Afiksasi Me- dan Di-
Jumat, 27 September 2013
Memberi dan menerima
Mencintai dan dicintai
Mengerti dan dimengerti
Mendekati dan didekati
Menyakiti dan disakiti
Melangkah dan dilangkahi
Memulai dan dimulai
Memarahi dan dimarahi
Mencaci dan dicaci
Memukul dan dipukul
Merepotkan dan direpotkan
Semua bentuk afiksasi di atas bukan karena saya sedang belajar merangkai kata aktif menjadi pasif. Itu semua juga bukan mengenai kehidupan saya dalam sehari-hari. Rangkaian kata tersebut saya rangkai untuk menyadari bahwa awalan me- pada dasarnya lebih superior dibandingkan dengan awalan di-. Afiksasi berguna sebagai unsur tambahan yang menegaskan esensi dari sebuah kata menunjukkan siapa melakukan apa dan kadang ada pelengkap hasil yang tertera pada sebuah kata.
Menurut pandangan saya, awalan me- merupakan bentuk di mana subjek menjadi "tokoh utama" dalam kalimat-kalimat aktif. Me- bersifat superior dan berkuasa atas otoritas dari yang menjadi objek. Lihat saja contoh kata menyakiti atau merepotkan. Keduanya memiliki makna yang negatif tapi (setidaknya) lebih berperan dan berada pada tingkat paling atas sebagai subjek.
Sedangkan awalan di- merupakan bentuk di mana objek seolah menjadi subjek dengan dipindahkan ke awal kalimat akan tetapi "dikendalikan" oleh subjek yang seolah menjadi objek. Contohnya dalam kalimat berikut ini:
- Kalimat aktif: Rani sedang menyiram tanaman.
- Kalimat pasif: Tanaman sedang disiram Rani.
Dalam hal ini dapat ditelusuri bahwa "tanaman" telah menjadi objek Rani untuk "disiram". Tentunya Rani memiliki otoritas dalam bentuk aktif maupun pasif, bedanya objek (tanaman) dapat dipindahkan ke depan atau ke belakang akan tetapi tetap tidak mengurangi kedudukannya dalam menjadi "korban" perbuatan Rani, yaitu "menyiram".
Hemat saya, awalan me- dan di- menunjukkan sikap manusia dalam bertindak. Apakah selamanya menjadi me- yang memiliki unsur pengorbanan? Atau selalu ingin bertindak sebagai di- yang selalu menerima apa yang dilakukan subjek?
Pelecehan Seksual: Siapa yang Perlu Disalahkan?
Selasa, 03 September 2013
Seindependennya wanita, sebesar apapun, tentu ada hal yang ditakutinya. Malam tadi, aku bermimpi menemui hal yang paling kutakuti seumur hidup. Hal yang kupikir dapat merusak masa depan seseorang, di mana yang menjadi objek tidak dapat melawan dan berdaya. Di mana si subjek dapat melakukan segalanya tanpa belas kasihan dan merasa 'berhak' menyakiti si objek. Aku kesal dengan istilah perkosa, pemerkosa, dan perkosaan.
Ada begitu banyak kasus pemerkosaan. Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat ada peningkatan kekerasan pada perempuan di ranah komunitas atau publik pada 2012, sebesar 4,35 persen atau menjadi 4.293 kasus. Jenis kekerasan yang paling banyak adalah kekerasan seksual (2.521 kasus), di antaranya pemerkosaan (840 kasus) dan pencabulan (780 kasus).
Pemerkosa, karena dia pelaku (subjek), maka dia akan ditaruh di depan kalimat. Perkosa sebagai verba, akan ditaruh di tengah sebagai perbuatan-nya (kata kerja). Sedangkan perkosaan, ditaruh di akhir, sebagai objek yang lemah dan tidak dapat melawan.
Aku paling benci terhadap hal yang bersifat menganiaya dan semena-mena itu. Begitu banyak masa depan yang lumpuh atau bahkan hancur dikarenakan nafsu birahi laki-laki yang tak tertahankan itu. Aku tahu dan cukup tahu bahwa sebenarnya nafsu birahi juga dimiliki oleh para wanita. Aku juga tahu bahwa kasus pemerkosaan juga bukan hanya pria terhadap wanita, tapi wanita terhadap pria pun ada walaupun jumlahnya sedikit.
Tak jarang korban berakhir dengan menyukai sesama jenis. Menjadi gay atau lesbian. Kadang aku prihatin dengan mereka yang kepercayaan dirinya hilang. Rasanya mungkin seperti tercerabut dari akar kehidupan, di mana hanya ada kelam dan ketakutan. Trauma yang menyisakan pilu dari lubuk hati yang paling dalam.
Aku sangat sangsi dengan mereka yang menyalahkan pakaian sebagai alasan untuk melakukan tindakan pelecehan. Aku yang mengenakan atribut muslimah yang longgar pun pernah mengalami pelecehan di bus umum. Menurutku bukan karena pakaian, tapi karena adanya kesempatan dan wadah pelampiasan.
Salahkah wanita jika lekuk tubuhnya seperti itu?
Salahkah wanita jika ia menarik birahi para laki-laki walaupun dia tidak melakukan hal yang 'mengundang'?
Bung, itu semua terbentuk dalam pikiran yang bekerja. Amigdala terlalu garang dalam menangkap pikiran yang kemana-mana sehingga logos frontal mati. Kelogisan berpikir pun lenyap dan insting kebinatangan yang menguasai.
Masyarakat Dayak Punan Batu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, membuktikan bahwa pakaian bukan alasan. Kaum Dayak Punan, dari seluruh kalangan, baik perempuan dan pria dewasa, remaja dan anak-anak, memiliki kebiasaan mandi di pinggir sungai. Mereka mandi hanya dengan mengenakan kain basahan yang menutupi kemaluan mereka. Tanpa perlu berpikiran malu dan jorok, mereka semua mandi tanpa penutup bagian dada. Masyarakat di sana begitu biasa dengan hal tersebut dan tidak ada kasus pelecehan seksual pada wanita. Kaum pria Punan ketika melihat payudara wanita di sana pun tanpa ekspresi.
Ini begitu menggelitik kondisi di perkotaan, di mana pakaian yang digunakan kaum wanita dipersalahkan sebagai pembangkit nafsu birahi. Melihat paha mulus sedikit saja langsung kemana-mana pikirannya. Seperti singa ingin memangsa kijang.
Aku yakin ini karena pola pikir yan dibentuk sejak awal. Kondisi yang membuat kita memiliki pola pikir tertentu. Jika kita berpendapat bahwa apa bedanya payudara dengan organ tubuh yang lain, seperti hidung, mata, pipi dan tangan, maka tidak ada masalah kan?
Karena ada bagian tubuh yang disakralkan, maka hal itu menjadi tabu untuk dilihat. Dan ketika ada kesempatan melihat pun, rasanya seperti ingin menghabisi.
Jadi, apakah kalian lebih bermoral daripada kaum Punan di pedalaman Kalimantan sana?
Aku bermimpi naik angkutan umum ketika malam. Angkutan umum itu kosong dan tanpa curiga sedikit pun aku menaikinya. Dan tanpa kusadari, ia berjalan melewati hutan-- jalan yang bukan seharusnya. Slide pun berganti dengan aku dikejar oleh supir angkot yang wajahnya aku lupa. Yang kuingat supir itu memakai topi jerami.
Dan akhirnya berganti pada adegan aku berlari menuju rumah warga sambil berteriak ketakutan. Aku memang tidak ingat betul bagaimana kronologi peristiwa dalam mimpi itu. Tapi yang kuingat, aku menjadi begitu membenci laki-laki. Aku jijik terhadap mereka, siapa pun itu. Di kepalaku mereka semua sama dan binatang.
Ada begitu banyak kasus pemerkosaan. Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat ada peningkatan kekerasan pada perempuan di ranah komunitas atau publik pada 2012, sebesar 4,35 persen atau menjadi 4.293 kasus. Jenis kekerasan yang paling banyak adalah kekerasan seksual (2.521 kasus), di antaranya pemerkosaan (840 kasus) dan pencabulan (780 kasus).
Pemerkosa, karena dia pelaku (subjek), maka dia akan ditaruh di depan kalimat. Perkosa sebagai verba, akan ditaruh di tengah sebagai perbuatan-nya (kata kerja). Sedangkan perkosaan, ditaruh di akhir, sebagai objek yang lemah dan tidak dapat melawan.

Aku paling benci terhadap hal yang bersifat menganiaya dan semena-mena itu. Begitu banyak masa depan yang lumpuh atau bahkan hancur dikarenakan nafsu birahi laki-laki yang tak tertahankan itu. Aku tahu dan cukup tahu bahwa sebenarnya nafsu birahi juga dimiliki oleh para wanita. Aku juga tahu bahwa kasus pemerkosaan juga bukan hanya pria terhadap wanita, tapi wanita terhadap pria pun ada walaupun jumlahnya sedikit.
Tak jarang korban berakhir dengan menyukai sesama jenis. Menjadi gay atau lesbian. Kadang aku prihatin dengan mereka yang kepercayaan dirinya hilang. Rasanya mungkin seperti tercerabut dari akar kehidupan, di mana hanya ada kelam dan ketakutan. Trauma yang menyisakan pilu dari lubuk hati yang paling dalam.
Aku sangat sangsi dengan mereka yang menyalahkan pakaian sebagai alasan untuk melakukan tindakan pelecehan. Aku yang mengenakan atribut muslimah yang longgar pun pernah mengalami pelecehan di bus umum. Menurutku bukan karena pakaian, tapi karena adanya kesempatan dan wadah pelampiasan.
Salahkah wanita jika lekuk tubuhnya seperti itu?
Salahkah wanita jika ia menarik birahi para laki-laki walaupun dia tidak melakukan hal yang 'mengundang'?
Bung, itu semua terbentuk dalam pikiran yang bekerja. Amigdala terlalu garang dalam menangkap pikiran yang kemana-mana sehingga logos frontal mati. Kelogisan berpikir pun lenyap dan insting kebinatangan yang menguasai.
Masyarakat Dayak Punan Batu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, membuktikan bahwa pakaian bukan alasan. Kaum Dayak Punan, dari seluruh kalangan, baik perempuan dan pria dewasa, remaja dan anak-anak, memiliki kebiasaan mandi di pinggir sungai. Mereka mandi hanya dengan mengenakan kain basahan yang menutupi kemaluan mereka. Tanpa perlu berpikiran malu dan jorok, mereka semua mandi tanpa penutup bagian dada. Masyarakat di sana begitu biasa dengan hal tersebut dan tidak ada kasus pelecehan seksual pada wanita. Kaum pria Punan ketika melihat payudara wanita di sana pun tanpa ekspresi.
Ini begitu menggelitik kondisi di perkotaan, di mana pakaian yang digunakan kaum wanita dipersalahkan sebagai pembangkit nafsu birahi. Melihat paha mulus sedikit saja langsung kemana-mana pikirannya. Seperti singa ingin memangsa kijang.
Aku yakin ini karena pola pikir yan dibentuk sejak awal. Kondisi yang membuat kita memiliki pola pikir tertentu. Jika kita berpendapat bahwa apa bedanya payudara dengan organ tubuh yang lain, seperti hidung, mata, pipi dan tangan, maka tidak ada masalah kan?
Karena ada bagian tubuh yang disakralkan, maka hal itu menjadi tabu untuk dilihat. Dan ketika ada kesempatan melihat pun, rasanya seperti ingin menghabisi.
Jadi, apakah kalian lebih bermoral daripada kaum Punan di pedalaman Kalimantan sana?
Bayi
Jumat, 16 Agustus 2013
Suatu hari, sembari mengawasi anak-anak di saung belakang rumahku, aku berpikir mengenai mereka. Kira-kira jika seorang bayi atau balita diberi kesempatan untuk berbicara dan berpikir layaknya orang dewasa, pasti ia akan banyak protes dan menuntut kepada orangtuanya. Layaknya Isa yang diberi mukjizat untuk dapat berbicara sejak bayi dan menyampaikan kebenaran, tentulah luar biasa untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan.
Keluargaku memiliki usaha di bidang pendidikan anak usia dini dan telah dirintis sejak tiga tahun yang lalu yang berlokasi di lingkungan rumah. Setiap hari Senin-Jumat, puluhan anak-anak dari berbagai usia berseliweran di depanku. Setiap harinya suara tangisan bayi merupakan hal yang biasa bahkan seperti alunan selamat pagi buat keluarga kami. Dan aku terbiasa untuk melihat kaki-kaki kecil mereka yang merangkak, berjalan, berlari dan memakai sepatu. Juga tangan-tangan kecil mereka yang meraba, menggenggam, bertepuk, melempar, atau bahkan memukul. Setiap sore secara rutin, aku bermain dengan bayi dan balita yang dititipkan di rumah karena kedua orangtuanya bekerja atau tidak sanggup mengurus anaknya.
Ibuku yang merupakan pendirinya, adalah seorang wanita yang berpengalaman dalam mengasuh anak di samping sedang mendalami ilmu pendidikan anak usia dini di salah satu universitas negeri di Jakarta. Ia pernah bekerja di baby day care ketika kami dulu pernah hidup di Malaysia untuk membantu penghasilan Abah yang menjadi loper koran sambil kuliah. Aku menilai apa yang dia lakukan sekarang adalah gabungan antara pengalaman, teori dan aplikasi terhadap apa yang dia senangi. Ia memiliki dedikasi yang tinggi dan sangat menikmati ilmu yang sedang dipelajarinya.
Ibuku bilang bahwa seorang anak itu sebenarnya berpikir seperti halnya orang dewasa, tapi yang ia pikirkan adalah dunia kecil yang dilihatnya selama ini karena jarak pandang dan citra yang ia dapatkan masih bersifat "mungil" dan sederhana. Maka dari itu bayi atau balita kerap mendatangi benda-benda yang berwarna cerah dan menyala. Usia balita adalah usia di mana seorang anak memaksimalkan kelima indranya. Ia selalu ingin melihat, menggapai, meraba, menyentuh, menggenggam, mengecap, menjilat, menggigit dan segala aktifitas yang mengandalkan indranya.
Beberapa hari ini perhatianku terhadap anak usia dini agak meningkat. Biasanya aku hanya ikut bermain-main sebentar bersama mereka, tapi sekarang aku mulai mencari informasi dan membuka buku mengenai psikologi anak terutama tumbuh kembangnya. Adalah mengenai syaraf peraba bayi yang kubaca, kuteliti dan kubuktikan.
Untuk melatih syaraf peraba bayi, kita harus menyodorkan kedua telunjuk ke tangannya dan voila, ia pasti akan menggenggam jari kita. Genggaman yang erat adalah tanda bahwa bayi belajar untuk menggenggam keras, merasakan apa yang ia genggam hingga akhirnya melatih otot-otot tangannya untuk menggenggam sesuatu. Walaupun ia melihat, pandangannya masih buram dan indra perabalah yang perlu dilatih agar ia dapat merasakan sesuatu melalui tangan.
Selain itu kita juga bisa menempelkan telunjuk tangan ke pipi dekat mulut bayi, lalu arahkan ke bagian kanan pipi lalu berpindah ke kiri pipi bayi. Ia pasti akan mengincar jari kita dengan membuka mulut dan menjulurkan lidah searah dengan arah jari kita. Itu membuktikan bahwa bayi selalu ingin memasukkan apa yang ia lihat dan rasakan ke dalam mulut. Ini juga dapat membantu untuk mengetahui apakah si bayi sedang lapar atau tidak.
Lalu syaraf peraba juga bisa dicek pada telapak kaki bayi. Tekan telapak kakinya secara spontan dan otomatis jari-jarinya langsung melipat. Ini melatih syaraf sensorik pada bayi. Bagaimana tubuhnya bereaksi ketika ada benda tumpul menekan telapak kakinya.
Tapi lambat laun seiring dengan pertambahan usia, reaksi atas syaraf peraba ini lambat laun akan hilang dan bayi akan mengeksplor dan melatih syaraf-syarafnya yang lain. Ia akan mencoba hal-hal yang lebih menantang. Nah, dari sini aku paham bahwasanya sejak bayi manusia merupakan makhluk yang selalu ingin belajar, long life learner.
Akan sangat disayangkan jika pada usia bayi dan balita, seorang anak terlalu diproteksi dari lingkungan dan alat-alat yang dapat membantunya belajar. Dinding, kursi, meja, lemari, pasir, jaring panjat-panjatan dan medan-medan yang sebenarnya dapat membahayakan anak, sebenarnya merupakan medianya untuk belajar mengenal kemampuan dirinya. Aku agak sanksi dengan anak yang selalu digendong kemana-mana dan tidak dibiasakan berjalan sendiri. Aku juga sanksi jika orangtua terlalu takut anaknya jatuh, tergores atau menangis, lalu melindungi mereka seperti porselen.
Konon Jenghis Khan, manusia legendaris yang memimpin pasukan Mongol yang pernah ditakuti sejagad raya itu, ketika bayi dilepas oleh ayahnya di padang pasir yang panas. Ia dibiasakan untuk tahan menghadapi terik panas matahari sehingga pijakan kakinya menjadi kuat. Suku Eskimo juga dulu memiliki kebiasaan mencelupkan bayinya ke dalam air es agar tubuhnya terlatih menghadapi hawa dingin salju. Dan Kakekku juga melatih anak-anaknya sejak usia dini untuk dapat berenang di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dengan mendorong mereka ke sungai dan membiarkan mereka survive dengan caranya masing-masing sehingga terbiasa dan dapat berenang seperti umumnya masyarakat Muarakaman.
Kupikir bayi-bayi di era kontemporer begitu manja dan rapuh. Mereka terbiasa dengan susu-susu mahal, vaksin, minyak telon, minyak kayu putih, jaket tebal, dibungkus dengan kain rapat-rapat dan lain sebagainya. Aku paham betul fungsi afeksi dan proteksi yang ingin diberikan keluarga inti pada bayi atau balitanya, tapi memberikan perawatan dan perlindungan berlebihan tanpa melatih fisiknya sejak dini merupakan sebuah kekeliruan.
Biarkan anak-anak mengenali sendiri apa yang ingin ia pelajari. Berhenti menggendongnya terus-terusan dan berdirikan balita yang sudah bisa duduk dan merangkak. Latih ia dengan memberikan satu fokus untuk digapainya seperti boneka kesayangan, susu botol atau bahkan ibu atau ayahnya dengan melepaskan pegangan ketika ia sedang berdiri. Tentunya dari sana ia akan belajar mengenai makna dalam menggapai sesuatu diperlukan langkah (usaha). Berikan anak semangat dengan apresiasi seperti bertepuk tangan atau memujinya ketika ia melakukan usaha dalam tumbuh kembangnya sehingga ia tidak malas untuk berlatih jalan.
Oke, sepertinya sekian tulisan malam ini. Mungkin ada yang beranggapan seperti "Diih, sok tau. Kayak udah punya anak aja si Umi". Tapi percaya deh, begitu banyak hal yang bisa dipelajari dengan memperhatikan anak-anak terutama pada usia bayi dan balita. Banyak filosofi mengenai usaha, pembelajaran, semangat, kehadiran, kejujuran dan ribuan hal yang dapat dipelajari hanya dengan mengamati tumbuh kembang mereka.
Keluargaku memiliki usaha di bidang pendidikan anak usia dini dan telah dirintis sejak tiga tahun yang lalu yang berlokasi di lingkungan rumah. Setiap hari Senin-Jumat, puluhan anak-anak dari berbagai usia berseliweran di depanku. Setiap harinya suara tangisan bayi merupakan hal yang biasa bahkan seperti alunan selamat pagi buat keluarga kami. Dan aku terbiasa untuk melihat kaki-kaki kecil mereka yang merangkak, berjalan, berlari dan memakai sepatu. Juga tangan-tangan kecil mereka yang meraba, menggenggam, bertepuk, melempar, atau bahkan memukul. Setiap sore secara rutin, aku bermain dengan bayi dan balita yang dititipkan di rumah karena kedua orangtuanya bekerja atau tidak sanggup mengurus anaknya.
Ibuku yang merupakan pendirinya, adalah seorang wanita yang berpengalaman dalam mengasuh anak di samping sedang mendalami ilmu pendidikan anak usia dini di salah satu universitas negeri di Jakarta. Ia pernah bekerja di baby day care ketika kami dulu pernah hidup di Malaysia untuk membantu penghasilan Abah yang menjadi loper koran sambil kuliah. Aku menilai apa yang dia lakukan sekarang adalah gabungan antara pengalaman, teori dan aplikasi terhadap apa yang dia senangi. Ia memiliki dedikasi yang tinggi dan sangat menikmati ilmu yang sedang dipelajarinya.
Ibuku bilang bahwa seorang anak itu sebenarnya berpikir seperti halnya orang dewasa, tapi yang ia pikirkan adalah dunia kecil yang dilihatnya selama ini karena jarak pandang dan citra yang ia dapatkan masih bersifat "mungil" dan sederhana. Maka dari itu bayi atau balita kerap mendatangi benda-benda yang berwarna cerah dan menyala. Usia balita adalah usia di mana seorang anak memaksimalkan kelima indranya. Ia selalu ingin melihat, menggapai, meraba, menyentuh, menggenggam, mengecap, menjilat, menggigit dan segala aktifitas yang mengandalkan indranya.
Beberapa hari ini perhatianku terhadap anak usia dini agak meningkat. Biasanya aku hanya ikut bermain-main sebentar bersama mereka, tapi sekarang aku mulai mencari informasi dan membuka buku mengenai psikologi anak terutama tumbuh kembangnya. Adalah mengenai syaraf peraba bayi yang kubaca, kuteliti dan kubuktikan.
Untuk melatih syaraf peraba bayi, kita harus menyodorkan kedua telunjuk ke tangannya dan voila, ia pasti akan menggenggam jari kita. Genggaman yang erat adalah tanda bahwa bayi belajar untuk menggenggam keras, merasakan apa yang ia genggam hingga akhirnya melatih otot-otot tangannya untuk menggenggam sesuatu. Walaupun ia melihat, pandangannya masih buram dan indra perabalah yang perlu dilatih agar ia dapat merasakan sesuatu melalui tangan.
Selain itu kita juga bisa menempelkan telunjuk tangan ke pipi dekat mulut bayi, lalu arahkan ke bagian kanan pipi lalu berpindah ke kiri pipi bayi. Ia pasti akan mengincar jari kita dengan membuka mulut dan menjulurkan lidah searah dengan arah jari kita. Itu membuktikan bahwa bayi selalu ingin memasukkan apa yang ia lihat dan rasakan ke dalam mulut. Ini juga dapat membantu untuk mengetahui apakah si bayi sedang lapar atau tidak.
Lalu syaraf peraba juga bisa dicek pada telapak kaki bayi. Tekan telapak kakinya secara spontan dan otomatis jari-jarinya langsung melipat. Ini melatih syaraf sensorik pada bayi. Bagaimana tubuhnya bereaksi ketika ada benda tumpul menekan telapak kakinya.
Tapi lambat laun seiring dengan pertambahan usia, reaksi atas syaraf peraba ini lambat laun akan hilang dan bayi akan mengeksplor dan melatih syaraf-syarafnya yang lain. Ia akan mencoba hal-hal yang lebih menantang. Nah, dari sini aku paham bahwasanya sejak bayi manusia merupakan makhluk yang selalu ingin belajar, long life learner.
Akan sangat disayangkan jika pada usia bayi dan balita, seorang anak terlalu diproteksi dari lingkungan dan alat-alat yang dapat membantunya belajar. Dinding, kursi, meja, lemari, pasir, jaring panjat-panjatan dan medan-medan yang sebenarnya dapat membahayakan anak, sebenarnya merupakan medianya untuk belajar mengenal kemampuan dirinya. Aku agak sanksi dengan anak yang selalu digendong kemana-mana dan tidak dibiasakan berjalan sendiri. Aku juga sanksi jika orangtua terlalu takut anaknya jatuh, tergores atau menangis, lalu melindungi mereka seperti porselen.
Konon Jenghis Khan, manusia legendaris yang memimpin pasukan Mongol yang pernah ditakuti sejagad raya itu, ketika bayi dilepas oleh ayahnya di padang pasir yang panas. Ia dibiasakan untuk tahan menghadapi terik panas matahari sehingga pijakan kakinya menjadi kuat. Suku Eskimo juga dulu memiliki kebiasaan mencelupkan bayinya ke dalam air es agar tubuhnya terlatih menghadapi hawa dingin salju. Dan Kakekku juga melatih anak-anaknya sejak usia dini untuk dapat berenang di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dengan mendorong mereka ke sungai dan membiarkan mereka survive dengan caranya masing-masing sehingga terbiasa dan dapat berenang seperti umumnya masyarakat Muarakaman.
Kupikir bayi-bayi di era kontemporer begitu manja dan rapuh. Mereka terbiasa dengan susu-susu mahal, vaksin, minyak telon, minyak kayu putih, jaket tebal, dibungkus dengan kain rapat-rapat dan lain sebagainya. Aku paham betul fungsi afeksi dan proteksi yang ingin diberikan keluarga inti pada bayi atau balitanya, tapi memberikan perawatan dan perlindungan berlebihan tanpa melatih fisiknya sejak dini merupakan sebuah kekeliruan.
Biarkan anak-anak mengenali sendiri apa yang ingin ia pelajari. Berhenti menggendongnya terus-terusan dan berdirikan balita yang sudah bisa duduk dan merangkak. Latih ia dengan memberikan satu fokus untuk digapainya seperti boneka kesayangan, susu botol atau bahkan ibu atau ayahnya dengan melepaskan pegangan ketika ia sedang berdiri. Tentunya dari sana ia akan belajar mengenai makna dalam menggapai sesuatu diperlukan langkah (usaha). Berikan anak semangat dengan apresiasi seperti bertepuk tangan atau memujinya ketika ia melakukan usaha dalam tumbuh kembangnya sehingga ia tidak malas untuk berlatih jalan.
Oke, sepertinya sekian tulisan malam ini. Mungkin ada yang beranggapan seperti "Diih, sok tau. Kayak udah punya anak aja si Umi". Tapi percaya deh, begitu banyak hal yang bisa dipelajari dengan memperhatikan anak-anak terutama pada usia bayi dan balita. Banyak filosofi mengenai usaha, pembelajaran, semangat, kehadiran, kejujuran dan ribuan hal yang dapat dipelajari hanya dengan mengamati tumbuh kembang mereka.
![]() |
| Biarkan dia menggenggam tangan kita dan bantu dia berdiri. Pastikan kedua tungkainya tegak dan kuda-kudanya pas untuk berdiri. |
![]() |
| Berika ia fokus dengan benda-benda yang berwarna cerah seperti bunga yang saya pegang atau boneka kesayangan dia. |
![]() |
| Oke, bonekanya mulai direbut! Perlahan lepaskan tangan kita pada genggamannya. Jangan takut untuk melihat dia jatuh. Biarkan dia merasakan sakitnya jatuh untuk belajar berdiri. |
![]() |
| Oke, sudah mau lepas tangannya. |
![]() |
| Voila, dia berdiri dan sempat berjalan lima langkah #sayang ga ada foto karena saking takjubnya |
![]() |
| Kenalkan teman-teman, ini Roro (11 bulan) si calon pelari ulung kelak #amin |
Permasalahan Seni Teater Tradisi Indonesia
Senin, 05 Agustus 2013
Seni Pertunjukan Teater Tradisi
Istilah teater tradisi adalah bentuk sajian teater yang berakar dari tradisi budaya suatu daerah tertentu. Teater tradisi yang dikatakan sebagai kesenian pinggiran atau kesenian rakyat, merupakan sebuah kepemilikan bersama oleh masyarakat. Setiap daerah dan wilayah memiliki kekhasannya tersendiri dalam menunjukan seni pertunjukannya. Teater tradisi merupakan bagian dari seni pertunjukan di Indonesia.
Seni pertunjukan merupakan sri panggung di antara semua seni di Indonesia. Tidak bisa tidak jika di dalam suatu negara di mana kepandaian membaca dan menulis yang popular dan fungsional, tidak pernah menjadi tradisi hidup dan di mana yang merupakan tradisi adalah masyarakat yang agraris serta komunal dan berorientasi pada raja. Ritual desa di seluruh nusantara pada kenyataannya merupakan seni pertunjukan tradisional yang mengagungkan para dewata atau para leluhur. Wayang Jawa, Sunda dan Bali tidak dapat dipisahkan dari ritual padi yang mengagungkan Dewi Sri dan para leluhur. Begitu pun dengan pertunjukan teater tradisi.
Ketika ibu kota kerajaan beserta tempat raja telah ditaklukan berkembang, seni pertunjukan yang diserap dan disucikan oleh keraton, menjadi bagian ritual fungsional dari istana. Dan ketika kota-kota besar dan kecil bermunculan dan berkembang, seni pertunjukan pun dijadikan seni pertunjukan bagi masyarakat urban. Dalam kasus ini teater tradisi yang pada awalnya merupakan kesenian yang berasal dari daerah atau desa karena terkondisi dengan adat istiadat, sosial masyarakat dan struktur geografis setiap daerah, kini mulai menjamah kota dengan segala inovasinya.
Misalnya seperti wayang wong, yaitu sebuah drama tarian berdasarkan cerita Mahabharata dan Ramayana. Pada jaman dahulu, drama tari ini hanya digelar di keraton atau tempat tinggal bangsawan. Dari unsur pemain, waktu pagelaran dan kisah yang dipertontonkan merupakan pilihan khusus. Lambat laun orang-orang biasa yang pada mulanya hanya sebagai penonton, mulai menyusun kelompok pertunjukan mereka sendiri. Mereka mengorganisir kelompok pertunjukan mereka sendiri “keluar” dari tembok keraton. Ketika seni pertunjukan ini memasuki dunia masyarakat biasa, maka wayang won diubah menjadi pertunjukan yang populer. Wayang wong bukan lagi sebuah pertunjukan yang sangat panjang bagi golongan bangsawan yang dengan mudah dapat menemukan dan memikirkan estetika pada setiap pagelaran seni tradisi ini, akan tetapi wayang wong menjadi pertunjukan yang jauh lebih singkat bagi massa urban. Dalam masalah wayang wong komersial ini, dapat dilihat pengubahan pertunjukan yang murni artistik dari dan untuk kaum ningrat yang terbatas, menjadi pertunjukan populer yang juga dapat dinikmati oleh siapa saja di kota. Pengubahan ini dimungkinkan terjadi ketika timbul kebutuhan masyarakat kota akan seni pertunjukan tradisi yang lebih ringan dan bernuansa urban.
Akan tetapi, kemerdekaan dan keputusan Republik yang baru untuk memperluas solidaritas kedaerahan menjadi solidaritas Indonesia yang satu, membawa dampak-dampak yang cukup besar. Generasi Jawa yang baru misalnya, makin lama makin banyak pengguna bahasa Indonesia sebagai media ekspresi mereka ketimbang bahasa ibu mereka sendiri. Ini mengarahkan kepada generasi baru yang semakin termarjinalkan dari bahasa serta sudut pandang pemikiran mereka. Bahasa Indonesia sendiri berhubungan dengan ide-ide modern dan baru yang mengarahkan kepada tertbitan-terbitan kontemporer. Dalam hal seni pertunjukan, mereka akan lebih tertarik pada teater dan film yang modern.
Teater modern sendiri merupakan tradisi baru bagi Negara. Sedangkan seni pertunjukan tradisi sendiri merupakan seni tua. Seni teater tradisi yang dikenal selamanya merupakan teater yang total dan sintesis, di mana teater itu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan alam. Para penonton menyaksikan dan menganalisis pertunjukan tidak secara terpisah, akan tetapi mereka adalah bagian dari pertunjukan tersebut. Walaupun terjadi perkembangan dari seni pertunjukan tradisional populer atau kemersial seperti wayang wong, ketoprak, dan ludruk di kota-kota di Jawa yang menjadi semakin kurang total, akan tetapi setidaknya terdapat unsur “menonton secara sintesis dan mengerti” teater, masih ada.Seni pertunjukan teater tradisi yang sempat menjadi sri panggung seni dikarenakan kedudukan yang sangat terpusat dalam ritual keagamaan dan masyarakat, telah sampai pada kedudukan ganda ketika ia hadir pada masyarakat urban. Pertama adalah sebagai hiburan dan yang kedua adalah sebagai tuntunan. Pengasingan seni pertunjukan dari peran ritual, penyesuaian yang diperlukan bagi tuntutan jaman dan tempat, telah menjadikan seni pertunjukan teater tradisi selaku kebudayaan massa, sebuah fenomena yang tidak lagi padat.
Teater Tradisi Kini
Dewasa ini media massa merupakan tampuk dari segalanya. Dengan media, segalanya dapat menjadi lebih mudah, cepat dan praktis. Sebagai entitas budaya, media semakin melengkapkan diri ketika teknologi komunikasi menjadikan dunia bagaikan dilipat. Dalam hal ini teater tradisi pun tak luput dalam genggaman media. Bukan hanya ketoprak saja yang ditelevisikan, tetapi wayang kulit yang sampai kini belum menjadi wayang pop atau ketoprak massa seperti sandiwara radio atau sandiwara televisi seperti di Amerika Serikat.
Wayang tetap menjadi wayang, ketoprak tetap menjadi ketoprak, dan sandiwara tetap sandiwara yang berbeda dengan film ataupun video klip. Perkembangan ilmu dan teknlogi komunikasi dunia, dengan cepat merambat ke Indonesia sering tanpa filter yang cukup berarti kecuali barangkali bea masuk atau berbagai peraturan guna menjaga stabilitas kita dalam berbangsa dan bernegara kesatuan. Namun demikian, akulturasi, inkulturasi, dan asimilasi akan tetap berlangsung, karena media juga merupakan agen kebudayaan, agen transformasi budaya bangsa.
Almarhum Djadoeg Djajakusuma, dari IKJ merupakan salah satu tokoh di bidang kesenian pinggiran (tradisi). Tanpa pernah segan ia rajin bergumul dengan para seniman wayang orang, wayang kulit, lenong dan teater rakyat yang lain. Dibawanya kesenian-kesenian tradisional itu ke ranah seni modern di Jakarta. Salah satunya dengan memfasilitasi seni-seni tradisi ini untuk bisa pentas di Taman Ismail Marzuki yang pada masa-masa itu masih didominasi oleh gairah teater modern yang berkiblat ke Barat. Hasilnya cukup dahsyat. Di masanya, seni lenong berhasil direvitalisasi sampai bisa menggaet penggemar dari kalangan muda. Lewat kerja keras dan lobinya ke pemerintah DKI Jakarta, Wayang Orang Bharata seolah menemukan kembali semangat baru hingga mampu menjadi tontonan favorit, terutama di kawasan Senen.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dengan berubah bentuknya suatu seni pertunjukan, maka akan menghilangkan kearifan dan nilai estetis dari pertunjukan. Seni teater tradisi dewasa ini mulai menampakkan wajah barunya melalui berbagai inovasi agar mudah diterima oleh masyarakat kota. Misalnya, dengan membahas sesuatu yang “kekinian” pada saat tokoh Punakawan tampil, padahal setting waktu yang digunakan adalah jaman kerajaan. Atau ada pula istiah “Indonesiasi Wayang”, dimana wayang dimainkan dengan bahasa Indonesia. Ada pihak yang menyayangkan dan ada pula yang tidak. Padahal teater tradisi sendiri telah mengalami perubahan jauh-jauh hari ketika ia mulai keluar dari tembok keraton, lalu dinikmati oleh masyarakat non bangsawan. Karena kesenian merupakan suatu hal yang dinamis, maka ia mau tidak mau mengikuti selera masyarakat urban. Walaupun terkesan mengkapitalisasi seni teater tradisi dengan mengkomersialisasikannya, ini merupakan salah satu upaya agar masyarakat tetap menyadari keeksisan teater tradisi di tengah gempuran budaya asing.
Istilah teater tradisi adalah bentuk sajian teater yang berakar dari tradisi budaya suatu daerah tertentu. Teater tradisi yang dikatakan sebagai kesenian pinggiran atau kesenian rakyat, merupakan sebuah kepemilikan bersama oleh masyarakat. Setiap daerah dan wilayah memiliki kekhasannya tersendiri dalam menunjukan seni pertunjukannya. Teater tradisi merupakan bagian dari seni pertunjukan di Indonesia.
Seni pertunjukan merupakan sri panggung di antara semua seni di Indonesia. Tidak bisa tidak jika di dalam suatu negara di mana kepandaian membaca dan menulis yang popular dan fungsional, tidak pernah menjadi tradisi hidup dan di mana yang merupakan tradisi adalah masyarakat yang agraris serta komunal dan berorientasi pada raja. Ritual desa di seluruh nusantara pada kenyataannya merupakan seni pertunjukan tradisional yang mengagungkan para dewata atau para leluhur. Wayang Jawa, Sunda dan Bali tidak dapat dipisahkan dari ritual padi yang mengagungkan Dewi Sri dan para leluhur. Begitu pun dengan pertunjukan teater tradisi.
Ketika ibu kota kerajaan beserta tempat raja telah ditaklukan berkembang, seni pertunjukan yang diserap dan disucikan oleh keraton, menjadi bagian ritual fungsional dari istana. Dan ketika kota-kota besar dan kecil bermunculan dan berkembang, seni pertunjukan pun dijadikan seni pertunjukan bagi masyarakat urban. Dalam kasus ini teater tradisi yang pada awalnya merupakan kesenian yang berasal dari daerah atau desa karena terkondisi dengan adat istiadat, sosial masyarakat dan struktur geografis setiap daerah, kini mulai menjamah kota dengan segala inovasinya.
![]() |
| Sumber: Dokumen Pribadi |
Akan tetapi, kemerdekaan dan keputusan Republik yang baru untuk memperluas solidaritas kedaerahan menjadi solidaritas Indonesia yang satu, membawa dampak-dampak yang cukup besar. Generasi Jawa yang baru misalnya, makin lama makin banyak pengguna bahasa Indonesia sebagai media ekspresi mereka ketimbang bahasa ibu mereka sendiri. Ini mengarahkan kepada generasi baru yang semakin termarjinalkan dari bahasa serta sudut pandang pemikiran mereka. Bahasa Indonesia sendiri berhubungan dengan ide-ide modern dan baru yang mengarahkan kepada tertbitan-terbitan kontemporer. Dalam hal seni pertunjukan, mereka akan lebih tertarik pada teater dan film yang modern.
Teater modern sendiri merupakan tradisi baru bagi Negara. Sedangkan seni pertunjukan tradisi sendiri merupakan seni tua. Seni teater tradisi yang dikenal selamanya merupakan teater yang total dan sintesis, di mana teater itu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan alam. Para penonton menyaksikan dan menganalisis pertunjukan tidak secara terpisah, akan tetapi mereka adalah bagian dari pertunjukan tersebut. Walaupun terjadi perkembangan dari seni pertunjukan tradisional populer atau kemersial seperti wayang wong, ketoprak, dan ludruk di kota-kota di Jawa yang menjadi semakin kurang total, akan tetapi setidaknya terdapat unsur “menonton secara sintesis dan mengerti” teater, masih ada.Seni pertunjukan teater tradisi yang sempat menjadi sri panggung seni dikarenakan kedudukan yang sangat terpusat dalam ritual keagamaan dan masyarakat, telah sampai pada kedudukan ganda ketika ia hadir pada masyarakat urban. Pertama adalah sebagai hiburan dan yang kedua adalah sebagai tuntunan. Pengasingan seni pertunjukan dari peran ritual, penyesuaian yang diperlukan bagi tuntutan jaman dan tempat, telah menjadikan seni pertunjukan teater tradisi selaku kebudayaan massa, sebuah fenomena yang tidak lagi padat.
Teater Tradisi Kini
Dewasa ini media massa merupakan tampuk dari segalanya. Dengan media, segalanya dapat menjadi lebih mudah, cepat dan praktis. Sebagai entitas budaya, media semakin melengkapkan diri ketika teknologi komunikasi menjadikan dunia bagaikan dilipat. Dalam hal ini teater tradisi pun tak luput dalam genggaman media. Bukan hanya ketoprak saja yang ditelevisikan, tetapi wayang kulit yang sampai kini belum menjadi wayang pop atau ketoprak massa seperti sandiwara radio atau sandiwara televisi seperti di Amerika Serikat.
Wayang tetap menjadi wayang, ketoprak tetap menjadi ketoprak, dan sandiwara tetap sandiwara yang berbeda dengan film ataupun video klip. Perkembangan ilmu dan teknlogi komunikasi dunia, dengan cepat merambat ke Indonesia sering tanpa filter yang cukup berarti kecuali barangkali bea masuk atau berbagai peraturan guna menjaga stabilitas kita dalam berbangsa dan bernegara kesatuan. Namun demikian, akulturasi, inkulturasi, dan asimilasi akan tetap berlangsung, karena media juga merupakan agen kebudayaan, agen transformasi budaya bangsa.
Almarhum Djadoeg Djajakusuma, dari IKJ merupakan salah satu tokoh di bidang kesenian pinggiran (tradisi). Tanpa pernah segan ia rajin bergumul dengan para seniman wayang orang, wayang kulit, lenong dan teater rakyat yang lain. Dibawanya kesenian-kesenian tradisional itu ke ranah seni modern di Jakarta. Salah satunya dengan memfasilitasi seni-seni tradisi ini untuk bisa pentas di Taman Ismail Marzuki yang pada masa-masa itu masih didominasi oleh gairah teater modern yang berkiblat ke Barat. Hasilnya cukup dahsyat. Di masanya, seni lenong berhasil direvitalisasi sampai bisa menggaet penggemar dari kalangan muda. Lewat kerja keras dan lobinya ke pemerintah DKI Jakarta, Wayang Orang Bharata seolah menemukan kembali semangat baru hingga mampu menjadi tontonan favorit, terutama di kawasan Senen.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dengan berubah bentuknya suatu seni pertunjukan, maka akan menghilangkan kearifan dan nilai estetis dari pertunjukan. Seni teater tradisi dewasa ini mulai menampakkan wajah barunya melalui berbagai inovasi agar mudah diterima oleh masyarakat kota. Misalnya, dengan membahas sesuatu yang “kekinian” pada saat tokoh Punakawan tampil, padahal setting waktu yang digunakan adalah jaman kerajaan. Atau ada pula istiah “Indonesiasi Wayang”, dimana wayang dimainkan dengan bahasa Indonesia. Ada pihak yang menyayangkan dan ada pula yang tidak. Padahal teater tradisi sendiri telah mengalami perubahan jauh-jauh hari ketika ia mulai keluar dari tembok keraton, lalu dinikmati oleh masyarakat non bangsawan. Karena kesenian merupakan suatu hal yang dinamis, maka ia mau tidak mau mengikuti selera masyarakat urban. Walaupun terkesan mengkapitalisasi seni teater tradisi dengan mengkomersialisasikannya, ini merupakan salah satu upaya agar masyarakat tetap menyadari keeksisan teater tradisi di tengah gempuran budaya asing.
Daftar Pustaka˗ Kayam, Umar (1997). Jalasutra. Lifestyle Ecstasy; Budaya Massa Indonesia. Jakarta.˗ Jatman, Darmanto (1997). Jalasutra. Lifestyle Ecstasy; Pluralisme Media dalam “Era Imagology”: Sketsa Interaksi Budaya Media dengan Budaya-Budaya Etnik. Jakarta.˗ http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/23/djadoeg-djajakusuma-membangkitkan-seni-peran-tradisional-125237.html.˗ http://harrydfauzi.wordpress.com/tag/teater-rakyat/.
Selasa, 09 Juli 2013
Sejujurnya aku agak bosan dengan segala sikap "para-para" yang tidak dapat menahan egonya untuk tampil di forum. Isi perkataan mereka kopong, dangkal dan tidak dalam. Zonk.
Selama ini "para-para" itu hanya mempertontonkan keahlian dalam bicara. Jago sekali mendramatisir suasana sehingga hal remeh yang tidak perlu semua orang tau, menjadi suatu hal yang gawat darurat. Mereka kadang bingung memisahkan antara benang satu dengan yang lainnya sehingga berbelit dan menjadi kusut.
Jika diibaratkan, anggaplah ada beberapa biji telur yang terindikasi telur ayam, bebek, dan burung. Janganlah itu semua digabungkan dalam satu keranjang lalu dijual ke pasar. Nanti penjual bisa kelabakan ketika pembeli ingin membeli telur tertentu. Apalagi jika penjual ini tidak dapat membedakan yang mana telur ayam, bebek dan burung.
Begitu jugalah dalam sebuah permasalahan. Kita tidak dapat menyatukan masalah satu-dua orang menjadi masalah untuk keseluruhan orang, walaupun mereka semua bernaung di bawah nama yang sama.
Kita semua mungkin lupa di balik "penodongan" kesalahan terhadap orang lain juga mengandung kesalahan kita sendiri. Rupanya mereka lupa untuk selalu introspeksi diri dan bercermin apakah sudah pantas dan apakah mereka sudah sebaik-baiknya manusia.
Dan terkait dalam pendramatisir suasana, mungkin "para-para" itu terlalu banyak melahap sinetron di tv. Manusia modern produk metropolitan rupanya sangat jago sekali dalam meninggi-rendahkan nada ketika menghakimi orang lain. Entah sinetron mana yang sedang ditiru, mungkin sinetron hidayah di mana ada ustadz yang sedang menghakimi pasangan yang tertangkap berzinah. Kurang lebih dialognya begini:
"Ayo kita habisi makhluk pezinah ini! Mereka mencoreng nama agama dan nama baik kampung sini!"
Dan itu sama persis seperti di forum-forum yang penuh dengan ego untuk menghakimi dan merasa yang paling benar.
Ah, tahukah kalian (pembaca yang terdampar di blog ini) bahwa pada dasarnya aku lelah untuk terjebak pada semua sikap saling menghakimi itu. Maka aku hanya diam dan menunduk tanpa harus merasa ikut bicara.
Aku merasa sudah terlalu tua untuk meletup-letup dalam menggelontarkan kalimat non-ilmiah non-produktif itu. Juga merasa terlalu muda untuk langsung menyalahkan orang, merasa paling benar dan superior.
Dengan diam aku menemukan katarsis. Dengan diam aku dapat menjadi objektif selama forum berlangsung. Iya, diam saja.
Selama ini "para-para" itu hanya mempertontonkan keahlian dalam bicara. Jago sekali mendramatisir suasana sehingga hal remeh yang tidak perlu semua orang tau, menjadi suatu hal yang gawat darurat. Mereka kadang bingung memisahkan antara benang satu dengan yang lainnya sehingga berbelit dan menjadi kusut.
Jika diibaratkan, anggaplah ada beberapa biji telur yang terindikasi telur ayam, bebek, dan burung. Janganlah itu semua digabungkan dalam satu keranjang lalu dijual ke pasar. Nanti penjual bisa kelabakan ketika pembeli ingin membeli telur tertentu. Apalagi jika penjual ini tidak dapat membedakan yang mana telur ayam, bebek dan burung.
Begitu jugalah dalam sebuah permasalahan. Kita tidak dapat menyatukan masalah satu-dua orang menjadi masalah untuk keseluruhan orang, walaupun mereka semua bernaung di bawah nama yang sama.
Kita semua mungkin lupa di balik "penodongan" kesalahan terhadap orang lain juga mengandung kesalahan kita sendiri. Rupanya mereka lupa untuk selalu introspeksi diri dan bercermin apakah sudah pantas dan apakah mereka sudah sebaik-baiknya manusia.
Dan terkait dalam pendramatisir suasana, mungkin "para-para" itu terlalu banyak melahap sinetron di tv. Manusia modern produk metropolitan rupanya sangat jago sekali dalam meninggi-rendahkan nada ketika menghakimi orang lain. Entah sinetron mana yang sedang ditiru, mungkin sinetron hidayah di mana ada ustadz yang sedang menghakimi pasangan yang tertangkap berzinah. Kurang lebih dialognya begini:
"Ayo kita habisi makhluk pezinah ini! Mereka mencoreng nama agama dan nama baik kampung sini!"
Dan itu sama persis seperti di forum-forum yang penuh dengan ego untuk menghakimi dan merasa yang paling benar.
Ah, tahukah kalian (pembaca yang terdampar di blog ini) bahwa pada dasarnya aku lelah untuk terjebak pada semua sikap saling menghakimi itu. Maka aku hanya diam dan menunduk tanpa harus merasa ikut bicara.
Aku merasa sudah terlalu tua untuk meletup-letup dalam menggelontarkan kalimat non-ilmiah non-produktif itu. Juga merasa terlalu muda untuk langsung menyalahkan orang, merasa paling benar dan superior.
Dengan diam aku menemukan katarsis. Dengan diam aku dapat menjadi objektif selama forum berlangsung. Iya, diam saja.
Yovita Ayu Liwanuru (Miss Scuba Indonesia 2012) : “Kontribusi itu Sederhana”
Bergabung dalam ajang Miss Scuba Indonesia 2012, bukan tanpa alasan bagi Yovita Ayu Liwanuru, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2009, FISIP UI ini. Ia meraih prestasi yang membanggakan bagi Indonesia karena mendapatkan predikat Runner Up 1 Miss Scuba International 2012 yang diadakan di Bali pada bulan November tahun lalu.
Saat diwawancara SUMA UI (25/4), Yovita menceritakan pengalaman pertamanya mencoba olahrag air itu. Ia memiliki alasan utama untuk tertarik pada olahraga scuba diving itu diawali dengan melihat foto-foto underwater dari para fotografer bawah laut ternama Indonesia.
“ Aku langsung jatuh cinta sama keindahan alam bawah laut yang ada di foto-foto itu. Aku pun langsung berpikiran kenapa gak aku menikmati keindahan itu dengan mata kepala sendiri?”, ujar dara kelahiran Jakarta, 28 September 1991 ini. Setelah tertunda beberapa lama, pada tahun 2011, Yovita mengambil diving license di Bali. Ia mengaku excited pada pengalaman pertamanya pada saat turun pertama kali ke laut dan merasa ketagihan hingga sekarang.
Ia berbagi pengalaman pada saat mengikuti ajang Miss Scuba International 2012 yang menurutnya sangat tidak terlupakan. Ia merasa excited sekaligus gugup karena mewakili Indonesia pada Miss Scuba International 2012. Karena itu persiapan yang dilakukan pun sungguh serius untuk menampilkan yang terbaik, seperti menambah wawasan akan dunia diving, konservasi laut, diving skill, hingga ke persona talent. “ Dan ternyata ketakutan-ketakutanku itu hanya di pikiranku saja. Miss Scuba International seru banget! Pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup”, ceritanya.
Bertemu dengan teman-teman baru, mulai dari USA, Hungaria, sampai Latvia, di mana sama sekali tidak ada jarak dan perbedaan, membuat Yovita tidak merasa seperti berkompetisi karena saling mendukung satu sama lain layaknya keluarga. Peserta tentunya saling berbagi cerita akan alam di negara masing-masing, hingga sharing mengenai konservasi yang memang juga menjadi concern bagi Miss Scuba. Kemenangannya sebagai 1st Runner Up merupakan hadiah karena semua kontestan sangat kompeten. Kepada masyarakat Indonesia ia bersyukur dan berjanji untuk terus mempromosikan kekayaan alam bawah laut Indonesia ke masyarakat Indonesia sendiri dan dunia untuk ikut menikmati dan menjaganya bersama.
Yovita mengakui bahwa ia menikmati bertemu dengan biota-biota laut yang warna-warni, lucu, dan aneh-aneh di bawah sana. Indonesia memiliki spesies ikan dan terumbu karang yang sangat bervariasi dan memang sudah diakui di dunia. Ia menjelaskan bahwa titik selam di Indonesia yang terhitung sampai sekarang mencapai 300 lebih. Setiap titik punya keunikan dan ciri-ciri biota yang bermacam-macam. “Jadi kalau ditanya di mana tempat menyelam di Indonesia yang paling bagus, pasti aku akan jawab tergantung ingin melihat apa. Kalau mau lihat penyu, datanglah ke Derawan dan beberapa tempat di Sulawesi. Kalau mau lihat whale sharks datanglah ke Papua. Kalau mau lihat binatang-binatang makro yang kecil-kecil dan unik, Alor dan Lembeh adalah surganya”, promosi anak pertama dari pasangan Frans Liwanuru dan Suswati Handayani ini.
Ketika ditanya mengenai kelestarian alam bawah laut yang memang salah satu concern Miss Scuba Indonesia dan Internasional, Yovita menekankan bahwa kita manusia tidak hanya menikmati keindahan laut, tapi juga berkontribusi untuk menjaganya hingga generasi seterusnya. “ Sebenarnya gak muluk-muluk untuk sekedar kontribusi, sesederhana tidak membuang sampah ke laut kalau jika kita sedang jalan-jalan ke laut atau pantai”.
Ia juga menyarankan agar manusia harus pintar dalam mengonsumsi makanan laut karena ada yang sustainable dan ada yang tidak, seperti sup hisit (sup sirip ikan hiu). Hiu adalah salah satu makhluk laut yang harus dikasihani bagi Yovita. Pasalnya, waktu beranak dan dewasa ikan hiu lebih lama sedangkan manusia terus-terusan menangkap dalam jumlah besar hanya untuk diambil siripnya lalu dibuang lagi ke laut. Jika populasi hiu terancam, tentunya ekosistem laut juga akan ikut terancam dan bisa mempengaruhi manusia yang di ada darat. “ Ingat, bumi lebih dari 70 persennya adalah laut. Manusia, alias kitalah, yang pegang kendali akan kelestarian alam kita dan diri kita pun anak cucu kita”, pesannya.












.jpeg)

