Pages

Goa Pindul #SUMANTO 2013

Selasa, 07 Juli 2015
Goa Pindul di Gunung Kidul-Jogja. FUN!

























PSPB Prodi Cina 2011

Jadi pas awal bulan Desember, FIB UI ngadain Festival Budaya 2012 gitu. Nah salah satu rangkaian yang jurusanku ikutin yaitu PSPB dan Karnaval dengan tema Jungle.
Jadi Sastra Cina mengambil judul Avatar The Legend of Aang. Dan tebak aku jadi apa?


Aku jadi elemen api. Makanya serba merah kaya begini. Yah, walaupun ga dandan cantik tapi tetap happy kok. Hehe~

Jadi konsepnya sih tarian kolosal gitu. Dimulai dari penampilan dari seluruh pengendali angin, air, api, dan tanah. Tiba-tiba pengendali api "ngelunjak" dan ingin menguasai semuanya. Muncullah Raja Api.

Dan saat itu Avatar pun muncul kembali dengan keempat elemennya yaitu air, tanah, api, dan angin. Satu-satu maju dan Raja Api masih belum terkalahkan. Dan ketika Aang mengeluarkan jurus angin, akhirnya Raja Api dapat dikalahkan.

Setelah kalah, Aang menyambut tangan Raja Api untuk berdamai. Dan kemudian semua pemain muncul dan melakukan gerakan flashmob.

Sayangnya aku ga punya video penampilan kami semua. Tapi aku berhasil foto anak-anak.

Awe dan Dimski (2008)
Aje as Momo. "Jadi kaya kelinci terbang".
Nova as Monkey

Ratna as Toph. Nita as Airbender
Grego as Saka
Nisia as Meiling
Ratih as Azzula
Pemain bersama Hatmi Laoshi


The Act of Killing

Terkait pemberitaan media mengenai film dokumenter yang kontroversial ini, seperti Tempo dan kasus penganiayaan beberapa anggota Pemuda Pancasila terhadap salah satu pimpinan Redaksi Radar Bogor terkait pemberitaan mereka yang berjudul Dunia Mengecam Pemuda Pancasila” pada edisi Senin (1/10).

Pimpinan Radar Bogor dan Pemuda Pancasila (Sumber: Google)

Aku sempat berpikir, seberapa bahayakah film ini sampai memicu chaos seperti itu?

Dan beruntungnya kemarin aku berkesempatan menghadiri Diskusi Film The Act of Killing di UIN Syarief Hidayatullah yang diadakan LPM Institut, Angkriwan Warta dan satu pihak yang aku lupa. Tepat pukul 1.30, acara dimulai dengan pembukaan dan penayangan siaran ulang liputan dari Al-Jazeera mengenai film terkait. Kulihat bangku-bangku yang masih kosong dan beberapa saja yang ditempati. Ini mungkin karena publikasi yang dilakukan memang non-kooperatif oleh pihak panitia penyelenggara karena memang rahasia. Sebelum dimulai pun dibacakan peraturan-peraturan agar tidak memicu bahaya dari luar (misalnya update twitter "Watching The Act of Killing di UIN. Seru nich!", yang bisa dibaca Pemuda Pancasila yang merupakan salah satu followernya dan dilakukan penggerebekanbahaya kan?). Selain itu film juga tidak dapat dikopi sembarangan karena masih diputar terbatas dan rahasia.

Dalam siaran ulang itu tidak hanya Anwar Congo, salah satu eksekutor PKI yang diwawancara. Tetapi juga para pelaku, keluarga korban, keluarga pelaku dan mantan pengikut PKI yang berhasil selamat dari pembantaian, diwawancarai mengenai sejarah pembantaian PKI pasca peristiwa 30 September 1965.  Diperlihatkan kuburan massal dan lokasi pembantaian mereka (para PKI) di sebuah lubang besar. Liputan juga tidak hanya berlokasi di Medan, melainkan juga di Bali.

Salah satu keluarga eksekutor (Sumber:Dokumen Pribadi)
Setelah selesai, dimulailah inti acara yaitu menonton film dokumenter "The Act of Killing" atau dalam judul dalam bahasa Indonesia-nya "Jagal".

Film ini merupakan film dokumenter dari sebuah pembuatan film mengenai pembantaian PKI. Disutradarai oleh Joshua Oppenheimer, seorang Antropolog lulusan Harvard University. Mengambil lokasi di Sumatera Utara, Medan, Joshua menghadirkan tayangan dengan adegan yang sangat natural (tentu saja ini kan film dokumenter, mi! #stupido).

Sumber: Dokumen Pribadi

Cerdiknya, Joshua mengangkat tema ini dengan menghadirkan salah satu pelaku yaitu Anwar Congo sebagai aktor utama. Anwar Congo merupakan mantan catut karcis bioskop di Medan. Sebagai narasumber film ini, adegan yang dimainkan Congo tentu sangat nyata dan natural mengingat ia adalah subjek atau pelaku pembantaian PKI di Medan.

Sebenarnya film ini menceritakan tentang situasi pasca Gerakan 30 September 1965, dimana terjadi banyak pembunuhan masal terhadap sejumlah anggota PKI yang dilakukan oleh para pemuda di Medan, termasuk diantaranya adalah oleh anggota Pemuda Pancasila. 

Film dokumenter ini menayangkan proses pembuatan film yang berjudul Arsan & Aminah. Dengan Congo yang dihadirkan memerankan seorang komunis, disiksa dengan berbagai macam cara (dari yang menjijikkan sampai yang tidak manusiawi) dan juga sebagai seorang algojo yang dingin.

Anwar Congo dalam filmnya yang berjudul Arsan & Aminah (Sumber: Google)

 Berikut sinopsisnya:

Ketika pemerintah Indonesia digulingkan oleh militer pada 1965, Anwar Congo dan kawan-kawan 'naik pangkat' dari preman pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembantai PKI. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri.

Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida.

Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat.


Anwar Congo sebagai komunis, salah satu adegan investigasi
 
Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.

Joshua Oppenheimer

Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.

Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.

Film ini sebagian besar gambarnya diambil di sekitar Medan, Sumatera Utara, Indonesia antara 2005 sampai 2011. Pengambilan gambar dan wawancara selama tujuh tahun ini menghasilkan kurang lebih 1.000 jam rekaman. Diperlukan banyak editor dan waktu satu setengah tahun di London dan Copenhagen untuk menyunting rekaman tersebut menjadi film ini. Penyuntingan suara dan koreksi warna dilakukan di Norwegia.

(source: http://id.wikipedia.org/wiki/Jagal)


Setelah film selesai, diadakan diskusi singkat mengenai kasus ini. Banyak hal menarik dan fakta-fakta yang dipaparkan seperti agama dijadikan propaganda sebagai jubah penutup alasan perang dan pembunuhanPKI merupakan salah satu dari collateral damage -- korban sasaran pemerintah dan terdapat kekuatan antogonistik-- kekuatan pendominasian terhadap pihak yang direndahkan.

Dimulai pada tahun 1965, terdapat perubahan yang signifikan oleh negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Islam seperti Turki, dimana terjadi perubahan budaya dan sistem tata negara yang mengadaptasi dari Barat secara berlebih.

Daniel Lerner dalam bukunya yang berjudul "The Passing of Traditional Society" berpendapat bahwa jika Anda ingin disebut modern dan memulai gaya hidup modern, tinggalkanlah identitas Anda. 

Dan quote yang paling dahsyat selama penayangan film itu adalah:

"Saya percaya tidak semua kebenaran bisa dikonsumsi publik. Misalnya, menguak kembali fakta-fakta sejarah. Tuhan pun punya rahasia."   

Sapa

Senin, 10 November 2014
Hujan ini datang lagi
Mengobati rinduku akan udara dingin
Dan tetes-tetes gemerisik yang berdengung di kupingku

Hujan, terimakasih telah hadir di saat yang tepat :)

#Cheers, to the new "me"

Etnis Cina di Asia

Senin, 02 Juni 2014

Menyeksamai buku Harga Yang Harus Dibayar; Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia, kembali membawa saya untuk kembali berpikir bahwa tidak mudah menjadi masyarakat minoritas di negara yang tengah membangun seperti di Indonesia.

Peristiwa Mei 1998 merupakan peristiwa yang sangat mengguncang bagi etnis Cina yang mengingatkan kita pada Peristiwa Nanking. Disebut sebagai sebuah guncangan karena terdapat kasus pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan etnis Cina.

Saya sangat tergugah dg esai yg ditulis.oleh Wang Gungwu, sejarawan yg saya kira hanya berada di diktat Historiografi-nya Pak Adri, ternyata menjadi kontributor dalam buku yg disusun oleh Romo Wibowo ini.

Dalam esainya, Wang Gungwu berpendapat bahwa kasus etnis Cina yg bermigrasi ke Asia Tenggara menceritakan hal yg sama, yaitu suatu upaya kolektif untuk melebur dg kebudayaan lokal.

Di negara Thailand, yg negaranya terbebas dari penjajah asing, etnis Cina tidak mengalami kesulitan dalam mengamini sejarah negara tsb sehingga dg mudah mereka dapat diterima dan ikut berjuang bersama mempertahankan kedaulatan negara.

Di Vietkong, Kamboja, dan Burma pun senada. Etnis Cina dapat diakui sebagai bagian dari negara tersebut dikarenakan latar belakang kepercayaan dan literatur yang mirip dg negara asal mereka.

Malaysia pun sejak zaman pemerintahan kolonial Inggris, etnis Cina terdidik mulai ambil bagian tidak hanya pada bidang ekonomi, melainkan jg hukum dan politik.

Yang berbeda justru di Indonesia. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda,  etnis Cina dipersempit ruang geraknya hanya pada batas ekonomi. Kalaupun ada yg ambil bagian dalam kancah perpolitikan, tidak memiliki dampak yg besar dan heroik seperti para founding fathers. Sejak awal Belanda memang memisahkan etnis Cina dg Pribumi dengan didirikannya sekolah-sekolah berdasarkan kalangan. Maka etnis Cina pun tidak terbiasa melek dg sejarah lokal, melainkan sejarah negara asalnya dan juga sejarah kejayaan kolonial Belanda.

Dan masa awal pendudukan Jepang di Indonesia yg awalnya disambut baik masyarakat pribumi, membuat etnis Cina semakin jauh dari rasa juang bersatu dg pribumi. Memori kolektif mereka menuntut untuk tidak bekerjasama dg "murid durhaka" itu.pasca peristiwa Nanking.

Hal-hal di atas menurut saya, yg menyebabkan etnis Cina terkesan apolitis dan ahistoris akan negara ini. Mereka terkesan hanya ambil untung sebanyak-banyaknya di negeri kita. Menjadi bunglon di mana saja asal untung dan selamat.

Dan terakhir perlu saya katakan bahwa bangsa kita adalah memang bangsa yg pelupa. Lupa akan sejarah. Lupa akan sanak-saudara jauh yg dulu sekali pernah membantu. Padahal tidak perlu diragukan lg bahwa budaya Cina telah berasimilasi dg budaya lokal. Para imigran Cina pun banyak membagi kemajuan teknologi peradaban dari negara mereka. Segala aspek tak ada yg luput bahwa negara ini pernah begitu akrab dengan mereka.  Ya, bangsa ini memang pelupa.

Minggu, 01 Juni 2014
Siapa tahu kita akan tenang dengan ruang yang dihuni waktu: 

pintu kayu besi yang dibalur lumut, engsel yang digerus asin laut, gambar dua mendiang presiden pada dinding….
Mungkin mercu ini akan melindungi kita
dari hal-hal yang berarti,

dengan tamasya yang minimal.


Seorang penjaga pernah menuliskan

satu kalimat di langit-langitnya,

“Cahayaku memberikan segalanya ke samudera.”

-- Goenawan Mohamad dalam  Di Mercu Suar


Book Review: Maya

Sabtu, 31 Mei 2014
Hi, fellas! Sebenarnya ini late post. Tapi saya ingin kembali menulis di sela kesibukan UAS dan stressnya wedding preparation :))
________________ 

Jujur harus saya katakan bahwa Ayu Utami merupakan penulis favorit saya sehingga objektivitas terhadap karya-karyanya pun sudah kabur digerus oleh rasa kagum dengan segala detil tulisan mereka. 

Pada tahun 2013, Ayu meluncurkan kembali Seri Bilangan Fu keempat yang berjudul Maya. Sesuai dengan sinopsis Maya pada sampul belakang, novel ini berlatar peristiwa pra-reformasi. Akan tetapi pembaca tidak akan menemukan adegan demo dan segala macam orasi oleh para aktivis, melainkan cerita yang berpusat di wilayah Padepokan Suhubudi. Novel ini merupakan lanjutan dari kisah Saman dan Larung. Atau lebih tepatnya sebagai bagian perpisahan para pembaca dengan tokoh Saman yang setelah dua tahun dinyatakan hilang. 

Novel Maya terdiri dari tiga bab; Kini, Dulu, dan Kelak. 

Kini dan Kelak

Yasmin yang masih berusaha mencari jejak Saman setelah dua tahun tidak ada kabar. Dua buah surat yang dialamatkan kepada Yasmin semakin menguatkan bukti bahwa masih ada harapan bahwa Saman masih hidup. Maka Yasmin pun berangkat ke Jogja dengan bekal dua buah surat dan sebuah mustika, mendatangi Padepokan Suhubudi. Saat itu Indonesia sedang bergejolak karena rezim Soeharto mulai goyah dan reformasi mulai gencar disuarakan.

Pada bab ini, Ayu menempatkan sebagian besar alur cerita di Padepokan Suhubudi. Sebuah padepokan milik seorang guru spiritual yang bernama Suhubudi. Suhubudi adalah manusia eksentrik yang sangat menjunjung tinggi spritualitas dengan alam dan masa lalu. Dengan prinsip itu pula, Suhubudi menampung orang-orang (atau para makhluk) yang dikatakan masyarakat sekarang sebagai orang cacat, imbesil, atau tidak sempurna.

Ketika saya mulai membaca novel ini, saya berharap masih bisa bertemu dengan tokoh-tokoh lain seperti Yuda, Marja, Shakuntala, atau bahkan Lalita. Karena pada dasarnya saya sangat menyenangi tokoh-tokoh yang diciptakan Ayu dan diceritakan secara sepotong-sepotong sehingga selalu ada kejutan pada setiap lembar novelnya. Akan tetapi di novel ini, cerita memang berpusat pada Saman, Yasmin, Parangjati, dan dengan tambahan Maya sebagai tokoh yang mengajarkan nilai estetika untuk pembaca. Kekecewaan saya sirna ketika Ayu dengan cerdasnya menggambarkan bagaimana menjadi makhluk yang buruk rupa, jauh dari sempurna, dan tidak selalu diinginkan.

Para penghuni padepokan mengajarkan pada pembaca bahwa ketidaksempurnaan memiliki konsep kesempurnaannya sendiri. Tokoh Maya memainkan peran bahwa bukan keindahan yang menjadikan manusia istimewa di hadapan Bhatara Guru, melainkan pengabdian. Maya percaya bahwa ia adalah abdi seni, abdi Eyang Ki Lurah Semar, sebuah simbol pertahanan, dewa bagi orang-orang berkaki pendek, dan penenang bagi mereka yang bersedih dengan ketidaksempurnaan. 

Dulu

Pada bab ini, Ayu mengajak pembaca bernostalgia dengan pengalaman Saman ketika ia baru saja diangkat menjadi frater. Karena concern di bidang pertanian, maka ia ingin mempelajari spiritualitas pertanian dengan Suhubudi. Dan yang membuat saya gemas adalah pertemuan Saman dengan Parangjati kecil yang pada akhirnya membuat mereka akrab dan saling surat-menyurat satu sama lain. Sebelum berpisah, Parangjati menghadiahi Saman sebuah mustika yang ia temukan ketika bermain di kaki gunung. Batu itu bernama batu Super Semar. 

Orang-orang percaya bahwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang asli telah hilang. Yang ada hanyalah salinannya. Tapi, para juru klenik bercerita bahwa pada saat itulah batu mustika tersebut muncul begitu saja. Sebutir batu akik dengan wajah Semar dan dua garis seperti angka sebelas di dalamnya. Batu itu hadir secara gaib, sebagai tanda restu roh nusantara terhadap pemerintahan Orde Baru. Batu Supersemar mengandung restu kekuasaan untuk satu dasawarsa. Legitimiasi dari rakyat bisa diperoleh lewat pemilu setiap lima tahun sekali. Akan tetapi restu dunia gaib harus didapat setiap sepuluh tahun. Maka diam-diam terjadilah perburuan batu ini. 

Banyak pihak yang menyayangkan sikap Suhubudi yang merestui niat Parangjati untuk memberikan batu itu kepada Saman. Sehingga jejak batu itu tidak dapat ditemukan karena telah menjadi milik pribadi. Hingga akhirnya Saman mengirimkan surat kepada Yasmin beserta mustika yang tidak diketahui nilainya  itu. 
_________
Saya selalu salut dengan perjuangan Ayu dalam mengembangkan ide cerita sehingga membuat saya haus untuk terus membaca dan bahkan mengulang lagi untuk membaca karya-karyanya. Gelar Ayu sebagai Kritikus Spiritual memang cocok dan patut diberi standing applause atas karya-karyanya yang berani, menggugah, dan bermuatan kearifan nusantara. 
Bersama novel ini, pembaca juga diajak untuk lebih kritis terhadap semboyan #MenolakLupa yang sering digembar-gemborkan oleh para aktivis. Dan saya selalu suka cara Ayu menghadirkan "kebetulan-kebetulan" yang ellegant. 
Terakhir saya hadirkan quotes favorit saya:


“Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?”