Lumayan kecewa juga ga keterima jadi staff sebuah kepanitiaan. Mungkin jawaban saya ketika wawancara nggak memenuhi kualifikasi tema acara tersebut. Atau mungkin karena memang tidak berkualitas dimata pewawancara ya?
Saya bilang, " Saya pikir acara untuk tahun ini tidak hanya menekankan simbolisasi saja seperti tahun kemarin. Kenapa kita harus bersusah-susah membentuk huruf dengan ribuan massa, sedangkan itu sama sekali tidak membawa perubahan untuk kampus dan negara. Kenapa kita tidak mengalihkan pada hal-hal yang sederhana tapi jelas, seperti; membersihkan danau UI, melakukan penanaman pohon (yang dapat tumbuh) di lingkungan kampus."
" Untuk apa kita hanya membuang-buang waktu, tenaga dan biaya untuk memberikan pemahaman bela bangsa dan negara dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya dimaknai oleh mahasiswa baru. Tahun lalu, membuat puisi; entitas tersebut memang bertujuan baik dengan tema "Cinta Indonesia". Tapi dibalik itu semua, apakah para maba (termasuk saya ketika itu), sudah memahami betul puisi yang secara "dipaksa" harus dibuat".
" Saya pikir untuk kegiatan tahun ini, kita harus meminggirkan hal-hal abstrak, menggantinya menjadi hal-hal konkrit. Untuk apa berteriak, " Hidup indonesia! Hidup mahasiswa" sampai suara serak, tapi kepedulian akan lingkungan sekitar (masih banyak pengemis, lansia terlantar, juga masalah sampah berserakan di danau dan jalanan kampus) masih minim."
Ah, apa mungkin kalimatku terlalu mengkritik kelemahan program tahun lalu ya? Atau ada pihak yang tersinggung akan kritikku tentang perbuatan simbolis tersebut. Yah, sudahlah~ Memang bukan tempatku untuk berkontribusi di kepanitiaan itu.
Tenang Umi, masih banyak wadah yang bisa kamu jadikan wadah untuk muntahan ide konservatif-mu.Semoga ada! AMIN!
Film dan Selera Pasar
Malam ini, ada banyak hal yang ingin kubicarakan. Selama UAS, ia seakan mengendap-endap, bersembunyi entah dimana, menggumpal bersiap untuk meledak pada hari Kamis malam.
Kadang pikiranku sulit dikendalikan. Aku punya kebiasaan suka berpikir menerka, loncat kesana-kemari seperti kodok, sehingga kadang tulisanku tidak terstruktur dengan jelas.Kadang omonganku sangat cepat (kata teman-teman sebangsa dan setanah air) sehingga banyak yang salah mengerti akan pemahamanku.
Oke, itu sepintas tentang uneg-uneg hari ini.
Tadi ketika aku membaca koran bersama geng 3 Idiot (Nova dan Zikra) di lantai atas, koleksi 800, ada yang menarik perhatianku setelah sekian lama kuabaikan.Ada judul film yang dapat mengganggu saraf keseriusan orang, yaitu "Kakek Cangkul".
Sebelumnya sudah terjadi percakapan sebelum kejadian membaca koran ini.
" Tau nggak, kemarin kan ada judul bioskop namanya Suster Keramas, habis itu ada lagi yang judulnya Nenek Gayung, terus adalagi yang judulnya Kakek Cangkul".
" Besok ada yang bikin film horor judulnya Cucu Sabun, wkwkwk!", kata Zikra.
" Habis itu judulnya Cicit Odol! Hahaha...", timpal Nova.
" Hahaaaa. Emang ceritanya itu gimana sih Nov? Kok horor pakai bawa nama gayung segala?", tanyaku heran.
" Jadi gini, neneknya itu mati dibunuh sama gayung. Trus kalau mau hantuin, dia muncul di kamar mandi pas orang lagi mandi sambil nawarin "mau dimandiin sama nenek?". Trus orangnya mati deh gitu".
" Hah, kok aneh banget! Judulnya bikin ngakak deh~".
Yah, itu sekilas dialog nyata antara aku dan 2 sahabatku. Omongan itu langsung membuat otakku bekerja. Kepingan pikiran kemarin-kemarin yang berusaha kukumpulkan.
Seingatku, memang film horor Indonesia sudah diwarnai bumbu-bumbu lain sejak zaman aku masih SD. Film-film Suzana merupakan contoh nyata, dari film horor berbumbukan realita sosial, masalah ekonomi dan kriminalitas, juga beberapa kesalahan prosedur. Masih klise, berlandaskan hitam putih, mana yang baik mana yang jahat. Lalu hantu bisa diusir dengan membaca Qur’an, sampai dia kepanasan dan hangus. Dulu aku menontonnya dengan seksama sampai takut mau ke wc sendirian.
Ada sebuah film horor yang saya lupa judulnya apa, yang ketika itu saya ikut nimbrung nonton di laptop teman. Disana ada adegan Jupe lagi ketakutan ngeliat hantu, tapi bukannya hantunya yang dishoot malah si Jupe yang dominan dishoot. Haha~ kayaknya sutradaranya sakit jiwa nih. Orang nonton film horor kan untuk ngerasain adrenalin ketakutannya akan melihat hantu, lah ini malah si Jupe yang dishoot mulu. Ckckck~
Dan yang saya heran, banyak yang bilang bahwa film-film horor sekarang konyol semua, tidak ada yang berkualitas. Lalu kenapa tetap bermunculan film-film sejenisnya saat ini? Bukannya suatu produksi mengikuti selera pasar ya?
Saya jadi teringat cuplikan kata pengantar dari Goenawan Mohamad pada buku yang berjudul Utan Kayu. Begini dia bilang;
“ Tetapi tahun 1996-1998 juga sebuah periode ketika modal dan pasar kian lama kian menjadi pemain utama dalam percaturan sosial..... Karena desakan pasar yang tak terbendung, orang film Indonesia hanya melahirkan karya-karya yang semakin lama semakin dibuat asal-banyak dan asal-cepat. Karena dominasi pasar pula galeri-galeri hanya memasang karya yang sudah dipastikan laku, buku-buku yang “berat” tidak diproduksi, seni tari digiring untuk melayani pariwisata sementara pemain-pemain orkes yang bagus menghabiskan bakatnya di lobi-lobi hotel. Jangan mengharap untuk melahirkan yang “baru”( hal yang mengagetkan atau membingungkan) atau untuk menjelajah yang alternatif. Apalagi bila diatas pertimbangan pasar itu bekerja pula pengawasan negara: siapa yang bikin heboh akan dihabisi dan modal pun bisa rugi untuk mencoba-coba.”
Dan pernyataan Goenawan Mohamad terbukti akan film yang dibuat semakin asal-asalan saja. Entah judulnya yang kontroversial-lah (yang mengarah kepada ekspektasi lain), poster film yang dibuat asal jadi-lah, dan yang terpenting laku.
Negeriku tercinta ini, semakin kontroversial dia semakin laku. Jadi tidak jarang ada yang membuat kontroversi dulu, entah berantemlah, kasus skandal video-lah, kasus selingkuh-lah; lalu main film sebagai tokoh utama. Betapa jenaka-nya sistem disini.
Dan untuk masalah musik, yah lagi-lagi ada masalah penurunan kualitas selera. Budaya pop, lalu bercampur aduk dengan westernisasi dan koreanisasi seperti sekarang, berhasil menggusur kedudukan musik Indonesia menjadi sesuatu yang.... apa ya? Miskin talenta, miskin sense of art.
Ah, tiba-tiba aku jadi ingin mendengar lagu Chrisye dan Gombloh.
Nikah Beda Agama?
Pekan lalu, salah satu rekan sesama reporter SUMA mengajakku bertemu di perpustakaan untuk mendiskusikan rencana peliputan dan membuat TOR. Setelah selesai, pembicaraan kami pun mengalir pada ranah-ranah umum sampai hal yang menyangkut kepercayaan.
"Menurut lo pernikahan itu harus seagama ga Mi?", tanyanya saat pembicaraan mengarah kepada masalah keyakinan beragama.
Aku berpikir sejenak dan menjawab dengan sangat hati-hati, "Cinta itu akan lebih baik kalau murni. Tidak ada kepentingan lain selain rasa dan kasih sayang".
"Menurut lo pernikahan itu harus seagama ga Mi?", tanyanya saat pembicaraan mengarah kepada masalah keyakinan beragama.
Aku berpikir sejenak dan menjawab dengan sangat hati-hati, "Cinta itu akan lebih baik kalau murni. Tidak ada kepentingan lain selain rasa dan kasih sayang".
_______________________________________
Sudah lama kuketahui sejak di pesantren tentang hadits yang mengatakan bahwa wanita itu dinikahi karena 4 hal; hartanya, kecantikannya, keturunannya dan karena agamanya. Dan yang paling baik adalah memilih dia karena agamanya.
Dan barusan aku menemukan bacaan tentang ajaran Buddhisme di perpustakaan yang cukup mengisi lembaran tanda tanya mengenai ini. Yup, walaupun tidak benar-benar menjawab ya atau tidak, setidaknya dapat membantu kita untuk berpikir lebih dalam.
Dalam agama Buddha, sepasang kekasih harus memiliki 4 kesamaan:
- Samma Sadha, yaitu kesamaan dalam keyakinan.
- Samma Caga, yaitu kesamaan dalam kedermawanan.
- Samma Sila, yaitu kesamaan dalam kemoralan.
- Samma Pana, yaitu kesamaan dalam kebijaksanaan.
Samma Sadha
Samma Sadha berarti memiliki keyakinan yang sama. Kesamaan dalam keyakinan oleh masyarakat awam diartikan dengan kesamaan terhadap agama. Tapi dalam agama Buddha, yang dimaksud dalam kesamaan keyakinan adalah kesamaan pola pikir dan pandangan yang dipercaya benar. Kita harus memiliki keterbukaan pikiran dan toleransi supaya dapat menerima dan menghadapi perbedaan sehingga dapat menjaga keharmonisan dalam kehidupan.
Samma Caga
Kesamaan dalam kedermawanan ini bermakna ketidaktergantungan atau ketidakmeleketan pada pasangan. Sepasang kekasih sebaiknya memiliki jiwa yang ringan dan mampu melepas. Ia tidak merasa terkekang dengan keterikatan yang ada. Sikap dermawan yang dimaksudkan adalah mencintai dengan memberi untuk mencipatakan kebahagian dengan ikhlas dan tanpa syarat. Batin orang yang baik hati biasanya tidak terhambat dan dapat membantu pengembangan batin orang lain. Jadi intinya dapat saling mengayomi dan melengkapi.
Samma Sila
Kesamaan moral dalam pengertian ini adalah kesamaan pandangan terhadap perbuatan yang benar dan salah. Hal ini mengarah kepada keserasian tingkah laku.
Samma Pana
Samma Pana berarti memiliki wawasan yang sama. Dengan wawasan yang sama, pasangan akan lebih mudah menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam hubungannya. Jika terjadi ketidaksamaan wawasan, dimungkinkan konflik akan terjadi. Perbedaan kebijaksanaan dalam wawasan ini dapat menyebabkan pemborosan waktu dalam menyelesaikan masalah, terutama dalam argumentasi untuk menyamakan pola pikir.
Dengan 4 kesamaan di atas dalam agama Buddha, dipercaya dapat membawa pasangan menuju keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan berpasangan.
_____________________________________________________
Setidaknya kita dapat belajar kebaikan-kebaikan dari agama lain mengenai pertanyaan yang kadang tidak dapat dijawab dengan sembarang. Kadang ayat dan hadits yang dijadikan alat sebagai jawaban kurang memuaskanku dikarenakan multitafsir dan latar belakang penafsir. Maka kadang aku tertarik pada ajaran-ajaran lain yang tidak membebaniku dalam berpikir. Ajaran apapun; Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, Yahudi, Konfusianisme, Taoisme, atau bahkan Atheisme.
Kadang kita tidak sadar bahwa kita telah menjadi bagian dari manusia dengan pemikiran siap saji, langsung pakai tanpa mengetahui esensi, makna dan tujuan dari perintah dan hukum-hukum yang ada dalam kehidupan kita. Kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan bukan atas dasar apa yang kita inginkan, kiya yakini dan kita percaya.
Manusia menjalani dan mencari hakikat dari kebenaran yang ada dalam kehidupannya. Tidak ada yang salah dengan pencarian. Tuhan akan selalu memberkati makhluk-Nya yang berusaha mencari-Nya.
Iya kan, Han? #ngomongsamaTuhan
PSPB Prodi Cina 2011
Jadi pas awal bulan Desember, FIB UI ngadain Festival Budaya 2012 gitu. Nah salah satu rangkaian yang jurusanku ikutin yaitu PSPB dan Karnaval dengan tema Jungle.
Jadi Sastra Cina mengambil judul Avatar The Legend of Aang. Dan tebak aku jadi apa?
Aku jadi elemen api. Makanya serba merah kaya begini. Yah, walaupun ga dandan cantik tapi tetap happy kok. Hehe~
Jadi konsepnya sih tarian kolosal gitu. Dimulai dari penampilan dari seluruh pengendali angin, air, api, dan tanah. Tiba-tiba pengendali api "ngelunjak" dan ingin menguasai semuanya. Muncullah Raja Api.
Dan saat itu Avatar pun muncul kembali dengan keempat elemennya yaitu air, tanah, api, dan angin. Satu-satu maju dan Raja Api masih belum terkalahkan. Dan ketika Aang mengeluarkan jurus angin, akhirnya Raja Api dapat dikalahkan.
Setelah kalah, Aang menyambut tangan Raja Api untuk berdamai. Dan kemudian semua pemain muncul dan melakukan gerakan flashmob.
Sayangnya aku ga punya video penampilan kami semua. Tapi aku berhasil foto anak-anak.
Jadi Sastra Cina mengambil judul Avatar The Legend of Aang. Dan tebak aku jadi apa?
Aku jadi elemen api. Makanya serba merah kaya begini. Yah, walaupun ga dandan cantik tapi tetap happy kok. Hehe~
Jadi konsepnya sih tarian kolosal gitu. Dimulai dari penampilan dari seluruh pengendali angin, air, api, dan tanah. Tiba-tiba pengendali api "ngelunjak" dan ingin menguasai semuanya. Muncullah Raja Api.
Dan saat itu Avatar pun muncul kembali dengan keempat elemennya yaitu air, tanah, api, dan angin. Satu-satu maju dan Raja Api masih belum terkalahkan. Dan ketika Aang mengeluarkan jurus angin, akhirnya Raja Api dapat dikalahkan.
Setelah kalah, Aang menyambut tangan Raja Api untuk berdamai. Dan kemudian semua pemain muncul dan melakukan gerakan flashmob.
Sayangnya aku ga punya video penampilan kami semua. Tapi aku berhasil foto anak-anak.
![]() |
| Awe dan Dimski (2008) |
![]() |
| Aje as Momo. "Jadi kaya kelinci terbang". |
![]() |
| Nova as Monkey |
![]() |
| Ratna as Toph. Nita as Airbender |
![]() |
| Grego as Saka |
![]() |
| Nisia as Meiling |
![]() |
| Ratih as Azzula |
![]() |
| Pemain bersama Hatmi Laoshi |
The Act of Killing
Terkait pemberitaan media mengenai film dokumenter yang kontroversial ini, seperti Tempo dan kasus penganiayaan beberapa anggota Pemuda Pancasila terhadap salah satu pimpinan Redaksi Radar Bogor terkait pemberitaan mereka yang berjudul “Dunia Mengecam Pemuda Pancasila” pada edisi Senin (1/10).
Aku sempat berpikir, seberapa bahayakah film ini sampai memicu chaos seperti itu?
Dan beruntungnya kemarin aku berkesempatan menghadiri Diskusi Film The Act of Killing di UIN Syarief Hidayatullah yang diadakan LPM Institut, Angkriwan Warta dan satu pihak yang aku lupa. Tepat pukul 1.30, acara dimulai dengan pembukaan dan penayangan siaran ulang liputan dari Al-Jazeera mengenai film terkait. Kulihat bangku-bangku yang masih kosong dan beberapa saja yang ditempati. Ini mungkin karena publikasi yang dilakukan memang non-kooperatif oleh pihak panitia penyelenggara karena memang rahasia. Sebelum dimulai pun dibacakan peraturan-peraturan agar tidak memicu bahaya dari luar (misalnya update twitter "Watching The Act of Killing di UIN. Seru nich!", yang bisa dibaca Pemuda Pancasila yang merupakan salah satu followernya dan dilakukan penggerebekan~ bahaya kan?). Selain itu film juga tidak dapat dikopi sembarangan karena masih diputar terbatas dan rahasia.
Dalam siaran ulang itu tidak hanya Anwar Congo, salah satu eksekutor PKI yang diwawancara. Tetapi juga para pelaku, keluarga korban, keluarga pelaku dan mantan pengikut PKI yang berhasil selamat dari pembantaian, diwawancarai mengenai sejarah pembantaian PKI pasca peristiwa 30 September 1965. Diperlihatkan kuburan massal dan lokasi pembantaian mereka (para PKI) di sebuah lubang besar. Liputan juga tidak hanya berlokasi di Medan, melainkan juga di Bali.
Setelah selesai, dimulailah inti acara yaitu menonton film dokumenter "The Act of Killing" atau dalam judul dalam bahasa Indonesia-nya "Jagal".
Film ini merupakan film dokumenter dari sebuah pembuatan film mengenai pembantaian PKI. Disutradarai oleh Joshua Oppenheimer, seorang Antropolog lulusan Harvard University. Mengambil lokasi di Sumatera Utara, Medan, Joshua menghadirkan tayangan dengan adegan yang sangat natural (tentu saja ini kan film dokumenter, mi! #stupido).
Cerdiknya, Joshua mengangkat tema ini dengan menghadirkan salah satu pelaku yaitu Anwar Congo sebagai aktor utama. Anwar Congo merupakan mantan catut karcis bioskop di Medan. Sebagai narasumber film ini, adegan yang dimainkan Congo tentu sangat nyata dan natural mengingat ia adalah subjek atau pelaku pembantaian PKI di Medan.
Sebenarnya film ini menceritakan tentang situasi pasca Gerakan 30 September 1965, dimana terjadi banyak pembunuhan masal terhadap sejumlah anggota PKI yang dilakukan oleh para pemuda di Medan, termasuk diantaranya adalah oleh anggota Pemuda Pancasila.
Film dokumenter ini menayangkan proses pembuatan film yang berjudul Arsan & Aminah. Dengan Congo yang dihadirkan memerankan seorang komunis, disiksa dengan berbagai macam cara (dari yang menjijikkan sampai yang tidak manusiawi) dan juga sebagai seorang algojo yang dingin.
Berikut sinopsisnya:
Ketika pemerintah Indonesia digulingkan oleh militer pada 1965, Anwar Congo dan kawan-kawan 'naik pangkat' dari preman pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembantai PKI. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri.
Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida.
Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat.
Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.
Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Film ini sebagian besar gambarnya diambil di sekitar Medan, Sumatera Utara, Indonesia antara 2005 sampai 2011. Pengambilan gambar dan wawancara selama tujuh tahun ini menghasilkan kurang lebih 1.000 jam rekaman. Diperlukan banyak editor dan waktu satu setengah tahun di London dan Copenhagen untuk menyunting rekaman tersebut menjadi film ini. Penyuntingan suara dan koreksi warna dilakukan di Norwegia.
(source: http://id.wikipedia.org/wiki/Jagal)
Setelah film selesai, diadakan diskusi singkat mengenai kasus ini. Banyak hal menarik dan fakta-fakta yang dipaparkan seperti agama dijadikan propaganda sebagai jubah penutup alasan perang dan pembunuhan, PKI merupakan salah satu dari collateral damage -- korban sasaran pemerintah dan terdapat kekuatan antogonistik-- kekuatan pendominasian terhadap pihak yang direndahkan.
Dimulai pada tahun 1965, terdapat perubahan yang signifikan oleh negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Islam seperti Turki, dimana terjadi perubahan budaya dan sistem tata negara yang mengadaptasi dari Barat secara berlebih.
Daniel Lerner dalam bukunya yang berjudul "The Passing of Traditional Society" berpendapat bahwa jika Anda ingin disebut modern dan memulai gaya hidup modern, tinggalkanlah identitas Anda.
Dan quote yang paling dahsyat selama penayangan film itu adalah:
"Saya percaya tidak semua kebenaran bisa dikonsumsi publik. Misalnya, menguak kembali fakta-fakta sejarah. Tuhan pun punya rahasia."
![]() |
| Pimpinan Radar Bogor dan Pemuda Pancasila (Sumber: Google) |
Aku sempat berpikir, seberapa bahayakah film ini sampai memicu chaos seperti itu?
Dan beruntungnya kemarin aku berkesempatan menghadiri Diskusi Film The Act of Killing di UIN Syarief Hidayatullah yang diadakan LPM Institut, Angkriwan Warta dan satu pihak yang aku lupa. Tepat pukul 1.30, acara dimulai dengan pembukaan dan penayangan siaran ulang liputan dari Al-Jazeera mengenai film terkait. Kulihat bangku-bangku yang masih kosong dan beberapa saja yang ditempati. Ini mungkin karena publikasi yang dilakukan memang non-kooperatif oleh pihak panitia penyelenggara karena memang rahasia. Sebelum dimulai pun dibacakan peraturan-peraturan agar tidak memicu bahaya dari luar (misalnya update twitter "Watching The Act of Killing di UIN. Seru nich!", yang bisa dibaca Pemuda Pancasila yang merupakan salah satu followernya dan dilakukan penggerebekan~ bahaya kan?). Selain itu film juga tidak dapat dikopi sembarangan karena masih diputar terbatas dan rahasia.
Dalam siaran ulang itu tidak hanya Anwar Congo, salah satu eksekutor PKI yang diwawancara. Tetapi juga para pelaku, keluarga korban, keluarga pelaku dan mantan pengikut PKI yang berhasil selamat dari pembantaian, diwawancarai mengenai sejarah pembantaian PKI pasca peristiwa 30 September 1965. Diperlihatkan kuburan massal dan lokasi pembantaian mereka (para PKI) di sebuah lubang besar. Liputan juga tidak hanya berlokasi di Medan, melainkan juga di Bali.
![]() |
| Salah satu keluarga eksekutor (Sumber:Dokumen Pribadi) |
Film ini merupakan film dokumenter dari sebuah pembuatan film mengenai pembantaian PKI. Disutradarai oleh Joshua Oppenheimer, seorang Antropolog lulusan Harvard University. Mengambil lokasi di Sumatera Utara, Medan, Joshua menghadirkan tayangan dengan adegan yang sangat natural (tentu saja ini kan film dokumenter, mi! #stupido).
![]() |
| Sumber: Dokumen Pribadi |
Cerdiknya, Joshua mengangkat tema ini dengan menghadirkan salah satu pelaku yaitu Anwar Congo sebagai aktor utama. Anwar Congo merupakan mantan catut karcis bioskop di Medan. Sebagai narasumber film ini, adegan yang dimainkan Congo tentu sangat nyata dan natural mengingat ia adalah subjek atau pelaku pembantaian PKI di Medan.
Sebenarnya film ini menceritakan tentang situasi pasca Gerakan 30 September 1965, dimana terjadi banyak pembunuhan masal terhadap sejumlah anggota PKI yang dilakukan oleh para pemuda di Medan, termasuk diantaranya adalah oleh anggota Pemuda Pancasila.
Film dokumenter ini menayangkan proses pembuatan film yang berjudul Arsan & Aminah. Dengan Congo yang dihadirkan memerankan seorang komunis, disiksa dengan berbagai macam cara (dari yang menjijikkan sampai yang tidak manusiawi) dan juga sebagai seorang algojo yang dingin.
![]() |
| Anwar Congo dalam filmnya yang berjudul Arsan & Aminah (Sumber: Google) |
Berikut sinopsisnya:
Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida.
Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat.
![]() |
| Anwar Congo sebagai komunis, salah satu adegan investigasi |
Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.
![]() |
| Joshua Oppenheimer |
Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Film ini sebagian besar gambarnya diambil di sekitar Medan, Sumatera Utara, Indonesia antara 2005 sampai 2011. Pengambilan gambar dan wawancara selama tujuh tahun ini menghasilkan kurang lebih 1.000 jam rekaman. Diperlukan banyak editor dan waktu satu setengah tahun di London dan Copenhagen untuk menyunting rekaman tersebut menjadi film ini. Penyuntingan suara dan koreksi warna dilakukan di Norwegia.
(source: http://id.wikipedia.org/wiki/Jagal)
Setelah film selesai, diadakan diskusi singkat mengenai kasus ini. Banyak hal menarik dan fakta-fakta yang dipaparkan seperti agama dijadikan propaganda sebagai jubah penutup alasan perang dan pembunuhan, PKI merupakan salah satu dari collateral damage -- korban sasaran pemerintah dan terdapat kekuatan antogonistik-- kekuatan pendominasian terhadap pihak yang direndahkan.
Dimulai pada tahun 1965, terdapat perubahan yang signifikan oleh negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Islam seperti Turki, dimana terjadi perubahan budaya dan sistem tata negara yang mengadaptasi dari Barat secara berlebih.
Daniel Lerner dalam bukunya yang berjudul "The Passing of Traditional Society" berpendapat bahwa jika Anda ingin disebut modern dan memulai gaya hidup modern, tinggalkanlah identitas Anda.
Dan quote yang paling dahsyat selama penayangan film itu adalah:
"Saya percaya tidak semua kebenaran bisa dikonsumsi publik. Misalnya, menguak kembali fakta-fakta sejarah. Tuhan pun punya rahasia."
Sapa
Senin, 10 November 2014
Hujan ini datang lagiMengobati rinduku akan udara dingin
Dan tetes-tetes gemerisik yang berdengung di kupingku
Hujan, terimakasih telah hadir di saat yang tepat :)
#Cheers, to the new "me"















