Pages

Putu Wijaya, Tiba-Tiba Malam #Review Buku

Selasa, 07 Juli 2015
Fine, liburan kali ini sambil menunggu momen pernikahan kakak sepupu sebelum mudik ke Banjarbaru, kuhabiskan dengan kegiatan jalan-jalan tak tentu arah, gunting kertas sana-sini, merapikan rak buku, melipat semua isi lemari baju, menulis blog, virtual koevolusi, berburu seminar, bersemedi di perpustakaan dan tentu saja membaca buku. Membaca buku. Ya ya membaca buku.

Hari Jumat kemarin kupinjam 5 novel dari perpustakaan. Salah satunya karya Putu Wijaya~ Novel yang tak sengaja kutemukan di antara himpitan novel-novel yang tua dan bau apek. Sebelumnya aku sudah pernah mendengar nama Putu Wijaya lewat karyanya yang berjudul Telegram. Nah yang berada di tanganku sekarang berjudul Tiba-Tiba Malam.
Penulis: Putu Wijaya
Judul: Tiba-Tiba Malam
Tebal: 235 halaman
Penerbit: KOMPAS (Jakarta, Januari 2005)

Novel ini mengambil tema kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali pedesaan yang sangat memegang erat peraturan adat yang begitu ketat dan dalam sudut pandang tertentu, justru dianggap merugikan.

Diawali dengan latar suasana hingar bingar acara pernikahan Sunatha dan Utari, si Kembang Desa. Terdapat kasak-kusuk pemuda desa yang iri terhadap keberhasilan Sunatha menggaet si kembang desa tersebut dan perasaan sakit hati seorang pemuda kaya berwibawa yang bernama Ngurah, yang mencintai Utari sejak lama dengan mengumpulkan kekayaannya untuk meminang Utari kelak.

Pada saat yang sama seorang turis bernama David mulai mencampuri kehidupan desa dengan mendekati Subali, ayah Sunatha. Mengajaknya berdiskusi dan berpikir tentang kelemahan peraturan adat desa yang baginya merugikan.

Konflik pun memasuki beranda ketika Sunatha tidak menyentuh Utari sama sekali pada saat malam pertama karena keesokan harinya ia harus berangkat ke Kupang untuk mengajar disana dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan tepat saat Sunatha pergi, Utari langsung mengamuk dan mengaku kena pelet oleh Sunatha. Ia bersikeras tidak mau tinggal di rumah mertuanya.

Ngurah pun mengambil kesempatan mendekati Utari dengan memberikan perhatian khusus kepada keluarga Utari. Di sisi lain, ibu Sunatha terguncang akibat perlakuan menantunya yang menentang adat itu. Ia jatuh sakit. David terus melancarkan propaganda akan kelemahan peraturan adat yang baginya tidak menghargai hak individu kepada Subali yang sudah mulai dilemma dan mulai menuruti perkataan David untuk melanggar aturan adat dengan tidak pernah ikut rapat.
Sementara di Kupang, Sunatha menutupi kesedihannya dengan membanggakan malam pertama yang sebenarnya tidak pernah terjadi kepada sahabatnya, Badung.

Konflik demi konflik pun muncul dengan diusirnya Subali dari krama desa, yang mengakibatkan mereka dikucilkan dan tidak dianggap ada. Hal itu membuat Sunithi, adik Sunatha sadar bahwa ia harus mengemban tanggung jawab di rumah, mengingat Subali_setelah plesir ke Denpasar bersama David menjadi seperti orang sinting;  tidak mau bicara, hanya melamun dan seperti orang gila. Lengkap lagi permasalahan ketika David tiba-tiba menghilang begitu saja meninggalkan Subali yang dikucilkan orang-orang desa. Ibu Sunithi sekarat dengan sakitnya dan tidak dapat berobat terbentur masalah biaya.
Utari pun merasakan gelegak cinta nafsunya kepada Ngurah yang perhatian. Ia menjadi lebih agresif dengan selalu memulai duluan. Dan dapat ditebak konflik apa yang akan terjadi.
 
Nah, kebayang kan gimana perasaan Sunatha kalau tau semua ini ketika pulang kampung? Makanya baca sendiri :p
#ketawa setan

________________________________________________

Bagiku Putu Wijaya berhasil menyadarkan pembaca bahwa terdapat nilai-nilai yang merugikan dalam pengaplikasian adat yang telah dipegang erat selama ratusan tahun. Dibuktikan dengan dilemma yang dialami oleh Subali yang seakan terkejut melihat dunia luar ketika berada di Denpasar bersama David. Juga kadang hukum adat yang bertujuan mengangkat azas gotong royong bermasyarakat digambarkan oleh Putu Wijaya dengan dua sisi; rasa solidaritas & kepemilikan akan desa dan ke-tidakproduktifannya di masa ekonomi global seperti sekarang.

Bagiku tokoh Sunatha sangat naif; satu sisi ia sangat marah dan geram atas perlakuan penduduk desa terhadap keluarganya dan berpendapat bahwa peraturan adat tidaklah relevan lagi zaman sekarang, satu sisi ia ingin terlihat sebagai pahlawan yang mau menerima kaburnya Utari dengan Ngurah.

Aku suka tokoh Sunithi, gambaran tentang wanita Indonesia yang bertangan besi. Ia kuat, bekerja dan memanen di sawah tanpa bantuan seorangpun apalagi laki-laki, walaupun ada tokoh Weda dan Suki yang menaruh harapan. Sayangnya sikapnya tidak dapat berkolaborasi dengan peraturan adat yang mengharuskan perwakilan seorang pria dalam rumah tangga. Jadilah ia seperti tidak dapat berbuat apa-apa karena di desa, laki-laki merupakan kepala rumah tangga.

Dan mengenal tokoh Utari, ini seperti merupakan bukti bahwa cantik wajahnya, belum tentu pula cantik sifatnya. Tapi di satu sisi, bagiku Utari tidak 100% salah~ Mungkin karena masih terlalu muda dan langsung ditinggal pergi tanpa kesan malam pertama sehingga ia berani berbuat serong dengan Ngurah.

Aku sempat terkejut ketika di akhir cerita, puncak konflik datang ketika mayat ibu Sunatha yang sudah dikuburkan sebelumnya di tanah, dikembalikan lagi dalam keadaan busuk di pekarangan rumah oleh warga desa. Bagi mereka karena Subali sudah dikeluarkan oleh desa, maka tidak berhak lagi untuk menggunakan milik desa, termasuk tanah kuburan. Kupikir mengerikan betul jika itu terjadi kepada keluarga kita.

Kombinasi antara peraturan adat, hukuman sosial, uang, darah muda, modernisasi dan cinta. Hmm, mungkin karena itulah novel ini meninggalkan kesan di benakku.

Syaloom ;)




Barang-Barangku Yang Bernyawa

Barang itu hidup. Maksudku bukan dalam artian logis bahwa barang itu seperti makhluk hidup, tapi bagiku ia bernyawa. Betapa banyak barang-barang dan bangunan antik yang sampai sekarang masih terjaga. Tentu saja ia masih dapat bertahan karena fungsi, turun temurun atau karena sayang dari orang-orang sekitarnya semata. Penilaian subjektif-ku ini memang masih sempit. Tapi ada yang ingin kuceritakan.
Ada beberapa barang yang bagiku hidup dan bernyawa. Ia maksudku memiliki makna tersendiri dalam semua perjalanan dan pencapaianku selama ini.

1. Buku: Perjalanan Anak Bangsa

Buku ini sudah ada sejak tahun 1980-an sebagai koleksi pribadi Abah ketika masih muda. Di buku ini masih tertera tandatangan Abah dengan tulisa Arab gundul dan cap harga Rp. 3.500. Buku ini terbitan LP3ES dengan judul “Perjalanan Anak Bangsa; Asuhan dan Sosialisasi dalam Pengungkapan Diri”. Terdapat 18 kisah nyata dari berbagai sumber yang berbeda latar belakang. Tidak ada yang tidak menarik dalam buku ini. Aku mencintai keseluruha isinya, walaupun kubaca berulang-ulang, setiap bulan, tahun dan seterusnya. Ada saja hal menarik yang kudapati. Seakan-akan buku ini tak pernah habis selesai kubaca halamannya.



Aku menemukan ini terselip di pojokan rak buku pada tahun 2003, kelas 5 SD (aku ingat betul waktu itu). Saat itu aku disuruh membereskan isi lemari buku yang berantakan. Dan saat aku merapikan jajaran buku, aku melihat buku yang benar-benar tua dengan cover menarik. Biasanya aku kurang senang melihat buku tanpa cover yang menarik ketika aku masih SD dulu. Jadi aku ambil saja buku ini dan berniat membuka-buka halaman depan. Membaca sepintas lalu meneruskan pekerjaan rumahku.

Eits, sekalinya sudah 2 jam aku duduk terlena membaca buku ini. Akhirnya aku dimarahi oleh Mama karena lalai akan tugas. Dan sampai sekarang buku ini masih kubawa kemana-mana jika aku berpindah tempat, kecuali Jogja (di pesantren buku ini terlarang).

2. Si Pensil Mekanik Biru


Pensil ini kubeli di toko alat tulis dekat pesantren tahun 2004. Awal kubeli, warnanya biru laut dan sekarang sudah berwarna putih karena sudah lama. Dia menemaniku (selalu) ketika aku menghadapi masa-masa sulit belajar matematika, menulis Arab, imla’ Tarjamah dan selalu siap sedia ketika aku kesal dan menggoreskan isinya ke atas kertas untuk menggambar; membuat animasi laki-laki (entah kenapa aku suka sekali menggambar animasi laki-laki).


Pensil ini sempat hilang dan membuatku stress. Teman-teman di pesantren sampai heran karena aku seperti kehilangan anak. Dan setelah 2 minggu menghilang, tak kepalang girangnya aku ketika menemukan dia tergeletak di pojokan lantai kelas ketika aku sedang piket menyapu.


Perjuangan kami terus berlanjut sampai menghadapi UAN, ia terus menemaniku belajar dan berlatih soal. Ibaratnya sampai buang air aja nggak sempat, waktu digunakan untuk belajar.


Ketika SMA, aku mulai jarang memakai dia untuk pelajaran. Aku lebih sering memakai pulpen pilot yang entah kenapa suka hilang mendadak selamanya dan harus beli lagi. Biasanya ketika pulpen hilang, maka si biru akan kuandalkan. Biru masih kupakai setiap waktu karena aku masih sering membuat animasi. Jika kupakai kadang bisa seharian sampai aku lelah sendiri menggambar.


Ke Pare pun aku bawa ia dan jam kerjanya lebih panjang ketimbang pulpen.

Dan tiba saat aku kuliah, seperti Biru sudah harus dimuseumkan. Aku sempat memakainya 1 semester hingga tidak bisa dipakai lagi. Jadi dengan berat hati aku rehatkan ia di dalam kotak pensilku dan tidak pernah kupakai lagi. Kugantikan dengan pensil mekanik hitam untuk menulis hanzi.


3. Si Item



Dibelikan mama pada tahun 2006. Si Item ini sering kupakai untuk berpetualang ke bukit (di daerahku nggak ada gunung). Ada LDKS OSIS, tiap tahunnya kubawa. 

Mungkin karena nyaman dipakai. Aku ingat waktu aku harus berendam di lumpur bersama kawan-kawan bakal calon anggota OSIS. Item kupakai sampai sekarang sampai warnanya kubas~


Orang rumah sampai heran, kenapa baju hitam kubas yang sudah robek dan kutambal sana-sini itu masih kupakai. Jawabannya simpel; karena nyaman. Selesai~



3. Si Jelek



Yang ini lebih tua daripada Item. Ini sudah ada sejak tahun 2004. Kupakai selalu ketika berlatih PBB, Paduan Suara SD, Pramuka dan main sepak bola sama anak kampung. Dia walaupun sekarang di rumah karena liburan semester kemarin ketinggalan (aku sempat panik waktu baju ini ga ada di koper, lupa naruh), masih terpatri di hati :p



Baju ini tampilannya lebih jelek daripada Item. Sudah robek, kubas dan ga bisa diselamatka lagi. Tapi tetap kupakai di rumah dan di kamar~ hehe



4. Si Tai Cicak SNMPTN



Kenapa sampai namanya hina gitu? Karena mukena ini kubuat sehari setelah pengumuman SNMPTN. Daripada sedih berkepanjangan dan bunuh diri, aku ngacir ke toko kain dan beli kain putih dan hitam. Tanteku sampai heran kenapa tiba-tiba datang bawa kain putih sama kain hitam. Kaya mau ngeguna-guna aja~ haha



Setiap tisikkan jarum dan benang merupakan kekesalanku pada kegagalan SNMPTN ketika itu. Sambil menangis, aku buat mukena ini. Dan ketika selesai, aku shalat dan berdoa bersungguh-sungguh meminta tempat kuliah yang terbaik bagiku oleh-Nya. Eh, Alhamdulillah terkabul~

Kalau ingat kelakuan dulu, jadi geli sendiri. Tapi lebih baik ngejahit mukena kan daripada bunuh diri gara-gara gagal ujian :p



5. Si Bulbul



Bulbul kutemuin di sebuah toko boneka, ketutupan boneka biri-biri yang lagi naik daun. Awalnya aku biasa aja ketika liat dia. Tapi ketika aku pergi menuju rak lain, aku tergerak buat ngelihat boneka panda ini. Akhirnya aku pegang dan aku remas. Lucu!, pikirku.



Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku suka dengan sebuah boneka. Dulu waktu kecil umur 4 tahun aku punya boneka monyet yang tangannya bisa direkatkan dan digantung di pundak. Dan boneka itu disedekahkan ke Elis oleh mama (secara paksa), tetanggaku yang ketika itu ayahnya baru meninggal. Aku sangat-sangat benci dengan Elis ketika melihat boneka monyetku dimain-mainkannya di teras rumah. Mau marah pun tidak bisa karena yang memberikan langsung adalah mama. Sejak saat itu aku tidak punya ketertarikan pada boneka, sebuah pun sampai akhirnya aku menemukan Bulbul.



Sekarang, Bulbul setia di dekat kepalaku ketika tidur. Kadang kujadikan bantal, kadang kumainkan dan kugoyang-goyang sendiri. Bagiku ia sangat lucu dari sudut manapun~ (padahal aku sudah mahasiswa :p ) haha



6. Jimbe



Nah, kalau ini, dengan berat hati kukatakan bahwa dia memang bukan milikku (ceileeeh :p).

Ini punya seorang teman yang mengamanahkan jimbe ini selama 4 tahun kepadaku (bayangkan, 4 tahun!).



Pertemuanku dengan Jimbe ini simpel. Ketika itu aku yang berada di divisi musik dalam penggarapan teater jurusan “Amoyku Sayang, Amoyku Malang” memegang jimbe dan buta sama sekali akan benda ini. Tapi aku mau belajar~ maka setiap hari kupukulkan jari-jariku sampai bengkak hebat. Ada sampai aku tidak bisa menulis hanzi karena bengkak kesakitan. Tapi aku terus berlatih selama 2 bulan sampai sesuai dengan konsep musik teater waktu itu. Kadang kami latihan dari jam 4-3 shubuh. Semua itu kulakukan dengan perasaan tertekan dan ingin bisa. Tapi akhirnya ketika perform, penampilan divisi musik diakui yang paling prima dibanding divisi lain~ Alhamdulillah.



Dan panggilan untuk main, datang lagi di Sinofest XI untuk opening persembahan jurusan. Kali ini kami memainkan lagu-lagu daerah dengan dinamika yang beragam. Aku bertemu dengan senior-senior yang memang jago bermain musik.

Tapi entah kenapa, walaupun hanya berlatih 1 minggu, feel bermain jimbe sangat dapat. Aku bahagia betul ketika main jimbe dan tampil di hadapan Duta Besar Cina untuk Indonesia. Dosen-dosen juga memuji penampilan kami. Ada dosen yang tidak menyangka aku bisa bermain jimbe (mungkin karena jilbabku).



Aku baru sadar bahwa selain jari-jariku (yang sudah kuprediksi akan bengkak seperti biasa), lenga juga bisa biru. Haha~ sama sekali tidak terasa deritanya.



Aku juga pernah jatuh tersungkur ketika bersama jimbe. Ketika itu, malam jam 8.30 (jam-jam bus kuning sudah mau off) aku berjalan menuju halte. Tapi sebelum aku sampai di halte, bus datang. Akhirnya aku berlari kencang sambil memegang jimbe. Voila, aku tersandung batu dan jatuh tersungkur. Untung nggak ada yang robek atau luka~ ada sedikit rasa anyir di mulutku. Mungkin ada darah sedikit. Dan aku masih keburu naik bus, syukur banget deh waktu itu!



Aku pernah menyatakan niatku kepada si pemilik jimbe agar kubeli saja jadi milikku. Tapi ia menolak dan berkata pakai saja selama 4 tahun, selama kita kuliah. Sampai sekarang aku masih terus membujuk dia untuk menjual jimbe ini kepadaku. Dan perjuangan masih terus berlanjut sampai dia mau.



Habisnya kalau beli jimbe baru dan melepaskan ini, maknanya berkurang~  





Petualangan Autis #Part 3

Haaah~ panjang pemirsa. Cerita samai dimana ya tadi...

Lantai 1 adalah ruang zaman pra-sejarah. Disana ada banyak penjelasan tentang zama batu, manusia purba, ada tulang-tulang manusia pra-sejarah, tulang binatang dan patung-patung gambaran manusia purba zaman dahulu kala.Tapi berhubung mash ada 3 lantai lagi yag harus dijelajah, aku buru-buru naik eskalator.

Lantai 2 adalah ruang.... (ruang apa ya, huwaaa :( lupaaaa!). Bisa dibilang ruang kehidupan sejarah Indonesia deh~ disana terdapat cerita dan bukti-bukti sejarah (benda, tulisan dan foto). Mulai dari zaman kerajaan Hindu, Buddha, Hindu-Buddha, Islam, Kedatangan Bangsa Arab, Cina, Gujarat, dan Eropa. Ada yang berhasil kufoto karena itu yang menarik perhatianku.

Prasasti Citareum; ada telapak kaki Raja Adityawarman

Timbangan dari Kesultanan Banjar; untuk menghitung pajak hasil bumi. Sultan duduk disalah satu sisi, lalu hasil bumi harus seimbang dengan berat sultan lah kalau sultannya gemuk, hasil bumi-nya harus banyak dong, rugi deh

Derita pergi sendirian: Ga ada yang fotoin

 
Tampang nanggung ala Umi Kala hari Jumat #mukapengendilemparsandal
Lantai 3 adalah ruang budaya Indonesia. Ada alat-alat musik, alat pemintal benang, lonceng dan lain-lain (yang sebenarnya lupa, karena buru-buru jelajahnya). Dan saat ingin memotret, baterai handphone low. Yaaah, sudahlah~
Awalnya mau langsung balik aja, tapi masih ada satu lantai. Sebenarnya itu udah limitku. Kakiku udah mengelupas ternyata. Haha~
Tapi pas kulihat lagi keterangan, ada tulisan Lantai 4 ---> Koleksi Keramik dan Emas
# diem
## ngiler
### langsung naik

Lantai 4 adalah Ruang Keramik dan Emas. Ketika aku masuk, tertera larangan disana "Dilarang memotret". Dengan senang hati aku bergumam, oke deh bapak. Hehe~
Disana ada keramik-keramik yang berkaitan dengan hubungan luar, seperti penyebaran keramik Dinasti Han, Song dan Tang di Indonesia. Lalu ada keramik dari negara Eropa, Jepang, Vietnam, Thailand. Ketika asyik membaca keterangan, tiba-tiba ada 2 orang satpam dengan posisi siap-siap mengunci ruangan.
" Sudah mau tutup ya pak?", tanyaku.
" Iya, mba. 10 menit lagi. Jam 4 tutupnya", jawabnya.
" Oh, iya pak. Makasih", ujarku lalu langsung berjalan dari sudut satu ke sudut lain dengan cepat. Lari-lari kecil diruangan seperti anak TK. Dengan langkah seribu memasuki ruangan koleksi emas.
Jujur, disini aku nggak bisa cepat-cepat. Aku benar-benar kagum dengan corak dan detilnya. Tanpa sadar aku menganga sepanjang melihat koleksi. Ada perhiasan-perhiasan Buddha dan dewa-dewa yang direalisasikan menjadi nyata, tiruan dari contoh pada prasasti. Ketika aku asyik mengagumi mereka semua, ada satpam datang bersiap ingin mengunci. Yaaah, ya sudahlah ya~

Mari kita go home!
Jalurnya bukan dari Gambir lagi. Aku mau jalur beda~ hehe




Munas-Sarinah-Jakarta Kota-Manggarai-Depok
Depok! Aku pulang~

Petualangan Autis #Part 2


Akhirnya ketika menemui halte trans yang ketiga, aku memutuskan untuk naik. Maka aku menyeberang menuju sana. Tapi ketika itu ada suatu hal yang sangat menarik perhatianku ketika menyeberang. Diseberang halte tersebut ada sebuah gedung putih membosankan, yang auranya melambai-lambai padaku untuk didatangi.

Dengan muka datar, aku menyeberang lagi menuju gedung itu. Dia adalah *jrengjreng




Munas. Museum Nasional! Aku langsung melirik jam, pukul 02.00. Kulihat dibagian tiket, pukul 04.00 tutup. Ah, sempatlah~ Paling nanti keluar jam 4 kurang.
Akhirnya aku masuk dengan membeli tiket seharga Rp. 5000,00. Ketika aku masuk ada sisi kiri dan kanan. Bingung. Akhirnya aku menuju ke arah koleksi arca dan prasasti bagian outdoor terlebih dahulu. Sangat banyak. Sampai aku terkagum-kagum sendiri.

Dewi Durga

Yang arca yang mana ya? hehe

Raja Adityawarman, Kerajaan Melayu


Kunamakan prasasti terlantar, kasihan ditaruh dipojokkan dekat selokan lagi.

Ini juga, ga ada keterangannya #haduuh gusti
Selama di museum, aku celingak-celinguk nggak karuan. Habisnya ngerasa ada yang ngawasin dari belakang. Maklum, aku kan sendirian #eaa, lempar sepatu kemuka sendiri

Masuk keruangan Koleksi Tekstil (sumpah merinding masuk ruangan ini, hawanya berat).

Alat untuk menyongket

Kain Ulos Batak


Kain Songket; ada benang emasnya lho~


Batik Kartini; dibuat sendiri oleh RA Kartini (corak yang sangat berkepribadian)


Kain dengan sulaman


Ini dari Nusa Tenggara

Kain Manik, khas Nusa Tenggara

Kain Manik Suku Dayak



Lalu, masuk ke ruang artefak kebudayaan Indonesia. Saking luasnya, sampai aku nyeker nenteng sepatu. Kakiku sakit.

Dewi Sri; patung anyaman bambu untuk upacara sesajen (Bali)

Ikon pria dan wanita; terbuat dari koin (Bali)

Gamelan Banjar (Kalimantan Selatan) sumpah aku baru tau kalau suku Banjar ada kesenian karawitannya sendiri

Rumah-rumah adat suku di Indonesia ukuran mini

Sisir untuk wanita (Maluku) kalau sekarang, yang ada ketusuk kepalanya

Kepala Patung Suku Asmat

Ini juga punya suku Asmat

Perahu suku Asmat

Totem

Dan akhirnya baterai handphone-ku sisa 1. Mampus deh! Akhirnya benar-benar berhemat. Untung semua sudut museum sudah kujelajahi, jadinya nggak kefoto juga nggak apa-apa, pikirku polos. Aku pun melanjutkan menjelajahi bagian sayap kanan museum. Kupikir itu hanya foto-foto koleksi naskah.
Nggak taunya, aku menemukan sebuah labirin yang begitu besar, 4 kali lipat lebih besar daripada yang sudah kujelajah dengan letih. Sumpah, gede banget!

Aku langsung jongkok dilantai (toh nggak ada orang). Capek, tapi masih ada tenaga. Ah, enjoy aja deh. Kalau capek duduk, tapi jangan lama-lama. Kulihat jamku, jam 03.28. Aduh bentar lagi tutup. Tapi kalau dilewatin sayang. Ya udahlah aku masuk aja. Oke, kita ngebut.

Petualangan Autis #Part 1

Setelah cuplikan perjalanan menjalani UAS:
Jreeeng!

Jreeng jreeng!

Jreeng jreeeng jreeng!

Hufffhness di perpus

Nova: Melepas stress dengan gaya baca buku tak biasa (baring di rak buku perpus)
Tadi malam, setelah chatt dengan Rahmat Gege, aku membaca karya Dee yang berjudul Supernova. Yah, karya itu menurutku luar biasa karena ia dapat menembus dimensi fiksi, karakter tokoh yang bagai dikendalikan oleh tokoh diluar sana yang tidak sadar bahwa mereka seakan-akan Sang Penciptanya.

Berhubung hari Jum'at adalah minggu tenang setelah minggu tegang, dengan scene rencana main ke UIN batal karena adikku mau datang ke kos, membawaku kakiku yang sudah lama tidak menjejak tanah (emangnya hantu) petualangan, gatal untuk melakukan sesuatu.


Yup, ini merupakan kebiasaanku sejak masih kecil (entah kebiasaan buruk atau baik).Ini kunamakan sebagai Petualangan Autis. Dalam hidupku, selalu ada fase dimana semua hal yang dulu benar-benar kuinginkan dan sudah ku-"masukan" ke dalam sebuah bag besar, ingin kutinggal sebentar karena bebannya terlalu berat. Maka aku akan cari penitipan atau meletakkannya ditempat aman yang pasti tidak akan hilang diambil orang. Dan saat itu akan nggak akan menghubungi siapa-siapa, handphone ku-silent. Yang ada cuman aku, ransel, kamera dan buku agenda.

Dalam menjalani sekolah dan kuliah, aku selalu menstruktur apa yang harus kulakukan sehingga terorganisir, jadi aku butuh agenda. Tapi dalam petualangan autisme kali ini, aku berusaha keluar dari cangkangku. Berjalan tanpa rencana yang jelas. Ini kulakukan sejak aku SD. Ketika masih tinggal di Tenggarong-Kaltim dengan nenek, kadang aku suka jalan-jalan sendirian entah kemana, tanpa kabar dan tiba-tiba sudah ada di rumah. Prinsipnya tanpa merencanakan, membiarkan Tuhan dengan jaring laba-laba-Nya menggerakkan pikiran dan tubuh kita menuju suatu tempat yang baru saja didepan mata ditemui.

Maka dengan pasti aku menuju stasiun, naik kereta tujuan Jakarta Kota. Selama menunggu kereta, aku santai melanjutkan membaca Supernova. Disampingku ada seorang ibu-ibu yang sepertinya baru dilingkungan itu. Dia bertanya:
" Mau ke stasiun Jatinegara naik yang mana ya neng?"
" Oh, ibu tinggal naik yang ke arah Tanah Abang atau Jakarta Kota, terus turunnya di Manggarai. Dari Manggarai bisa ke Jatinegara".
" Oh, gitu. Makasih ya neng"
" Iya, bu".
" Mau turun distasiun mana?"
(bingung mau jawab apa)
" Kayaknya ke Jakarta Kota bu", jawabku asal sambil senyam-senyum.

Sebenarnya otakku melawan semua ini. Aku mulai menyusun rencana, tapi langsung kulibas lagi. Turun dimana kau ingin turun. Berhenti dimana hal itu baru dan menarik bagimu. Masuki hal yang belum terlintas dibayanganmu ketika masuk kedalam kereta nanti.

Maka aku membaca dan terus membaca didalam kereta, walaupun berdiri. Dan sekitar 20 menit kemudian, aku menoleh ke jendela. Stasiun berwarna hijau. Gambir. Ya, aku mau turun disini. 

Aku berjalan kaki menyusuri pinggir-pinggir komplek Monas. Dari ujung ke ujung, belakang sampai kedepan. Mengamati, apakah ada hal menarik didalam sana. Kulihat sepi. Tidak ada tanda-tanda ada sesuatu yang istimewa. Kulihat ada banyak polisi berjaga-jaga disanasambil membangun tenda mereka makan bergerombol. Mungkin nanti akan ada demo disini, jadi mereka sudah siaga ditempat. Kulihat ada segerombolan orang bermotor memakai baju koko putih-putih membawa bendera besar (nggak pakai helm lagi!)
Ah, tahukah kalian bahwa dunia ini begitu kompleks. Ada si brengsek yang mengatur kalian untuk salah persepsi akan hirarkisme dalam jabatan yang biasa kalian idamkan.Aku terus berjalan sampai melewati 2 buah halte transjakarta. Aku masih belum tertarik untuk menaiki satu angkutan pun. Maka aku jalan dan terus berjalan, sampai menemukan ini;

Itu istana negara kan ya? Atau bukan? Haha, ga tau deh. Yang jelas aku jalan terus masih menelusuri pinggiran komplek Monas. Dihutan kecil komplek Monas itu terdapat banyak sekali pemulung yang mencari pulungan disana. Ada yang mengais-ngais, ada yang sedang memisahkan botol plastik bekas dengan gelas plastik bekas, ada yang sedang tidur lelap dibawah pohon, ada juga yang sedang melamun. Pikiranku langsung loncat akan suatu ingatan, disebuah kelas, salah seorang temanku berpendapat, " Gua bukannya ga memihak rakyat kecil ya. Tapi menurut gua, orang-orang tunawisma kayagitu emang harus digusur mi. Kalau engga mereka manja".

Sekali lagi aku hanya mendesah nafas mengingat kata-kata temanku itu. Tak taukah kau, Kawan. Mereka itu juga sama seperti kita, hanya saja kurang beruntung. Mereka juga sedang berusaha untuk bertahan hidup ditengah para brengsek yang sedang main catur diatas sana. Kupikir, kau sudah tertular virus kapitalisme stadium 2. Hati-hati ketika jadi pejabat nanti. Kuracun kau jika nuranimu luntur.Aku terus berjalan, sampai entah dimana. Jalan saja terus, mi. Tidak usah takut, kata suara hatiku.

Not For Me

Lumayan kecewa juga ga keterima jadi staff sebuah kepanitiaan. Mungkin jawaban saya ketika wawancara nggak memenuhi kualifikasi tema acara tersebut.  Atau mungkin karena memang tidak berkualitas dimata pewawancara ya?

Saya bilang, " Saya pikir acara untuk tahun ini tidak hanya menekankan simbolisasi saja seperti tahun kemarin. Kenapa kita harus bersusah-susah membentuk huruf dengan ribuan massa, sedangkan itu sama sekali tidak membawa perubahan untuk kampus dan negara. Kenapa kita tidak mengalihkan pada hal-hal yang sederhana tapi jelas, seperti; membersihkan danau UI, melakukan penanaman pohon (yang dapat tumbuh) di lingkungan kampus."

" Untuk apa kita hanya membuang-buang waktu, tenaga dan biaya untuk memberikan pemahaman bela bangsa dan negara dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya dimaknai oleh mahasiswa baru. Tahun lalu, membuat puisi; entitas tersebut memang bertujuan baik dengan tema "Cinta Indonesia". Tapi dibalik itu semua, apakah para maba (termasuk saya ketika itu), sudah memahami betul puisi yang secara "dipaksa" harus dibuat".

" Saya pikir untuk kegiatan tahun ini, kita harus meminggirkan hal-hal abstrak, menggantinya menjadi hal-hal konkrit. Untuk apa berteriak, " Hidup indonesia! Hidup mahasiswa" sampai suara serak, tapi kepedulian akan lingkungan sekitar (masih banyak pengemis, lansia terlantar, juga masalah sampah berserakan di danau dan jalanan kampus) masih minim."

Ah, apa mungkin kalimatku terlalu mengkritik kelemahan program tahun lalu ya? Atau ada pihak yang tersinggung akan kritikku tentang perbuatan simbolis tersebut. Yah, sudahlah~ Memang bukan tempatku untuk berkontribusi di kepanitiaan itu.

Tenang Umi, masih banyak wadah yang bisa kamu jadikan wadah untuk muntahan ide konservatif-mu.Semoga ada! AMIN!

Film dan Selera Pasar


Malam ini, ada banyak hal yang ingin kubicarakan. Selama UAS, ia seakan mengendap-endap, bersembunyi entah dimana, menggumpal bersiap untuk meledak pada hari Kamis malam.
Kadang pikiranku sulit dikendalikan. Aku punya kebiasaan suka berpikir menerka, loncat kesana-kemari seperti kodok, sehingga kadang tulisanku tidak terstruktur dengan jelas.Kadang omonganku sangat cepat (kata teman-teman sebangsa dan setanah air) sehingga banyak yang salah mengerti akan pemahamanku.
Oke, itu sepintas tentang uneg-uneg hari ini.

Tadi ketika aku membaca koran bersama geng 3 Idiot (Nova dan Zikra) di lantai atas, koleksi 800, ada yang menarik perhatianku setelah sekian lama kuabaikan.Ada judul film yang dapat mengganggu saraf keseriusan orang, yaitu "Kakek Cangkul".

Sebelumnya sudah terjadi percakapan sebelum kejadian membaca koran ini.
" Tau nggak, kemarin kan ada judul bioskop namanya Suster Keramas, habis itu ada lagi yang judulnya Nenek Gayung, terus adalagi yang judulnya Kakek Cangkul".
" Besok ada yang bikin film horor judulnya Cucu Sabun, wkwkwk!", kata Zikra.
" Habis itu judulnya Cicit Odol! Hahaha...", timpal Nova.
" Hahaaaa. Emang ceritanya itu gimana sih Nov? Kok horor pakai bawa nama gayung segala?", tanyaku heran.
" Jadi gini, neneknya itu mati dibunuh sama gayung. Trus kalau mau hantuin, dia muncul di kamar mandi pas orang lagi mandi sambil nawarin "mau dimandiin sama nenek?". Trus orangnya mati deh gitu".
" Hah, kok aneh banget! Judulnya bikin ngakak deh~".

Yah, itu sekilas dialog nyata antara aku dan 2 sahabatku. Omongan itu langsung membuat otakku bekerja. Kepingan pikiran kemarin-kemarin yang berusaha kukumpulkan.

Seingatku, memang film horor Indonesia sudah diwarnai bumbu-bumbu lain sejak zaman aku masih SD. Film-film Suzana merupakan contoh nyata, dari film horor berbumbukan realita sosial, masalah ekonomi dan kriminalitas, juga beberapa kesalahan prosedur. Masih klise, berlandaskan hitam putih, mana yang baik mana yang jahat. Lalu hantu bisa diusir dengan membaca Qur’an, sampai dia kepanasan dan hangus. Dulu aku menontonnya dengan seksama sampai takut mau ke wc sendirian.
Ada sebuah film horor yang saya lupa judulnya apa, yang ketika itu saya ikut nimbrung nonton di laptop teman. Disana ada adegan Jupe lagi ketakutan ngeliat hantu, tapi bukannya hantunya yang dishoot malah si Jupe yang dominan dishoot. Haha~ kayaknya sutradaranya sakit jiwa nih. Orang nonton film horor kan untuk ngerasain adrenalin ketakutannya akan melihat hantu, lah ini malah si Jupe yang dishoot mulu. Ckckck~
Dan yang saya heran, banyak yang bilang bahwa film-film horor sekarang konyol semua, tidak ada yang berkualitas. Lalu kenapa tetap bermunculan film-film sejenisnya saat ini? Bukannya suatu produksi mengikuti selera pasar ya?

Saya jadi teringat cuplikan kata pengantar dari Goenawan Mohamad pada buku yang berjudul Utan Kayu. Begini dia bilang;
“ Tetapi tahun 1996-1998 juga sebuah periode ketika modal dan pasar kian lama kian menjadi pemain utama dalam percaturan sosial..... Karena desakan pasar yang tak terbendung, orang film Indonesia hanya melahirkan karya-karya yang semakin lama semakin dibuat asal-banyak dan asal-cepat. Karena dominasi pasar pula galeri-galeri hanya memasang karya yang sudah dipastikan laku, buku-buku yang “berat” tidak diproduksi, seni tari digiring untuk melayani pariwisata sementara pemain-pemain orkes yang bagus menghabiskan bakatnya di lobi-lobi hotel. Jangan mengharap untuk melahirkan yang “baru”( hal yang mengagetkan atau membingungkan) atau untuk menjelajah yang alternatif. Apalagi bila diatas pertimbangan pasar itu bekerja pula pengawasan negara: siapa yang bikin heboh akan dihabisi dan modal pun bisa rugi untuk mencoba-coba.”

Dan pernyataan Goenawan Mohamad terbukti akan film yang dibuat semakin asal-asalan saja. Entah judulnya yang kontroversial-lah (yang mengarah kepada ekspektasi lain), poster film yang dibuat asal jadi-lah, dan yang terpenting laku.
Negeriku tercinta ini, semakin kontroversial dia semakin laku. Jadi tidak jarang ada yang membuat kontroversi dulu, entah berantemlah, kasus skandal video-lah, kasus selingkuh-lah; lalu main film sebagai tokoh utama. Betapa jenaka-nya sistem disini.

Dan untuk masalah musik, yah lagi-lagi ada masalah penurunan kualitas selera. Budaya pop, lalu bercampur aduk dengan westernisasi dan koreanisasi seperti sekarang, berhasil menggusur kedudukan musik Indonesia menjadi sesuatu yang.... apa ya? Miskin talenta, miskin sense of art.
Ah, tiba-tiba aku jadi ingin mendengar lagu Chrisye dan Gombloh.