Pages

Bayi

Jumat, 16 Agustus 2013
Suatu hari, sembari mengawasi anak-anak di saung belakang rumahku, aku berpikir mengenai mereka. Kira-kira jika seorang bayi atau balita diberi kesempatan untuk berbicara dan berpikir layaknya orang dewasa, pasti ia akan banyak protes dan menuntut kepada orangtuanya. Layaknya Isa yang diberi mukjizat untuk dapat berbicara sejak bayi dan menyampaikan kebenaran, tentulah luar biasa untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan.

Keluargaku memiliki usaha di bidang pendidikan anak usia dini dan telah dirintis sejak tiga tahun yang lalu yang berlokasi di lingkungan rumah. Setiap hari Senin-Jumat, puluhan anak-anak dari berbagai usia berseliweran di depanku. Setiap harinya suara tangisan bayi merupakan hal yang biasa bahkan seperti alunan selamat pagi buat keluarga kami. Dan aku terbiasa untuk melihat kaki-kaki kecil mereka yang merangkak, berjalan, berlari dan memakai sepatu. Juga tangan-tangan kecil mereka yang meraba, menggenggam, bertepuk, melempar, atau bahkan memukul. Setiap sore secara rutin, aku bermain dengan bayi dan balita yang dititipkan di rumah karena kedua orangtuanya bekerja atau tidak sanggup mengurus anaknya.

Ibuku yang merupakan pendirinya, adalah seorang wanita yang berpengalaman dalam mengasuh anak di samping sedang mendalami ilmu pendidikan anak usia dini di salah satu universitas negeri di Jakarta. Ia pernah bekerja di baby day care ketika kami dulu pernah hidup di Malaysia untuk membantu penghasilan Abah yang menjadi loper koran sambil kuliah. Aku menilai apa yang dia lakukan sekarang adalah gabungan antara pengalaman, teori dan aplikasi terhadap apa yang dia senangi. Ia memiliki dedikasi yang tinggi dan sangat menikmati ilmu yang sedang dipelajarinya.

Ibuku bilang bahwa seorang anak itu sebenarnya berpikir seperti halnya orang dewasa, tapi yang ia pikirkan adalah dunia kecil yang dilihatnya selama ini karena jarak pandang dan citra yang ia dapatkan masih bersifat "mungil" dan sederhana. Maka dari itu bayi atau balita kerap mendatangi benda-benda yang berwarna cerah dan menyala. Usia balita adalah usia di mana seorang anak memaksimalkan kelima indranya. Ia selalu ingin melihat, menggapai, meraba, menyentuh, menggenggam, mengecap, menjilat, menggigit dan segala aktifitas yang mengandalkan indranya.

Beberapa hari ini perhatianku terhadap anak usia dini agak meningkat. Biasanya aku hanya ikut bermain-main sebentar bersama mereka, tapi sekarang aku mulai mencari informasi dan membuka buku mengenai psikologi anak terutama tumbuh kembangnya. Adalah mengenai syaraf peraba bayi yang kubaca, kuteliti dan kubuktikan.

Untuk melatih syaraf peraba bayi, kita harus menyodorkan kedua telunjuk ke tangannya dan voila, ia pasti akan menggenggam jari kita. Genggaman yang erat adalah tanda bahwa bayi belajar untuk menggenggam keras, merasakan apa yang ia genggam hingga akhirnya melatih otot-otot tangannya untuk menggenggam sesuatu. Walaupun ia melihat, pandangannya masih buram dan indra perabalah yang perlu dilatih agar ia dapat merasakan sesuatu melalui tangan.

Selain itu kita juga bisa menempelkan telunjuk tangan ke pipi dekat mulut bayi, lalu arahkan ke bagian kanan pipi lalu berpindah ke kiri pipi bayi. Ia pasti akan mengincar jari kita dengan membuka mulut dan menjulurkan lidah searah dengan arah jari kita. Itu membuktikan bahwa bayi selalu ingin memasukkan apa yang ia lihat dan rasakan ke dalam mulut. Ini juga dapat membantu untuk mengetahui apakah si bayi sedang lapar atau tidak.

Lalu syaraf peraba juga bisa dicek pada telapak kaki bayi. Tekan telapak kakinya secara spontan dan otomatis jari-jarinya langsung melipat. Ini melatih syaraf sensorik pada bayi. Bagaimana tubuhnya bereaksi ketika ada benda tumpul menekan telapak kakinya.

Tapi lambat laun seiring dengan pertambahan usia, reaksi atas syaraf peraba ini lambat laun akan hilang dan bayi akan mengeksplor dan melatih syaraf-syarafnya yang lain. Ia akan mencoba hal-hal yang lebih menantang. Nah, dari sini aku paham bahwasanya sejak bayi manusia merupakan makhluk yang selalu ingin belajar, long life learner. 

Akan sangat disayangkan jika pada usia bayi dan balita, seorang anak terlalu diproteksi dari lingkungan dan alat-alat yang dapat membantunya belajar. Dinding, kursi, meja, lemari, pasir, jaring panjat-panjatan dan medan-medan yang sebenarnya dapat membahayakan anak, sebenarnya merupakan medianya untuk belajar mengenal kemampuan dirinya. Aku agak sanksi dengan anak yang selalu digendong kemana-mana dan tidak dibiasakan berjalan sendiri. Aku juga sanksi jika orangtua terlalu takut anaknya jatuh, tergores atau menangis, lalu melindungi mereka seperti porselen.

Konon Jenghis Khan, manusia legendaris yang memimpin pasukan Mongol yang pernah ditakuti sejagad raya itu, ketika bayi dilepas oleh ayahnya di padang pasir yang panas. Ia dibiasakan untuk tahan menghadapi terik panas matahari sehingga pijakan kakinya menjadi kuat. Suku Eskimo juga dulu memiliki kebiasaan mencelupkan bayinya ke dalam air es agar tubuhnya terlatih menghadapi hawa dingin salju. Dan Kakekku juga melatih anak-anaknya sejak usia dini untuk dapat berenang di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dengan mendorong mereka ke sungai dan membiarkan mereka survive dengan caranya masing-masing sehingga terbiasa dan dapat berenang seperti umumnya masyarakat Muarakaman.

Kupikir bayi-bayi di era kontemporer begitu manja dan rapuh. Mereka terbiasa dengan susu-susu mahal, vaksin, minyak telon, minyak kayu putih, jaket tebal, dibungkus dengan kain rapat-rapat dan lain sebagainya. Aku paham betul fungsi afeksi dan proteksi yang ingin diberikan keluarga inti pada bayi atau balitanya, tapi memberikan perawatan dan perlindungan berlebihan tanpa melatih fisiknya sejak dini merupakan sebuah kekeliruan.

Biarkan anak-anak mengenali sendiri apa yang ingin ia pelajari. Berhenti menggendongnya terus-terusan dan berdirikan balita yang sudah bisa duduk dan merangkak. Latih ia dengan memberikan satu fokus untuk digapainya seperti boneka kesayangan, susu botol atau bahkan ibu atau ayahnya dengan melepaskan pegangan ketika ia sedang berdiri. Tentunya dari sana ia akan belajar mengenai makna dalam menggapai sesuatu diperlukan langkah (usaha). Berikan anak semangat dengan apresiasi seperti bertepuk tangan atau memujinya ketika ia melakukan usaha dalam tumbuh kembangnya sehingga ia tidak malas untuk berlatih jalan.

Oke, sepertinya sekian tulisan malam ini. Mungkin ada yang beranggapan seperti "Diih, sok tau. Kayak udah punya anak aja si Umi". Tapi percaya deh, begitu banyak hal yang bisa dipelajari dengan memperhatikan anak-anak terutama pada usia bayi dan balita. Banyak filosofi mengenai usaha, pembelajaran, semangat, kehadiran, kejujuran dan ribuan hal yang dapat dipelajari hanya dengan mengamati tumbuh kembang mereka.

Biarkan dia menggenggam tangan kita dan bantu dia berdiri. Pastikan kedua tungkainya tegak dan kuda-kudanya pas untuk berdiri.

Berika ia fokus dengan benda-benda yang berwarna cerah seperti bunga yang saya pegang atau boneka kesayangan dia. 

Oke, bonekanya mulai direbut! Perlahan lepaskan tangan kita pada genggamannya. Jangan takut untuk melihat dia jatuh. Biarkan dia merasakan sakitnya jatuh untuk belajar berdiri.

Oke, sudah mau lepas tangannya. 

Voila, dia berdiri dan sempat berjalan lima langkah #sayang ga ada foto karena saking takjubnya

Kenalkan teman-teman, ini Roro (11 bulan) si calon pelari ulung kelak #amin

Permasalahan Seni Teater Tradisi Indonesia

Senin, 05 Agustus 2013
Seni Pertunjukan Teater Tradisi
Istilah teater tradisi adalah bentuk sajian teater yang berakar dari tradisi budaya suatu daerah tertentu. Teater tradisi yang dikatakan sebagai kesenian pinggiran atau kesenian rakyat, merupakan sebuah kepemilikan bersama oleh masyarakat. Setiap daerah dan wilayah memiliki kekhasannya tersendiri dalam menunjukan seni pertunjukannya. Teater tradisi merupakan bagian dari seni pertunjukan di Indonesia.

Seni pertunjukan merupakan sri panggung di antara semua seni di Indonesia. Tidak bisa tidak jika di dalam suatu negara di mana kepandaian membaca dan menulis yang popular dan fungsional, tidak pernah menjadi tradisi hidup dan di mana yang merupakan tradisi adalah masyarakat yang agraris serta komunal dan berorientasi pada raja. Ritual desa di seluruh nusantara pada kenyataannya merupakan seni pertunjukan tradisional yang mengagungkan para dewata atau para leluhur. Wayang Jawa, Sunda dan Bali tidak dapat dipisahkan dari ritual padi yang mengagungkan Dewi Sri dan para leluhur. Begitu pun dengan pertunjukan teater tradisi.

Ketika ibu kota kerajaan beserta tempat raja telah ditaklukan berkembang, seni pertunjukan yang diserap dan disucikan oleh keraton, menjadi bagian ritual fungsional dari istana. Dan ketika kota-kota besar dan kecil bermunculan dan berkembang, seni pertunjukan pun dijadikan seni pertunjukan bagi masyarakat urban. Dalam kasus ini teater tradisi yang pada awalnya merupakan kesenian yang berasal dari daerah atau desa karena terkondisi dengan adat istiadat, sosial masyarakat dan struktur geografis setiap daerah, kini mulai menjamah kota dengan segala inovasinya. 

Sumber: Dokumen Pribadi
Misalnya seperti wayang wong, yaitu sebuah drama tarian berdasarkan cerita Mahabharata dan Ramayana. Pada jaman dahulu, drama tari ini hanya digelar di keraton atau tempat tinggal bangsawan. Dari unsur pemain, waktu pagelaran dan kisah yang dipertontonkan merupakan pilihan khusus. Lambat laun orang-orang biasa yang pada mulanya hanya sebagai penonton, mulai menyusun kelompok pertunjukan mereka sendiri. Mereka mengorganisir kelompok pertunjukan mereka sendiri “keluar” dari tembok keraton. Ketika seni pertunjukan ini memasuki dunia masyarakat biasa, maka wayang won diubah menjadi pertunjukan yang populer. Wayang wong bukan lagi sebuah pertunjukan yang sangat panjang bagi golongan bangsawan yang dengan mudah dapat menemukan dan memikirkan estetika pada setiap pagelaran seni tradisi ini, akan tetapi wayang wong menjadi pertunjukan yang jauh lebih singkat bagi massa urban. Dalam masalah wayang wong komersial ini, dapat dilihat pengubahan pertunjukan yang murni artistik dari dan untuk kaum ningrat yang terbatas, menjadi pertunjukan populer yang juga dapat dinikmati oleh siapa saja di kota. Pengubahan ini dimungkinkan terjadi ketika timbul kebutuhan masyarakat kota akan seni pertunjukan tradisi yang lebih ringan dan bernuansa urban.

Akan tetapi, kemerdekaan dan keputusan Republik yang baru untuk memperluas solidaritas kedaerahan menjadi solidaritas Indonesia yang satu, membawa dampak-dampak yang cukup besar. Generasi Jawa yang baru misalnya, makin lama makin banyak pengguna bahasa Indonesia sebagai media ekspresi mereka ketimbang bahasa ibu mereka sendiri. Ini mengarahkan kepada generasi baru yang semakin termarjinalkan dari bahasa serta sudut pandang pemikiran mereka. Bahasa Indonesia sendiri berhubungan dengan ide-ide modern dan baru yang mengarahkan kepada tertbitan-terbitan kontemporer. Dalam hal seni pertunjukan, mereka akan lebih tertarik pada teater dan film yang modern.

Teater modern sendiri merupakan tradisi baru bagi Negara. Sedangkan seni pertunjukan tradisi sendiri merupakan seni tua. Seni teater tradisi yang dikenal selamanya merupakan teater yang total dan sintesis, di mana teater itu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan alam. Para penonton menyaksikan dan menganalisis pertunjukan tidak secara terpisah, akan tetapi mereka adalah bagian dari pertunjukan tersebut. Walaupun terjadi perkembangan dari seni pertunjukan tradisional populer atau kemersial seperti wayang wong, ketoprak, dan ludruk di kota-kota di Jawa yang menjadi semakin kurang total, akan tetapi setidaknya terdapat unsur “menonton secara sintesis dan mengerti” teater, masih ada.Seni pertunjukan teater tradisi yang sempat menjadi sri panggung seni dikarenakan kedudukan yang sangat terpusat dalam ritual keagamaan dan masyarakat, telah sampai pada kedudukan ganda ketika ia hadir pada masyarakat urban. Pertama adalah sebagai hiburan dan yang kedua adalah sebagai tuntunan. Pengasingan seni pertunjukan dari peran ritual, penyesuaian yang diperlukan bagi tuntutan jaman dan tempat, telah menjadikan seni pertunjukan teater tradisi selaku kebudayaan massa, sebuah fenomena yang tidak lagi padat.

Teater Tradisi Kini
Dewasa ini media massa merupakan tampuk dari segalanya. Dengan media, segalanya dapat menjadi lebih mudah, cepat dan praktis. Sebagai entitas budaya, media semakin melengkapkan diri ketika teknologi komunikasi menjadikan dunia bagaikan dilipat. Dalam hal ini teater tradisi pun tak luput dalam genggaman media. Bukan hanya ketoprak saja yang ditelevisikan, tetapi wayang kulit yang sampai kini belum menjadi wayang pop atau ketoprak massa seperti sandiwara radio atau sandiwara televisi seperti di Amerika Serikat. 

Wayang tetap menjadi wayang, ketoprak tetap menjadi ketoprak, dan sandiwara tetap sandiwara yang berbeda dengan film ataupun video klip. Perkembangan ilmu dan teknlogi komunikasi dunia, dengan cepat merambat ke Indonesia sering tanpa filter yang cukup berarti kecuali barangkali bea masuk atau berbagai peraturan guna menjaga stabilitas kita dalam berbangsa dan bernegara kesatuan. Namun demikian, akulturasi, inkulturasi, dan asimilasi akan tetap berlangsung, karena media juga merupakan agen kebudayaan, agen transformasi budaya bangsa.

Almarhum Djadoeg Djajakusuma, dari IKJ merupakan salah satu tokoh di bidang kesenian pinggiran (tradisi). Tanpa pernah segan ia rajin bergumul dengan para seniman wayang orang, wayang kulit, lenong dan teater rakyat yang lain. Dibawanya kesenian-kesenian tradisional itu ke ranah seni modern di Jakarta. Salah satunya dengan memfasilitasi seni-seni tradisi ini untuk bisa pentas di Taman Ismail Marzuki yang pada masa-masa itu masih didominasi oleh gairah teater modern yang berkiblat ke Barat. Hasilnya cukup dahsyat. Di masanya, seni lenong berhasil direvitalisasi sampai bisa menggaet penggemar dari kalangan muda. Lewat kerja keras dan lobinya ke pemerintah DKI Jakarta, Wayang Orang Bharata seolah menemukan kembali semangat baru hingga mampu menjadi tontonan favorit, terutama di kawasan Senen.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dengan berubah bentuknya suatu seni pertunjukan, maka akan menghilangkan kearifan dan nilai estetis dari pertunjukan. Seni teater tradisi dewasa ini mulai menampakkan wajah barunya melalui berbagai inovasi agar mudah diterima oleh masyarakat kota. Misalnya, dengan membahas sesuatu yang “kekinian” pada saat tokoh Punakawan tampil, padahal setting waktu yang digunakan adalah jaman kerajaan. Atau ada pula istiah “Indonesiasi Wayang”, dimana wayang dimainkan dengan bahasa Indonesia. Ada pihak yang menyayangkan dan ada pula yang tidak. Padahal teater tradisi sendiri telah mengalami perubahan jauh-jauh hari ketika ia mulai keluar dari tembok keraton, lalu dinikmati oleh masyarakat non bangsawan. Karena kesenian merupakan suatu hal yang dinamis, maka ia mau tidak mau mengikuti selera masyarakat urban. Walaupun terkesan mengkapitalisasi seni teater tradisi dengan mengkomersialisasikannya, ini merupakan salah satu upaya agar masyarakat tetap menyadari keeksisan teater tradisi di tengah gempuran budaya asing. 




Daftar Pustaka˗ Kayam, Umar (1997). Jalasutra. Lifestyle Ecstasy; Budaya Massa Indonesia. Jakarta.˗ Jatman, Darmanto (1997). Jalasutra. Lifestyle Ecstasy; Pluralisme Media dalam “Era Imagology”: Sketsa Interaksi Budaya Media dengan Budaya-Budaya Etnik. Jakarta.˗ http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/23/djadoeg-djajakusuma-membangkitkan-seni-peran-tradisional-125237.html.˗ http://harrydfauzi.wordpress.com/tag/teater-rakyat/.
Selasa, 09 Juli 2013
Sejujurnya aku agak bosan dengan segala sikap "para-para" yang tidak dapat menahan egonya untuk tampil di forum. Isi perkataan mereka kopong, dangkal dan tidak dalam. Zonk.

Selama ini "para-para" itu hanya mempertontonkan keahlian dalam bicara. Jago sekali mendramatisir suasana sehingga hal remeh yang tidak perlu semua orang tau, menjadi suatu hal yang gawat darurat. Mereka kadang bingung memisahkan antara benang satu dengan yang lainnya sehingga berbelit dan menjadi kusut.

Jika diibaratkan, anggaplah ada beberapa biji telur yang terindikasi telur ayam, bebek, dan burung. Janganlah itu semua digabungkan dalam satu keranjang lalu dijual ke pasar. Nanti penjual bisa kelabakan ketika pembeli ingin membeli telur tertentu. Apalagi jika penjual ini tidak dapat membedakan yang mana telur ayam, bebek dan burung.

Begitu jugalah dalam sebuah permasalahan. Kita tidak dapat menyatukan masalah satu-dua orang menjadi masalah untuk keseluruhan orang, walaupun mereka semua bernaung di bawah nama yang sama.

Kita semua mungkin lupa di balik "penodongan" kesalahan terhadap orang lain juga mengandung kesalahan kita sendiri. Rupanya mereka lupa untuk selalu introspeksi diri dan bercermin apakah sudah pantas dan apakah mereka sudah sebaik-baiknya manusia.

Dan terkait dalam pendramatisir suasana, mungkin "para-para" itu terlalu banyak melahap sinetron di tv. Manusia modern produk metropolitan rupanya sangat jago sekali dalam meninggi-rendahkan nada ketika menghakimi orang lain. Entah sinetron mana yang sedang ditiru, mungkin sinetron hidayah di mana ada ustadz yang sedang menghakimi pasangan yang tertangkap berzinah. Kurang lebih dialognya begini:

"Ayo kita habisi makhluk pezinah ini! Mereka mencoreng nama agama dan nama baik kampung sini!"

Dan itu sama persis seperti di forum-forum yang penuh dengan ego untuk menghakimi dan merasa yang paling benar.

Ah, tahukah kalian (pembaca yang terdampar di blog ini) bahwa pada dasarnya aku lelah untuk terjebak pada semua sikap saling menghakimi itu. Maka aku hanya diam dan menunduk tanpa harus merasa ikut bicara.

Aku merasa sudah terlalu tua untuk meletup-letup dalam menggelontarkan kalimat non-ilmiah non-produktif itu. Juga merasa terlalu muda untuk langsung menyalahkan orang, merasa paling benar dan superior.

Dengan diam aku menemukan katarsis. Dengan diam aku dapat menjadi objektif selama forum berlangsung. Iya, diam saja.

Yovita Ayu Liwanuru (Miss Scuba Indonesia 2012) : “Kontribusi itu Sederhana”

Bergabung dalam ajang Miss Scuba Indonesia 2012, bukan tanpa alasan bagi Yovita Ayu Liwanuru, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2009, FISIP UI ini. Ia meraih prestasi yang membanggakan bagi Indonesia karena mendapatkan predikat Runner Up 1 Miss Scuba International 2012 yang diadakan di Bali pada bulan November tahun lalu.

Saat diwawancara SUMA UI (25/4), Yovita menceritakan pengalaman pertamanya mencoba olahrag air itu. Ia memiliki alasan utama untuk tertarik pada olahraga scuba diving itu diawali dengan melihat foto-foto underwater dari para fotografer bawah laut ternama Indonesia.

“ Aku langsung jatuh cinta sama keindahan alam bawah laut yang ada di foto-foto itu. Aku pun langsung berpikiran kenapa gak aku menikmati keindahan itu dengan mata kepala sendiri?”, ujar dara kelahiran Jakarta, 28 September 1991 ini. Setelah tertunda beberapa lama, pada tahun 2011, Yovita mengambil diving license di Bali. Ia mengaku excited pada pengalaman pertamanya pada saat turun pertama kali ke laut dan merasa ketagihan hingga sekarang.

Ia berbagi pengalaman pada saat mengikuti ajang Miss Scuba International 2012 yang menurutnya sangat tidak terlupakan. Ia merasa excited sekaligus gugup karena mewakili Indonesia pada Miss Scuba International 2012. Karena itu persiapan yang dilakukan pun sungguh serius untuk menampilkan yang terbaik, seperti menambah wawasan akan dunia diving, konservasi laut, diving skill, hingga ke persona talent.  “ Dan ternyata ketakutan-ketakutanku itu hanya di pikiranku saja. Miss Scuba International seru banget! Pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup”, ceritanya.


Bertemu dengan teman-teman baru, mulai dari USA, Hungaria, sampai Latvia, di mana sama sekali tidak ada jarak dan perbedaan, membuat Yovita tidak merasa seperti berkompetisi karena saling mendukung satu sama lain layaknya keluarga. Peserta tentunya saling berbagi cerita akan alam di negara masing-masing, hingga sharing mengenai konservasi yang memang juga menjadi concern bagi Miss Scuba. Kemenangannya sebagai 1st Runner Up merupakan hadiah karena semua kontestan sangat kompeten. Kepada masyarakat Indonesia ia bersyukur dan berjanji untuk terus mempromosikan kekayaan alam bawah laut Indonesia ke masyarakat Indonesia sendiri dan dunia untuk ikut menikmati dan menjaganya bersama.

Yovita mengakui bahwa ia menikmati bertemu dengan biota-biota laut yang warna-warni, lucu, dan aneh-aneh di bawah sana. Indonesia memiliki spesies ikan dan terumbu karang yang sangat bervariasi dan memang sudah diakui di dunia. Ia menjelaskan bahwa titik selam di Indonesia  yang terhitung sampai sekarang mencapai 300 lebih. Setiap titik punya keunikan dan ciri-ciri biota yang bermacam-macam. “Jadi kalau ditanya di mana tempat menyelam di Indonesia yang paling bagus, pasti aku akan jawab tergantung ingin melihat apa. Kalau mau lihat penyu, datanglah ke Derawan dan beberapa tempat di Sulawesi. Kalau mau lihat whale sharks datanglah ke Papua. Kalau mau lihat binatang-binatang makro yang kecil-kecil dan unik, Alor dan Lembeh adalah surganya”, promosi anak pertama dari pasangan Frans Liwanuru dan Suswati Handayani ini.

Ketika ditanya mengenai kelestarian alam bawah laut yang  memang salah satu concern Miss Scuba Indonesia dan Internasional, Yovita menekankan bahwa kita manusia tidak hanya menikmati keindahan laut, tapi juga berkontribusi untuk menjaganya hingga generasi seterusnya. “ Sebenarnya gak muluk-muluk untuk sekedar kontribusi, sesederhana tidak membuang sampah ke laut kalau jika kita sedang jalan-jalan ke laut atau pantai”.

Ia juga menyarankan agar manusia harus pintar dalam mengonsumsi makanan laut karena ada yang sustainable dan ada yang tidak, seperti sup hisit (sup sirip ikan hiu). Hiu adalah salah satu makhluk laut yang harus dikasihani bagi Yovita. Pasalnya, waktu beranak dan dewasa ikan hiu lebih lama sedangkan manusia terus-terusan menangkap dalam jumlah besar hanya untuk diambil siripnya lalu dibuang lagi ke laut. Jika  populasi hiu terancam, tentunya ekosistem laut juga akan ikut terancam dan  bisa mempengaruhi manusia yang di ada darat. “ Ingat, bumi lebih dari 70 persennya adalah laut. Manusia, alias kitalah, yang pegang kendali akan kelestarian alam kita dan diri kita pun anak cucu kita”, pesannya.



Atribut Mahasiswa Baru = Alat Bantu Adaptasi?

Minggu, 23 Juni 2013
Ini tulisan saya untuk reportase ringan ketika mendaftar jadi anggota SUMA UI 2012 angkatan #22 (20/10/2012)
__________________________

Setelah libur panjang semester genap, kegiatan perkuliahan dimulai pada tanggal 3 September 2012. Semester baru, suasana baru. Itu yang kerap disebut-sebut para mahasiswa Universitas Indonesia menjelang menghadapi semester baru. Bertepatan dengan itu, bermunculanlah wajah-wajah baru di kampus. Mereka tak lain adalah mahasiswa baru yang bergabung dengan keluarga sivitas akademia ini. Maba (mahasiswa baru), predikat yang akan menempel untuk setahun lamanya bagi mereka yang baru bergabung menjadi bagian dari kampus ini.

Sebuah tradisi non tertulis di beberapa fakultas mewajibkan mahasiswa baru untuk memakai atribut ke-mabaan mereka. Salah satunya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, dimana pada minggu ketiga perkuliahan telah marak pemakaian atribut dan nametag pada maba. Setiap jurusan akan berbeda satu sama lain. Atribut diatur oleh senior yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) masing-masing sesuai dengan program studinya.

Atribut berupa nametag, topi, bando, buku tandatangan senior, pin, pemakaian jas kuning dan bahkan kacamata hitam kerap terlihat sebagai pemandangan umum di kampus FIB baru-baru ini. Identitas Maba dengan gamblangnya terlihat jelas dengan penggunaan atribut tersebut.

Ditemui di Taman Arkeologi FIB, Dewi, mahasiswi program studi Cina angkatan 2008 berpendapat bahwa keberagaman atribut pada maba merupakan representasi senior mereka di jurusan. Senior sebagai pengembang ide dan maba harus menggunakan kreatifitasnya untuk membuat atribut yang telah ditentukan. Bagi Dewi dengan pemakaian nametag, ia dapat mengetahui yang mana adik kelasnya di jurusan dan mana yang bukan. Bagi Dewi dari sudut pandang senior yang melihat juniornya memakai atribut, terdapat beberapa fungsi. “ Menurut gue ada dua fungsi pemakaian atribut pada maba. Yang pertama yaitu fungsi memorial. Dengan pakai nametag lo bakalan inget bahwa lo dulu juga pernah jadi maba. Ada kenangan tersendiri ketika lo ngelihat ada maba yang pakai nametag kaya jaman lo jadi maba. Yang kedua itu adalah fungsi eksistensi. Lo nggak mungkin bisa dikenal senior secara langsung kalau nggak pakai nametag”, ungkap mahasiswi asal Mojokerto ini. Ia memang mengakui bahwa tidak harus dengan memakai nametag atau atribut maba untuk dapat dikenal dan diakui oleh senior, tapi cara tersebut merupakan cara cepat yang efektif selama ini.

Tya, mahasiswa baru jurusan Sastra Indonesia mengaku bahwa pemakaian nametag memiliki sisi positif dan negatif. “ Walaupun pakai nametag itu ribet, tapi dengan pemakaian nametag ini juga jadi lebih dikenal sama senior. Kan bisa eksis juga kalau pakai nametag. Lagian masih bersyukur kita cuman kaya begini, nggak kaya jurusan lain yang atributnya lebih parah dan bikin malu kaya Sastra Cina, Sastra Arab dan Sejarah”, ujarnya.

Saat ditemui di Perpustakaan Pusat UI, Edhna, maba Sastra Cina 2012 mengakui bahwa ia tidak berkeberatan memakai atribut maba. Atribut mereka berupa bando yang diberi karton merah dengan hiasan bunga-bunga membentuk setengah lingkaran berwarna merah yang jika dilihat seperti putri-putri Cina dalam film kolosal dan nametag berbentuk lampion bulat berwarna senada dengan foto 3R menempel disana. “Aku sih sama sekali nggak keberatan. Soalnya kata senior ini kan udah turun temurun. Malahan sekarang kita bangga kok pakai atribut Cina. Kalau dibandingkan dengan jurusan lain yang atributnya nggak heboh seperti kita, malahan aku ngeliatnya ga keren”, ujar Edhna yang masuk UI melalui jalur SNMPTN Undangan itu. Bagi Edhna, ia dan kawan-kawannya menjadi lebih dekat satu sama lain dengan pemakaian atribut seperti ini. Ia merasa bahwa atribut adalah pemersatu angkatan di tengah perbedaan antara maba yang masuk UI melalui jalur reguler dan yang non reguler. 

Ina, mahasiswi Sejarah 2012 berpendapat bahwa pemakaian nametag itu wajar bagi mahasiswa baru. Menurutnya dengan pemakaian nametag pada maba sangat membantu untuk beradaptasi di lingkungan kampus, sebuah lingkungan baru bagi mereka yang baru saja melepaskan predikat siswa menjadi mahasiswa. “Nametag mah wajar ya. Aku sih terima-terima aja kalau pakai nametag. Palingan yang ditakutkan itu kalau lupa bawa. Takut aja kalau ketahuan senior nggak pakai nametag”, ungkap mahasiswi yang berasal dari Aceh ini. Ketika ditanya apa latar belakang mau menggunakan nametag di lingkungan kampus, Ina menjawab alasannya adalah takut dengan senior. Terkadang ia juga kesal jika ada teman-temannya yang melanggar ketentuan penggunaan nametag di lingkungan kampus. “Kesal aja. Kesannya kan kaya nggak mau sama rasa sama rata. MT (makan teman-red) banget”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hima dan kawan-kawan dari Sastra Jepang. Hima yang berasal dari Malang ini mengatakan bahwa pemakaian atribut yang berupa nametag samasekali bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. “Malahan pakai nametag itu perlu, soalnya untuk memudahkan sensei (dosen) memanggil nama kami”.

Ada juga yang berpendapat bahwa pemakaian atribut sangat menguntungkan bagi maba sendiri. Adalah Djalal, mahasiswa Sejarah angkatan 2011 saat ditemui di area payung gedung IX mengatakan bahwa dengan memakai atribut senior pastinya dapat mengetahui yang mana mabanya dan mana yang bukan. “ Ini bukan masalah perploncoan terhadap maba. Ini merupakan alat adaptasi. Dengan adanya atribut, kita dapat membedakan maba dari 15 jurusan yang ada di FIB. Tanpa atribut, apakah kamu bisa mengidentifikasi yang mana maba Sejarah, maba Cina, maba Prancis atau maba jurusan lain? Engga kan?”, ujar pria asal Pati ini. Atribut pada maba menurut Djalal merupakan identitas awal selama memasuki awal perkuliahan. Menurutnya dengan pemakaian atribut jurusan selama 3 bulan atau setengah tahun saja belum tentu dapat mengidentifikasikan maba jurusan mana seorang mahasiswa tersebut, apalagi jika tanpa pemakaian atribut. “Tentunya pemakaian atribut juga memudahkan senior mengenal mabanya. Maba juga bisa meminta bantuan senior tanpa sungkan jika sudah saling mengenal satu sama lain, misalnya meminjam buku atau info proyek-proyek dari senior. Kan itu menguntungkan”.



Namun pemakaian atribut pada maba yang ditetapkan oleh senior justru membuat Dwi Gema Kumara yang akrab disapa Dugem, mahasiswa Filsafat 2011 mempertanyakan esensi dari pemakaian atribut tersebut. Menurutnya terdapat arogansi dari senior itu sendiri, juga terdapat motif balas dendam. Keliru jika kita menganggap dengan pemakaian atribut, maba tersebut menjadi lebih eksis. Malahan terdapat kesenjangan antar maba dan senior. “Kalau dilihat dari sejarahnya teh, walaupun sudah memakai atribut tidak semuanya bisa membaur. Malahan terjadi perbedaan dengan adanya atribut tersebut. Lagian saya juga sama-sama bayar seperti mereka (senior), kenapa saya harus mau diperlakukan berbeda dan masih harus diatur-atur? Ini sangat paradoks”, ujarnya saat interviu via telepon. Ia juga kurang setuju dengan pengakuan maba yang mengatakan bahwa penggunaan atribut merupakan alat adaptasi terhadap lingkungan kampus. “Senior selalu menekankan pada maba ada budaya memakai atribut di FIB itu harus terus dilanjutkan. Seolah-olah jika bukan kalian (maba) maka siapa lagi yang akan meneruskan budaya memakai atribut di kampus ini. Ini menimbulkan pertanyaan etika. Budaya yang harus dipertahankan itu seperti apa? Orang sama-sama mahasiswa kok, cuman bedanya ada embel-embel baru dan tidak”.

Terimakasih Tuhan

Kamis, 20 Juni 2013
Tuhan, entah apa dan siapa nama-Mu yang sebenarnya, aku malam ini ingin berterimakasih pada-Mu.
Telah kau hadirkan dinamika kehidupan yang begitu beragam dengan memasang mereka sebagai kedua orangtuaku, mereka sebagai adikku, mereka sebagai masa laluku, mereka sebagai teman-temanku, dan kakak sebagai orang yang memberiku alasan untuk berjuang menjadi manusia yang sebenarnya hingga saat ini.

Aku tau betul bahwa mereka semua tidaklah akan ada selamanya dalam hidupku. Pada dasarnya akulah yang akan berjuang sendirian untuk menjadi "aku" yang sebenarnya. Melepas atribut ketergantungan dan dapat melenggang sendiri tanpa takut keluar dari zona nyaman.

Tuhan, awalnya kupikir Kau adalah seorang penulis naskah drama kehidupan umat manusia. Seenak jidat-Mu saja membuat manusia jungkir-balik dalam hidupnya.

Pada awalnya kupikir Kau adalah zat yang curang. Kau mengetahui pada akhirnya kami semua akan bagaimana dan menjadi apa, tapi di satu sisi Kau menyuruh manusia untuk berjuang keras tanpa tahu gagal atau berhasil.

Tuhan yang kulihat selama ini hanyalah "wajah" dari Tuhan mereka yang menungging untuk sampai kepada-Mu. Aku bosan dan tidak bisa terima begitu saja, aku butuh alasan. Maka aku memaksakan diri untuk berpikir, mencari keberadaan-Mu dan kedudukanku sebagai makhluk bumi. Membanding kenapa aku ada dan apakah Engkau ada. Aku berhenti untuk sementara dalam mengikuti ritual mereka untuk sampai kepada-Mu. Aku memulai dengan karunia-Mu yaitu akal pikiran.

Lambat laun aku mulai menyadari bahwa Kau menciptakan kami bukan untuk sampai kepada apa,  tapi Kau menciptakan kami untuk bagaimana melalui apa. Kau mengajarkan kami arti proses dalam hidup ini bukanlah sesuatu yang instan layaknya mie gelas atau junk food. 

Perjalanan hidup adalah yang terpenting karena ia-lah yang akan membawa kita menjadi "apa" dan "bagaimana".