Pages

Aku Benci

Rabu, 20 Februari 2013
Hari ini aku begitu membenci benda itu.

Ketika aku menjejakkan kaki di atas lantai kayu tempatku merebahkan raga, aku berhadapan dengan ia yang duduk di atas kardus besar yang kutaruh di sudut ruangan.

Aku benci kekokohannya yang bersikeras duduk di sudut kamarku.

Tadi kupikir tak ada salahnya mencoba untuk bersua kembali denganmu, menghargaimu sebagai objek yang dibutuhkan subjek. Yang katanya sebagai saranaku untuk mengetahui apa yag tidak dapat kujangkau dari dunia yang mengekangku.

Aku benci akan keangkuhannya yang merasa ia dibutuhkan olehku.

Mulai kulihat isi benakmu. 
Kulit mulus. Paha putih. Rambut panjang. Rambut lurus. Kawat gigi. Langsing. Tinggi. Tampan. Cantik. Lawakan kosong. Perempuan. Manis. Gaya hidup. Miskin. Mewah. Aniaya. Pembunuhan. Keindahan. Kelinci. Pocong. Perek. Selebriti. Penculikan. Umroh. Hitam. Kopi susu. Politik. Perdebatan kosong. Pembodohan. Konspirasi. Nyanyi. Tawa. Kesehatan. Makan enak. Jun food. Wafer coklat. Pemerkosaan. Bayi disemen. Bocah tanpa anus. Waria memperjuangkan hak. Kebakaran. Banjir. Durian. Bunga. Daging. Bali. Chef cantik memasak. Wisata. Obat penahan boker. Sepatu keren. Sandal jepit. Penyedap rasa. Seks terseubung. 

Aku benci karena tidak dapat menyebutkan semua isi benakmu.

Di sini, di lantai kayu yang berderit jika kuinjak ini, aku sebenarnya bukanlah subjek yang menikmatimu sebagai objek. Terkadang aku merasa dikendalikan olehmu, perkataanmu dan ide-idemu tentang segala hal dalam hidup ini. Dan bahkan lebih seringnya akulah objekmu. 

Aku benci bahwa kita tidak dapat saling mengisi dengan hal yang sebenarnya kubutuhkan, bukan yang kuinginkan.
Jadi mulai malam ini kuputuskan untuk merajuk tanpa cepat berdamai dengan ia yang masih duduk di sudut kamarku.

Ia diam.
Diam.
Mendongakan kepalanya.
Merasa tahu bahwa dari lubuk hati yang paling dalam aku sangat membutuhkannya.
Suatu hari.

Kukusan, 20 Februari 2013


Pukul 23.18

Review Film: Life of Pi

Selasa, 11 Desember 2012
Tadi aku melancarkan aksiku yang jelas salah, yaitu bolos kuliah demi nonton film di bioskop. Mata kuliah yang kutinggalkan ini merupakan momok untuk semester ini karena merupakan yang ter-tidak mudah di antara mata kuliah lainnya. Entah kenapa semester ini spirit keberbahasacina-anku menurun drastis. Bukan karena aku merasa salah masuk jurusan, bukan. Tapi karena agak muak dengan sistem pembelajaran yang bagiku seperti anak kecil itu.

Ok, sebenarnya bukan itu yang mau kubahas. Film yang kutonton bukan film sembarang sehingga aku rela bolos. Film ini berjudul Life of Pi  karya sutradara favoritku yaitu Ang Lee. Diadaptasi dari novel Yann Martel.


Singkat saja. Film ini menceritakan tentang kehidupan Pi Patel, seorang bocah yang selalu antusias dengan rasa ingin tahunya yang besar. Pi menganut 3 agama sekaligus, yaitu dilahirkan sebagai Hindu, tumbuh remaja dengan mengagumi Yesus Kristus, dan mengagungkan suara adzan dengan memeluk Islam juga. Pi memandang bahwa Tuhan dalam setiap agama saling berhubungan. Hal ini terlihat ketika Pi berterimakasih kepada Dewa Wisnu karena telah mengenalkan Yesus kepadanya.

Ayah Pi merupakan seorang pengusaha hotel dan kebun binatang di wilayah konsesi Perancis di India. Di film ini, visualisasi kebun binatang dibuat sedemikian damai dan indah sehingga tampak terlihat makmur kehidupan keluarga Patel. Ayah Pi merupakan penderita polio dan menganggap bahwa Tuhan telah dikalahkan teknologi dan sains. Karakter Ayah Pi sangat keras dengan pendekatan mendidik secara empiris kepada kedua putranya Pi dan Ravi, kakaknya.


Sedangkan ibu Pi merupakan wanita yang ahli di bidang pertanian. Sikapnya lembut dan penyayang. Ia yang menceritakan kisah para dewa kepada anak-anaknya. Ibu Pi mengajarkan bahwa walaupun teknologi dan sains berkembang pesat, tapi itu semua tidak memperkaya hati.

Hebatnya, kedua orangtua Pi sangatlah demokratis. Hal ini terlihat dari adegan ketika Pi ingin dibaptis.  Mereka hanya diam dan tertawa. Ketika ayahnya melihat Pi shalat pun ia hanya diam dan tidak marah.


Pi remaja pun diceritakan jatuh cinta dengan temannya di kelas menari yang bernama Andani. Kisah mereka berdua singkat dan berakhir dengan kepindahan keluarga Patel ke Kanada beserta binatang-binatang mereka.




Nah, konflik mulai muncul ketika kapal mereka karam dan akhirnya Pi berada dalam satu kapal bersama seekor zebra, orangutan, hyena dan macan. Akhirnya yang tersisa hanya Pi dan macan yang awalnya saling waspada dan menyerang.


Penasaran kan?

Pokoknya ini merupakan salah satu film terbaik yang pernah kutonton yang dimana aku ga nyesel bolos kuliah #ups

Mulai dari efek visualisasi, akting pemain, tata musik semuanya dikemas apik dibawah arahan Ang Lee. Dan tentunya film ini sarat makna dan penuh simbolisasi. Setiap kepala tentunya punya persepsi masing-masing di otak mereka mengenai sorotan film ini.

Bagiku ini merupakan film dari simbolisasi pluralisme. Dengan Pi sebagai seorang pluralis dan macan sebagai anti-pluralis. Ada adegan dimana ketika badai besar datang dan menghantam sekoci mereka, macan yang awalnya selalu bersembunyi di balik penutup sekoci dan Pi yang memilih untuk menghadapi badai dan hujan merupakan adegan yang paling menyentuh bagiku. Pi berkata, "Ayo lihatlah dan hadapilah Ia! Jangan terus bersembunyi!", ujarnya sambil membuka penutup sekoci sehingga si macan juga terkena gempuran omak.
"Tuhan, Kau telah mengambil ibu, ayah dan Ravi! Apa yang kau mau!!?".

Pi berkata bahwa dengan keraguan itu maka akan semakin memperkaya iman kita. Dengan keraguan iman kita akan semakin kuat.

Dan ini nih quotes kerennya:

Seorang penulis bilang, “They said you can make me believe in God”. 
Pi membalas, “I can only tell my story, what you believe is up to you”.

___________________________________________



Selamat Hari Lahir, 哥哥!!!

Jumat, 26 Oktober 2012
Selamat hari lahir yang ke-23 ya kak (*untuk privasi, wajah ditutup :D )

Diam

Perempuan Berkalung Surban merupakan film yang tidak terlupakan buatku. Berkali-kali kutonton dan selalu memancing emosi. Mungkin sosok Annissa merupakan sosok yang sangat kurindukan dalam kehidupan.
Aku ingat dengan salah satu scene dimana Annissa berdialog dengan ibunya.

"Kenapa selama ini Umi hanya diam?"

" Diam bukan berarti tidak membela, Nissa. Ada hal yang kadang tidak bisa kita lakukan, seperti yang kita inginkan. Kita adalah perempuan yang hidup dalam kondisi yang tidak seimbang, seperti yang sering kamu bilang. Yang Umi lakukan cuma bisa diam. Mungkin kamu nggak setuju. Tapi pada waktu itu, sewaktu Umi melawan...hancur keluarga ini".

Sosok Nyai yang diperankan Widyawati sangat memperkaya emosi pada film ini. Itu lumayan cukup menggambarkan sikap wanita yang kuat dan tegar dengan mengambil "jalan pintas" yaitu diam.

Kakak pernah bilang, diam merupakan sikap tengah. Tidak menyalahkan juga tidak membenarkan. Diam adalah sikap yang paling aman.

Nenekku juga termasuk orang yang mengambil jalan tengah; diam. Mungkin pada saat jamannya, beliau hidup pada kondisi yang tidak seimbang juga lingkungan tempat beliau bertumbuh dan berkembang.
Dengan diam, nenek terus melanjutkan pendidikannya hingga sekolah guru, mengindahkan cibiran tetangga dan adik-adik perempuannya yang telah menikah muda. Dan dalam diam, nenek terus menjalani kehidupannya yang keras.

Tapi kupikir selamanya diam juga akan sakit. Seperti kelanjutan dialog di atas yang dikatakan oleh Annissa,

"tapi suatu saat juga Umi harus bilang, apa yang Umi rasakan, apa yang Umi pikirkan. Umi ga bisa selamanya diam aja".

___________________________________________________________________________

Kurasa masa itu sudah lewat. Kondisi telah banyak berubah. Ada banyak pergeseran-pergeseran nilai yang telah terjadi pada generasi perempuan saat ini.

Semoga kelak ke depannya aku akan dapat selalu menyuarakan pendapatku tanpa harus mengorbankan keluarga yang akan kubina kelak.

Bayi Inkubator

Rabu, 10 Oktober 2012
Kemarin Sabtu, setelah mengerjakan tugas, Zikra mengajakku dengan Nova ke sebuah RS di daerah Margonda. Diiringi dengan awan mendung dan langit yang kelabu, kami bertiga naik angkot ke arah terminal Depok. Langsung menuju lantai 2 tempat ruang tunggu operasi.

Rumah sakit memang menyimpan kenangan tersendiri untukku. Zikra pernah masuk rumah sakit dalam jangka waktu yang lama. Nova bahkan pernah masuk UGD juga. Dan aku sudah kenyang akan pengalaman di rumah sakit sewaktu masih kanak-kanak. Hal yang paling kusuka di rumah sakit adalah ruang inkubator. Setiap aku ke rumah sakit manapun, yang kucari pertama adalah ruang inkubator. Kuusahakan untuk selalu sempat melihat para bayi di dalam ruang inkubator itu.

Dan ternyata ruang operasi satu lantai dengan ruang inkubatornya. Setelah bersaliman dengan Tantenya Zikra, aku dan Nova menuju toilet dan stay di ruang inkubator. Berdiri termenung melihat ruangan yang seperti akuarium itu. Dengan dinding kaca transparan, setiap orang yang lewat dapat melihat beberapa bayi yang berada dalam ruangan tersebut.

Ada yang disinar laser punggungnya, bagian tubuh depan dengan mata ditutup. Ada juga yang berada dalam inkubatornya sendiri. Ada juga yang terlihat sehat dan hanya tidur dengan selimut tanpa alat-alat tersebut.

Bayi yang ada di inkubator, ukurannya lebih kecil dibandingkan bayi yang lain. Nafas mereka cepat dan dada kecil itu turun naik berusaha mencari ritme antara udara yang didapat dengan ukuran paru-paru mereka. Badan mereka begitu kecil seakan-akan sangat rapuh.

Aku cuman bisa berdoa semoga bayi-bayi yang berada disana dapat bertahan hidup jika memang diijinkan Tuhan. Siapa yang tahu kalau salah satu dari mereka akan menjadi orang yang dapat merubah negara menjadi lebih baik? Iya kan? :)

Ladies First?

Jumat, 05 Oktober 2012
Dalam hidup ini, sebuah norma dan nilai telah disepakati dengan standarnya masing-masing di setiap wilayah. Wilayah satu dengan lainnya berbeda-beda tergantung hukum adat, letak geografis atau latar belakang sejarahnya tersebut. Negaraku, si tanah gemah ripah loh jinawi, Indonesa yang sudah merdeka dari kolonialisme ini yang memiliki penduduk; menurut data statistik mengatakan jumlah pria adalah 1:3 dari perempuan, mempunyai sebuah stigma masyarakat tersendiri dalam memperlakukan seorang wanita dewasa ini.
Entah darimana asalnya, mungkin Eropa yang mencanangkan program "Ladies First"-nya di Indonesia. Aku tidak tau kapan spesifiknya. Sejak zaman sebelum Kartini yang penuh diskriminasi akan status gender hingga kini yang disebut zaman modern, dimana (katanya) status gender itu dinilai setara tanpa harus membeda-bedakan.
Dibalik wajah para laki-laki yang mengaku sebagai egalitarian, pernahkah kalian mendengar, berpikir atau bahkan mengucap kalimat-kalimat di bawah ini:
  • "Ayo, mana nih cowonya? Masa yang daritadi maju, cewe-nya mulu di kelas ini.
  • "Idiih, masa mau kalah sama perempuan. Cewe-nya aja berani, masa cowo-nya engga"
  • "Ayo yang ngerasa cowo, bantuin cewenya angkat barang dong! Masa dibiarin gitu aja?".
  • "Kaya cewe aja lu pakai nangis!"
  • "Ngomong tu yang kenceng! Jangan kaya cewe dong~"
Atau
  • Lebih sering perempuan yang diajukan sebagai sekretaris.
  • Laki-laki harus macho, perempuan feminin.
  • Laki-laki yang keren itu adalah yang memegang prinsip Ladies First
Tanya kenapa?
Beberapa quote di atas memang sangat akrab di telinga kita sejak dulu. Bahkan seolah-olah sudah diinstal permanen baik pada pemikiran seorang laki-laki maupun perempuan. Dan ketika melanggar beberapa hal di atas, maka dikatakan tidak gentle, cowo banci, cewe tomboydan lain-lain. Sebuah konsekuensi yang bagiku sangat mengarah pada diskriminasi. Alih-alih ingin melindungi wanita, tapi terdapat makna degrading, merendahkan, di balik sikap gentleman itu.
Memangnya kenapa kalau perempuan yang dominan maju pada sebuah acara, seminar, tanya jawab atau apapun? Memangnya kenapa kalau laki-laki bisa kalah sama perempuan dalam sebuah kompetisi?
Bagiku kalimat “masa cowo kalah sama cewe” itu menandakan secara tidak langsung masih adanya anggapan bahwa seorang perempuan punya keberanian masih setingkat di bawah laki-laki. Bukti nyatanya adalah ketika perempuan menang atau dominasi perempuan lebih banyak dalam sebuah forum, lalu kaum laki-laki akan langsung dikompori untuk kembali merebut “predikat” yang bagiku sama dengan "dimana nyali kalian sebagai laki-laki?" seolah-olah jika perempuan yang maju ada yang salah dengan keberanian sang laki-laki. Memangnya kenapa kalau perempuan yang menang dan yang laki-laki kalah? Merasa superioritas kalian turun dengan menangnya kaum perempuan?
Masalah air mata. Seolah-olah sudah ditetapkan bahwa yang menangis itu hanya perempuan dan laki-laki tidak boleh cengeng. Hello! Memangnya air mata hanya bisa keluar dari pelupuk mata seorang perempuan saja? Memangnya kenapa kalau laki-laki menangis? Dosa?
Masalah angkat barang juga merupakan hal yang sangat kusayangkan. Dengan adanya kalimat “bantuin yang cewe angkat barang dong kalau merasa cowo” menandakan bahwa yang identik dengan beban fisik itu hanya urusan laki-laki, perempuan tidak. Entah apakah maksudnya ini berarti perempuan lebih lemah dibanding laki-laki sehingga harus terus dibantu atau memang laki-laki harus tampil sebagai superior sehingga harus terus ikut campur dalam kegiatan yang berbau fisik?
Ladies First? Dewasa ini kuperhatikan banyak juga orang yang memakai prinsip ini. Kalau diterjemahkan menjadi sebuah kalimat yang kaku; “perempuan yang duluan”. Masuk ruangan duluan, naik lift masuk duluan-keluar duluan, duduk di bus mempersilahkan perempuan (yang sebaya) duluan duduk dan masih banyak embel-embel perempuan yang duluan. Sikap mengistimewakan wanita?

Banyak orang menganggap bahwa ladies first adalah budaya yang santun dan menghormati wanita. Kesannya menghargai perempuan sehingga mereka patut diberikan tempat pertama di mana pun mereka berada. Kenyataannya, bagiku ini adalah judgement atas gagasan bahwa perempuan memiliki kapasitas setingkat di bawah laki-laki.

Jika konsep ladies first dilihat kembali; dalam sebuah minibus menuju Lebak Bulus, telah berdiri seorang pemuda selama lebih dari 30 menit (kursi bus penuh) dan seorang pemudi yang berdiri selama 5 menit. Beberapa saat kemudian ada penumpang yang turun. Pemuda mempersilahkan pemudi duduk dengan alasan “dia seorang perempuan, aku harus mengalah”. And she finally got the chair because she is a woman. Seolah-olah perempuan harus selalu "diberikan tempat" dengan cara laki-laki yang "mengalah".

Ah, aku kurang setuju dengan hal-hal itu. bagiku laki-laki dan perempuan memiliki hak dan potensi yang sama dalam menjalani sebuah kompetisi dan kesempatan secara sehat, cerdas dan setara. #Kecuali menggunakan prinsip ladie first untuk menggaet si wanita, itu lain urusannya.
Bagiku kalian sebagai laki-laki harus cerdas dalam memperlakukan seorang perempuan. Aku hormati dan hargai bagi para laki-laki yang ingin mengagungkan wanita dengan adanya rasa ingin melindungi. Aku benar-benar hargai itu. Tapi melindungi bukan berarti harus terus melayani dan mengalah kan? Lihatlah kapasitas seorang perempuan, jangan pernah remehkan karena Tuhan pun tidak pernah.
Beri kesempatan bagi para perempuan yang terlihat sanggup mengangkat kardus buku sendirian, mengangkat galon, mendorong lemari, mengganti ban mobil di tengah jalan, bisa pulang malam sendiri tanpa mengandalkan siapapun dan hal-hal lain yang bersifat macho.    
Gawat jika dengan perlakuan gentle para laki-laki tersebut, para perempuan akan menjadi manja dan terlena. Mereka seolah-olah menjadi merasa tidak dapat melakukan hal-hal tertentu yang berbau fisik tanpa laki-laki. Maka banyak sekali perempuan yang memakai alasan ketidakberdayaannya, air matanya, rengekan manjanya, rintihannya atau apapun yang dapat menggoyahkan iman kaum laki-laki untuk segera menolong.


Menjadi Seorang Kakak Itu...

Sabtu, 07 Juli 2012
(Tahun 1998)
“Umi sudah liat adiknya?”, tanya tetanggaku dalam perhelatan acara syukuran kelahiran adikku yang pertama. Aku mengangguk sambil terus mengayun ayunan di teras rumah.
“Umi senang nggak punya adik bayi? Jadi kakak...”, tanyanya lagi. Sambil terus mengayun ayunan, aku menggeleng. “Biasa aja”, jawabku sekenanya.

Itu adalah ingatan yang masih melekat dimana aku bersikap biasa saja dengan predikat akan menjadi Kakak pada hari itu. Bagiku bukan sebuah kebanggaan yang harus diperlihatkan.
Ada banyak hal yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan pada kita. Seperti istilah “tidak bisa tidak”, sebagai janin di dalam perut ibunda segala hal telah diatur-Nya. Normal atau cacatkah? Siapa ibunya, ayahnya? Tampankah ayahnya? Preman pasar, direktur perusahaan atau tukang jagal sapi?  Hidup di lingkungan yang bagaimana? Jadi anak wilayah Menteng, Doli, atau menjadi Suku Anak Dalam? Dan siapa saja anggota keluarganya? Senangkah mereka dengan kelahiran kita? Atau malah tidak diharapkan? Lahir nomor urutan keberapa atau menjadi anak tunggal-kah?  

___

Aku Si Sulung dari keluargaku. Anak pertama yang lahir tahun 1992. Adik-adikku menyusul lahir tahun 1998 dan 2000. Menurut orangtuaku, jarak 6 tahun sangat cukup untuk sebuah masa kecil yang bahagia. Jadi aku sudah paham betul tugas sebagai seorang kakak; membantu mama untuk menjaga adik.

Kata orang, anak Sulung itu adalah “hasil coba-coba” orangtuanya. Hasil “kecelakaan” di luar program Keluarga Berencana, pembuktian kejantanan seorang suami terhadap istrinya, properti pelengkap kesepian ibunya yang cuti kerja atau penutup mulut mertua cerewet yang sudah kebelet ingin cucu.

Kata orang, menjadi Kakak itu tidak enak. Ketika adik masih bayi/balita, seorang kakak dituntut ini-itu oleh ibunya; mengambilkan popok di jemuran, membuatkan susu, membasuh kotoran buang air adik di wc atau ruang tamu, disuruh mengawasi adik tepat ketika teman-teman mengajak main gobak sodor di halaman mesjid, menenangkan tangis adik bayi ketika ibu sedang tidak di rumah atau hal yang paling menjengkelkan adalah disuruh mengalah.

Kata orang, seorang Kakak akhirnya akan terpinggirkan karena adik bayi  membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang-orang sekitar. Akan ada kalimat “Kan kakak sudah besar. Jadi harus ngalah sama adiknya”. Untuk sesaat, seorang Kakak yang baru saja mempunyai adik akan merasa dunia ini tidak adil. Sudden shock.

Kata orang, kelak ketika Sang Adik mengerti segala hal, ia akan merebut apapun benda milik kita; kamar, tas ransel, baju kodok pink, botol minum Hello Kitty, mobil tamiya, pistol air, sepatu berlampu, jam tangan batman dan banyak hal. Ketika kita mencoba untuk melawan, merebut kembali, memarahi atau akhirnya memukul dan mendorong; ia akan menangis lalu lari mengadu ke ibu atau ayah sambil berkata “Kakak nakal! Kakak jahat”.

Kesimpulannya jelas: Ada banyak hal yang dikorbankan untuk menyandang status “kakak”.
Ketika itu, aku sempat berpikir; jika dia memang Maha Mendengar dan Maha Adil, dapatkah kita bernegosiasi pada-Nya untuk kalimat awal yang kutebalkan diatas? Aku benar-benar mengharapkan sosok seorang Kakak, tapi bagaimana caranya?

Bukan aku menyangsikan kelahiran kedua adikku itu. Dibalik kewajaran sikapku menanggapi kelahiran adik, aku menyimpan rasa senang dan merasa akan ada teman untuk berbagi. Bukan karena aku tidak menyayangi mereka, salah besar. Walaupun kelihatannya acuh, aku selalu memikirkan keperluan kecil, hal-hal detil tentang adik-adikku atau bahkan perasaan mereka, aku paham. Bukan pula karena aku takut akan banyak hal yang kukorbankan sebagai seorang kakak selama ini seperti kata orang-orang.

Tapi kenapa harus aku yang menjadi Kakak? Kenapa bukan aku yang lahir sebagai nomor 2 setelah kelahiran seorang anak dari rahim mama? Kenapa aku tidak memiliki Kakak? Bisakah waktu diulang? Aku dapat memilih dan bukan lahir sebagai anak sulung; menjadi anak tengah atau anak bungsu agar memiliki satu hal yang selama ini tidak mungkin bagiku yaitu punya Kakak.

Tidak banyak yang tau bahwa aku memiliki brother complex syndrome. Bagiku brother complex adalah penyakit perasaan egois. Ia menuntut dunia karena memang ini tidak bisa diubah secara struktur genetis, terkait dengan kelahiran. Dan dia sampai sekarang masih bersemayam dalam angan-angan yang kusimpan rapat.

Sampai sekarang aku kerap iri dengan teman yang memiliki Kakak. Mendengar mereka memanggil Kakaknya; abang, mbak, mas, kakak, mpok, uda, uni, teteh, akang dan banyak lagi sebutan yang bagiku memiliki kesan tersendiri. Bagiku terdapat kesan romantis ketika kita memanggil sebutan “Kakak”.

Aku selalu menaruh perhatian lebih pada cerita teman-temanku yang berhubungan dengan kakaknya, entah itu berantem masalah kamar, berebut barang, bagian uang jajan, kebebasan yang timpang atau fasilitas yang tidak imbang dari orangtua. Semuanya kudengarkan baik-baik dan diakhiri dengan nasehat atau solusi yang dapat kuberikan pada teman-teman yang bercerita.

Mendengarkan cerita teman-temanku, aku seolah memposisikan diri sebagai Kakak mereka. Ketika mereka bercerita, maka aku juga ikut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada kepada adikku. Bagaimana jika aku juga seperti itu? Apa yang harus aku perbuat jika kasusnya sama?

Dibalik brother complex syndrome dan curhat teman-temanku akan kakaknya, aku seperti bercermin akan sesuatu: Menjadi seorang Kakak itu tidak buruk. Tanpa kusadari, aku belajar banyak hal.
Aku belajar untuk menjadi apapun yang adikku butuhkan. Aku berusaha menggantikan peran orangtua, teman, guru, sahabat, guide wisata, peminjam uang, ojek, perias wajah, stylish, porter, tukang cuci, pelawak, ambulance manusia dan banyak profesi ketika peran tersebut ia butuhkan.

Kakak bukanlah predikat sembarangan. Dibalik tuntutan-tuntutan yang diembannya, terdapat pengendalian diri dalam pribadi seorang Kakak. Bagaimana menahan perasaan ketika keinginan kita ditumpang tindihkan oleh keinginan adik, belajar menerima ketika barang kesayangan rusak dipakai adik, menahan keinginan ketika adik minta macam-macam pada orangtua karena tidak mau menambah beban biaya, dan belajar berbagi dalam keadaan apapun.

Maka tidak salah jika seorang Kakak kadang memarahi adiknya karena kamar yang berantakan, meminta tolong untuk mengambilkan sesuatu, mengomel karena si adik hanya baca komik tanpa belajar dan kegiatan, panik ketika adiknya belum pulang ke rumah menjelang maghrib  dan hal-hal yang kelihatannya remeh tapi sudah alami sifat seorang kakak terhadap adiknya_kekakakan (seperti dalam kata keibuan). Hematku menjadi Kakak adalah belajar proses menerima, menjalani, membiasakan dan menjadikan kehadiran seorang adik menjadi bagian penting dari hidup.

Jadi tunggu apalagi, katakan pada Kakak kalian bahwa kalian menyayanginya!

Salam sibling syndrome ;)
 _________________________________
VK Courtesy, 6/14/2012