Pages

Menjadi Seorang Kakak Itu...

Sabtu, 07 Juli 2012
(Tahun 1998)
“Umi sudah liat adiknya?”, tanya tetanggaku dalam perhelatan acara syukuran kelahiran adikku yang pertama. Aku mengangguk sambil terus mengayun ayunan di teras rumah.
“Umi senang nggak punya adik bayi? Jadi kakak...”, tanyanya lagi. Sambil terus mengayun ayunan, aku menggeleng. “Biasa aja”, jawabku sekenanya.

Itu adalah ingatan yang masih melekat dimana aku bersikap biasa saja dengan predikat akan menjadi Kakak pada hari itu. Bagiku bukan sebuah kebanggaan yang harus diperlihatkan.
Ada banyak hal yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan pada kita. Seperti istilah “tidak bisa tidak”, sebagai janin di dalam perut ibunda segala hal telah diatur-Nya. Normal atau cacatkah? Siapa ibunya, ayahnya? Tampankah ayahnya? Preman pasar, direktur perusahaan atau tukang jagal sapi?  Hidup di lingkungan yang bagaimana? Jadi anak wilayah Menteng, Doli, atau menjadi Suku Anak Dalam? Dan siapa saja anggota keluarganya? Senangkah mereka dengan kelahiran kita? Atau malah tidak diharapkan? Lahir nomor urutan keberapa atau menjadi anak tunggal-kah?  

___

Aku Si Sulung dari keluargaku. Anak pertama yang lahir tahun 1992. Adik-adikku menyusul lahir tahun 1998 dan 2000. Menurut orangtuaku, jarak 6 tahun sangat cukup untuk sebuah masa kecil yang bahagia. Jadi aku sudah paham betul tugas sebagai seorang kakak; membantu mama untuk menjaga adik.

Kata orang, anak Sulung itu adalah “hasil coba-coba” orangtuanya. Hasil “kecelakaan” di luar program Keluarga Berencana, pembuktian kejantanan seorang suami terhadap istrinya, properti pelengkap kesepian ibunya yang cuti kerja atau penutup mulut mertua cerewet yang sudah kebelet ingin cucu.

Kata orang, menjadi Kakak itu tidak enak. Ketika adik masih bayi/balita, seorang kakak dituntut ini-itu oleh ibunya; mengambilkan popok di jemuran, membuatkan susu, membasuh kotoran buang air adik di wc atau ruang tamu, disuruh mengawasi adik tepat ketika teman-teman mengajak main gobak sodor di halaman mesjid, menenangkan tangis adik bayi ketika ibu sedang tidak di rumah atau hal yang paling menjengkelkan adalah disuruh mengalah.

Kata orang, seorang Kakak akhirnya akan terpinggirkan karena adik bayi  membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang-orang sekitar. Akan ada kalimat “Kan kakak sudah besar. Jadi harus ngalah sama adiknya”. Untuk sesaat, seorang Kakak yang baru saja mempunyai adik akan merasa dunia ini tidak adil. Sudden shock.

Kata orang, kelak ketika Sang Adik mengerti segala hal, ia akan merebut apapun benda milik kita; kamar, tas ransel, baju kodok pink, botol minum Hello Kitty, mobil tamiya, pistol air, sepatu berlampu, jam tangan batman dan banyak hal. Ketika kita mencoba untuk melawan, merebut kembali, memarahi atau akhirnya memukul dan mendorong; ia akan menangis lalu lari mengadu ke ibu atau ayah sambil berkata “Kakak nakal! Kakak jahat”.

Kesimpulannya jelas: Ada banyak hal yang dikorbankan untuk menyandang status “kakak”.
Ketika itu, aku sempat berpikir; jika dia memang Maha Mendengar dan Maha Adil, dapatkah kita bernegosiasi pada-Nya untuk kalimat awal yang kutebalkan diatas? Aku benar-benar mengharapkan sosok seorang Kakak, tapi bagaimana caranya?

Bukan aku menyangsikan kelahiran kedua adikku itu. Dibalik kewajaran sikapku menanggapi kelahiran adik, aku menyimpan rasa senang dan merasa akan ada teman untuk berbagi. Bukan karena aku tidak menyayangi mereka, salah besar. Walaupun kelihatannya acuh, aku selalu memikirkan keperluan kecil, hal-hal detil tentang adik-adikku atau bahkan perasaan mereka, aku paham. Bukan pula karena aku takut akan banyak hal yang kukorbankan sebagai seorang kakak selama ini seperti kata orang-orang.

Tapi kenapa harus aku yang menjadi Kakak? Kenapa bukan aku yang lahir sebagai nomor 2 setelah kelahiran seorang anak dari rahim mama? Kenapa aku tidak memiliki Kakak? Bisakah waktu diulang? Aku dapat memilih dan bukan lahir sebagai anak sulung; menjadi anak tengah atau anak bungsu agar memiliki satu hal yang selama ini tidak mungkin bagiku yaitu punya Kakak.

Tidak banyak yang tau bahwa aku memiliki brother complex syndrome. Bagiku brother complex adalah penyakit perasaan egois. Ia menuntut dunia karena memang ini tidak bisa diubah secara struktur genetis, terkait dengan kelahiran. Dan dia sampai sekarang masih bersemayam dalam angan-angan yang kusimpan rapat.

Sampai sekarang aku kerap iri dengan teman yang memiliki Kakak. Mendengar mereka memanggil Kakaknya; abang, mbak, mas, kakak, mpok, uda, uni, teteh, akang dan banyak lagi sebutan yang bagiku memiliki kesan tersendiri. Bagiku terdapat kesan romantis ketika kita memanggil sebutan “Kakak”.

Aku selalu menaruh perhatian lebih pada cerita teman-temanku yang berhubungan dengan kakaknya, entah itu berantem masalah kamar, berebut barang, bagian uang jajan, kebebasan yang timpang atau fasilitas yang tidak imbang dari orangtua. Semuanya kudengarkan baik-baik dan diakhiri dengan nasehat atau solusi yang dapat kuberikan pada teman-teman yang bercerita.

Mendengarkan cerita teman-temanku, aku seolah memposisikan diri sebagai Kakak mereka. Ketika mereka bercerita, maka aku juga ikut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada kepada adikku. Bagaimana jika aku juga seperti itu? Apa yang harus aku perbuat jika kasusnya sama?

Dibalik brother complex syndrome dan curhat teman-temanku akan kakaknya, aku seperti bercermin akan sesuatu: Menjadi seorang Kakak itu tidak buruk. Tanpa kusadari, aku belajar banyak hal.
Aku belajar untuk menjadi apapun yang adikku butuhkan. Aku berusaha menggantikan peran orangtua, teman, guru, sahabat, guide wisata, peminjam uang, ojek, perias wajah, stylish, porter, tukang cuci, pelawak, ambulance manusia dan banyak profesi ketika peran tersebut ia butuhkan.

Kakak bukanlah predikat sembarangan. Dibalik tuntutan-tuntutan yang diembannya, terdapat pengendalian diri dalam pribadi seorang Kakak. Bagaimana menahan perasaan ketika keinginan kita ditumpang tindihkan oleh keinginan adik, belajar menerima ketika barang kesayangan rusak dipakai adik, menahan keinginan ketika adik minta macam-macam pada orangtua karena tidak mau menambah beban biaya, dan belajar berbagi dalam keadaan apapun.

Maka tidak salah jika seorang Kakak kadang memarahi adiknya karena kamar yang berantakan, meminta tolong untuk mengambilkan sesuatu, mengomel karena si adik hanya baca komik tanpa belajar dan kegiatan, panik ketika adiknya belum pulang ke rumah menjelang maghrib  dan hal-hal yang kelihatannya remeh tapi sudah alami sifat seorang kakak terhadap adiknya_kekakakan (seperti dalam kata keibuan). Hematku menjadi Kakak adalah belajar proses menerima, menjalani, membiasakan dan menjadikan kehadiran seorang adik menjadi bagian penting dari hidup.

Jadi tunggu apalagi, katakan pada Kakak kalian bahwa kalian menyayanginya!

Salam sibling syndrome ;)
 _________________________________
VK Courtesy, 6/14/2012

All Iz Well

Kamis, 31 Mei 2012
Sejenak hari ini bisa menarik nafas kembali dari instrument UAS; bolak balik buku, meremas fotokopi, coret sana-sini, merangkum, berpikir, menyelami suatu makna, menghapal, mengingat, meraba letak ingatan, memuntahkan semuanya di atas kertas ujian yang berlogo universitas yang dulu gila-gilaan kuimpikan, memijat punggung yang pegal, menggeretakan tangan setiap 5 menit, memiringkan kepala (kebiasaanku kalau bingung), mengerutkan kening, menggoyangkan tungkai kaki ketika dikursi.

Kafein pun bukan jadi sahabat lagi bagiku. Aku tidak juga percaya dengan jam beker Hello Kitty-ku yang kutaruh disebelah bantal. Ia tidak efektif untuk membangunkanku tengah malam. Yang ada aku telat bangun dan merasa bahwa alarm handphone dan bunyi beker tersebut berubah berkhianat.

Maka, aku mengubah strategi dengan "memadu kasih" dengan ruang belajar di perpustakaan sampai matahari turun. Prinsipku, jika aku pulang ketika matahari masih ada, melelehlah wajahku. Maka tak jarang aku belajar, lalu setiap 1 jam sekali memalingkan muka ke jendela, apakah hari sudah gelap?

Aku benci ketika dimana aku tidak bisa bebas membaca ketika aku ingin membaca. Aku benci ketika dipaksa membaca buku yang sudah pernah kubaca, sedangkan di bawah bantalku ada buku yang menarik untuk dibaca. Aku bertingkah seakan salah urat tak bisa menoleh ketika berada di lantai 2 perpustakaan, melihat buku-buku berderet dan tak tahan untuk naik ke bagian koleksi 800-an bagian sastra.

Jika dibilang dapat memicu stress, ya tentu itu hal yang sangat menakjubkan dibalik belajar kebut semalam seperti yang suka kulakukan.

Scene:
  • Mengendalikan seluruh sistem membran sel otakku untuk berteriak, " Take it easy girl. Everything's gonna be okay ". 
  • Tapi ketika sudah memasuki ruang ujian, maka aorta bahkan mencubitiku, memaksaku untuk memompa jantung ketika ujian mulai dekat. 
  • Skeptisme mulai merangkak pelan, berdiri, lalu berjalan. Berjoged ia dengan dentuman jantung, seakan bahagia menari shuffle, mengitari otak. Merangkul pikiran negatif dan keringat dingin untuk menjemput Nyonya Kegagalan yang sedang kipas-kipas minta kerjaan.
  • Hati nurani sedang jongkok, seakan sebal dan merajuk melihatku tidak yakin dengan diri sendiri. Dengan wajah muak, ia berkata kasar: " Nyantai aja, kenapa sih!? Toh kalau lo gagal ujian, Obama juga tetep boker!".  
  • Atau si otak yang kupaksa semalam suntuk belajar, temanku sejak mengenal kehidupan: " Jangan sampai lo cuman bisa bikin gua sia-sia nemenin lo belajar semalaman suntuk hanya untuk mental jongkok lo! Basi tau ga!".
  • Maaf kalau kasar, ini benar-benar perumpamaan. 

Lagi-lagi ini semua berhubungan dengan mental kan? Se-prepare apapun kita, kalau mental jongkok, ya mau gimana lagi? Pikiran positif itu sangat penting dalam menjaga perasaan. Dan ketahanan mental akan berbagai macam situasi juga benar-benar harus diadakan kapanpun dan dimanapun. Dapat bertindak secara tenang, tanpa mengabaikan rasio.

Mental.
Itu kata kuncinya.

Mental + Persiapan yang baik + Positive thinking = Keberuntungan.

All iz well!

Film dan Selera Pasar


Malam ini, ada banyak hal yang ingin kubicarakan. Selama UAS, ia seakan mengendap-endap, bersembunyi entah dimana, menggumpal bersiap untuk meledak pada hari Kamis malam.
Kadang pikiranku sulit dikendalikan. Aku punya kebiasaan suka berpikir menerka, loncat kesana-kemari seperti kodok, sehingga kadang tulisanku tidak terstruktur dengan jelas.Kadang omonganku sangat cepat (kata teman-teman sebangsa dan setanah air) sehingga banyak yang salah mengerti akan pemahamanku.
Oke, itu sepintas tentang uneg-uneg hari ini.

Tadi ketika aku membaca koran bersama geng 3 Idiot (Nova dan Zikra) di lantai atas, koleksi 800, ada yang menarik perhatianku setelah sekian lama kuabaikan.Ada judul film yang dapat mengganggu saraf keseriusan orang, yaitu "Kakek Cangkul".

Sebelumnya sudah terjadi percakapan sebelum kejadian membaca koran ini.
" Tau nggak, kemarin kan ada judul bioskop namanya Suster Keramas, habis itu ada lagi yang judulnya Nenek Gayung, terus adalagi yang judulnya Kakek Cangkul".
" Besok ada yang bikin film horor judulnya Cucu Sabun, wkwkwk!", kata Zikra.
" Habis itu judulnya Cicit Odol! Hahaha...", timpal Nova.
" Hahaaaa. Emang ceritanya itu gimana sih Nov? Kok horor pakai bawa nama gayung segala?", tanyaku heran.
" Jadi gini, neneknya itu mati dibunuh sama gayung. Trus kalau mau hantuin, dia muncul di kamar mandi pas orang lagi mandi sambil nawarin "mau dimandiin sama nenek?". Trus orangnya mati deh gitu".
" Hah, kok aneh banget! Judulnya bikin ngakak deh~".

Yah, itu sekilas dialog nyata antara aku dan 2 sahabatku. Omongan itu langsung membuat otakku bekerja. Kepingan pikiran kemarin-kemarin yang berusaha kukumpulkan.

Seingatku, memang film horor Indonesia sudah diwarnai bumbu-bumbu lain sejak zaman aku masih SD. Film-film Suzana merupakan contoh nyata, dari film horor berbumbukan realita sosial, masalah ekonomi dan kriminalitas, juga beberapa kesalahan prosedur. Masih klise, berlandaskan hitam putih, mana yang baik mana yang jahat. Lalu hantu bisa diusir dengan membaca Qur’an, sampai dia kepanasan dan hangus. Dulu aku menontonnya dengan seksama sampai takut mau ke wc sendirian.
Ada sebuah film horor yang saya lupa judulnya apa, yang ketika itu saya ikut nimbrung nonton di laptop teman. Disana ada adegan Jupe lagi ketakutan ngeliat hantu, tapi bukannya hantunya yang dishoot malah si Jupe yang dominan dishoot. Haha~ kayaknya sutradaranya sakit jiwa nih. Orang nonton film horor kan untuk ngerasain adrenalin ketakutannya akan melihat hantu, lah ini malah si Jupe yang dishoot mulu. Ckckck~
Dan yang saya heran, banyak yang bilang bahwa film-film horor sekarang konyol semua, tidak ada yang berkualitas. Lalu kenapa tetap bermunculan film-film sejenisnya saat ini? Bukannya suatu produksi mengikuti selera pasar ya?

Saya jadi teringat cuplikan kata pengantar dari Goenawan Mohamad pada buku yang berjudul Utan Kayu. Begini dia bilang;
“ Tetapi tahun 1996-1998 juga sebuah periode ketika modal dan pasar kian lama kian menjadi pemain utama dalam percaturan sosial..... Karena desakan pasar yang tak terbendung, orang film Indonesia hanya melahirkan karya-karya yang semakin lama semakin dibuat asal-banyak dan asal-cepat. Karena dominasi pasar pula galeri-galeri hanya memasang karya yang sudah dipastikan laku, buku-buku yang “berat” tidak diproduksi, seni tari digiring untuk melayani pariwisata sementara pemain-pemain orkes yang bagus menghabiskan bakatnya di lobi-lobi hotel. Jangan mengharap untuk melahirkan yang “baru”( hal yang mengagetkan atau membingungkan) atau untuk menjelajah yang alternatif. Apalagi bila diatas pertimbangan pasar itu bekerja pula pengawasan negara: siapa yang bikin heboh akan dihabisi dan modal pun bisa rugi untuk mencoba-coba.”

Dan pernyataan Goenawan Mohamad terbukti akan film yang dibuat semakin asal-asalan saja. Entah judulnya yang kontroversial-lah (yang mengarah kepada ekspektasi lain), poster film yang dibuat asal jadi-lah, dan yang terpenting laku.
Negeriku tercinta ini, semakin kontroversial dia semakin laku. Jadi tidak jarang ada yang membuat kontroversi dulu, entah berantemlah, kasus skandal video-lah, kasus selingkuh-lah; lalu main film sebagai tokoh utama. Betapa jenaka-nya sistem disini.

Dan untuk masalah musik, yah lagi-lagi ada masalah penurunan kualitas selera. Budaya pop, lalu bercampur aduk dengan westernisasi dan koreanisasi seperti sekarang, berhasil menggusur kedudukan musik Indonesia menjadi sesuatu yang.... apa ya? Miskin talenta, miskin sense of art.
Ah, tiba-tiba aku jadi ingin mendengar lagu Chrisye dan Gombloh.

Not For Me

Lumayan kecewa juga ga keterima jadi staff sebuah kepanitiaan. Mungkin jawaban saya ketika wawancara nggak memenuhi kualifikasi tema acara tersebut.  Atau mungkin karena memang tidak berkualitas dimata pewawancara ya?

Saya bilang, " Saya pikir acara untuk tahun ini tidak hanya menekankan simbolisasi saja seperti tahun kemarin. Kenapa kita harus bersusah-susah membentuk huruf dengan ribuan massa, sedangkan itu sama sekali tidak membawa perubahan untuk kampus dan negara. Kenapa kita tidak mengalihkan pada hal-hal yang sederhana tapi jelas, seperti; membersihkan danau UI, melakukan penanaman pohon (yang dapat tumbuh) di lingkungan kampus."

" Untuk apa kita hanya membuang-buang waktu, tenaga dan biaya untuk memberikan pemahaman bela bangsa dan negara dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya dimaknai oleh mahasiswa baru. Tahun lalu, membuat puisi; entitas tersebut memang bertujuan baik dengan tema "Cinta Indonesia". Tapi dibalik itu semua, apakah para maba (termasuk saya ketika itu), sudah memahami betul puisi yang secara "dipaksa" harus dibuat".

" Saya pikir untuk kegiatan tahun ini, kita harus meminggirkan hal-hal abstrak, menggantinya menjadi hal-hal konkrit. Untuk apa berteriak, " Hidup indonesia! Hidup mahasiswa" sampai suara serak, tapi kepedulian akan lingkungan sekitar (masih banyak pengemis, lansia terlantar, juga masalah sampah berserakan di danau dan jalanan kampus) masih minim."

Ah, apa mungkin kalimatku terlalu mengkritik kelemahan program tahun lalu ya? Atau ada pihak yang tersinggung akan kritikku tentang perbuatan simbolis tersebut. Yah, sudahlah~ Memang bukan tempatku untuk berkontribusi di kepanitiaan itu.

Tenang Umi, masih banyak wadah yang bisa kamu jadikan wadah untuk muntahan ide konservatif-mu.Semoga ada! AMIN!

(...)

Sabtu, 26 Mei 2012
Hey, soul brother. How are you?
Sehatkan? Baik-baik disana kak. Jaga kesehatan, jangan begadang terus.

Pekan depan benar-benar bikin gila. Hari Minggu ada lomba di Kartika Chandra (aku main jimbe), Senin-Kamis full UAS.
Wish me luck ya :)
Kakak juga, salam menanjak!


Terkunci

Senin, 21 Mei 2012
Update blog with my true story :)



Suatu siang yang panas aku turun dari kamar, menuju keluar mencari makan. Kupikir aku tidak akan lama jadi kutinggal saja handphone dan lain-lain, hanya membawa uang secukupnya. Dan saat diwarung, entah kenapa jadi malas balik kekamar dan memutuskan makan ditempat.

Setelah menghabiskan sekitar 20 menit untuk menikmati makan, aku langsung menuju kosan. Ada sebuah pagar besi hitam yang kokoh yang jika kita ingin masuk, tinggal didorong. Dengan langkah gontai aku menuju gerbang besi seperti biasa dan mendorong pelan. Tidak bergerak. Aku tekan lebih keras, kupikir karatan jadinya harus lebih keras. Tidak bergerak, malah keras sekali tidak mau terbuka.

Aku terkunci.

Kuintip celah-celah gerbang besi itu yang menghadap langsung pos penjaga kosan. Disana tidak ada orang, tapi tv disana tetap menyala. Ah, mungkin Pak Djuned sedang shalat,pikirku mencoba untuk menenangkan diri. Aku memutuskan untuk duduk pasrah sambil menunggu Pak Djuned, penjaga kosan yang kutebak sedang shalat.

1 menit.

5 menit.

10 menit.

 Kawan, jika memang hari itu semilir anginnya, sesejuk udara di Malang ketika pagi hari mungkin aku tidak akan kalap untuk berteriak, " PAK DJUNED! PAAAAK! BAPAAAK!". Nihil. Bahkan tidak ada jawaban sama sekali. Panas udara Depok bisa cukup membuat orang stres, apalagi disiang bolong seperti itu. Tapi ini bukan masalah panas atau dinginnya udara. Bukan juga masalah sabar atau tidaknya, tapi aku merasa bodoh sebagai penghuni kosan yang terkunci dan tidak bisa masuk di kos sendiri. Aku dorong-dorong gerbang besinya. Aku ketuk-ketuk. Aku mencari kayu/besi yang mungkin bisa mencungkil kunci bagian bawahnya. Tidak ada hasil.

Aku jadi seperti anak pembangkang yang dikurung, meminta dibukakan pintu oleh ibunya. Aku bahkan berteriak supaya suaraku bisa didengar penghuni kosan lain jikalau memang mereka mau membantu membukakan pintu. Aku mendongak keatas, apakah ada kemungkinan untuk memanjat. Sama sekali tidak ada lubang untuk bisa loncat ke dalam.

Aku diam, merengut wajahku. Aku tidak bisa tinggal diam disini saja.
Pikiran itu melintas sejenak yang tanpa pikir panjang kulaksanakan.

Ketika awal mencari kosan aku sempat keliling daerah kukusan dan akhirnya masuk ke Pondok Green (nama kosan-ku sekarang) untuk melihat-lihat. Aku bertanya kamar yang maa saja yang kosong. Penjaga menjawab ada 3, salah satunya dibelakang. Dan itu merupakan kamar paling pojok yang menyeramkan. Disana aku sempat melihat sejenis pintu berwarna hijau yang sepertinya terhubung langsung dengan gang belakang.

Dengan bermodalkan tebak-menebak jitu ala Umi Fatia, aku berdiri ingin melaksanakan explorer mencari jalan tembus. Ada banyak jalan menuju Roma, pikirku polos. Dan ketika lagkah ketiga kuayunkan, tali sandalku putus -____-a.
Akhirnya dengan jalan nyeker ayam aku berjalan turun menuju daerah kukusan bawah. Orang-orang ada yang melihat, ada juga yang cuek. Toh, aku cuek saja. Aku tidak pakai alas kaki juga karena sandalku putus, bukan karena mau cari sensasi (sensasi darimananya cba :p ).

Ada kemungkinan 3 gang jawaban dari itu semua. Aku coba gang pertama, kakiku terinjak batu yang agak tajam. Rasanya sakit sekali. Ternyata jalan buntu yang berakhir dalam rumah dempet warga. Masih ada dua gang. Pasti salah satu gang itu adalah jawabannya.

Gang kedua, yang tidak tepat dibilang gang, karena itu adalah dua gedung besar yang memiliki spasi dan bisa dimasuki orang untuk lalu lalang. Dengan yakin aku masuk dengan kaki yang sakit sambil menenteng sandal yang berakhir dengan tembok berlumut. Tidak apa-apa, mungkin gang ketiga adalah jawabannya. Biasanya kalau dalam film-film atau novel misteri, pilihan ketiga atau pilihan terakhir merupakan jawabannya. Pasti di gang ini.

Gang ketiga, aku diam sebelum memasukinya. Antara yakin atau tidak dengan gang terakhir ini. Kali ini kepercayaan diriku sudah habis, aku seperti hampa dan putus asa untuk tidak masuk gang ini. Pasalnya gang ini ada gerbang yang sepertinya rumah orang, tapi tidak bisa juga disebut rumah orang. Aku pun masuk untuk mencoba lagi dan ternyata dugaanku benar. Itu memang rumah warga, bukan gang. Jalan masuk menuju rumahnya terlihat seperti gang.

Dengan lagkah gontai, aku kembali menanjaki jalan atas kukusan setelah petualangan mencari gang di kukusan bawah. Aku masih yakin bahwa ada jalan belakang, tapi aku belum ketemu.
Dalam perjalanan, aku tiba-tiba terpikir sesuatu. Dan sesampainya di kosan (dengan harapan sudah ada yang membuka gerbang) gerbang hitam kokoh itu masih seperti semula. Tertutup rapat.

Pikiranku masih menyimpulkan berbagai instrument kejadian barusan. Aku baru tersadar. Ini merupakan kepingan jawaban dari-Nya.

Kosan dianalogikan sebagai agama. Maka banyak sekali orang yang ingin masuk tapi tidak bisa, entah karena beberapa hal. Ada juga yang memang penghuni kos itu (seperti aku misalnya) yang saat itu mencoba keluar sebentar (baca: membangkang, menyimpang sebentar) dan ketika ingin masuk, maka susah sekali untuk masuk lagi dikarenakan dikunci dari luar. Padahal aku adalah penghuni tetap disana. Perlu perjuangan dengan berbagai macam rintangan. Bahkan jika perlu dalam perjuangan itu bisa dinilai dan dicemooh orang orang-orang (kasus: jalan nyeker seperti orang gila cari sensasi di kawasan mahasiswa).
Bisa saja salah masuk jalan, setelah memprediksi yang mana yang benar, tapi akhirnya malah tidak mendapatkan jawaban. Endingnya ya kita harus kembali kepada-Nya.
Berpasrah.

Ya, akhirnya saya pasrah akan renungan itu. Duduk selonjoran sambil memijat kaki yang terkena batu. Sekitar 10 menit kemudian bunyi gemericit gerbang terbuka. Ada seseorang yang mau keluar, aku melihatnya penuh harapan dan bernapas lega.

Dia berkata, " Kan bisa dibuka pakai besi yang digantungin deket gerbang. Tinggal ditarik aja, terus kebuka deh!". Aku hanya terdiam malu. Salahku memang jika tidak mengenali kos lebih jauh seperti seluk-beluk yang kelihatannya remeh, tapi tidak pernah kuperhatikan. Ini kuanalogikan sebagai "Kenalilah Tuhanmu, kenalilah agamamu".
Aku hanya bisa mengangguk berterima-kasih kepada mba yang membukakan gerbang itu.

Dan tepat saat mba itu mau pergi, Pak Djuned datang dengan motornya. Tapi aku keburu malu pada diri sendiri. Keburu ingin naik kekamar dan menangis karena malu telah menggerutu tidak jelas, padahal memang karena salah sendiri. Malu karena tidak mengenali lebih dalam. Malu karena sudah bersikap kekanak-kanakan dalam berpikir.





Fork That Fork

Kamis, 17 Mei 2012
Ini benar-benar terjadi pada saya ketika di Kansas (Kantin Sastra). Perasaan saya ketika mengambil garpu ini, ada 4 tangkai. Tapi ketika sudah selesai makan, kenapa cuman 3??!
Haha, ya sudahlah~ Saya masih hidup. Bukti bahwa Tuhan memang masih mempersilahkan saya untuk mencari jejak-Nya :)