Pages

Book Review: Maya

Sabtu, 31 Mei 2014
Hi, fellas! Sebenarnya ini late post. Tapi saya ingin kembali menulis di sela kesibukan UAS dan stressnya wedding preparation :))
________________ 

Jujur harus saya katakan bahwa Ayu Utami merupakan penulis favorit saya sehingga objektivitas terhadap karya-karyanya pun sudah kabur digerus oleh rasa kagum dengan segala detil tulisan mereka. 

Pada tahun 2013, Ayu meluncurkan kembali Seri Bilangan Fu keempat yang berjudul Maya. Sesuai dengan sinopsis Maya pada sampul belakang, novel ini berlatar peristiwa pra-reformasi. Akan tetapi pembaca tidak akan menemukan adegan demo dan segala macam orasi oleh para aktivis, melainkan cerita yang berpusat di wilayah Padepokan Suhubudi. Novel ini merupakan lanjutan dari kisah Saman dan Larung. Atau lebih tepatnya sebagai bagian perpisahan para pembaca dengan tokoh Saman yang setelah dua tahun dinyatakan hilang. 

Novel Maya terdiri dari tiga bab; Kini, Dulu, dan Kelak. 

Kini dan Kelak

Yasmin yang masih berusaha mencari jejak Saman setelah dua tahun tidak ada kabar. Dua buah surat yang dialamatkan kepada Yasmin semakin menguatkan bukti bahwa masih ada harapan bahwa Saman masih hidup. Maka Yasmin pun berangkat ke Jogja dengan bekal dua buah surat dan sebuah mustika, mendatangi Padepokan Suhubudi. Saat itu Indonesia sedang bergejolak karena rezim Soeharto mulai goyah dan reformasi mulai gencar disuarakan.

Pada bab ini, Ayu menempatkan sebagian besar alur cerita di Padepokan Suhubudi. Sebuah padepokan milik seorang guru spiritual yang bernama Suhubudi. Suhubudi adalah manusia eksentrik yang sangat menjunjung tinggi spritualitas dengan alam dan masa lalu. Dengan prinsip itu pula, Suhubudi menampung orang-orang (atau para makhluk) yang dikatakan masyarakat sekarang sebagai orang cacat, imbesil, atau tidak sempurna.

Ketika saya mulai membaca novel ini, saya berharap masih bisa bertemu dengan tokoh-tokoh lain seperti Yuda, Marja, Shakuntala, atau bahkan Lalita. Karena pada dasarnya saya sangat menyenangi tokoh-tokoh yang diciptakan Ayu dan diceritakan secara sepotong-sepotong sehingga selalu ada kejutan pada setiap lembar novelnya. Akan tetapi di novel ini, cerita memang berpusat pada Saman, Yasmin, Parangjati, dan dengan tambahan Maya sebagai tokoh yang mengajarkan nilai estetika untuk pembaca. Kekecewaan saya sirna ketika Ayu dengan cerdasnya menggambarkan bagaimana menjadi makhluk yang buruk rupa, jauh dari sempurna, dan tidak selalu diinginkan.

Para penghuni padepokan mengajarkan pada pembaca bahwa ketidaksempurnaan memiliki konsep kesempurnaannya sendiri. Tokoh Maya memainkan peran bahwa bukan keindahan yang menjadikan manusia istimewa di hadapan Bhatara Guru, melainkan pengabdian. Maya percaya bahwa ia adalah abdi seni, abdi Eyang Ki Lurah Semar, sebuah simbol pertahanan, dewa bagi orang-orang berkaki pendek, dan penenang bagi mereka yang bersedih dengan ketidaksempurnaan. 

Dulu

Pada bab ini, Ayu mengajak pembaca bernostalgia dengan pengalaman Saman ketika ia baru saja diangkat menjadi frater. Karena concern di bidang pertanian, maka ia ingin mempelajari spiritualitas pertanian dengan Suhubudi. Dan yang membuat saya gemas adalah pertemuan Saman dengan Parangjati kecil yang pada akhirnya membuat mereka akrab dan saling surat-menyurat satu sama lain. Sebelum berpisah, Parangjati menghadiahi Saman sebuah mustika yang ia temukan ketika bermain di kaki gunung. Batu itu bernama batu Super Semar. 

Orang-orang percaya bahwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang asli telah hilang. Yang ada hanyalah salinannya. Tapi, para juru klenik bercerita bahwa pada saat itulah batu mustika tersebut muncul begitu saja. Sebutir batu akik dengan wajah Semar dan dua garis seperti angka sebelas di dalamnya. Batu itu hadir secara gaib, sebagai tanda restu roh nusantara terhadap pemerintahan Orde Baru. Batu Supersemar mengandung restu kekuasaan untuk satu dasawarsa. Legitimiasi dari rakyat bisa diperoleh lewat pemilu setiap lima tahun sekali. Akan tetapi restu dunia gaib harus didapat setiap sepuluh tahun. Maka diam-diam terjadilah perburuan batu ini. 

Banyak pihak yang menyayangkan sikap Suhubudi yang merestui niat Parangjati untuk memberikan batu itu kepada Saman. Sehingga jejak batu itu tidak dapat ditemukan karena telah menjadi milik pribadi. Hingga akhirnya Saman mengirimkan surat kepada Yasmin beserta mustika yang tidak diketahui nilainya  itu. 
_________
Saya selalu salut dengan perjuangan Ayu dalam mengembangkan ide cerita sehingga membuat saya haus untuk terus membaca dan bahkan mengulang lagi untuk membaca karya-karyanya. Gelar Ayu sebagai Kritikus Spiritual memang cocok dan patut diberi standing applause atas karya-karyanya yang berani, menggugah, dan bermuatan kearifan nusantara. 
Bersama novel ini, pembaca juga diajak untuk lebih kritis terhadap semboyan #MenolakLupa yang sering digembar-gemborkan oleh para aktivis. Dan saya selalu suka cara Ayu menghadirkan "kebetulan-kebetulan" yang ellegant. 
Terakhir saya hadirkan quotes favorit saya:


“Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?” 


Persiapan #1

Selasa, 08 April 2014
Tahun ini terasa penuh buat saya. Entah~ Mungkin karena jadwal rencana pernikahan yang semakin dekat, walaupun pihak keluarga kami belum menentukan tanggal pasti.

Sebenarnya ada banyak hal yang harus dipersiapkan, bukan hanya persiapan permukaan, seperti: surat nikah di KUA, akad, dan wedding preparation yang mestinya dipersiapkan jauh hari, tapi juga persiapan mental dan persiapan kecakapan dalam urusan rumah tangga.

Kalau boleh dibilang, minta saya untuk merapikan sebuah kapal pecah, mendesain rumah, mengangkat galon,  mengganti ban mobil, mencangkul, memaku, dan menggeser lemari besar, tapi jika untuk urusan memasak, saya takut orang yang memakan masakan saya sakit perut atau malah jijik dengan tampilan masakannya.

Saya mau dan bisa masak, tapi belum terlatih. Ketika saya SD, tidak ada keinginan sama sekali untuk memperhatikan mama saya memasak di dapur. Pun ketika Tsanawiyah di mana saya hanya pulang setahun dua kali ke rumah di Kalimantan Selatan. Dan saat SMA, saya beranggapan bahwa "dapur" hanyalah tempat untuk mendiskriminasi perempuan. Maka komplit sudah saya tidak bisa membedakan yang mana jahe, mana lengkuas. Ke dapur hanya sekedar merebus mie, membuat teh atau kopi, dan menggoreng ayam jika kepepet.

Saya punya kakek yang suka sekali memasak, yah walaupun sebagian besar hanyalah hasil eksperimen beliau. Jika sedang memasak tidak boleh diganggu, bahkan oleh mama saya. Jadilah si Kaik (panggilan kakek untuk orang Kalimantan) yang memasak setiap hari di rumah. Dan saya yang memang tidak ada keinginan untuk belajar, semakin terfasilitasi dengan adanya Kaik yang suka memasak. :3

Dan sekarang umur saya hampir 22 tahun dan masih belum mahir memasak. Sejak memutuskan untuk menikah muda, saya bertekad akan menjadi istri dan ibu yang hangat, penyayang, dan masakannya selalu dinanti ketika tiba waktunya makan. Asalkan diberi kepercayaan penuh, saya pasti akan bersemangat memasak. Tahun 2013 lalu saya tinggal di rumah Tante saya selama 2 bulan. Di sana saya mulai belajar masak yang gampang-gampang seperti Tumis Kacang Panjang, Oseng Tempe, Jamur Saos Tiram, dan lain-lain. Yang berhasil tentunya langsung saya "persembahkan" untuk Kakak, yang gagal saya makan sendiri walaupun enggan. Hahaaa...

Walaupun begitu, saya yakin akan menjadi koki rumah tangga yang handal, yang masakannya selalu dirindukan suami dan anak. Yang terpenting adalah mau belajar dan memberikan yang terbaik untuk orang yang disayangi. Amien.

Salam, Ummi.

Just Another Insomnia

Hai, sudah lama saya tidak menulis, baik di buku diary maupun di blog. Rasanya ada sesuatu yang saya lewatkan selama ini. Apa ya? Something like i've been hide and seeking for  my weakness, but that's really show'em up.

Dan kalian tahu? Saya kehilangan rasa percaya diri atas tulisan-tulisan saya sendiri. Bisa dibilang seperti saya meletakkan pena saya untuk beberapa lama dan pergi mengembara, berpikir ingin menulis apa, tapi tidak mendapat inspirasi-- malah kekosongan. Yeah, i feel the emptiness.

Kali ini saya akan mencoba menuliskan tentang saya--tidak akan sok mengajari lagi seperti di tulisan-tulisan sebelumnya. Ya, semoga.

Dialog Batu

Rabu, 26 Maret 2014
Malam ini aku berjongkok di atas tanah, mengambil batu berukuran sedang. Kuusap-usap supaya debu di badannya hilang. Malam ini, dengan ke-egoisanku, ia kupaksa untuk punya telinga dan mata karena aku mau cerita. Kenapa aku cerita pada batu? Karena sudah susah mencari orang yang terpercaya di muka bumi ini. Dan juga, karena ia tidak akan mengejekku, dia kan tidak punya mulut! Haha...

Mata batu berkedip-kedip. Aku dengan muka setanku memulai bicara,
" Kau tahu batu? Negeriku ini sudah tidak jelas lagi akan status sosial-nya. Aku sampai bingung membedakan satu dengan yang lainnya. Yang mana perempuan, mana laki-laki. Yang mana ibu, yang mana ayah. Yang mana preman, yang mana mahasiswa. Yang mana artis, yang mana bupati. Yang mana bandit, yang mana polisi. Yang mana tikus, yang mana cicak dan buaya".

" Dan yang paling membingungkan, jika memang tiba musimnya nanti adalah yang mana calon dewan dan yang mana badut? Sampai sekarang, aku suda sudah hampir kepala dua ini masih bingung membedakan", kataku sambil emosi kepada batu. Batu hanya berkedip-kedip.

" Nampang sana, nampang sini. Senyum sana, senyum sini. Pose dan penampilan pun berbagai macam~ ada yang mengepalkan tangan ke atas, ada yang berpose salaman. Dan penampilannya??! Amboi, seperti mau umroh saja. Padahal kelakuan juga suka ke rumah plesiran di Pembatuan sana".

" Padahal sudah periode lalu dia nampang seperti itu gambarnya di depan pasar Kamaratih. Tidak taunya hanya membuat hancur saja pasar rakyat itu. Dibangunnya hotel mewah supaya bisa nginap gratis. Tambah gendut perutnya, kongkalingkong kekenyangan. Tak malukah dia? Mengaku-ngaku membangun daerah, padahal yang ditumpuk hanyalah sampah. Anaknya yang dungu sekarang hanya duduk sambil bbm-an di Senayan sana. Padahal bikin skripsi saja tidak bisa. Itu yang mau memperjuangkan daerah di Jakarta?".

" Tapi saatnya bencana dan krisis datang, dia hanya berpidato dengan kata "sebaiknya kita", "seharusnya kita". Bla, bla, bla, bla~"


Aku menarik nafas sejenak. " Kau tau seberapa jauh kebusukannya? Sampai aku di Pulau Jawa inipun masih keciuman. Gusti, rasanya ingin membunuh saja mereka yang tambah gendut kesenangan karena joki. Muak!". Kulemparkan batu ke tanah lagi. Pergi, lagi. Meninggalkan realita akan daerahku yang KALah SELalu.

Calm Down

Memori Kolektif

Jumat, 01 November 2013
Indonesia, khususnya golongan mayoritas memiliki ketakutan pada memori kolektif. Hal-hal yang berhubungan dengan itu berusaha dilupakan dan ditiadakan.

Menurut Tommy F Awuy, dalam kuliahnya (Multikulturalisme dan Pluralisme), Indonesia memiliki memori kolektif dalam dua peristiwa.Dua peristiwa tersebut adalah memori mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan peristiwa 30 September 1965.

Masih ada perdebatan di antara para sejarawan dan petinggi militer mengenai apakah kemerdekaan didapat melalui "bambu runcing" yang dijalankan oleh kaum militer atau dengan cara diplomasi yang dijalankan oleh para cendekiawan. Juga perdebatan mengenai tuduhan penuh apakah PKI menjadi dalang dari peristiwa pembantaian para jenderal pada bulan September 1965 atau ada konspirasi di balik itu semua.

Gus Dur mulai mengubah kengerian memori tersebut dengan membuat rekonsiliasi dengan mengajukan permintaan maaf pada keluarga PKI (Tapol). Beliau seolah menolak lupa dan berkata, "Jika tidak ada permintaan maaf, sejarah bangsa kita akan tetap menjadi sejarah kriminal."