Pages

Selamat Hari Lahir, 哥哥!!!

Jumat, 26 Oktober 2012
Selamat hari lahir yang ke-23 ya kak (*untuk privasi, wajah ditutup :D )

Diam

Perempuan Berkalung Surban merupakan film yang tidak terlupakan buatku. Berkali-kali kutonton dan selalu memancing emosi. Mungkin sosok Annissa merupakan sosok yang sangat kurindukan dalam kehidupan.
Aku ingat dengan salah satu scene dimana Annissa berdialog dengan ibunya.

"Kenapa selama ini Umi hanya diam?"

" Diam bukan berarti tidak membela, Nissa. Ada hal yang kadang tidak bisa kita lakukan, seperti yang kita inginkan. Kita adalah perempuan yang hidup dalam kondisi yang tidak seimbang, seperti yang sering kamu bilang. Yang Umi lakukan cuma bisa diam. Mungkin kamu nggak setuju. Tapi pada waktu itu, sewaktu Umi melawan...hancur keluarga ini".

Sosok Nyai yang diperankan Widyawati sangat memperkaya emosi pada film ini. Itu lumayan cukup menggambarkan sikap wanita yang kuat dan tegar dengan mengambil "jalan pintas" yaitu diam.

Kakak pernah bilang, diam merupakan sikap tengah. Tidak menyalahkan juga tidak membenarkan. Diam adalah sikap yang paling aman.

Nenekku juga termasuk orang yang mengambil jalan tengah; diam. Mungkin pada saat jamannya, beliau hidup pada kondisi yang tidak seimbang juga lingkungan tempat beliau bertumbuh dan berkembang.
Dengan diam, nenek terus melanjutkan pendidikannya hingga sekolah guru, mengindahkan cibiran tetangga dan adik-adik perempuannya yang telah menikah muda. Dan dalam diam, nenek terus menjalani kehidupannya yang keras.

Tapi kupikir selamanya diam juga akan sakit. Seperti kelanjutan dialog di atas yang dikatakan oleh Annissa,

"tapi suatu saat juga Umi harus bilang, apa yang Umi rasakan, apa yang Umi pikirkan. Umi ga bisa selamanya diam aja".

___________________________________________________________________________

Kurasa masa itu sudah lewat. Kondisi telah banyak berubah. Ada banyak pergeseran-pergeseran nilai yang telah terjadi pada generasi perempuan saat ini.

Semoga kelak ke depannya aku akan dapat selalu menyuarakan pendapatku tanpa harus mengorbankan keluarga yang akan kubina kelak.

Bayi Inkubator

Rabu, 10 Oktober 2012
Kemarin Sabtu, setelah mengerjakan tugas, Zikra mengajakku dengan Nova ke sebuah RS di daerah Margonda. Diiringi dengan awan mendung dan langit yang kelabu, kami bertiga naik angkot ke arah terminal Depok. Langsung menuju lantai 2 tempat ruang tunggu operasi.

Rumah sakit memang menyimpan kenangan tersendiri untukku. Zikra pernah masuk rumah sakit dalam jangka waktu yang lama. Nova bahkan pernah masuk UGD juga. Dan aku sudah kenyang akan pengalaman di rumah sakit sewaktu masih kanak-kanak. Hal yang paling kusuka di rumah sakit adalah ruang inkubator. Setiap aku ke rumah sakit manapun, yang kucari pertama adalah ruang inkubator. Kuusahakan untuk selalu sempat melihat para bayi di dalam ruang inkubator itu.

Dan ternyata ruang operasi satu lantai dengan ruang inkubatornya. Setelah bersaliman dengan Tantenya Zikra, aku dan Nova menuju toilet dan stay di ruang inkubator. Berdiri termenung melihat ruangan yang seperti akuarium itu. Dengan dinding kaca transparan, setiap orang yang lewat dapat melihat beberapa bayi yang berada dalam ruangan tersebut.

Ada yang disinar laser punggungnya, bagian tubuh depan dengan mata ditutup. Ada juga yang berada dalam inkubatornya sendiri. Ada juga yang terlihat sehat dan hanya tidur dengan selimut tanpa alat-alat tersebut.

Bayi yang ada di inkubator, ukurannya lebih kecil dibandingkan bayi yang lain. Nafas mereka cepat dan dada kecil itu turun naik berusaha mencari ritme antara udara yang didapat dengan ukuran paru-paru mereka. Badan mereka begitu kecil seakan-akan sangat rapuh.

Aku cuman bisa berdoa semoga bayi-bayi yang berada disana dapat bertahan hidup jika memang diijinkan Tuhan. Siapa yang tahu kalau salah satu dari mereka akan menjadi orang yang dapat merubah negara menjadi lebih baik? Iya kan? :)

Ladies First?

Jumat, 05 Oktober 2012
Dalam hidup ini, sebuah norma dan nilai telah disepakati dengan standarnya masing-masing di setiap wilayah. Wilayah satu dengan lainnya berbeda-beda tergantung hukum adat, letak geografis atau latar belakang sejarahnya tersebut. Negaraku, si tanah gemah ripah loh jinawi, Indonesa yang sudah merdeka dari kolonialisme ini yang memiliki penduduk; menurut data statistik mengatakan jumlah pria adalah 1:3 dari perempuan, mempunyai sebuah stigma masyarakat tersendiri dalam memperlakukan seorang wanita dewasa ini.
Entah darimana asalnya, mungkin Eropa yang mencanangkan program "Ladies First"-nya di Indonesia. Aku tidak tau kapan spesifiknya. Sejak zaman sebelum Kartini yang penuh diskriminasi akan status gender hingga kini yang disebut zaman modern, dimana (katanya) status gender itu dinilai setara tanpa harus membeda-bedakan.
Dibalik wajah para laki-laki yang mengaku sebagai egalitarian, pernahkah kalian mendengar, berpikir atau bahkan mengucap kalimat-kalimat di bawah ini:
  • "Ayo, mana nih cowonya? Masa yang daritadi maju, cewe-nya mulu di kelas ini.
  • "Idiih, masa mau kalah sama perempuan. Cewe-nya aja berani, masa cowo-nya engga"
  • "Ayo yang ngerasa cowo, bantuin cewenya angkat barang dong! Masa dibiarin gitu aja?".
  • "Kaya cewe aja lu pakai nangis!"
  • "Ngomong tu yang kenceng! Jangan kaya cewe dong~"
Atau
  • Lebih sering perempuan yang diajukan sebagai sekretaris.
  • Laki-laki harus macho, perempuan feminin.
  • Laki-laki yang keren itu adalah yang memegang prinsip Ladies First
Tanya kenapa?
Beberapa quote di atas memang sangat akrab di telinga kita sejak dulu. Bahkan seolah-olah sudah diinstal permanen baik pada pemikiran seorang laki-laki maupun perempuan. Dan ketika melanggar beberapa hal di atas, maka dikatakan tidak gentle, cowo banci, cewe tomboydan lain-lain. Sebuah konsekuensi yang bagiku sangat mengarah pada diskriminasi. Alih-alih ingin melindungi wanita, tapi terdapat makna degrading, merendahkan, di balik sikap gentleman itu.
Memangnya kenapa kalau perempuan yang dominan maju pada sebuah acara, seminar, tanya jawab atau apapun? Memangnya kenapa kalau laki-laki bisa kalah sama perempuan dalam sebuah kompetisi?
Bagiku kalimat “masa cowo kalah sama cewe” itu menandakan secara tidak langsung masih adanya anggapan bahwa seorang perempuan punya keberanian masih setingkat di bawah laki-laki. Bukti nyatanya adalah ketika perempuan menang atau dominasi perempuan lebih banyak dalam sebuah forum, lalu kaum laki-laki akan langsung dikompori untuk kembali merebut “predikat” yang bagiku sama dengan "dimana nyali kalian sebagai laki-laki?" seolah-olah jika perempuan yang maju ada yang salah dengan keberanian sang laki-laki. Memangnya kenapa kalau perempuan yang menang dan yang laki-laki kalah? Merasa superioritas kalian turun dengan menangnya kaum perempuan?
Masalah air mata. Seolah-olah sudah ditetapkan bahwa yang menangis itu hanya perempuan dan laki-laki tidak boleh cengeng. Hello! Memangnya air mata hanya bisa keluar dari pelupuk mata seorang perempuan saja? Memangnya kenapa kalau laki-laki menangis? Dosa?
Masalah angkat barang juga merupakan hal yang sangat kusayangkan. Dengan adanya kalimat “bantuin yang cewe angkat barang dong kalau merasa cowo” menandakan bahwa yang identik dengan beban fisik itu hanya urusan laki-laki, perempuan tidak. Entah apakah maksudnya ini berarti perempuan lebih lemah dibanding laki-laki sehingga harus terus dibantu atau memang laki-laki harus tampil sebagai superior sehingga harus terus ikut campur dalam kegiatan yang berbau fisik?
Ladies First? Dewasa ini kuperhatikan banyak juga orang yang memakai prinsip ini. Kalau diterjemahkan menjadi sebuah kalimat yang kaku; “perempuan yang duluan”. Masuk ruangan duluan, naik lift masuk duluan-keluar duluan, duduk di bus mempersilahkan perempuan (yang sebaya) duluan duduk dan masih banyak embel-embel perempuan yang duluan. Sikap mengistimewakan wanita?

Banyak orang menganggap bahwa ladies first adalah budaya yang santun dan menghormati wanita. Kesannya menghargai perempuan sehingga mereka patut diberikan tempat pertama di mana pun mereka berada. Kenyataannya, bagiku ini adalah judgement atas gagasan bahwa perempuan memiliki kapasitas setingkat di bawah laki-laki.

Jika konsep ladies first dilihat kembali; dalam sebuah minibus menuju Lebak Bulus, telah berdiri seorang pemuda selama lebih dari 30 menit (kursi bus penuh) dan seorang pemudi yang berdiri selama 5 menit. Beberapa saat kemudian ada penumpang yang turun. Pemuda mempersilahkan pemudi duduk dengan alasan “dia seorang perempuan, aku harus mengalah”. And she finally got the chair because she is a woman. Seolah-olah perempuan harus selalu "diberikan tempat" dengan cara laki-laki yang "mengalah".

Ah, aku kurang setuju dengan hal-hal itu. bagiku laki-laki dan perempuan memiliki hak dan potensi yang sama dalam menjalani sebuah kompetisi dan kesempatan secara sehat, cerdas dan setara. #Kecuali menggunakan prinsip ladie first untuk menggaet si wanita, itu lain urusannya.
Bagiku kalian sebagai laki-laki harus cerdas dalam memperlakukan seorang perempuan. Aku hormati dan hargai bagi para laki-laki yang ingin mengagungkan wanita dengan adanya rasa ingin melindungi. Aku benar-benar hargai itu. Tapi melindungi bukan berarti harus terus melayani dan mengalah kan? Lihatlah kapasitas seorang perempuan, jangan pernah remehkan karena Tuhan pun tidak pernah.
Beri kesempatan bagi para perempuan yang terlihat sanggup mengangkat kardus buku sendirian, mengangkat galon, mendorong lemari, mengganti ban mobil di tengah jalan, bisa pulang malam sendiri tanpa mengandalkan siapapun dan hal-hal lain yang bersifat macho.    
Gawat jika dengan perlakuan gentle para laki-laki tersebut, para perempuan akan menjadi manja dan terlena. Mereka seolah-olah menjadi merasa tidak dapat melakukan hal-hal tertentu yang berbau fisik tanpa laki-laki. Maka banyak sekali perempuan yang memakai alasan ketidakberdayaannya, air matanya, rengekan manjanya, rintihannya atau apapun yang dapat menggoyahkan iman kaum laki-laki untuk segera menolong.


Menjadi Seorang Kakak Itu...

Sabtu, 07 Juli 2012
(Tahun 1998)
“Umi sudah liat adiknya?”, tanya tetanggaku dalam perhelatan acara syukuran kelahiran adikku yang pertama. Aku mengangguk sambil terus mengayun ayunan di teras rumah.
“Umi senang nggak punya adik bayi? Jadi kakak...”, tanyanya lagi. Sambil terus mengayun ayunan, aku menggeleng. “Biasa aja”, jawabku sekenanya.

Itu adalah ingatan yang masih melekat dimana aku bersikap biasa saja dengan predikat akan menjadi Kakak pada hari itu. Bagiku bukan sebuah kebanggaan yang harus diperlihatkan.
Ada banyak hal yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan pada kita. Seperti istilah “tidak bisa tidak”, sebagai janin di dalam perut ibunda segala hal telah diatur-Nya. Normal atau cacatkah? Siapa ibunya, ayahnya? Tampankah ayahnya? Preman pasar, direktur perusahaan atau tukang jagal sapi?  Hidup di lingkungan yang bagaimana? Jadi anak wilayah Menteng, Doli, atau menjadi Suku Anak Dalam? Dan siapa saja anggota keluarganya? Senangkah mereka dengan kelahiran kita? Atau malah tidak diharapkan? Lahir nomor urutan keberapa atau menjadi anak tunggal-kah?  

___

Aku Si Sulung dari keluargaku. Anak pertama yang lahir tahun 1992. Adik-adikku menyusul lahir tahun 1998 dan 2000. Menurut orangtuaku, jarak 6 tahun sangat cukup untuk sebuah masa kecil yang bahagia. Jadi aku sudah paham betul tugas sebagai seorang kakak; membantu mama untuk menjaga adik.

Kata orang, anak Sulung itu adalah “hasil coba-coba” orangtuanya. Hasil “kecelakaan” di luar program Keluarga Berencana, pembuktian kejantanan seorang suami terhadap istrinya, properti pelengkap kesepian ibunya yang cuti kerja atau penutup mulut mertua cerewet yang sudah kebelet ingin cucu.

Kata orang, menjadi Kakak itu tidak enak. Ketika adik masih bayi/balita, seorang kakak dituntut ini-itu oleh ibunya; mengambilkan popok di jemuran, membuatkan susu, membasuh kotoran buang air adik di wc atau ruang tamu, disuruh mengawasi adik tepat ketika teman-teman mengajak main gobak sodor di halaman mesjid, menenangkan tangis adik bayi ketika ibu sedang tidak di rumah atau hal yang paling menjengkelkan adalah disuruh mengalah.

Kata orang, seorang Kakak akhirnya akan terpinggirkan karena adik bayi  membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang-orang sekitar. Akan ada kalimat “Kan kakak sudah besar. Jadi harus ngalah sama adiknya”. Untuk sesaat, seorang Kakak yang baru saja mempunyai adik akan merasa dunia ini tidak adil. Sudden shock.

Kata orang, kelak ketika Sang Adik mengerti segala hal, ia akan merebut apapun benda milik kita; kamar, tas ransel, baju kodok pink, botol minum Hello Kitty, mobil tamiya, pistol air, sepatu berlampu, jam tangan batman dan banyak hal. Ketika kita mencoba untuk melawan, merebut kembali, memarahi atau akhirnya memukul dan mendorong; ia akan menangis lalu lari mengadu ke ibu atau ayah sambil berkata “Kakak nakal! Kakak jahat”.

Kesimpulannya jelas: Ada banyak hal yang dikorbankan untuk menyandang status “kakak”.
Ketika itu, aku sempat berpikir; jika dia memang Maha Mendengar dan Maha Adil, dapatkah kita bernegosiasi pada-Nya untuk kalimat awal yang kutebalkan diatas? Aku benar-benar mengharapkan sosok seorang Kakak, tapi bagaimana caranya?

Bukan aku menyangsikan kelahiran kedua adikku itu. Dibalik kewajaran sikapku menanggapi kelahiran adik, aku menyimpan rasa senang dan merasa akan ada teman untuk berbagi. Bukan karena aku tidak menyayangi mereka, salah besar. Walaupun kelihatannya acuh, aku selalu memikirkan keperluan kecil, hal-hal detil tentang adik-adikku atau bahkan perasaan mereka, aku paham. Bukan pula karena aku takut akan banyak hal yang kukorbankan sebagai seorang kakak selama ini seperti kata orang-orang.

Tapi kenapa harus aku yang menjadi Kakak? Kenapa bukan aku yang lahir sebagai nomor 2 setelah kelahiran seorang anak dari rahim mama? Kenapa aku tidak memiliki Kakak? Bisakah waktu diulang? Aku dapat memilih dan bukan lahir sebagai anak sulung; menjadi anak tengah atau anak bungsu agar memiliki satu hal yang selama ini tidak mungkin bagiku yaitu punya Kakak.

Tidak banyak yang tau bahwa aku memiliki brother complex syndrome. Bagiku brother complex adalah penyakit perasaan egois. Ia menuntut dunia karena memang ini tidak bisa diubah secara struktur genetis, terkait dengan kelahiran. Dan dia sampai sekarang masih bersemayam dalam angan-angan yang kusimpan rapat.

Sampai sekarang aku kerap iri dengan teman yang memiliki Kakak. Mendengar mereka memanggil Kakaknya; abang, mbak, mas, kakak, mpok, uda, uni, teteh, akang dan banyak lagi sebutan yang bagiku memiliki kesan tersendiri. Bagiku terdapat kesan romantis ketika kita memanggil sebutan “Kakak”.

Aku selalu menaruh perhatian lebih pada cerita teman-temanku yang berhubungan dengan kakaknya, entah itu berantem masalah kamar, berebut barang, bagian uang jajan, kebebasan yang timpang atau fasilitas yang tidak imbang dari orangtua. Semuanya kudengarkan baik-baik dan diakhiri dengan nasehat atau solusi yang dapat kuberikan pada teman-teman yang bercerita.

Mendengarkan cerita teman-temanku, aku seolah memposisikan diri sebagai Kakak mereka. Ketika mereka bercerita, maka aku juga ikut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada kepada adikku. Bagaimana jika aku juga seperti itu? Apa yang harus aku perbuat jika kasusnya sama?

Dibalik brother complex syndrome dan curhat teman-temanku akan kakaknya, aku seperti bercermin akan sesuatu: Menjadi seorang Kakak itu tidak buruk. Tanpa kusadari, aku belajar banyak hal.
Aku belajar untuk menjadi apapun yang adikku butuhkan. Aku berusaha menggantikan peran orangtua, teman, guru, sahabat, guide wisata, peminjam uang, ojek, perias wajah, stylish, porter, tukang cuci, pelawak, ambulance manusia dan banyak profesi ketika peran tersebut ia butuhkan.

Kakak bukanlah predikat sembarangan. Dibalik tuntutan-tuntutan yang diembannya, terdapat pengendalian diri dalam pribadi seorang Kakak. Bagaimana menahan perasaan ketika keinginan kita ditumpang tindihkan oleh keinginan adik, belajar menerima ketika barang kesayangan rusak dipakai adik, menahan keinginan ketika adik minta macam-macam pada orangtua karena tidak mau menambah beban biaya, dan belajar berbagi dalam keadaan apapun.

Maka tidak salah jika seorang Kakak kadang memarahi adiknya karena kamar yang berantakan, meminta tolong untuk mengambilkan sesuatu, mengomel karena si adik hanya baca komik tanpa belajar dan kegiatan, panik ketika adiknya belum pulang ke rumah menjelang maghrib  dan hal-hal yang kelihatannya remeh tapi sudah alami sifat seorang kakak terhadap adiknya_kekakakan (seperti dalam kata keibuan). Hematku menjadi Kakak adalah belajar proses menerima, menjalani, membiasakan dan menjadikan kehadiran seorang adik menjadi bagian penting dari hidup.

Jadi tunggu apalagi, katakan pada Kakak kalian bahwa kalian menyayanginya!

Salam sibling syndrome ;)
 _________________________________
VK Courtesy, 6/14/2012

All Iz Well

Kamis, 31 Mei 2012
Sejenak hari ini bisa menarik nafas kembali dari instrument UAS; bolak balik buku, meremas fotokopi, coret sana-sini, merangkum, berpikir, menyelami suatu makna, menghapal, mengingat, meraba letak ingatan, memuntahkan semuanya di atas kertas ujian yang berlogo universitas yang dulu gila-gilaan kuimpikan, memijat punggung yang pegal, menggeretakan tangan setiap 5 menit, memiringkan kepala (kebiasaanku kalau bingung), mengerutkan kening, menggoyangkan tungkai kaki ketika dikursi.

Kafein pun bukan jadi sahabat lagi bagiku. Aku tidak juga percaya dengan jam beker Hello Kitty-ku yang kutaruh disebelah bantal. Ia tidak efektif untuk membangunkanku tengah malam. Yang ada aku telat bangun dan merasa bahwa alarm handphone dan bunyi beker tersebut berubah berkhianat.

Maka, aku mengubah strategi dengan "memadu kasih" dengan ruang belajar di perpustakaan sampai matahari turun. Prinsipku, jika aku pulang ketika matahari masih ada, melelehlah wajahku. Maka tak jarang aku belajar, lalu setiap 1 jam sekali memalingkan muka ke jendela, apakah hari sudah gelap?

Aku benci ketika dimana aku tidak bisa bebas membaca ketika aku ingin membaca. Aku benci ketika dipaksa membaca buku yang sudah pernah kubaca, sedangkan di bawah bantalku ada buku yang menarik untuk dibaca. Aku bertingkah seakan salah urat tak bisa menoleh ketika berada di lantai 2 perpustakaan, melihat buku-buku berderet dan tak tahan untuk naik ke bagian koleksi 800-an bagian sastra.

Jika dibilang dapat memicu stress, ya tentu itu hal yang sangat menakjubkan dibalik belajar kebut semalam seperti yang suka kulakukan.

Scene:
  • Mengendalikan seluruh sistem membran sel otakku untuk berteriak, " Take it easy girl. Everything's gonna be okay ". 
  • Tapi ketika sudah memasuki ruang ujian, maka aorta bahkan mencubitiku, memaksaku untuk memompa jantung ketika ujian mulai dekat. 
  • Skeptisme mulai merangkak pelan, berdiri, lalu berjalan. Berjoged ia dengan dentuman jantung, seakan bahagia menari shuffle, mengitari otak. Merangkul pikiran negatif dan keringat dingin untuk menjemput Nyonya Kegagalan yang sedang kipas-kipas minta kerjaan.
  • Hati nurani sedang jongkok, seakan sebal dan merajuk melihatku tidak yakin dengan diri sendiri. Dengan wajah muak, ia berkata kasar: " Nyantai aja, kenapa sih!? Toh kalau lo gagal ujian, Obama juga tetep boker!".  
  • Atau si otak yang kupaksa semalam suntuk belajar, temanku sejak mengenal kehidupan: " Jangan sampai lo cuman bisa bikin gua sia-sia nemenin lo belajar semalaman suntuk hanya untuk mental jongkok lo! Basi tau ga!".
  • Maaf kalau kasar, ini benar-benar perumpamaan. 

Lagi-lagi ini semua berhubungan dengan mental kan? Se-prepare apapun kita, kalau mental jongkok, ya mau gimana lagi? Pikiran positif itu sangat penting dalam menjaga perasaan. Dan ketahanan mental akan berbagai macam situasi juga benar-benar harus diadakan kapanpun dan dimanapun. Dapat bertindak secara tenang, tanpa mengabaikan rasio.

Mental.
Itu kata kuncinya.

Mental + Persiapan yang baik + Positive thinking = Keberuntungan.

All iz well!

Film dan Selera Pasar


Malam ini, ada banyak hal yang ingin kubicarakan. Selama UAS, ia seakan mengendap-endap, bersembunyi entah dimana, menggumpal bersiap untuk meledak pada hari Kamis malam.
Kadang pikiranku sulit dikendalikan. Aku punya kebiasaan suka berpikir menerka, loncat kesana-kemari seperti kodok, sehingga kadang tulisanku tidak terstruktur dengan jelas.Kadang omonganku sangat cepat (kata teman-teman sebangsa dan setanah air) sehingga banyak yang salah mengerti akan pemahamanku.
Oke, itu sepintas tentang uneg-uneg hari ini.

Tadi ketika aku membaca koran bersama geng 3 Idiot (Nova dan Zikra) di lantai atas, koleksi 800, ada yang menarik perhatianku setelah sekian lama kuabaikan.Ada judul film yang dapat mengganggu saraf keseriusan orang, yaitu "Kakek Cangkul".

Sebelumnya sudah terjadi percakapan sebelum kejadian membaca koran ini.
" Tau nggak, kemarin kan ada judul bioskop namanya Suster Keramas, habis itu ada lagi yang judulnya Nenek Gayung, terus adalagi yang judulnya Kakek Cangkul".
" Besok ada yang bikin film horor judulnya Cucu Sabun, wkwkwk!", kata Zikra.
" Habis itu judulnya Cicit Odol! Hahaha...", timpal Nova.
" Hahaaaa. Emang ceritanya itu gimana sih Nov? Kok horor pakai bawa nama gayung segala?", tanyaku heran.
" Jadi gini, neneknya itu mati dibunuh sama gayung. Trus kalau mau hantuin, dia muncul di kamar mandi pas orang lagi mandi sambil nawarin "mau dimandiin sama nenek?". Trus orangnya mati deh gitu".
" Hah, kok aneh banget! Judulnya bikin ngakak deh~".

Yah, itu sekilas dialog nyata antara aku dan 2 sahabatku. Omongan itu langsung membuat otakku bekerja. Kepingan pikiran kemarin-kemarin yang berusaha kukumpulkan.

Seingatku, memang film horor Indonesia sudah diwarnai bumbu-bumbu lain sejak zaman aku masih SD. Film-film Suzana merupakan contoh nyata, dari film horor berbumbukan realita sosial, masalah ekonomi dan kriminalitas, juga beberapa kesalahan prosedur. Masih klise, berlandaskan hitam putih, mana yang baik mana yang jahat. Lalu hantu bisa diusir dengan membaca Qur’an, sampai dia kepanasan dan hangus. Dulu aku menontonnya dengan seksama sampai takut mau ke wc sendirian.
Ada sebuah film horor yang saya lupa judulnya apa, yang ketika itu saya ikut nimbrung nonton di laptop teman. Disana ada adegan Jupe lagi ketakutan ngeliat hantu, tapi bukannya hantunya yang dishoot malah si Jupe yang dominan dishoot. Haha~ kayaknya sutradaranya sakit jiwa nih. Orang nonton film horor kan untuk ngerasain adrenalin ketakutannya akan melihat hantu, lah ini malah si Jupe yang dishoot mulu. Ckckck~
Dan yang saya heran, banyak yang bilang bahwa film-film horor sekarang konyol semua, tidak ada yang berkualitas. Lalu kenapa tetap bermunculan film-film sejenisnya saat ini? Bukannya suatu produksi mengikuti selera pasar ya?

Saya jadi teringat cuplikan kata pengantar dari Goenawan Mohamad pada buku yang berjudul Utan Kayu. Begini dia bilang;
“ Tetapi tahun 1996-1998 juga sebuah periode ketika modal dan pasar kian lama kian menjadi pemain utama dalam percaturan sosial..... Karena desakan pasar yang tak terbendung, orang film Indonesia hanya melahirkan karya-karya yang semakin lama semakin dibuat asal-banyak dan asal-cepat. Karena dominasi pasar pula galeri-galeri hanya memasang karya yang sudah dipastikan laku, buku-buku yang “berat” tidak diproduksi, seni tari digiring untuk melayani pariwisata sementara pemain-pemain orkes yang bagus menghabiskan bakatnya di lobi-lobi hotel. Jangan mengharap untuk melahirkan yang “baru”( hal yang mengagetkan atau membingungkan) atau untuk menjelajah yang alternatif. Apalagi bila diatas pertimbangan pasar itu bekerja pula pengawasan negara: siapa yang bikin heboh akan dihabisi dan modal pun bisa rugi untuk mencoba-coba.”

Dan pernyataan Goenawan Mohamad terbukti akan film yang dibuat semakin asal-asalan saja. Entah judulnya yang kontroversial-lah (yang mengarah kepada ekspektasi lain), poster film yang dibuat asal jadi-lah, dan yang terpenting laku.
Negeriku tercinta ini, semakin kontroversial dia semakin laku. Jadi tidak jarang ada yang membuat kontroversi dulu, entah berantemlah, kasus skandal video-lah, kasus selingkuh-lah; lalu main film sebagai tokoh utama. Betapa jenaka-nya sistem disini.

Dan untuk masalah musik, yah lagi-lagi ada masalah penurunan kualitas selera. Budaya pop, lalu bercampur aduk dengan westernisasi dan koreanisasi seperti sekarang, berhasil menggusur kedudukan musik Indonesia menjadi sesuatu yang.... apa ya? Miskin talenta, miskin sense of art.
Ah, tiba-tiba aku jadi ingin mendengar lagu Chrisye dan Gombloh.