Pages

Sapa

Senin, 10 November 2014
Hujan ini datang lagi
Mengobati rinduku akan udara dingin
Dan tetes-tetes gemerisik yang berdengung di kupingku

Hujan, terimakasih telah hadir di saat yang tepat :)

#Cheers, to the new "me"

Etnis Cina di Asia

Senin, 02 Juni 2014

Menyeksamai buku Harga Yang Harus Dibayar; Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia, kembali membawa saya untuk kembali berpikir bahwa tidak mudah menjadi masyarakat minoritas di negara yang tengah membangun seperti di Indonesia.

Peristiwa Mei 1998 merupakan peristiwa yang sangat mengguncang bagi etnis Cina yang mengingatkan kita pada Peristiwa Nanking. Disebut sebagai sebuah guncangan karena terdapat kasus pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan etnis Cina.

Saya sangat tergugah dg esai yg ditulis.oleh Wang Gungwu, sejarawan yg saya kira hanya berada di diktat Historiografi-nya Pak Adri, ternyata menjadi kontributor dalam buku yg disusun oleh Romo Wibowo ini.

Dalam esainya, Wang Gungwu berpendapat bahwa kasus etnis Cina yg bermigrasi ke Asia Tenggara menceritakan hal yg sama, yaitu suatu upaya kolektif untuk melebur dg kebudayaan lokal.

Di negara Thailand, yg negaranya terbebas dari penjajah asing, etnis Cina tidak mengalami kesulitan dalam mengamini sejarah negara tsb sehingga dg mudah mereka dapat diterima dan ikut berjuang bersama mempertahankan kedaulatan negara.

Di Vietkong, Kamboja, dan Burma pun senada. Etnis Cina dapat diakui sebagai bagian dari negara tersebut dikarenakan latar belakang kepercayaan dan literatur yang mirip dg negara asal mereka.

Malaysia pun sejak zaman pemerintahan kolonial Inggris, etnis Cina terdidik mulai ambil bagian tidak hanya pada bidang ekonomi, melainkan jg hukum dan politik.

Yang berbeda justru di Indonesia. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda,  etnis Cina dipersempit ruang geraknya hanya pada batas ekonomi. Kalaupun ada yg ambil bagian dalam kancah perpolitikan, tidak memiliki dampak yg besar dan heroik seperti para founding fathers. Sejak awal Belanda memang memisahkan etnis Cina dg Pribumi dengan didirikannya sekolah-sekolah berdasarkan kalangan. Maka etnis Cina pun tidak terbiasa melek dg sejarah lokal, melainkan sejarah negara asalnya dan juga sejarah kejayaan kolonial Belanda.

Dan masa awal pendudukan Jepang di Indonesia yg awalnya disambut baik masyarakat pribumi, membuat etnis Cina semakin jauh dari rasa juang bersatu dg pribumi. Memori kolektif mereka menuntut untuk tidak bekerjasama dg "murid durhaka" itu.pasca peristiwa Nanking.

Hal-hal di atas menurut saya, yg menyebabkan etnis Cina terkesan apolitis dan ahistoris akan negara ini. Mereka terkesan hanya ambil untung sebanyak-banyaknya di negeri kita. Menjadi bunglon di mana saja asal untung dan selamat.

Dan terakhir perlu saya katakan bahwa bangsa kita adalah memang bangsa yg pelupa. Lupa akan sejarah. Lupa akan sanak-saudara jauh yg dulu sekali pernah membantu. Padahal tidak perlu diragukan lg bahwa budaya Cina telah berasimilasi dg budaya lokal. Para imigran Cina pun banyak membagi kemajuan teknologi peradaban dari negara mereka. Segala aspek tak ada yg luput bahwa negara ini pernah begitu akrab dengan mereka.  Ya, bangsa ini memang pelupa.

Minggu, 01 Juni 2014
Siapa tahu kita akan tenang dengan ruang yang dihuni waktu: 

pintu kayu besi yang dibalur lumut, engsel yang digerus asin laut, gambar dua mendiang presiden pada dinding….
Mungkin mercu ini akan melindungi kita
dari hal-hal yang berarti,

dengan tamasya yang minimal.


Seorang penjaga pernah menuliskan

satu kalimat di langit-langitnya,

“Cahayaku memberikan segalanya ke samudera.”

-- Goenawan Mohamad dalam  Di Mercu Suar


Book Review: Maya

Sabtu, 31 Mei 2014
Hi, fellas! Sebenarnya ini late post. Tapi saya ingin kembali menulis di sela kesibukan UAS dan stressnya wedding preparation :))
________________ 

Jujur harus saya katakan bahwa Ayu Utami merupakan penulis favorit saya sehingga objektivitas terhadap karya-karyanya pun sudah kabur digerus oleh rasa kagum dengan segala detil tulisan mereka. 

Pada tahun 2013, Ayu meluncurkan kembali Seri Bilangan Fu keempat yang berjudul Maya. Sesuai dengan sinopsis Maya pada sampul belakang, novel ini berlatar peristiwa pra-reformasi. Akan tetapi pembaca tidak akan menemukan adegan demo dan segala macam orasi oleh para aktivis, melainkan cerita yang berpusat di wilayah Padepokan Suhubudi. Novel ini merupakan lanjutan dari kisah Saman dan Larung. Atau lebih tepatnya sebagai bagian perpisahan para pembaca dengan tokoh Saman yang setelah dua tahun dinyatakan hilang. 

Novel Maya terdiri dari tiga bab; Kini, Dulu, dan Kelak. 

Kini dan Kelak

Yasmin yang masih berusaha mencari jejak Saman setelah dua tahun tidak ada kabar. Dua buah surat yang dialamatkan kepada Yasmin semakin menguatkan bukti bahwa masih ada harapan bahwa Saman masih hidup. Maka Yasmin pun berangkat ke Jogja dengan bekal dua buah surat dan sebuah mustika, mendatangi Padepokan Suhubudi. Saat itu Indonesia sedang bergejolak karena rezim Soeharto mulai goyah dan reformasi mulai gencar disuarakan.

Pada bab ini, Ayu menempatkan sebagian besar alur cerita di Padepokan Suhubudi. Sebuah padepokan milik seorang guru spiritual yang bernama Suhubudi. Suhubudi adalah manusia eksentrik yang sangat menjunjung tinggi spritualitas dengan alam dan masa lalu. Dengan prinsip itu pula, Suhubudi menampung orang-orang (atau para makhluk) yang dikatakan masyarakat sekarang sebagai orang cacat, imbesil, atau tidak sempurna.

Ketika saya mulai membaca novel ini, saya berharap masih bisa bertemu dengan tokoh-tokoh lain seperti Yuda, Marja, Shakuntala, atau bahkan Lalita. Karena pada dasarnya saya sangat menyenangi tokoh-tokoh yang diciptakan Ayu dan diceritakan secara sepotong-sepotong sehingga selalu ada kejutan pada setiap lembar novelnya. Akan tetapi di novel ini, cerita memang berpusat pada Saman, Yasmin, Parangjati, dan dengan tambahan Maya sebagai tokoh yang mengajarkan nilai estetika untuk pembaca. Kekecewaan saya sirna ketika Ayu dengan cerdasnya menggambarkan bagaimana menjadi makhluk yang buruk rupa, jauh dari sempurna, dan tidak selalu diinginkan.

Para penghuni padepokan mengajarkan pada pembaca bahwa ketidaksempurnaan memiliki konsep kesempurnaannya sendiri. Tokoh Maya memainkan peran bahwa bukan keindahan yang menjadikan manusia istimewa di hadapan Bhatara Guru, melainkan pengabdian. Maya percaya bahwa ia adalah abdi seni, abdi Eyang Ki Lurah Semar, sebuah simbol pertahanan, dewa bagi orang-orang berkaki pendek, dan penenang bagi mereka yang bersedih dengan ketidaksempurnaan. 

Dulu

Pada bab ini, Ayu mengajak pembaca bernostalgia dengan pengalaman Saman ketika ia baru saja diangkat menjadi frater. Karena concern di bidang pertanian, maka ia ingin mempelajari spiritualitas pertanian dengan Suhubudi. Dan yang membuat saya gemas adalah pertemuan Saman dengan Parangjati kecil yang pada akhirnya membuat mereka akrab dan saling surat-menyurat satu sama lain. Sebelum berpisah, Parangjati menghadiahi Saman sebuah mustika yang ia temukan ketika bermain di kaki gunung. Batu itu bernama batu Super Semar. 

Orang-orang percaya bahwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang asli telah hilang. Yang ada hanyalah salinannya. Tapi, para juru klenik bercerita bahwa pada saat itulah batu mustika tersebut muncul begitu saja. Sebutir batu akik dengan wajah Semar dan dua garis seperti angka sebelas di dalamnya. Batu itu hadir secara gaib, sebagai tanda restu roh nusantara terhadap pemerintahan Orde Baru. Batu Supersemar mengandung restu kekuasaan untuk satu dasawarsa. Legitimiasi dari rakyat bisa diperoleh lewat pemilu setiap lima tahun sekali. Akan tetapi restu dunia gaib harus didapat setiap sepuluh tahun. Maka diam-diam terjadilah perburuan batu ini. 

Banyak pihak yang menyayangkan sikap Suhubudi yang merestui niat Parangjati untuk memberikan batu itu kepada Saman. Sehingga jejak batu itu tidak dapat ditemukan karena telah menjadi milik pribadi. Hingga akhirnya Saman mengirimkan surat kepada Yasmin beserta mustika yang tidak diketahui nilainya  itu. 
_________
Saya selalu salut dengan perjuangan Ayu dalam mengembangkan ide cerita sehingga membuat saya haus untuk terus membaca dan bahkan mengulang lagi untuk membaca karya-karyanya. Gelar Ayu sebagai Kritikus Spiritual memang cocok dan patut diberi standing applause atas karya-karyanya yang berani, menggugah, dan bermuatan kearifan nusantara. 
Bersama novel ini, pembaca juga diajak untuk lebih kritis terhadap semboyan #MenolakLupa yang sering digembar-gemborkan oleh para aktivis. Dan saya selalu suka cara Ayu menghadirkan "kebetulan-kebetulan" yang ellegant. 
Terakhir saya hadirkan quotes favorit saya:


“Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?” 


Persiapan #1

Selasa, 08 April 2014
Tahun ini terasa penuh buat saya. Entah~ Mungkin karena jadwal rencana pernikahan yang semakin dekat, walaupun pihak keluarga kami belum menentukan tanggal pasti.

Sebenarnya ada banyak hal yang harus dipersiapkan, bukan hanya persiapan permukaan, seperti: surat nikah di KUA, akad, dan wedding preparation yang mestinya dipersiapkan jauh hari, tapi juga persiapan mental dan persiapan kecakapan dalam urusan rumah tangga.

Kalau boleh dibilang, minta saya untuk merapikan sebuah kapal pecah, mendesain rumah, mengangkat galon,  mengganti ban mobil, mencangkul, memaku, dan menggeser lemari besar, tapi jika untuk urusan memasak, saya takut orang yang memakan masakan saya sakit perut atau malah jijik dengan tampilan masakannya.

Saya mau dan bisa masak, tapi belum terlatih. Ketika saya SD, tidak ada keinginan sama sekali untuk memperhatikan mama saya memasak di dapur. Pun ketika Tsanawiyah di mana saya hanya pulang setahun dua kali ke rumah di Kalimantan Selatan. Dan saat SMA, saya beranggapan bahwa "dapur" hanyalah tempat untuk mendiskriminasi perempuan. Maka komplit sudah saya tidak bisa membedakan yang mana jahe, mana lengkuas. Ke dapur hanya sekedar merebus mie, membuat teh atau kopi, dan menggoreng ayam jika kepepet.

Saya punya kakek yang suka sekali memasak, yah walaupun sebagian besar hanyalah hasil eksperimen beliau. Jika sedang memasak tidak boleh diganggu, bahkan oleh mama saya. Jadilah si Kaik (panggilan kakek untuk orang Kalimantan) yang memasak setiap hari di rumah. Dan saya yang memang tidak ada keinginan untuk belajar, semakin terfasilitasi dengan adanya Kaik yang suka memasak. :3

Dan sekarang umur saya hampir 22 tahun dan masih belum mahir memasak. Sejak memutuskan untuk menikah muda, saya bertekad akan menjadi istri dan ibu yang hangat, penyayang, dan masakannya selalu dinanti ketika tiba waktunya makan. Asalkan diberi kepercayaan penuh, saya pasti akan bersemangat memasak. Tahun 2013 lalu saya tinggal di rumah Tante saya selama 2 bulan. Di sana saya mulai belajar masak yang gampang-gampang seperti Tumis Kacang Panjang, Oseng Tempe, Jamur Saos Tiram, dan lain-lain. Yang berhasil tentunya langsung saya "persembahkan" untuk Kakak, yang gagal saya makan sendiri walaupun enggan. Hahaaa...

Walaupun begitu, saya yakin akan menjadi koki rumah tangga yang handal, yang masakannya selalu dirindukan suami dan anak. Yang terpenting adalah mau belajar dan memberikan yang terbaik untuk orang yang disayangi. Amien.

Salam, Ummi.

Just Another Insomnia

Hai, sudah lama saya tidak menulis, baik di buku diary maupun di blog. Rasanya ada sesuatu yang saya lewatkan selama ini. Apa ya? Something like i've been hide and seeking for  my weakness, but that's really show'em up.

Dan kalian tahu? Saya kehilangan rasa percaya diri atas tulisan-tulisan saya sendiri. Bisa dibilang seperti saya meletakkan pena saya untuk beberapa lama dan pergi mengembara, berpikir ingin menulis apa, tapi tidak mendapat inspirasi-- malah kekosongan. Yeah, i feel the emptiness.

Kali ini saya akan mencoba menuliskan tentang saya--tidak akan sok mengajari lagi seperti di tulisan-tulisan sebelumnya. Ya, semoga.

Dialog Batu

Rabu, 26 Maret 2014
Malam ini aku berjongkok di atas tanah, mengambil batu berukuran sedang. Kuusap-usap supaya debu di badannya hilang. Malam ini, dengan ke-egoisanku, ia kupaksa untuk punya telinga dan mata karena aku mau cerita. Kenapa aku cerita pada batu? Karena sudah susah mencari orang yang terpercaya di muka bumi ini. Dan juga, karena ia tidak akan mengejekku, dia kan tidak punya mulut! Haha...

Mata batu berkedip-kedip. Aku dengan muka setanku memulai bicara,
" Kau tahu batu? Negeriku ini sudah tidak jelas lagi akan status sosial-nya. Aku sampai bingung membedakan satu dengan yang lainnya. Yang mana perempuan, mana laki-laki. Yang mana ibu, yang mana ayah. Yang mana preman, yang mana mahasiswa. Yang mana artis, yang mana bupati. Yang mana bandit, yang mana polisi. Yang mana tikus, yang mana cicak dan buaya".

" Dan yang paling membingungkan, jika memang tiba musimnya nanti adalah yang mana calon dewan dan yang mana badut? Sampai sekarang, aku suda sudah hampir kepala dua ini masih bingung membedakan", kataku sambil emosi kepada batu. Batu hanya berkedip-kedip.

" Nampang sana, nampang sini. Senyum sana, senyum sini. Pose dan penampilan pun berbagai macam~ ada yang mengepalkan tangan ke atas, ada yang berpose salaman. Dan penampilannya??! Amboi, seperti mau umroh saja. Padahal kelakuan juga suka ke rumah plesiran di Pembatuan sana".

" Padahal sudah periode lalu dia nampang seperti itu gambarnya di depan pasar Kamaratih. Tidak taunya hanya membuat hancur saja pasar rakyat itu. Dibangunnya hotel mewah supaya bisa nginap gratis. Tambah gendut perutnya, kongkalingkong kekenyangan. Tak malukah dia? Mengaku-ngaku membangun daerah, padahal yang ditumpuk hanyalah sampah. Anaknya yang dungu sekarang hanya duduk sambil bbm-an di Senayan sana. Padahal bikin skripsi saja tidak bisa. Itu yang mau memperjuangkan daerah di Jakarta?".

" Tapi saatnya bencana dan krisis datang, dia hanya berpidato dengan kata "sebaiknya kita", "seharusnya kita". Bla, bla, bla, bla~"


Aku menarik nafas sejenak. " Kau tau seberapa jauh kebusukannya? Sampai aku di Pulau Jawa inipun masih keciuman. Gusti, rasanya ingin membunuh saja mereka yang tambah gendut kesenangan karena joki. Muak!". Kulemparkan batu ke tanah lagi. Pergi, lagi. Meninggalkan realita akan daerahku yang KALah SELalu.

Calm Down