Pages

Being Parents

Rabu, 29 Juli 2015
Apakah pernah terpikir oleh para calon orangtua, para pasangan muda yang baru saja menikah; apakah mereka pantas menjadi orangtua? Apakah mereka sudah cukup baik untuk menjadi panutan anak-anaknya? Apakah mereka selalu bangun pagi dan memasak sarapan? Apakah mereka akan kompak dalam mendidik anak-anaknya? Sudah dipersiapkan dengan baikkah mental dan kondisi perekonomian mereka?

Di sini saya sering sekali menemukan anak yang menjadi korban keegoisan orangtuanya. Ada yang tidak terawat karena ibunya sibuk memikirkan diri sendiri, ada yang kurus kering karena ayahnya tidak mencari nafkah dan menghidupi keluarga, ada yang begitu keras kepala karena sering terlalu dimanja dan dikabulkan keinginannya, ada yang tidak percaya diri karena sering dicap oleh orangtuanya, ada yang tidak mau berbagi karena tidak pernah diajari, dan lain sebagainya.

Seperti apa sih menjadi orangtua itu? Seperti apa menjadi ibu?

Apakah sangat menyenangkan seperti yang terlihat dalam akun instagram para seleb muda yang baru menikah dan punya anak, macam Dude Herlino dan Alyssa Soebandono? Ataukah penuh semak belukar dan rawan perceraian, seperti beberapa orangtua yang saya temui?

Memikirkan itu semua membuat saya merenungi diri apakah sudah cukup pantas menjadi orangtua, sehingga ada perjanjian-perjanjian tidak tertulis untuk diri saya sendiri.

~ Semoga segala kebaikan selalu menyertai kita semua. Amien.

Keluh

Sabtu, 11 Juli 2015
Memang susah menghadapi manusia pemalas, manusia yang dididik dengan internet dan kemudahan hidup. Pemimpi ulung, penggapai kesuksesan instan. Minu etos! Not valuable!

(Review) Babies-Thomas Balmes

Kamis, 09 Juli 2015
Judul: Babies
Type: Film Dokumenter
Sutradara: Thomas Balmes
Durasi: 79 menit



“A baby is God's opinion that the world should go on.” 
― Carl Sandburg

Film dokumenter ini menceritakan kehidupan empat bayi dari negara yang berbeda. Adalah Ponijao (Namibia, Bayar (Mongolia), Mari (Tokyo), dan Hattie (San Fransisco), yang ditampilan sejak saat baru lahir hingga dapat berjalan. Keempat bayi ini tumbuh besar di lingkungan, budaya, dan kondisi keluarga yang sangat berbeda. 
Ponijao
Scene dimulai dari Ponijao, seorang bayi yang lahir dari suku Himba di Opuwa, Namibia. Lingkungan tempat Ponijao lahir dapat dikatakan masih sangat primitif dan tentu saja unik. Di tempat tinggalnya tidak ada dokter, susu formula dan makanan bayi tambahan. Ponijao murni menggunakan alam dan interaksi dengan teman sebaya untuk memenuhi hasrat keingintahuannya.
Di Mongolia, ada Bayar, bayi pasangan nomaden Mongolia yang bekerja sebagi peternak. Bayar tinggal di padang sabana yang terhampar luas dengan langit biru yang membentang indah. Saat ibunya sedang mengurus ternak, Bayar ditinggal dengan kakaknya, Degi yang suka mengganggu. Sejak awal, Bayar sudah terbiasa berinteraksi dengan kucing, ayam dan sapi di lingkungannya. Karena daerah tempat tinggal Bayar sulit air, ia dan keluarga harus hidup efisien.
Bayar
Di Tokyo dan San Fransisco, Mari dan Hattie hidup bersama ayah dan ibunya dalam nuansa perkotaan. Mari dan Hattie mendapat perawatan mapan ala bayi perkotaan, seperti senam perkembangan otak, berenang di kolam, bermain di taman, mengunjungi kebun binatang, dan bersosialisasi dengan bayi-bayi lain di sebuh perkumpulan. Mari dan Hattie adalah gambaran bayi mapan yang tercukupi kebutuhannya.
Mari
Dalam segi sosial, Ponijao dan Bayar lebih mandiri karena "dibiarkan" mengenali lingkungan dan alam sekitar. Ada adegan menggemaskan saat Ponijao didorong oleh teman sebayanya yang dibalasnya dengan sebuah gigitan dan atau adegan Bayar yang kerap diusili oleh kakaknya. Dapat dikatakan Ponijao dan Bayar adalah contoh anak yang "dibiarkan" bergaul dengan manusia lain tanpa adanya pengawasan ketat dari orangtua dan menjadikan mereka sebagai anak yang riang, mudah bergaul, dan cepat belajar. Berbeda dengan Ponijao dan Bayar, Mari dan Hattie dalam kesehariannya kerap diawasi oleh orangtuanya. Yang menarik adalah ada adegan di mana Mari terlihat frustasi dengan kumpulan mainannya dan tidak banyak berinteraksi dengan bayi lain. 
Hattie

Keempat bayi dalam film ini ditampilkan secara jujur, tanpa adanya campur tangan dari pihak lain, tanpa ada dialog panjang, hanya bayi, bayi dan bayi. Momen-momen menawan dari mereka pun tak luput dari perhatian, mulai dari saat lahir, membuka mata untuk pertama kali, menangis, tengkurap/tiarap, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Film ini ingin mengatakan bahwa secara umum, perkembangan bayi di berbagai tempat sama. Yang membedakan hanyalah lingkungan dan situasi tepat mereka bertumbuh.
Proses pembuatan film dokumenter ini menghabiskan waktu sekitar dua tahun. Rata-rata ia akan berada di tiap-tiap keluarga selama dua minggu untuk merekam momen-momen tumbuh kembang mereka. Balmes mengambil gambar selama 45 menit setiap hari sehingga terkumpul video mentah selama 400 jam yang diedit menjadi film berdurasi 79 menit. Walaupun bayi-bayi ini belum sadar kamera, akan tetapi momen-momen yang ditangkap sangat lucu, unik dan juga mengharukan.

* * *
Menurut saya, walaupun kehidupan Ponijao dan Bayar tidak sebersih dan sebaik Mari dan Hattie, tapi mereka mendapatkan satu pelajaran yang paling mempengaruhi tumbuh kembang sebagai anak manusia, yaitu interaksi dengan alam bebas. Ponijao dan Bayar adalah contoh dari bayi yang dididik mandiri sejak dini. Mengandalkan insting, mereka menjadi bayi yang cepat belajar dan mudah bergaul. Ibu saya menamainya dengan istilah "anak alam", anak hasil didikan alam. Sedangkan bayi seperti Hattie dan Mari, walau memang tampak sekali sangat tercukupi kebutuhannya, perkembangannya lebih lamban dibandingkan anak alam karena kerap dibantu dan difasilitasi oleh kedua orangtuanya. 
Dan saya menangkap pesan bahwa dalam kehidupan yang serba kekurangan sekalipun, kebahagian tidak akan pernah pelit menampakan wujudnya. 
Selamat menonton :)

(Review) Pulang-Leila S. Chudori

Rabu, 08 Juli 2015
Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 464 hlm.


Melengkapi bacaan tentang sejarah kiri di Indonesia, saya memilih Pulang. Novel ini mengambil garis linear antara peristiwa G-30 S(PKI) 1965, Revolusi Mahasiswa di Paris pada Mei 1968, Tragedi Kerusuhan Mei 1998, dan Runtuhnya Rezim Orba di Indonesia. Dimas Suryo, Nugroho Dewanto, Tjai, dan Risjaf, adalah empat sekawan yang tidak dapat pulang ke Tanah Air setelah peristiwa September 1965. 

Dimas Suryo, tokoh utama dalam novel ini, awalnya merupakan aktifis yang "netral"di Kantor Berita Nusantara, tidak memihak kiri (PKI dan Lekra) dan kanan (Masjumi). Adalah Hananto, atasan sekaligus mentor Dimaslah yang giat mengajak dan memperkenalkan dirinya dengan kawan-kawan Lekra. Hananto adalah tipikal aktifis sekaligus wartawan berwajah flamboyan yang tidak hanya bersemangat menyerukan komunisme di Indonesia, ia juga sangat bersemangat mengembara ke pangkuan perempuan-perempuan klas proletar walaupun ia sudah beristri. 


Walaupun kadang Dimas menghadiri acara kumpul-kumpul dan diskusi Lekra, ia menolak dan tetap bersikukuh tidak bergabung dengan mereka dan membentengi diri dengan sikap netral. Akan tetapi karena urusan rumah tangga Hananto yang sedang di ujung tanduk, Dimas terpaksa menggantikan Hananto untuk menghadiri konferensi International Organization of Journalist di Santiago, Cile pada September 1965. Perjalanan yang awalnya hanya untuk kunjungan, tertahan oleh kemungkinan akan ikut "diciduk" oleh aparat akibat peristiwa pembantaian para jenderal dan pembuangan jasad mereka di Lubang Buaya yang disinyalir perbuatan PKI. Penangkapan, interogasi, penculikan dan pembunuhan terhadap aktifis, sanak, kerabat, dan siapa pun yang pernah berhubungan dengan PKI pun digencarkan setelah Presiden Soekarno menandatangani perjanjian Supersemar. Dari situlah dimulai pengembaraan Dimas dan kawan-kawan ke beberapa negara, yang akhirnya disepakati menetap di Paris.


Dalam usahanya mencari cara untuk pulang, Dimas Suryo menikah dengan Viviene Deveraux, perempuan yang sangat terpelajar dan mau menerima Dimas dan kawan-kawan walaupun mereka eksil politik Indonesia. Setiap tahun, Dimas dan kawan-kawan mengajukan visa untuk ke Indonesia, akan tetapi pada saat itu juga langsung ditolak oleh KBRI karena ada kegiatan "Bersih Lingkungan" dan "Bersih Diri" yang diserukan oleh pusat.  Untuk mengobati kerinduan akan tanah air, Dimas dan kawan-kawan mendirikan restoran berbentuk badan koperasi yang bernama Restoran Tanah Air.

Walaupun jarak memisahkan, Dimas dan adiknya, Aji masih tetap berhubungan melalui telegram. Dalam surat Aji, selalu terselip kabar Surti, janda Hananto beserta kabar anak-anaknya, Kenanga, Bulan dan Alam. Walaupun sedikit, Dimas kadang mengirim bantuan secara finansial kepada Surti. Dimas dan Surti memiliki hubungan pada saat mereka masih kuliah di Fakultas Sastra & Filsafat UI dan berakhir dengan Surti yang memilih untuk mengakhiri hubungan dan menikah dengan Hananto.

Tahun demi tahun berlalu, Lintang Utara, buah pernikahan Dimas dan Viviene, tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang cerdas di bawah didikan Dimas yang pemuja sastra dan Viviene yang saat itu menjadi dosen di Sorbonne. Saat mengerjakan tugas akhir kuliah, dosen pembimbingnya menganjurkan agar Lintang membuat film dokumenter tentang G-30 S/PKI, di mana ayahnya merupakan bagian dari dampak peristiwa tersebut. Awalnya Lintang merasa Indonesia adalah negara asing sekaligus akrab bagi dirinya. Akhirnya terpaksa ia menemui ayahnya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia ajak bicara karena suatu insiden.

Dengan membawa banyak pesan, banyak nama, dan titipan rindu, Lintang pada tahun 1998 menapakkan kakinya di negara asal ayahnya.Dengan bantuan keluarag, koneksi, juga sahabat, Lintang mulai mengerjakan proyek film dokumenter. Di sana ia bertemu dengan nama-nama yang ia sering dengar di Paris seperti Om Aji, Tante Retno, Rama, Andini, Bimo, Surti, Kenanga, Rukmini dan terutama Alam.


* * *

Hampir semua bangsa memiliki memori kolektif, seperti peristiwa genosida bangsa Yahudi yang dilakukan Jerman, genosida pada bangsa Armenia oleh Turki Utsmaniyah atau Revolusi Kebudayaan di RRT. Peristiwa G-30 S/PKI 1965 merupakan salah satu dari sekian memori kolektif bangsa Indonesia.

Mengacu pada peristiwa 1965, dewasa ini banyak sekali buku-buku baik fiksi maupun non fiksi hadir di tengah masyarakat, menguak tabir yang selama ini ditutup-tutupi oleh pemerintah orde baru dan kroni-kroninya. Berbagai kesaksian diungkapkan, ditulis, diberitakan dan dipublikasikan secara luas sehingga menjadi kisah yang kadang mengharukan, kadang memilukan, dan kadang membakar semangat. Peristiwa G-30 S/PKI adalah peristiwa yang tragis yang pernah terjadi di bumi pertiwi ini, yang sampai sekarang pun belum jelas siapa yang harus bertanggung jawab terhadap ribuan pembantaian aktifis PKI dan Gerwani.

Pada pertengahan tahun 2013, saya ikut menonton pemutaran tertutup The Act of Killing, film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yang mengisahkan tentang bagaimana cara pembantaian orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari setahun (1965-1966). Beberapa kesaksian membuat saya miris karena terlalu kejam jika dilakukan oleh anak manusia kepada anak manusia.

Novel "Pulang" mengangkat hal yang sama walaupun berbeda sudut pandang, yaitu dari korban yang tak dapat pulang ke Tanah Air. Alur yang digunakan adalah alur maju-mundur yang membuat pembaca semakin penasaran dengan akhir kisah novel ini. Gaya bahasa yang digunakan pun ringan dan mengalir secara elegan. Emosi pada cerita begitu dalam karena unsur cinta, perjuangan, dan kemanusiaan bercampur sehingga meninggalkan haru. Saya rasa novel sebagus ini tentu berasal dari wawancara pengalaman pribadi para eksil di luar sana yang tidak dapat pulang selama puluhan tahun.

Keterkaitan antara peristiwa 1965 dengan 1998 merupakan titik yang berkesinambungan, di mana angkatan 1965 menghasilkan korban sanak-keluarga dan kerabat yang juga diciduk aparta yang nantinya akan berjuang menjadi angkatan 1998, yang dalam hal ini bukan saja para mahasiswa, melainkan juga para aktifis LSM dan saksi. Bisa saja hubungan itu ada dan kemungkinannya sangat besar karena masih dalam lingkup masa kecil atau remaja pada saat pembantaian tersebut terjadi.

Selamat membaca :)

My Man

Selasa, 07 Juli 2015



Komitmen

"Kita harus berkomitmen dalam hubungan ini".
"Dimana komitmen kamu di organisasi?".
"Komitmen itu penting dalam seuah hubungan".

Seberapa sering kamu mendengarkan kata komitmen? 
Aku sering dengar waktu kecil orang mengucapkan kata "komitmen". Baik dari keluargaku maupun orang-orang sekitar yang berada di lingkungan perkembanganku ketika kecil. Didalam pikiranku yang samar-samar ketika itu, komitmen adalah sesuatu yang sakral seperti sebuah tiang untuk berpegangan. Ketika dijalani tidak boleh dilanggar.


Setelah menginjak hampir umur 17 tahun, aku lambat laun mulai mengerti apa yang dinamakan komitmen. Walaupun aku belum bisa mendefinisikan seperti di kamus oxford dan saat itu memang belum ada desire untuk membuka KBBI, aku mengerti rasa dan baunya. Bukan wujudnya. Menentukan definisi itu bagiku sulit karena terdapat ke-sujektifan didalamnya.  Seperti menguliti kulit kacang perlahan dengan memperhatikan seratnya. Beresiko tinggi.

Semakin seorang anak manusia tumbuh, maka perkembangan psikologisnya juga akan berubah. Semakin dewasa, maka ia akan terikat oleh apa-apa yang dinamakan tanggungjawab. Tanggungjawab tentu tidak epas dari komitmen. Dan kini, saat aku mulai dihadapkan bahkan sedang berhadapan langsung dengan apa yang disebut dengan komitmen, aku mulai mencari apa definisinya. Berhubung aku menjadi subjek dalam predikat si komitmen ini, kubuka KBBI (akhirnya), ia memiliki arti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. 

Komitmen yang selama ini kulihat dalam kehidupan dapat dibagi menjadi 3 jenis:
1. Komitmen atas diri sendiri (mono)
2. Komitmen dengan seorang individu (duo)
3. Komitmen dengan kelompok (community)

Komitmen mono adalah perjanjian terhadap diri sendiri dan tentunya sang pelaku telah mengetahui sebab-akibat dari perbuatan yang akan dilanggarnya atau dipatuhinya. Misalnya; Andre berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak merokok dan minum alkohol dalam jangka panjang dengan tujuan menjaga kesehatan karena Andre memiliki penyakit komplikasi. Jika Andre melanggar komitmen, maka kesehatannya akan memburuk dan ia akan masuk rumah sakit kembali.

Komitmen duo biasanya berhubungan dengan sebuah ikatan antara dua anak manusia (entah hetero ataupun homo). Ini tentunya banyak mewabah dengan sepasang kekasih ataupun suami-istri.

Komitmen community dilakukan dengan lebih dari 2 pelaku mementuk sebuah komunitas yang didalamnya terdapat perjanjian.

Dan sebagai subjek, komitmen merupakan kata kerja (verb) yang akan dilaksanakan oleh sang pelaku.

Objek adalah hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan; benda; hal yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan. Jika diflashback, sebuah perjanjian/kontrak tentunya dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu. Jadi objek dalam sebuah komitmen adalah isi dari komitmen (perjanjian) yang telah disepakati oleh sang pelaku.
Jika melaksanakan perjalanan komitmen tersebut maka sang pelaku akan sampai pada tujuan yang ingin dicapainya. Dan jika melanggar maka akan ada akibatnya. Hematku, akibat tidak selalu berakhir buruk. Kadang ada juga akibat yang membawa sang pelaku kepada sebuah jalan yang memang terbaik menurut ukurannya.


Dan ternyata ketika memasuki lingkaran komitmen yang sedang dijalani ini, banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelum membuat/memutuskannya. Harus dilihat kembali setiap tindakan yang telah/akan dilakukan. Apa sebab-akibat didalamnya sebuah tindakan/rencana/pemikiran yang muncul dalam lingkaran komitmen ini.

Dengan berkomitmen, seseorang akan terikat pada sebuah tiang perjanjian. Tapi bukan berarti dengan berkomitmen seseorang akan kehilangan kebebasannya.

Nah, ada yang mau menambahi?


Classic on Me #Part 6

I'm Home!

With Nonoy

Mari bermain :D

Tapi, tapi...

Saya sendirian

Gimana dong? #samil pamer gigi

Ga papa deh~

Seru kok sendirian!



Eh, ada Ria kok!

Pondok Pabelan, Sebuah Kenangan Klasik

Great! Cuman itu yang bisa kukatakan ketika bus menurunkan kami di pinggir jalan wilayah Pabelan, Magelang. Pasalnya disamping udara Magelang yang luar biasa sejuk (Puncak lewat deh), aku rasanya mau meloncat ketika melihat Gunung Merbabu menjulang tinggi dibalik jalan kecil bertuliskan "Pondok Pabelan, 1 KM".

Hari Jumat sore, aku ikut rombongan alumni Pondok Pabelan naik bus tujuan Magelang. Setelah bersua dengan Gege, aku ditemani menuju Terminal Lebak Bulus, tempat janji berkumpul. Bulan ini, akan ada reuni akbar yang digelar setiap akhir semester genap di Pondok Pabelan.

Aku masih melihat keakraban yang dijalin para alumni di dalam bus itu. Walaupun mereka berbeda angkatan, tapi aku banyak melihat kesamaan dalam pemikiran, visi dan cara bertutur. Mungkin karena dididik menjadi public figure dengan cetakan yang sama, yaitu Pondok Pabelan.

Tentu saja menghirup udara sejuk menjadi sangat mahal bagi seseorang yang menetap di daerah bilangan Jakarta dan sekitar, jadi apalah artinya berjalan 1 km (sama sekali nggak rugi). Dengan semangat aku berjalan mendahului rombongan, menjadi yang paling depan sok tau banget ya :p . Mencari apa yang menarik. Sebenarnya hal baru dan hal yang pernah diceritakan tapi aku belum pernah melihat dengan mata kepalaku merupakan deja vu tersendiri.

"Monggo, mba", sapa seorang ibu-ibu sambil tersenyum ramah. Aku membalas mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku hampir lupa bahwa aku sekarang berada di tengah masyarakat Jawa, dengan budaya unggah-ungguh-nya yang khas. Ada "peringatan budaya" yang langsung kutangkap ketika menginjakkan kaki di jalan menuju Pondok ini. Jadilah aku mulai mengumbar senyum kepada warga sekitar. Mereka ramah :)
Apa mungkin karena udara yang sejuk membuat hati orang tenang ya?

Dan ketika sampai di Pondok, kesanku pertamaku adalah sederhana. Bangunannya tidak banyak cincong, biasa dan multifungsi. Setiap gedung diberi nama yang berbeda; Jepang 1, Bupati, Presiden, Gubernur, Ahmad Yasin, America dan banyak nama lagi.  Ternyata maksudnya, pembiaya gedung itu adalah nama dari gedung itu sendiri. Misalnya Gedung Presiden, maka yang membiayai adalah Presiden pada waktu itu.

Santriwati disini ramah beda banget sama pesantren adikku. Aku agak kagok dengan perlakuan hormat mereka. Tapi ramah mereka adalah ramah yang tidak dibuat-buat. Terlihat benar bahwa mereka bersungguh-sungguh dalam melayani para tamu.

Hei, mungkin udah dulu ya. Aliran listrik disini sangat jauh dari tempat penginapan. Aku harus berjalan menuju sebuah kelas yang seperti bangunan Belanda untuk men-charge handphone. Dan sepertinya aku tadi mendengar ada memanggil namaku. Mungkin Abah atau temannya. Aku baru sadar kalau penyakit petualang autis-ku bisa kambuh kapan saja. Juga kebiasaan menghilang tidak baik untuk kesehatan, apalagi ditempat baru. But, you know what? I feel great!

*nanti upload foto menyusul


Dolan Nang Jogja Dewean

Rute dari Pabelan-Jakarta berubah total jadi Pabelan-Yogya-Jakarta. Dan berkesempatan juga akhirnya menengok pesantren saya dulu setelah 4 tahun tidak ke sana. Kali ini dengan izin (kemarin-kemarin ga pakai izin) dari Abah, dengan syarat jam 2 minimal sudah balik ke penginapan.
Maka aku jalan sendiri keliling pusat kota mengenang masa-masa jadi santri (yang bebas).
_________

Mari bersepeda keliling gang sempit dan pusat kota Yogyakarta

Disambut oleh gerbang yang benar-benar berbeda ketika pertama kali aku menginjakkan kaki disini
Rupanya ada renovasi besar-besaran
Welcome!
Dulu aku sering lari-lari naik tangga ini karena telat masuk kelas
Dulu ini markas anak-anak kelas 1 yang cupu
Ketika aku kelas 1B, setiap istirahat/jam pelajaran kosong, aku suka berdiri disana dan menyanyi sendirian
Ini kelasku dulu, 2B

Kelas 2, aku suka berdiri disana juga. Kadang mengobrol dengan Abi Djuned (guru Qur'an Imla'). Apa kabar beliau ya? *semoga beliau sehat :)
Kelas 3B, aku sering di dalam kelas. Kali ini tidak bisa sering-sering berdiri di pelataran karena harus pintar membagi waktu belajar dan berlatih soal.
Harus tegak pendirian~ Ya, sampai sekarang ajaran ini masih kubawa, tapi dengan kacamata yang baru.
Dulu di kelas ini, aku berlatih paduan suara bersama tim padus mu'allimaat. Latihan kami sangat keras, setiap hari selama jam 3-6. Belum lagi kalau mau perform~ bisa malamnya juga dihajar. Pencapaian tertinggiku ketika itu adalah tampil di Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-10 di Surakarta dan Reuni Akbar Mu'allimaat di Malang. Aku jadi anak padus selama 2,5 tahun. Kelas 3 berhenti~ Banyak orang yang bersuara indah yang kukagumi di ekstra ini.
Dulu ini adalah BPJ (Bawah Pohon Jambu), ada tempat duduknya buat santri kalau lagi istirahat atau jadi tempat ngumpul. Tapi sekarang jadi tempat lonceng~ mana tempat duduknya ya?
Setiap istirahat, beberapa teman-temanku (aku ga pernah ikut) suka nongkrong disini sambil memandang satpam baru yang bernama Pak Wahyu. Kata anak-anak sih Pak Wahyu mirip Taufik Hidayat~ganteng. Banyak banget yang nge-fans sama satpam ganteng itu. Dan dia pintar main bulu tangkis juga! Tapi pas kesini aku ga ada lihat Pak Wahyu.
Mesjid Jami'. Kadang-kadang setiap malam Jum'at kami ke mesjid ini. Ada kesempatan untuk melihat dunia luar di malam hari~ *Dulu aku suka curi-curi pandang ngeliat anak pemilik mesjid ini, namanya Gamal. Haha~

Chiko; toko pernak-pernik yang merupakan bagian sivitas akademika Mu'allimaat
Dulu di gang sempit ini, ada tempat laundry, namanya Vinda Landry. Aku sering laundry seprai disini karena ga kuat nyuci, berat dan kurang bersih. Sekarang katanya sudah dipindah~

Gang ini merupakan gang jalan pintas ke segala akses luar. 
Asrama Siti Aisyah; asramaku ketika kelas 1. Masa-masa adaptasi yang berat untuk seorang anak Kalimantan dimana menghadapi santri yang belum paham keberagaman sehingga dia menjadi Primordialis. Dan sikap keras kepalaku memang berbenturan dengan kawan-kawan di kamar yang berbeda latar belakang suku dan budaya, sehingga mengakibatkan perang dingin selama 1 semester. Jawabannya singkat, aku pindah kamar ketika semester 2.

Asrama Ummu Salamah; paradise. Aku sangat-sangat-sangat nyaman sekali ketika pindah ke sini. Naik kelas 2, kami semua di tempatkan di asrama untuk kelas 2, salah satunya Umsal. Tempat aku menemukan arti persahabatan, kebersamaan, saling mengerti satu sama lain, kesabaran, kedewasaan, ketekunan, juga jati diri. Viva Amoeza!
Di toko itu, aku suka beli isi pensil yang cepat habis *pasalnya setiap hari aku suka menggambar setiap waktu
Dulu ini minimarket Roma. Sekarang kayaknya sudah dikontrakkan ya? ;(
Ketika gempa Yogya yang pertama, aku berlari ketakutan menyusuri pertokoan ini. Sempat kulihat seorang ibu-ibu Tionghoa kerepotan dan ketakutan sambil menggendong kedua bayi kembarnya di tengah kepanikan gempa bumi. Banyak toko-toko yang tutup sekarang~

Poenakawan; tempat ATM, menunggu bus dan kabur yang paling strategis :p
Sebelum memulai petualangan autisku ketika Tsanawiyah, aku suka mampir ke toko buku Sinar Muhammadiyah ini. Banyak buku bagus yang tidak radikal. Uang jajanku suka kupakai untuk membeli bacaan atau novel disini.

Perempatan Yogyakarta. Bank BNI, Bank Indonesia, Monumen Serangan Umum 1 Maret dan Istana Negara.
Kelas 1 aku suka jalan sendirian di sekitar sini. Kelas 2 aku sering duduk bersama Uchy, sahabatku yang dari Kendari. Kami suka beli gethuk dan makan bersila disini. Ga terbayar deh kenangan itu~
 Ternyata Yogya lagi ada acara besar. Peringatan hubungan kota Yogyakarta-Kyoto, YAF (Yogyakarta Art Festival) dan banyak lagi festival-festival lain yang akan diselenggarakan. Sayangnya sore itu aku sudah harus balik ke Jakarta. Maka aku ngebut naik sepeda mencari tempat-tempat yang menarik. Syuuung~
Termangu
Pohon yang menuntut kepada Kota
Polah Arogansi Kaum Militer
Gerbang Agama Shinto jadi penanda Peringatan Hubungan Yogyakarta-Kyoto
Lelap
Scorpio dekat stasiun Tugu
Ada Naga nyasar di jalan Malioboro



Malioboro: Tidak seramai dulu
Makan Lothek dengan pesanan cabe 6 biji. Huh hah huh hah, pedas!
Tugu Jam; ia selalu setia sejak dulu berdiri disana.
Angin membelai siluet lukisan batik itu.
Pasar Kangen. Cieeee #kaya saya dong yang emang lagi kangen, hehe
Rame ing gawe
Alun-Alun Utara Yogyakarta. Setiap hari Jumat pagi, aku suka jogging, beli susu murni dan kalau rezeki bisa liat santri putra lagi olahraga :p

Beranjak dari renungan dan kenangan, it's me. Now!
#ini sambil naik sepeda lho!

Mesjid Gedhe; tempat kami berolahraga permainan.

Dulu disini aku menangisi kekalahan bersama teman-teman Umsal karena tidak berhasil meraih predikat juara Tarik Tambang Tingkat Asrama. Kalau diingat-ingat, lucu juga ketika itu~ Aku untuk pertama kalinya merasa babak belur menarik sebuah tali tambang yang kasar dan besar. Teman-teman yang lain kakinya luka dan bengkak. Kalau aku tanganku yang sobek di bagian telapak tangan~ Akhirnya kami dinyatakan juara 3. Benar-benar kenangan berharga :)

Kauman; tempat Kiai Haji Achmad Dahlan

Di wartel ini aku suka menelepon orangtuaku. Tapi ketika kelas 2 dan 3, aku jadi jarang menelepon mereka karena terlalu asyik dengan teman-teman di pesantren ;)

Itu gerobak es Pak John; es buah terenak di dunia yang pernah ada. Dulu harganya masih Rp. 1.500~

Mengembalikan Blacky ke penyewaan. Makasih ya Blacky udah ditemenin keliling kota~ So long!

Gang sempit; khas daerah sini.

I love old building!

Jalan Putih
Peringatan ini benar-benar dilaksanakan disini~
Dulu aku kurang suka sama aturan di gang ini. Tapi akhirnya aku mengerti kenapa harus di tuntun.
Dalam perjalanan pulang, singgah sebentar ke pabrik laundry Om Asmel (teman Abah). Aku sempat tanya-tanya proses pencucian disini seperti apa. Menyenangkan!

Setelah selesai lihat-lihat pabrik, aku berjalan menuju kampung di belakang (tapi ga bisa jauh-jauh karena mau berangkat). Ada sebuah gerbang besi karatan dan berlubang. Ketika kuintip, berasa di hutan Kalimantan!
Dan akhirnya berakhir! Dadah Jogja. Semoga nanti bisa melaksanakan petualangan autis disana suatu hari nanti! Amien :)

#yang ini bukan petualangan autis karena aku tau tempat, lokasi dan memiliki tujuan.