat-kalimat seperti di atas memang sangat familiar di telinga atau bahkan di mulut. Tanpa sadar kita menyesali turunnya hujan sebagai suatu kesialan dan penggagalan rutinitas harian. 

Kata agama, hujan itu berkah, jadi harus disyukuri. Kata fisikawan, hujan itu adalah sebuah fenomena alam, jadi harus diseksamai. Kata filsuf, hujan adalah lambang kebebasan dari rasa takut akan ketiadaan, jadi harus diresapi.

Bagiku hujan adalah sebuah penantian. Aku sangat menantikan saat-saat hujan, terutama pada bulan Desember. Mungkin karena bulan itu umurku resmi bertambah sehingga aku membutuhkan udara yang dingin untuk menghadapi pertambahan umur itu. Melihat langit mendung, petir yang menggelegar dan udara lembab yang tidak membuat pipi kemerahan seperti musim kemarau.

Selain itu, mungkin mereka yang menggerutu lupa satu hal. Hujan seringkali mendatangkan pelangi. Walaupun sudah berkali-kali melihat pelangi, aku selalu takjub untuk meniti warna-warna yang terlihat dengan mataku saat itu. Aku dengan refleks mengecek apakah pelangi yang sebenarnya sama seperti yang dilagukan ketika kita masih anak-anak.

Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau, di langit yang biru
Pelukismu Agung, siapa gerangan?
Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan




Selepas Hujan, ada pelangi yang muncul

Serpihan pelangi

Ini saya setelah "berjihad" UAS dan presentasi

Polemik FIA: Tantangan atau Ancaman

Rabu, 22 Mei 2013
“To find yourself, think for yourself.” 
 
Socrates

Usaha pendirian Fakultas Ilmu Administrasi atau yang disebut dengan FIA di UI, telah diajukan sejak 1973 dan hingga kini pengajuan tersebut masih dalam proses di pihak rektorat. Usaha ini tentu tak jauh dari alasan kedekatan lmu dministrasi dengan ilmu manajemen khususnya di bidang Manajemen Pembangunan. Kesamaan kurikulum antara jurusan Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi mencapai 40 persen.

Ditemui SUMA UI (17/4), Pimpinan Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI, Dr. Roy V. Salomo, M. Soc. Sc menjelaskan mengenai perjalanan pengajuan FIA yang sangat panjang dan sempat terhenti karena penolakan dan keberatan dari beberapa pihak.  Dilatar belakangi permasalahan seperti ijasah untuk melamar kerja.

“Selalu ada masalah dengan penerimaan kerja lulusan Ilmu Administrasi. Baru tahun ini Departemen Perpajakan menerima lulusan kami. Kasihan. Lulusan kami selama ini tidak bisa berkarir di sana. Dalam sejumlah hal kami sudah tidak fit in lagi”, paparnya.

Pakar Reformasi dan Birokrasi ini menyatakan bahwa FISIP sebagai sebuah lembaga terlalu kecil untuk menampung delapan jurusan, terlebih Ilmu Administrasi yang terus bisa berkembang. Harapan pendirian FIA ini juga tak terlepas dari ide pendirian business school, mengingat ITB dan Universitas Trisakti telah terlebih dahulu mendirikan hal serupa.  Hal ini telah dibawa ke rapat SAU terakhir dan hasilnya Wakil Rektor pun mendukung pendirian business school ini.

  “Terlalu crowded di sini. Jika kami lepas, keilmuan pasti dapat berkembang lebih cepat, rekrutmen pegawai juga bisa lebih cepat, pengembangan program dan kurikulum lebih fleksibel. Itu alasan utamanya. Jika kami berdiri sebagai fakultas, kami tentu akan lebih relevan dalam mengembangkan ilm administrasi di UI”, lanjutnya lagi.


Ditemui di ruangannya (27/3), Dekan Fakultas Ekonomi, Jossy P. Moeis, Ph.D mengatakan bahwa sebagai pimpinan Fakultas Ekonomi, ia keberatan dengan pengusulan fakultas baru ini. Ia menjabarkan bahwa ada tiga alasan mengenai ini, yaitu yang pertama adalah norma pembentukan fakultas belum ada di SAU (Senat Akademik Universitas) terkait dengan fakultas itu secara keilmuan dibentuk yang baru. Kedua adalah kurikulumnya, di mana dapat diperiksa, banyak sekali kurikulum yang mirip dengan Administrasi Niaga. Kurikulumnya 75 persen  sama dengan S-1 Ilmu Manajemen . Padahal pada pembentukan kurikulum hanya boleh sama sekitar 40 persen untuk S-1 dan 60 persen untuk S-2. Ketiga, istilah “bisnis” adalah domain dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB). Dekan FE UI sendiri mengaku bahwa FE pernah mengajukan sistem FEB untuk UI, hanya saja ditolak oleh SAU. Tahun 2011 proposal kembali diajukan ke SAU dengan hasil pengajuan FIA diteruskan masuk di SAU dan dibahas, tapi FEB tidak diteruskan. “Kita harus kaji apakah administrasi secara keilmuan perlu pada level fakultas atau departemen saja”, ujarnya.


Baginya,  usulan mengenai Ilmu Manajemen bergabung dengan Ilmu Administrasi, khususnya Administrasi Niaga untuk mendirikan business school adalah gambaran idea yang menyesatkan. “Kita terlatih dengan makro perspektif sedangkan manajemen adalah mikronya. Itu yg kita butuhkan. Makro dengan fondasi mikro. Itu yang harus dipahami oleh teman-teman SAU. FE itu memberikan kontribusi yang besar terhadap Indonesia. Silahkan jika mau latah juga mendirikan business school , tapi janganlah diganggu gugat salah satu departemen kami”, tegasnya.

Mengenai kedekatan Ilmu Administrasi dengan Ilmu Manajemen, menurut Harriyadin Mahardika, Ph.d, dosen perwakilan Departemen Manajemen dalam rapat pembahasan kelanjutan FIA di gedung Dekanat FE UI (27/3), Departemen Ilmu Manajemen telah lebih dahulu mengembangkan diri daripada Ilmu Administrasi. Kurikulum Ilmu Manajemen hampir 60 persen sama dengan Ilmu Administrasi, mulai dari buku-buku yang dipakai dan teori-teori keilmuan, bahkan banyak dosen-dosen Ilmu Administrasi yang berkuliah di Ilmu Manajemen. “Jadi intinya ilmu yang didapat pun sama dengan yang mereka peroleh”, ujar dosen muda ini.

Mengenai kesamaan antara Administrasi Niaga dengan Ilmu Manajemen, Pimpinan Departemen Ilmu Administrasi mengatakan itu adalah hal yang wajar, sama seperti di luar negeri. Di indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sendiri telah mengakui adanya Administrasi Niaga sebagai rumpun ilmu yang berbeda dengan manajemen. Roy berasumsi bahwa pihak FE UI selalu keberatan mengenai kesamaan kurikulum dan pendirian FIA. Sekitar tahun 1999, FIA sempat disetujui , tapi terganjal oleh beberapa pihak di FE UI. Dan saat Gumilar menjabat sebagai rektor, FIA kembali diajukan. “Saat ini kami berharap FE sekarang diisi oleh orang-orang muda sehingga paradigmanya lebih maju, terbuka dari yang sebelumnya dan bisa diajak bicara. Administrasi dan Ilmu Manajemen memang rumpun yang sama sehingga toh jika kita dipaksa bikin kurikulum yang berbeda, apa bukunya bisa beda? Kan subtansinya sama. Kenapa mesti diperdebatkan?”, ujar Roy lagi.

Dekan FE UI pun menegaskan tidak akan melepas Ilmu Manajemen dari FE UI karena telah memiliki sejarah yang panjang. Ia mengingatkan agar jangan coba-coba untuk memecah departemen dalam fakultas karena hanya akan mengganggu stabilitas di tingkat universitas mengingat FE memiliki peminat yang banyak. Sedangkan Harriyadin mengusulkan bahwa ini harus ditarik ke blueprint UI, khususnya untuk keilmuan di bidang bisnis. UI yang harus menjadi regulator dan harus mengkaji, karena selama ini UI belum memiliki blueprint yang jelas untuk seluruh bidang keilmuan.
.
Hal senada pun diungkapkan oleh Dony Abdul Khalid, Ph.d, perwakilan Departemen Ilmu Manajemen (27/3). Tidak ada kesepakatan Ilmu Manajemen untuk pindah atau bergabung dengan FIA di samping masih dalam taraf diskusi mengenai yang terbaik. “ Jika tujuannya untuk mengembangkan keilmuan, saya rasa caranya bukan mengutak-atik organisasi tersebut melainkan bagaimana masingmasing departemen mengembangkan kapasitasnya. Jangan dipaksakan ada”, imbuhnya.

Terkait dengan FIA, ia mempertanyakan kenapa bisa ada kemiripan jurusan yang padahal sudah ada sebelumnya. “Apakah pengawasannya kurang? Itu yang patut dipertanyakan juga. Kami semua (FE) solid untuk saling mempertahankan”.





Ronggeng Dukuh Paruk; Sang Penari

Minggu, 05 Mei 2013
Setelah membaca novelnya dan gencar mencari edisi film, akhirnya saya putar otak dengan memanfaatkan iMac perpusat UI yang adorable~ Akhirnya saya berkesempatan untuk menonton filmnya.




Yah, bisa dibilang telat juga kalau mau membicarakan film ini. Tapi saya punya ritual untuk lebih menghormati karya tertulis terlebih dahulu ketimbang menonton karya visual adaptasi dari karya tulis tersebut.

Srintil yang dibintangi oleh Pia Nasution memang agak kurang 'dapat' feel-nya. Saya akan lebih senang kalau yang memerankan adalah Happy Salma. Hanya saja saya memikirkan kecocokan sosok Rasus yang sudah pas yang dimainkan oleh Oka Antara jika harus disandingkan dengan Happy Salma. Memang Pia Nasution lebih cocok dengan Oka.

Dan ini salah satu film roman sejarah yang berkualitas dari Indonesia. Andai produser dan sutradara dapat lebih menggambarkan kebutuhan warga Dukuh Paruk akan ronggeng dan skill tari yang dibawakan oleh Pia lebih mumpuni pasti film ini akan sempurna. 

*By the way, kalau liat sosok Rasus ingat si Kakak :p